NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan di Taman Malam

Di kastil Ragonves, suasana berubah drastis setelah kepergian Gianna Vincentes. Keheningan yang tersisa terasa lebih berat dari sebelumnya, seperti awan gelap yang menggantung di atas kepala setiap orang yang hadir.

Kenta Sienta berdiri di tengah ruangan, wajahnya merah padam karena amarah yang tertahan. Tangannya menggenggam erat sandaran kursi hingga kayu itu hampir retak.

BAM!

Tinjunya menghantam meja dengan keras, membuat gelas-gelas bergetar dan beberapa pelayan mundur ketakutan.

"Bagaimana bisa wanita itu berada di sini?" bentaknya, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Gianna Vincentes! Dia tidak pernah muncul selama bertahun-tahun, dan sekarang dia tiba-tiba datang ke kastilku? Ini bukan kebetulan!"

Belinda tidak ada di sisinya. Ia pergi entah ke mana sejak beberapa menit lalu. Kenta bahkan tidak menyadari ketidakhadiran istrinya, karena pikirannya sepenuhnya tertuju pada Gianna dan ancaman yang dibawanya.

Clarisa duduk dalam diam di sudut ruangan, matanya tertuju pada buku yang tidak pernah ia buka. Namun, pendengarannya tajam—ia memahami situasi dengan sempurna. Gianna Vincentes adalah kartu truf yang tidak pernah diperhitungkan oleh keluarga Sienta. Dan kedatangannya mengubah segalanya.

Alarga Pigeinta hanya berdehem pelan, menyesuaikan kerah jasnya yang putih. Sebagai bagian dari keluarga kerajaan Divente, ia tidak berhak mencampuri urusan internal dua keluarga besar Ragonves. Ia hanya bisa diam dan mengamati, meskipun di dalam hatinya ia merasa kasihan pada Grey.

Keilla memecah keheningan. Matanya menyapu ruangan, mencari sosok yang tidak ia temukan.

"Tunggu dulu," ucapnya, suaranya penasaran. "Di mana ibu? Kenapa dia tidak ada di sini?"

Kenta menoleh sekilas, lalu mengabaikannya. "Biarkan saja. Kita kembali ke kediaman keluarga sekarang. Aku harus menyusun rencana menyingkirkan Gianna terlebih dulu sebelum dia melakukan sesuatu yang merugikan kita."

Ia berjalan dengan langkah tegas dan gusar keluar dari kastil. Wajahnya mengerut, matanya menyala marah.

Semua orang yang melihatnya sontak menunduk ketakutan. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat pemimpin keluarga Sienta kehilangan ketenangannya. Bahkan para prajurit yang biasa tegap pun bergidik melihat ekspresi Kenta.

Keilla menatap punggung ayahnya dengan tatapan bingung. Lalu ia melirik Alarga, yang hanya mengangkat bahu tanpa jawaban.

"Ada sesuatu yang tidak beres," gumam Keilla pelan.

---

Di Taman Belakang Kastil - Jauh dari Keramaian

Di sebuah taman kecil yang tersembunyi di balik semak-semak dan pohon rindang, jauh dari hiruk-pikuk kastil utama, dua sosok bersembunyi di balik meja batu yang tertutup taplak.

Vega Arcsein merapikan pakaian mewahnya—jas hitam dengan bordir perak yang ia pinjam dari lemari Grey tanpa izin. Ia tampak percaya diri, matanya berbinar penuh rencana.

Barteil di sampingnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi dahinya.

"Vega," bisiknya dengan suara parau, "apa kau yakin? Kita bisa mati kalau ketahuan. Ini Nyonya Belinda, istri pemimpin keluarga Sienta! Jika dia tahu kita menjebaknya—"

"Berisik sekali," potong Vega dengan santai, bahkan tersenyum. "Kita sudah menjebak Nyonya Belinda ke tempat ini. Jadi, persiapkan dirimu untuk pertunjukan terbaik dalam hidupmu."

Barteil menelan ludahnya dengan susah payah. "Pertunjukan? Pertunjukan apa?"

Vega tersenyum misterius. "Kau akan lihat."

Ia mengamati dari balik meja. Di kejauhan, sosok Belinda Helrena muncul dari balik gerbang taman. Wanita itu berjalan dengan anggun, gaun sutra hitamnya berkibar lembut tertiup angin malam. Ia tampak tenang, tetapi matanya tajam mengamati sekitar.

Belinda duduk di kursi batu di tengah taman, menyilangkan kakinya dengan elegan. Ia menunggu kedatangan seseorang—sesuai dengan isi surat yang ia terima.

Vega menyikut bahu Barteil. "Ayo, sekarang giliranmu."

"A-aku?" Barteil hampir pingsan.

"Kau hanya perlu menghampirinya dan berbasa-basi. Lalu pergi. Aku yang akan mengambil alih setelah itu."

Barteil mengatur napasnya dengan susah payah. Ia berdiri, merapikan seragam pelayannya, dan berjalan menghampiri Belinda dengan langkah gemetar.

"Permisi, Nyonya," ucap Barteil, berusaha terdengar ramah dan tenang. "Ada yang bisa saya bantu?"

Belinda mengangkat kepalanya, menatap Barteil dengan tatapan dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Saya menunggu kedatangan seseorang di sini," jawab Belinda dengan suara datar. "Sepertinya kita hanya akan mengobrol ringan saja."

Barteil tersenyum canggung. "Ah, tidak apa, Nyonya. Silakan. Tempat ini bebas untuk berbincang."

Ia mengangguk hormat dan berjalan mundur menjauh dari Belinda, dengan hati berdebar-debar.

"Sepertinya Nyonya Belinda tidak sadar jika aku teman Grey," pikir Barteil, "Baguslah kalau begitu."

Saat ia mencapai balik semak, ia melempar batu kecil ke arah Vega sebagai isyarat. Batu itu mengenai dahi Vega dengan tepat.

"Kurang ajar!" desis Vega pelan sambil menggosok dahinya.

Barteil bersembunyi di balik semak, penasaran dengan apa yang akan dilakukan Vega selanjutnya. Dari balik dedaunan, ia bisa melihat Vega mengambil napas dalam-dalam, merapikan jasnya, dan melangkah keluar dari persembunyian.

Vega berjalan dengan langkah percaya diri, senyum menawan di bibirnya. Ia mendekati Belinda yang masih duduk di kursi batu.

"Selamat malam, Nyonya Belinda," sapa Vega dengan suara lembut. "Maaf membuat Anda menunggu."

Belinda menoleh. Matanya menyipit melihat Vega. "Kau yang mengirim surat?"

Vega membungkuk hormat dengan anggun. "Benar, Nyonya. Dan aku senang Anda datang."

Belinda menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. "Kau berani mengundang istri Kenta Sienta ke tempat sepi seperti ini?"

Vega tersenyum. "Keberanian adalah senjata terbaik seorang pria, Nyonya. Dan aku hanya ingin berbicara dengan wanita secantik Anda."

Dari balik semak, Barteil hampir tersedak mendengar kata-kata Vega.

"Dia benar-benar gila," gumam Barteil pelan. "Tapi aku harus mengakui... dia punya nyali."

Di taman, di bawah cahaya bulan, pertunjukan Vega baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!