Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Akar yang Pelan
Pagi setelah melihat lampu loteng menyala sampai lewat pukul tiga, Erlyn sengaja turun lebih awal.
Ia pikir Chisen akan terlambat sarapan. Atau setidaknya terlihat mengantuk. Mungkin rambutnya lebih berantakan, matanya merah, atau tangannya gemetar karena kurang tidur. Apa pun yang bisa membuktikan bahwa manusia tidak seharusnya melukis sampai dini hari lalu tetap hidup normal.
Ternyata Chisen sudah duduk di meja makan.
Seragam SPI-nya rapi. Rambutnya masih agak basah. Di samping piringnya ada buku kecil yang terbuka, penuh catatan berbahasa Inggris. Ia mengunyah roti panggang sambil membaca, wajahnya datar seperti orang yang tidur delapan jam.
Erlyn duduk di seberangnya dengan kesal yang tidak punya alasan jelas.
"Koh tidur jam berapa?"
Chisen mengangkat mata. "Kenapa?"
"Tanya."
"Tidak ingat."
"Orang normal ingat."
"Berarti aku tidak normal."
Ia kembali membaca buku.
Erlyn mengambil roti dengan gerakan lebih keras daripada perlu. Jing yang sedang menuang teh menatap mereka bergantian, lalu tersenyum sendiri.
"Jangan ganggu Koh Chisen pagi-pagi," kata Mama.
"Aku tidak ganggu. Aku memastikan dia masih hidup."
Chisen membalik halaman. "Terima kasih atas perhatiannya."
"Itu bukan perhatian."
"Oh."
Om Changli yang baru masuk ruang makan mendengar bagian terakhir itu. Ia menaruh koran di samping piring, menatap Chisen sebentar.
"Jangan terlalu sering tidur pagi. Mata kamu merah."
Chisen menutup buku kecilnya. "Baik, Pa."
"Kalau jawab secepat itu biasanya tidak didengar."
Erlyn hampir tersedak teh. Chisen tidak membantah, hanya mengambil gelasnya dan minum.
Jing tertawa pelan, dan suara itu membuat Erlyn berhenti. Dulu, di Belitung, Mama sering tertawa seperti itu saat pagi. Setelah pindah ke Surabaya, tawa Mama lebih jarang keluar, seolah harus meminta izin pada rumah besar ini terlebih dahulu. Sekarang, tawa itu kembali sebentar di meja makan Jalan Kenanga.
Karena pertengkaran kecilnya dengan Chisen.
Pikiran itu membuat Erlyn menunduk pada piringnya.
Hari itu di sekolah, Angie membawa kartu tarot lagi, tetapi akhirnya tidak jadi membaca kartu Erlyn karena guru biologi memberi tugas kelompok. Erlyn tidak terlalu kecewa. Ada bagian dari dirinya yang penasaran, tetapi ada bagian lain yang takut kalau kartu-kartu itu mengatakan sesuatu yang belum siap ia dengar.
"Kamu takut?" goda Angie saat mereka berjalan ke laboratorium.
"Tidak."
"Kalau tidak takut, kenapa setiap lihat kotakku kamu seperti lihat ular?"
"Karena kamu selalu bilang hidupku drama."
"Itu observasi ilmiah."
"Kamu bukan ilmuwan."
"Belum."
Erlyn tertawa. Ia mulai menyukai cara Angie membuat hari sekolah terasa tidak terlalu panjang.
Sore harinya, hujan turun pelan di Surabaya. Bukan hujan besar, hanya gerimis yang membuat halaman Jalan Kenanga berbau tanah basah dan bunga melati. Erlyn duduk di ruang keluarga mengerjakan PR, sementara Jing duduk di sofa dengan rajutan di pangkuan.
Wol biru muda itu mulai berubah bentuk menjadi sesuatu yang benar-benar mirip syal.
"Ma, itu panjang sekali," kata Erlyn.
"Biar bisa dililit dua kali."
"Di Surabaya aku bisa matang kalau pakai itu."
"Untuk ruang belajar. AC-nya dingin."
"Atau untuk London?" celetuk Erlyn tanpa berpikir.
Jing berhenti merajut.
Erlyn juga berhenti menulis.
London adalah nama yang belakangan sering muncul di rumah ini, biasanya dari mulut Om Changli saat membicarakan rencana sekolah Chisen. Royal College of Art. Pameran. Portofolio. Kata-kata yang terdengar jauh dan mahal.
"Kamu ingin ke London?" tanya Jing pelan.
"Tidak tahu." Erlyn menatap buku PR-nya. "Koh Chisen katanya mau ke sana, kan?"
"Kalau semuanya lancar."
"Oh."
Jing melanjutkan rajutannya, tetapi gerak jarumnya lebih lambat. "Nanti rumah jadi lebih sepi."
Erlyn ingin berkata bahwa Chisen tidak banyak bicara, jadi mungkin tidak terlalu berbeda. Tetapi kalimat itu tidak keluar. Ia membayangkan meja makan tanpa orang yang memindahkan ikan diam-diam, ruang belajar tanpa pensil yang mengetuk kertas, jendela loteng yang gelap.
Ternyata berbeda.
Malamnya, les berjalan seperti biasa. Chisen memberi soal, Erlyn mengeluh, lalu tetap mengerjakan. Saat ia berhasil menjawab dua soal berturut-turut, Chisen tidak memuji, tetapi ia menggeser piring kecil berisi potongan mangga ke arah Erlyn.
"Dari Mama," katanya.
Erlyn mengambil satu potong. "Kenapa Koh yang bawa?"
"Aku lewat."
"Koh hobi lewat."
"Efisien."
Erlyn tertawa kecil sebelum sempat menahan diri.
Di ambang pintu ruang belajar, Jing berdiri dengan syal setengah jadi di tangan. Erlyn tidak tahu sejak kapan Mama ada di sana. Wajah Jing lembut, matanya mengikuti mereka dengan ekspresi yang membuat Erlyn tiba-tiba merasa tertangkap melakukan sesuatu.
"Kenapa, Ma?"
Jing menggeleng, masih tersenyum. "Tidak apa-apa."
Chisen menunduk kembali ke buku, seolah tidak melihat.
Jing berjalan masuk, meletakkan syal biru muda di sandaran kursi Erlyn untuk mengukur panjangnya. Kain wol itu jatuh di bahu Erlyn, hangat dan lembut. Mama merapikannya sebentar, lalu menatap putrinya dari dekat.
"Mama senang kamu dan Koh Chisen bisa akur."
Erlyn langsung membuka mulut.
Ia ingin membantah.
Ingin berkata mereka tidak akur, mereka hanya belajar. Chisen galak. Chisen pelit pujian. Chisen sering menyebalkan dan terlalu sering benar.
Tetapi di meja ada piring mangga yang tadi digeser ke arahnya. Di bahunya ada bayangan jaket yang pernah menutupi tubuhnya saat ia pura-pura tidur. Di kepalanya ada suara Chisen di gerbang sekolah, satu kata pendek yang membuat semua orang mundur.
Masuk.
Erlyn menutup mulut lagi.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar Mama mungkin benar.