Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paman Hendra dan Arimbi
Benteng dan Tamu yang Tak Diundang
Keheningan yang menyelimuti ruang kerja di lantai 20 seolah menghentikan sang waktu. Usapan lembut jemari Devan di pipi Alina meninggalkan jejak hangat yang terus bertahan, bahkan setelah pria itu menarik tangannya dan melangkah menuju ruang rapat utama.
Alina berdiri beberapa saat di dekat dinding kaca raksasa, mencoba menata detak jantungnya yang bergemuruh hebat sebelum akhirnya melangkah turun kembali ke lantai 12.
Kabar penangkapan Clara oleh pihak kepolisian pusat langsung menjadi gempa lokal bagi seluruh karyawan PT Dirgantara Megah Karya. Kasus sabotase dokumen bernilai triliunan rupiah itu ditangani dengan sangat cepat dan tegas oleh tim hukum korporat.
Meja kerja Clara yang sebelumnya dipenuhi pernak-pernik mewah kini telah dikosongkan sepenuhnya. Tidak ada yang berani mempertanyakan keputusan sang CEO; reputasi Devan sebagai pemimpin dingin yang tak bersimpati pada pengkhianatan kian mengakar kuat.
Bagi Alina, atmosfer di divisi Pemasaran berubah drastis. Staf yang sebelumnya memandangnya sebelah mata kini bersikap sangat segan dan penuh hormat. Mbak Maya bahkan menyerahkan sebagian tugas kepemimpinan draf promosi proyek Dirgantara City kepada Alina secara langsung.
"Kamu punya kejelian dan ketenangan yang luar biasa, Alina," puji Mbak Maya saat menyerahkan berkas baru di meja Alina sore itu. "Pak Devan sendiri yang meminta agar kamu masuk ke dalam tim inti penyusun materi presentasi untuk dewan komisaris minggu depan. Manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin."
"Terima kasih atas kepercayaannya, Mbak Maya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Alina tulus.
Namun, di tengah rasa lega dan kepercayaan baru yang didapatkannya di kantor, sebuah kecemasan lain mulai merayap di benak Alina. Malam ini adalah jadwal kepulangan ibunya, Bu Rahmi, dari rumah sakit menuju apartemen baru di Kemang.
Pukul enam sore, sebuah mobil ambulans VIP dari Rumah Sakit Medika Utama mengantarkan Bu Rahmi tiba di lobi apartemen Kemang. Dokter Hendra menyatakan kondisi fisik sang ibu sudah sangat stabil, meski tetap diwajibkan menjalani rawat jalan dan tidak boleh terguncang oleh stres berat.
"Masya Allah, Alina ... ini benar-benar rumah yang disediakan kantor kamu?" tanya Bu Rahmi terpana saat Alina membimbingnya masuk ke dalam unit apartemen yang luas, terang, dan berinterior hangat tersebut.
Alina tersenyum, mengangguk pelan sambil merapikan bantal di sofa empuk untuk ibunya. "Iya, Bu. Ini fasilitas dari program penunjang karyawan yang Alina ceritakan waktu itu. Pihak manajemen kantor ingin memastikan lingkungan tempat tinggal kita aman dan tenang supaya pemulihan Ibu berjalan cepat."
Bu Rahmi menggenggam tangan Alina, matanya berkaca-kaca penuh rasa syukur. "Ibu selalu berdoa supaya pimpinan dan bos kamu di kantor selalu dilindungi Tuhan, Nak. Dia orang yang sangat baik hati. Jarang ada pimpinan perusahaan besar yang mau peduli sampai sejauh ini pada pegawai biasanya."
Mendengar pujian tulus ibunya untuk Devan, dada Alina berdesir hangat. Rasa bersalah karena harus menyembunyikan kenyataan bahwa 'bos baik hati' itu adalah suami sahnya sendiri kembali berdenyut pelan, namun Alina tahu ini demi keselamatan mereka semua.
"Iya, Bu ... Pak Devan memang orang yang sangat bertanggung jawab," bisik Alina pelan, membimbing ibunya melangkah menuju kamar tidur utama.
Setelah memastikan ibunya tertidur pulas karena pengaruh obat pemulihan, Alina melangkah ke dapur bersih untuk menyeduh teh hangat. Saat itulah bel pintu apartemen berdenting halus dua kali.
Alina mengerutkan dahi. Tidak ada orang yang tahu alamat apartemen barunya kecuali pihak rumah sakit, Pak Bagas, dan Devan. Dengan langkah perlahan, Alina mendekati pintu dan melihat ke layar monitor interkom.
Sesosok pria tinggi tegap mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap berdiri di luar. Devan.
Alina segera membuka pintu. "Mas Devan? Kenapa ... kenapa kamu ke sini?"
Devan melangkah masuk tanpa suara, membawa sebuah tas kertas tebal dari restoran kesehatan terkemuka. Aura tubuhnya yang dominan seketika memenuhi area ruangan apartemen yang tenang itu.
"Bagaimana kondisi ibumu setelah kepindahan dari rumah sakit?" tanya Devan langsung, meletakkan tas kertas di atas meja makan.
"Ibu sudah tidur di kamar. Kondisinya sangat baik dan beliau sangat menyukai tempat ini," jawab Alina sambil menatap Devan dengan pandangan tak percaya.
"Tapi ... apakah aman kamu datang ke sini malam-malam begini? Bagaimana kalau ada tetangga atau pengawas gedung yang melihat?"
Devan menatap Alina datar. "Gedung ini milik salah satu anak perusahaan Dirgantara Group. Seluruh sistem keamanan dan staf di sini berada di bawah kendaliku secara langsung. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Devan lalu membuka tas kertas tersebut, mengeluarkan beberapa wadah makanan bernutrisi tinggi khusus untuk pasien pasca-operasi jantung dan satu porsi makanan hangat untuk Alina.
"Aku minta tim gizi rumah sakit menyiapkan menu ini untuk ibumu selama seminggu ke depan," kata Devan tenang. "Dan ini untukmu. Kamu kelihatan makin tirus karena terlalu banyak memikirkan masalah kantor."
Alina terpaku menatap wadah-wadah makanan di atas meja. Rasa haru yang membuncah membuat tenggorokannya terasa tersumbat. Pria yang di luar tampak begitu membekukan ini selalu memikirkan setiap detail kecil kebutuhan hidupnya dan ibunya tanpa diminta.
"Terima kasih, Mas Devan ..." bisik Alina. "Kamu selalu merepotkan diri demi kami."
Devan melangkah lebih dekat, menatap lurus ke dalam manik mata Alina. "Menjaga kamu dan ibumu bukanlah sebuah kerepotan, Alina. Itu adalah kewajibanku."
Kedekatan mereka di ruangan yang hening itu membuat udara kembali terasa sarat akan ketegangan emosional. Namun, sebelum suasana intim itu berkembang lebih jauh, ponsel di saku celana Devan bergetar keras. Devan merogoh ponselnya, dan raut wajahnya seketika berubah menjadi sangat dingin saat melihat nama pemanggil di layarnya.
Pak Bagas.
Devan menggeser layar dan menempelkan ponsel di telinganya. "Ada apa, Bagas?"
Suara Pak Bagas dari seberang telepon terdengar agak panik dan terburu-buru.
("Tuan Devan, maaf mengganggu malam-malam. Saya baru saja mendapat konfirmasi dari pihak keamanan griya utama. Paman Anda, Pak Hendra, bersama Nona Arimbi dan rombongan keluarga Rekso baru saja tiba di kediaman pribadi Anda di Menteng tanpa pemberitahuan sebelumnya.")
Mata Devan menyempit tajam. "Untuk apa mereka ke sana?"
("Pak Hendra berniat mengadakan pertemuan keluarga mendadak untuk membahas kepastian tanggal pertunangan Anda dan Nona Arimbi. Mereka membawa serta media internal keluarga Rekso dan saat ini sedang menunggu Anda di ruang tamu utama.")
Alina yang berdiri di dekat Devan bisa mendengar lontaran kata-kata Pak Bagas dengan sangat jelas dari speaker ponsel yang berdekatan. Kata Arimbi dan pertunangan mendadak seolah menjadi cengkeraman dingin yang meremas jantung Alina seketika.
Wajah Alina berubah pucat. Kehangatan yang baru saja tercipta di antara mereka sirnah dalam sekejap, digantikan oleh kenyataan pahit yang kini berdiri tepat di depan mata.
Devan memejamkan matanya sejenak, mengepalkan jemari tangannya dengan erat. "Bagas, katakan pada mereka saya sedang ada urusan inspeksi operasional luar kota dan tidak bisa kembali malam ini."
("Maaf Tuan, tapi Pak Hendra sudah memeriksa jadwal penerbangan Anda dan tahu Anda berada di Jakarta,") jawab Pak Bagas serba salah. ("Beliau mengancam akan bertahan di rumah Menteng sampai Anda pulang, atau beliau akan membawa Nona Arimbi mendatangi gedung kantor pusat besok pagi.")
"Pria tua itu benar-benar sudah hilang kesabaran," desis Devan dengan suara bass yang sarat akan amarah membakar.
Ia mematikan sambungan telepon dan menatap Alina yang berdiri kaku di depannya. Dilihatnya perubahan raut wajah Alina, mata jernih gadis itu kini meredup, dipenuhi oleh kepedihan dan rasa minder yang teramat mendalam.
"Alina ..." panggil Devan pelan, suaranya melunak.
Alina memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa sangat pahit di bibirnya. Ia mundur satu langkah, menciptakan jarak di antara mereka.
"Kamu ... kamu harus pulang ke rumah Menteng sekarang, Devan," ujar Alina dengan suara yang ditahan agar tidak bergetar. "Keluargamu dan ... Nona Arimbi sedang menunggumu di sana."
Devan merengkuh lengan Alina pelan, tidak membiarkan gadis itu menjauh lebih jauh. "Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Arimbi, Alina. Percaya padaku. Kehadirannya adalah manuver politik Paman saya untuk menekan posisi saham saya."
"Saya tahu ..." bisik Alina menunduk, air mata tergenang di pelupis matanya namun ia menahannya agar tidak tumpah. "Tapi mereka adalah keluargamu. Merekalah orang-orang yang berada di duniaku yang sebenarnya tidak tersentuh oleh orang sepertiku. Jika kamu tidak pulang malam ini, masalahnya akan makin besar dan kantor akan makin kacau."
Devan menatap wajah Alina dengan pandangan yang teramat dalam. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk mengabaikan tuntutan keluarganya malam ini dan tetap tinggal di apartemen ini bersama Alina. Namun, logika dinginnya memperingatkan bahwa jika ia bertindak gegabah tanpa strategi, Pak Hendra akan menggunakan kekuasaannya untuk melacak keberadaan Alina dan menghancurkan gadis ini tanpa ampun.
Untuk melindungi Alina, Devan harus menghadapi ancaman itu secara langsung di jalurnya.
"Tunggu aku besok di kantor," ujar Devan dengan nada suara yang teramat tegas dan penuh janji. Ia memegang kedua bahu Alina, menatap lurus ke dalam matanya. "Jangan dengarkan rumor apa pun yang beredar di media besok pagi. Masalah Arimbi dan Paman saya akan kuselesaikan dengan caraku sendiri."
Alina hanya sanggup mengangguk pelan. Devan mengecup kening Alina singkat, sebuah kecupan hangat yang dalam dan sarat akan perlindungan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari unit apartemen.
Setelah pintu apartemen tertutup rapat dan langkah Devan memudar, Alina menyandarkan tubuhnya ke dinding pintu.
Ia menyentuh keningnya yang baru saja dikecup Devan, lalu meremas liontin cincin emas putih di balik kemejanya.
Malam itu, di dalam ketenangan apartemen yang sepi, Alina menyadari bahwa pertempuran yang sesungguhnya untuk mempertahankan cinta dan pernikahan rahasia mereka baru saja dimulai. Dan musuh yang mereka hadapi kali ini bukanlah sekadar rekan kerja yang dengki, melainkan takhta, keluarga, dan wanita dari kalangan bangsawan yang memiliki segalanya.