Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan di Pusat Kota
Suasana kantin SMA Perbatasan pada jam istirahat pertama sedang berada di puncak keramaian. Suara riuh rendah gelak tawa siswa dari berbagai kelas menyatu dengan aroma makanan yang menggugah selera. Di sudut meja paling panjang, anggota Miracle dari empat kota berkumpul merapatkan barisan. Abzari dan Arkan sedang asyik memperebutkan potongan ayam goreng terakhir, sementara Iyan sibuk menceritakan lelucon konyol yang membuat Sintia dan Tasya tertawa lepas.
Di ujung meja, Ayyasy menikmati es teh manisnya dengan senyum tipis. Di sampingnya, Night tetap tenang menyandar pada kursi seraya mengamati keramaian, sedangkan Dimas dan Arunnaqa saling bertukar catatan mengenai anomali frekuensi yang mereka temukan kemarin.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ketenangan yang mereka rasakan benar-benar terasa nyata. Tidak ada sihir jahat Darking yang memancar, tidak ada serangan monster mendadak, dan tidak ada sinyal darurat yang meraung-raung.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sampai detik berikutnya.
BOOOOOOOOOOMMMM!
Sebuah dentuman raksasa yang amat dahsyat menggelegar dari kejauhan, menggetarkan fondasi tanah dan membuat seluruh kaca jendela kantin berguncang hebat! Gelombang kejut bertekanan tinggi merambat cepat, memicu suara denting piring dan gelas yang saling berbenturan di atas meja.
Seketiak, riuh gelak tawa di seluruh kantin terhenti total. Keheningan yang mencekam langsung menyergap atmosfer ruangan. Ratusan pasang mata siswa SMA Perbatasan saling pandang dalam kepanikan.
"A-apaan itu?!" teriak Abzari refleks berdiri dari kursinya hingga ayam goreng di tangannya terjatuh.
"Ledakannya berasal dari luar sekolah!" seru Arkan seraya berlari menuju jendela kantin yang menghadap ke arah selatan.
Ayyasy, Night, Dimas, dan ke-32 anggota Miracle Zenith secara insting langsung menyusul Arkan ke tepi jendela. Pandangan mereka terpaku menatap lurus ke arah cakrawala. Dari pusat Kota Zenith—wilayah megah yang biasanya penuh dengan gedung pencakar langit dan jalanan yang ramai—membumbung tinggi kepulan asap hitam pekat yang tebal. Pendar api keemasan dan kilatan energi asing menyambar-nyambar di balik bumpalan asap tersebut, merusak pemandangan langit siang yang tadinya cerah.
"Pusat Kota Zenith!" pekik Tasya membelalakkan mata. "Sektor komersial dan alun-alun utama kena hantam!"
Arunnaqa dengan cepat mengaktifkan kacamata pemindainya. Layar transparan di jarinya seketika menyala, menampilkan grafik data energi yang mendadak melesat menembus batas maksimal.
"Ayyasy! Ini bukan ledakan gas atau kebocoran arus listrik biasa!" seru Arunnaqa dengan nada panik namun penuh kepastian. "Sensor enerjiku mendeteksi lonjakan partikel asing yang sangat masif di titik pusat ledakan. Pola frekuensinya... persis seperti sinyal gelombang kelam yang kita lacak kemarin!"
Dimas meremas pembatas jendela. "Sinyal abu-abu itu... sumbernya akhirnya menampakkan diri di tengah kota!"
Di seluruh penjuru SMA Perbatasan, sirine peringatan darurat internal sekolah mulai meraung-raung lantang. Para guru dan petugas keamanan berhamburan ke koridor untuk menenangkan para siswa yang mulai panik dan berhamburan mencari tempat berlindung.
Namun bagi anak-anak Miracle, ini adalah panggilan tugas.
Ayyasy menoleh menatap ke-31 rekannya. Senyum santai yang beberapa menit lalu menghiasi wajahnya kini melenyap total, berganti menjadi raut tegas dan mata berkilat penuh determinasi. Insting kepemimpinannya sebagai ketua Miracle langsung mengambil kendali penuh.
"Semuanya, rapatkan barisan!" komando Ayyasy dengan suara menggelegar menembus riuh kepanikan kantin. "Dimas, Arunnaqa, analisis radius dampak ledakan dan siapkan rute tercepat! Davi, Tasya, amankan jalur evakuasi siswa di sekitar kita sebelum kita bergerak keluar!"
Night mencabut sedikit bilah pedang samurainya dari sarung di pinggang, aura bayangan tipis mulai bergetar mengelilingi tubuhnya. "Sosok misterius di atap sekolah kemarin... dia akhirnya mulai bertindak."
"Gua gak peduli siapa pun yang ngerusak hari tenang kita," geram Arkan sambil mengepalkan kedua tangannya hingga memercikkan aura sihir fisik. "Mereka bakalan bayar mahal!"
Ayyasy melangkah paling depan, membiarkan Dragon Flame Aura keemasannya menyala tipis membentengi tubuhnya.
"Miracle! Kita bergerak ke pusat Kota Zenith sekarang!"