NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 - Bagas dan Dimas

Senin sore, sesi belajar Keiko dan Kelvin kedatangan badai bernama Bagas Pratama.

Saat itu, Keiko baru saja menulis tiga soal baru di papan kecil yang mereka pinjam dari ruang guru. Kelvin duduk dengan satu kaki menahan kaki kursi, pulpen di tangan, wajahnya serius dengan cara yang masih terlihat asing bagi siapa pun yang mengenalnya lebih dari seminggu.

Pintu kelas yang hampir tertutup tiba-tiba didorong dari luar.

"Bang Kel!"

Suara itu begitu keras sampai Keiko hampir menjatuhkan penghapus.

Seorang cowok tinggi berkulit sawo matang masuk tanpa menunggu izin. Rambutnya agak berantakan, tasnya disampirkan hanya di satu bahu, dan wajahnya punya ekspresi seolah dunia selalu memberinya bahan untuk dikomentari.

Di belakangnya, seorang cowok lain berjalan lebih pelan.

Dimas Halim tidak banyak bicara. Kemejanya rapi, tasnya dipakai benar, matanya tenang. Begitu masuk, dia langsung menahan kerah belakang Bagas sebelum cowok itu menabrak meja depan.

"Lihat jalan," kata Dimas.

Bagas menepis tangannya. "Dim, gue lagi dramatis."

"Dramatis tetap bisa jatuh."

Kelvin menutup buku. "Ngapain lu ke sini?"

Bagas berhenti di tengah kelas.

Matanya turun ke buku latihan di meja Kelvin.

Lalu ke papan kecil.

Lalu ke Keiko.

Lalu kembali ke Kelvin.

Ekspresinya berubah seperti orang baru melihat ayam memakai jas.

"Lu..." Bagas menunjuk Kelvin dengan jari gemetar. "Lu belajar?"

Kelvin menatapnya kosong. "Keluar."

"Dimas." Bagas memegang lengan Dimas dengan wajah panik palsu. "Cubit gue."

Dimas mencubitnya.

"Aduh! Beneran, anjir!"

"Lu yang minta."

Keiko menutup mulut dengan punggung tangan. Dia gagal menahan senyum.

Bagas langsung melihatnya. "Nah, ini pasti Keiko, kan? Anak baru yang bikin Bang Kel jadi manusia akademis."

"Bas," kata Kelvin rendah.

"Apa? Gue memuji."

"Itu bukan pujian."

Bagas mengabaikannya dan menunduk sedikit ke arah Keiko. "Halo. Gue Bagas. Teman penderitaan cowok dingin ini sejak lama. Yang di belakang itu Dimas, bagian rem dan akal sehat kami."

Dimas mengangguk singkat. "Dimas."

Keiko balas mengangguk. "Keiko."

"Sopan banget," bisik Bagas pada Dimas. "Pantas Bang Kel berubah. Aura kelas unggulan."

Kelvin melempar penghapus papan ke arahnya.

Bagas menangkapnya dengan dua tangan, lalu tersenyum bangga. "Refleks gue masih tajam."

"Sayang otak lu nggak," kata Dimas.

"Dim, lu harusnya di pihak gue."

"Aku di pihak kebenaran."

Keiko akhirnya tertawa pelan.

Suara itu membuat Kelvin meliriknya, lalu memalingkan wajah dengan ekspresi seolah Bagas baru saja mempermalukannya di tingkat nasional.

Bagas menarik kursi dan duduk terbalik di depan meja mereka. "Jadi ini beneran les? Bukan kode rahasia buat tawuran?"

"Kalau lu terus ngomong, bisa jadi tawuran," kata Kelvin.

Bagas mengangkat kedua tangan. "Santai, Bang. Gue cuma terharu. Dulu orang ini, ya, kalau lihat soal matematika kayak lihat surat panggilan polisi."

Dimas duduk di meja sebelah, mengambil salah satu lembar latihan yang sudah dikerjakan Kelvin. Matanya bergerak cepat membaca langkah-langkahnya.

"Ini benar," katanya.

Kelvin tidak menjawab, tetapi Keiko melihat jari Kelvin mengetuk meja sekali.

Bagas melihatnya juga.

Wajahnya langsung berubah lebih lembut, hanya sepersekian detik, sebelum ditutup lagi dengan ekspresi heboh.

"Gila. Bang Kel bisa aljabar. Dunia masih aman nggak, Dim?"

"Lebih aman daripada saat lu nyetir motor."

"Itu fitnah."

"Itu pengalaman."

Keiko memperhatikan mereka.

Bagas berisik, tetapi tidak menyebalkan. Kata-katanya cepat, gerakannya banyak, tetapi setiap kali Kelvin tampak benar-benar terganggu, dia mundur setengah langkah. Dimas bahkan lebih jelas. Dia tidak banyak bicara, tetapi matanya selalu mengikuti Bagas, siap menariknya sebelum candaan melewati batas.

Kelvin terlihat berbeda di antara mereka.

Masih dingin.

Masih malas menjawab.

Tetapi tidak sepi.

"Kalian teman dekat?" tanya Keiko.

Bagas langsung menunjuk dirinya. "Dekat? Gue ini korban utama hidupnya Bang Kel."

Kelvin menyandarkan punggung. "Lu yang nempel."

"Karena waktu kelas sepuluh lu menyelamatkan motor gue dari anak bengkel sebelah."

"Itu karena lu bodoh parkir sembarangan."

"Tapi lu tetap nolong."

Kelvin diam.

Dimas meletakkan lembar latihan kembali ke meja. "Mereka berteman sejak Bagas hampir dipalak, lalu malah ngajak pelakunya debat."

"Karena gue punya prinsip."

"Prinsip lu waktu itu adalah tidak mau bayar parkir liar dua ribu."

"Tetap prinsip."

Keiko tersenyum. "Lalu Dimas?"

Bagas menepuk bahu Dimas. "Dim ini paket lengkap. Diam, pintar, kalau gue jatuh dia angkat, kalau gue salah dia hina."

"Aku tidak menghina. Aku mendeskripsikan."

"Nah, kan?"

Dimas menatap Keiko. Nada suaranya tetap pendek, tetapi tidak dingin. "Kelvin jarang membiarkan orang duduk di sebelahnya."

Kalimat itu membuat Keiko dan Kelvin sama-sama diam.

Bagas langsung menoleh ke Dimas. "Cie, observasi tajam."

Dimas menendang kaki kursinya pelan.

Bagas nyaris jatuh, lalu tertawa sendiri.

Suasana yang tadinya hanya berisi angka dan garis ungu berubah menjadi ramai. Keiko tidak terbiasa dengan keramaian seperti itu. Di rumah, suara keras biasanya berarti pertengkaran. Di rumah sakit, suara keras berarti keadaan darurat. Namun suara Bagas berbeda. Berisik, iya. Tetapi hangat. Dimas yang diam di sebelahnya membuat keributan itu punya dasar yang aman.

Pak Arif muncul di pintu kelas beberapa menit kemudian.

Beliau melihat empat murid yang masih berada di kelas, papan kecil penuh soal, Bagas duduk terbalik di kursi, dan Dimas membaca catatan Kelvin.

"Saya harus bertanya," kata Pak Arif, "ini kelompok belajar atau rapat geng motor?"

Bagas langsung berdiri. "Kelompok belajar, Pak. Saya berniat menjadi murid teladan."

Pak Arif menatap Dimas. "Tolong pastikan dia tidak merusak fasilitas sekolah."

Dimas mengangguk. "Siap, Pak."

"Kenapa bukan saya yang dipercaya?" protes Bagas.

Pak Arif menatapnya.

Bagas duduk lagi. "Baik, saya paham."

Setelah Pak Arif pergi, Bagas mengambil satu lembar soal kosong.

"Kalau Bang Kel bisa belajar, gue juga bisa."

Kelvin menatapnya curiga. "Lu serius?"

"Serius. Nilai gue juga jelek. Kalau nanti Bu Yuni lihat rapor, gue bisa dimasak jadi perkedel."

Dimas meraih kertas dari tangannya, membaliknya ke halaman yang benar. "Mulai dari soal pertama. Jangan langsung tulis nama besar-besar."

"Nama itu penting."

"Jawaban lebih penting."

Keiko menatap mereka bertiga, lalu mengambil pulpen tambahan dari kotak pensil.

"Kalau mau ikut, boleh. Tapi jangan ribut saat menghitung."

Bagas menegakkan punggung. "Siap."

Kelvin masih menatapnya, curiga.

Bagas mengangkat tangan. "Apa? Gue nggak manggil Nona Guru. Panggilan khusus Bang Kel, gue nggak rebut."

Keiko menunduk cepat, pura-pura merapikan kertas.

Dimas menatap Bagas sekilas. Ada senyum kecil yang hampir tidak terlihat di sudut bibirnya, sebelum dia kembali menunduk ke soal.

Sore itu, untuk pertama kalinya, meja belakang XI-IPA 4 tidak hanya berisi Keiko dan Kelvin.

Ada Bagas yang mengeluh setiap tiga menit.

Ada Dimas yang membetulkan keluhannya dengan tenang.

Dan ada Kelvin yang, meski wajahnya terlihat sangat menyesal punya teman, tetap tidak menyuruh mereka pergi.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!