"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Musuh atau Teman?
Anthony Halim sadar dengan pandangan yang belum sepenuhnya fokus.
Saat membuka mata, Anthony langsung mencari wajah putrinya. Ruang rapat, pengacara keluarga, dan para bawahannya tidak terlintas dalam pikirannya.
Ia melihat lampu putih.
Lalu monitor.
Lalu seorang dokter muda berdiri di samping ranjang, memeriksa angka dengan wajah tenang.
"Jangan bicara dulu, Pak," kata dokter itu. "Operasi selesai. Anda di ICU RSUD Harapan Bangsa. Kondisi masih harus dipantau ketat, tapi fase paling berbahaya sudah lewat."
Anthony mengedip pelan.
Matanya turun ke name tag.
Rangga Aditya Wijaya.
Nama itu masuk ke kepalanya perlahan.
Trombosin Plus.
Serum RegenoStem.
Robert pernah menyebut nama ini. Nadanya waktu itu ringan, seperti membicarakan dokter muda yang belum mengerti pasar. Ada sedikit kesal karena tawaran distribusi nasional ditolak. Ada juga kebanggaan terselubung, seolah perusahaan besar selalu punya cara menundukkan orang yang keras kepala.
Sekarang orang yang disebut tidak mengerti pasar itu baru saja menarik Anthony dari tepi kematian.
Anthony menutup mata beberapa detik.
Saat membukanya lagi, tatapannya sudah lebih sadar.
"Anda... yang mengoperasi saya?"
"Tim rumah sakit yang menangani. Saya salah satunya."
Sudut mulut Anthony bergerak sangat tipis.
Orang yang terlalu cepat merendahkan dirinya sendiri biasanya sedang menyembunyikan peran besar.
"Agung?"
"Sopir Anda selamat. Luka ringan-sedang. Sudah dirawat."
Anthony mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Rangga memeriksa pupil, drain, tekanan darah, dukungan obat, dan catatan pernapasan. Suaranya tetap datar.
"Terima kasih boleh disimpan dulu. Anda masih harus melewati risiko infeksi, perdarahan ulang, dan pemantauan cedera kepala. Jangan banyak bergerak."
Anthony menatapnya lama.
"Dokter yang bicara seperti itu biasanya tidak peduli siapa pasiennya."
"Memang tidak perlu."
Kalimat itu membuat Anthony diam.
Pintu ICU terbuka beberapa menit kemudian.
Robert Tanuwijaya masuk dengan langkah cepat. Setelannya rapi, tetapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan kepanikan.
"Om Anthony."
Ia mendekati ranjang, lalu melihat Rangga.
Senyumnya berhenti setengah jalan.
Rangga menatapnya balik.
Tidak ada yang perlu dijelaskan.
Pertemuan terakhir mereka adalah meja negosiasi, Rp 30 miliar, dan permintaan monopoli.
Pertemuan kali ini adalah ranjang ICU, luka operasi, dan nyawa Anthony.
"Pak Robert," kata Rangga.
Sopan.
Tanpa kehangatan.
Robert menarik napas dan memaksa senyum bisnisnya kembali.
"Dokter Rangga. Saya tidak menyangka kita bertemu dalam keadaan seperti ini."
"Saya juga."
Dua kata itu cukup membuat udara di antara mereka dingin.
Anthony memandang keduanya bergantian.
"Kalian saling kenal?"
Robert menjawab lebih cepat.
"Pernah bertemu untuk urusan distribusi obat, Om. Waktu itu belum cocok saja."
"Belum cocok," ulang Anthony.
Suaranya lemah, tetapi telinga Robert menangkap nada yang berbeda.
Rangga tidak menambahkan apa pun.
Ia menutup map medis.
"Pak Anthony perlu istirahat. Keluarga boleh melihat sebentar, tapi jangan banyak pertanyaan. Untuk keputusan medis, saya jelaskan kepada penanggung jawab."
Anthony tiba-tiba berkata, "Dokter Rangga, saya ingin bicara sebentar. Berdua."
Robert langsung menoleh.
"Om, Anda baru sadar. Lebih baik nanti saja."
Anthony tidak melihatnya.
"Robert, tunggu di luar."
Satu kalimat.
Robert menutup mulut.
Ia keluar dengan senyum yang masih ditempel di wajah, tetapi jari-jarinya mengepal.
Setelah pintu tertutup, Anthony menarik napas perlahan.
"Saya tahu nama Anda. Robert pernah membicarakan Trombosin Plus. Dia bilang Anda menolak kerja sama besar."
"Saya menolak monopoli."
"Itu kata yang berbeda."
"Karena isinya berbeda."
Anthony memandang Rangga tanpa berkedip.
"Saya belum tahu seluruh ceritanya. Tapi saya tahu satu hal. Kalau Anda ingin mempermalukan perusahaan saya, sekarang waktunya tepat. Saya terbaring di sini. Saya berutang nyawa."
Rangga diam sesaat.
"Saya tidak menyelamatkan Anda supaya punya alat tawar."
Tatapan Anthony berubah menjadi penilaian seorang pengusaha tua terhadap lawan bicara di depannya.
"Kalau begitu, apa yang Anda minta?"
"Pulih dulu."
"Setelah itu?"
Rangga melihat ke kaca ICU. Di luar sana, bayangan Robert tampak menunggu.
"Pak Anthony, saya harap perusahaan Anda bisa menjaga batasan yang sehat dengan kami."
Anthony tidak langsung menjawab.
Ia mengulang kata itu di dalam kepala.
Batasan.
Sehat.
Dalam bisnis, peringatan yang disampaikan dengan sangat terkendali sering kali lebih serius daripada tuduhan keras.
"Apakah ada orang saya melewati batas?"
Rangga kembali menatapnya.
"Saya dokter Anda sekarang. Yang perlu saya bahas hari ini adalah tekanan darah, luka operasi, dan risiko infeksi."
Anthony memahami bahwa masalah tersebut tetap ada, tetapi Rangga tidak akan menggunakannya sebagai senjata saat pasien baru sadar dari operasi.
Kendali seperti itu lebih berat daripada kemarahan.
"Saya mengerti," kata Anthony perlahan. "Kalau saya sudah cukup kuat, saya ingin mendengar apa yang tidak Anda katakan hari ini."
"Saat itu, saya akan bicara sesuai bukti."
"Adil."
Ketika Rangga keluar, Robert berdiri di dekat ujung koridor. Ia segera mendekat.
"Om saya mengatakan sesuatu?"
"Beliau perlu istirahat."
Robert tersenyum tipis.
"Dokter Rangga, bisnis kadang membuat orang salah paham. Saya harap urusan lama tidak mengganggu perawatan Om Anthony."
Rangga berhenti.
"Saya baru saja membantu menyelamatkan nyawa beliau. Menurut Pak Robert, siapa yang lebih mungkin membiarkan urusan lama mengganggu perawatan?"
Wajah Robert mengeras.
Saat itu Kevin keluar dari lift dengan langkah cepat.
"Rangga."
Ia melihat Robert.
Ekspresinya langsung dingin.
"Pak Robert."
"Pak Kevin," jawab Robert, sama kakunya.
Ketegangan di koridor terasa seperti kabel yang ditarik terlalu kencang.
Rangga menepuk bahu Kevin.
"Nanti."
Kevin menahan kata-kata yang sudah sampai di ujung lidah, lalu mengikuti Rangga ke tangga darurat.
Begitu pintu tertutup, Kevin langsung bicara dengan suara rendah.
"Lo terlalu besar hati. Kalau gue, rekaman CCTV itu sudah gue bawa ke polisi sambil gue tempel foto wajah dia di sampingnya."
"Bukti belum cukup."
"Cukup untuk bikin dia panik."
"Saya tidak mencari panik. Saya mencari kebenaran yang bisa berdiri."
Kevin mengusap wajah.
"Dia keluarga dari orang yang mungkin mengirim orang masuk lab kita."
"Dan malam ini, orang itu pasien yang baru selamat dari kematian."
"Lo ini..."
Kevin berhenti, frustrasi.
Rangga bersandar pada dinding dingin.
"Keselamatan pasien lebih besar daripada dendam bisnis. Tapi saya tidak lupa."
Kevin menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
"Oke. Tapi kalau mereka bergerak lagi..."
"Kita bergerak lebih dulu."
Di ujung koridor lain, Robert tidak langsung kembali ke ruang tunggu keluarga.
Ia berjalan ke sudut yang sepi dan menelepon nomor lain.
Panggilan tersambung cepat.
"Pak Gunawan," kata Robert pelan.
Suara di seberang terdengar tenang.
"Bagaimana kondisi Pak Anthony?"
"Selamat. Tapi rencana mungkin bermasalah."
"Masalah apa?"
Robert melirik ke arah ICU.
"Om saya... sepertinya mulai percaya pada dokter itu."
Hening sebentar.
Lalu suara Pak Gunawan terdengar lebih rendah.
"Kalau begitu, kita harus bergerak sebelum kepercayaan itu menjadi perlindungan."