Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia direnggut kehormatannya dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Jam menunjukkan pukul dua siang lewat sepuluh menit saat Tuan Darius melangkah masuk ke lobi utama Blackwood Corp yang megah dan tertata rapi. Ia berjalan tenang menuju meja resepsionis, wajahnya tegas namun menyembunyikan rasa ingin tahu yang mendalam.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis dengan sopan.
"Saya Darius Baskara. Saya ingin menemui Tuan Victor," ucapnya singkat.
Resepsionis itu mengangguk segera. "Mohon tunggu sebentar, Tuan Darius. Saya akan menghubungi ruangan sekretaris Tuan Victor terlebih dahulu."
Baru saja jari-jarinya menyentuh tombol telepon, sosok Rico berjalan lewat dengan langkah tegap menuju lift. Resepsionis itu segera mengangkat kepala dan memanggilnya.
"Asisten Rico!" panggilnya sopan.
Rico berhenti sejenak, menoleh ke arah mereka. Saat melihat sosok Tuan Darius, ia melangkah mendekat dengan wajah tetap tenang dan waspada.
"Ada apa?" tanyanya rendah.
"Tuan Darius ingin menemui Tuan Victor," jelas resepsionis itu.
Rico menatap Tuan Darius sejenak, mengukur niat di balik kunjungan itu. "Mohon ikut saya, Tuan. Saya akan mengantar Anda ke ruangan Tuan Victor."
Tuan Darius mengangguk. Keduanya melangkah beriringan menuju lift eksekutif yang terletak di sisi paling ujung lobi. Rico menekan tombol, dan pintu kaca itu terbuka perlahan. Keduanya masuk, dan pintu kembali tertutup rapat seketika, memisahkan mereka dari hiruk-pikuk aktivitas di bawah.
Di dalam lift yang hening itu, Tuan Darius berdiri tegak namun matanya tak lepas dari pantulan dirinya di dinding cermin. Ia merasakan ketegangan yang menyelimuti ruang sempit itu. Rico berdiri tenang di sampingnya, wajahnya datar tanpa ekspresi, namun kesigapannya tak pernah surut sedikit pun.
Layar penunjuk lantai bergerak naik perlahan, satu per satu angka berubah dengan cepat hingga akhirnya berhenti tepat di angka tiga puluh.
Pintu lift terbuka perlahan, menampakkan lorong luas yang beralaskan marmer mengkilap dan berhias karya seni berharga di dinding.
"Silakan ikut saya, Tuan," ucap Rico singkat, lalu melangkah lebih dulu menuju pintu utama ruangan kerja Victor yang besar dan tertutup rapat.
Rico mengetuk pintu besar itu tiga kali dengan irama teratur, lalu terdengar suara berat dari dalam yang mempersilakan masuk. Ia membuka pintu perlahan, memberi isyarat agar Tuan Darius melangkah masuk lebih dulu, sebelum menutupnya kembali dan berdiri menjaga di dekat pintu.
Victor duduk di balik meja kerja besarnya, menatap dokumen terakhir di tangannya sebelum meletakkannya perlahan. Ia mendongak, menatap tamunya dengan tatapan yang tenang namun tajam, seolah langsung membaca setiap niat yang tersembunyi di balik kunjungan itu.
"Silakan duduk, Tuan Darius," ucapnya singkat namun sopan, menunjuk kursi di depan mejanya.
Tuan Darius melangkah mendekat, lalu duduk dengan tenang. Ia menatap sekeliling ruangan yang begitu berwibawa, sebelum akhirnya kembali menatap ke arah Victor.
"Terima kasih telah bersedia menemui saya, Tuan Victor," bukanya dengan suara rendah. "Saya datang bukan untuk urusan bisnis. Ada hal yang sangat ingin saya pastikan sendiri."
Victor menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatapnya lekat-lekat. "Silakan katakan."
Tuan Darius menarik napas panjang, lalu bertanya dengan nada serius dan penuh harap sekaligus ragu, "Wanita yang Anda perkenalkan malam itu... Kanaya Aurelia... siapa dia sebenarnya?"
Victor diam sejenak, menatap tamunya dengan sorot mata yang tak bisa dibaca. Ia meraih pena di atas meja, memutarnya perlahan di antara jari-jarinya sebelum akhirnya bersuara dengan nada tegas.
"Pernyataan saya malam itu apakah masih kurang jelas, Tuan Darius?" tanyanya rendah namun jelas. "Saya sudah menjelaskan jika dia adalah tunangan saya. Kenapa kalian sepertinya begitu penasaran dengannya. Ada apa? Apakah tunangan saya mengingatkan kalian pada seseorang?"
Tuan Darius terdiam sejenak, menelan ludah susah payah saat tatapan tajam Victor menembusnya seolah mengetahui segala keraguan yang selama ini ia simpan. Ia mengangguk pelan, tak bisa lagi menyembunyikan kebenaran yang mengganjal di dadanya.
"Karena wajahnya... mirip seperti seseorang yang dulu sangat saya kenal," jawabnya parau, matanya tak beralih sedikit pun. "Seperti Kania. Gadis yang sudah saya anggap seperti anak sendiri, namun dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak."
Victor menatapnya lama, lalu perlahan meletakkan penanya di atas meja. Sikapnya tak berubah, namun nada bicaranya kini mengandung peringatan dingin yang tegas.
"Dunia ini luas, Tuan Darius. Banyak orang yang memiliki kemiripan wajah," ucapnya tenang namun menekan setiap kata. "Namun satu hal yang harus Anda pahami baik-baik, wanita yang berdiri di samping saya adalah Kanaya Aurelia, bukan kenalan Anda."
Tuan Darius menggeleng perlahan, sorot matanya tak bergeming sedikit pun. "Saya tidak mungkin salah, Tuan Victor. Saya yakin dia adalah Kania... tidak mungkin ada orang yang wajahnya sangat mirip seperti ini."
Victor tetap diam, wajahnya datar tanpa celah, seolah tak tergoyahkan oleh keyakinan pria di hadapannya. "Keyakinan Anda adalah urusan Anda, Tuan. Namun faktanya dia adalah Kanaya Aurelia, bukan Kania."
Suasana ruangan yang hening seketika terasa semakin menyesakkan. Victor perlahan menarik laci meja kerjanya, ia meraih sebuah map tebal berwarna hitam pekat, tanpa logo, tanpa nama, seolah menyimpan rahasia yang tak pantas diketahui dunia.
Dengan gerakan lambat dan terukur, ia meletakkannya tepat di tengah permukaan meja yang mengkilap, lalu mendorongnya perlahan hingga berhenti tepat di hadapan Tuan Darius.
"Jika Tuan Darius sungguh yakin," suaranya rendah, namun setiap kata menekan seberat batu besar. "Silakan. Buka."
Tuan Darius menatap map itu terpaku. Jantungnya berdegup kencang, seolah merasakan bahaya yang mengintai dari balik kulit map yang dingin itu. Tangannya terulur ragu, ujung jarinya nyaris menyentuh namun kembali terhenti.
"Apa isinya?" tanyanya parau.
"Bukti," jawab Victor singkat. "Bukti bahwa Kanaya Aurelia adalah anak sah mendiang Daniel dan Selena Aurelia. Dan bukti bahwa Kania Adelia Wijaya sudah menghilang tujuh bulan lalu."
Kata terakhir itu menghantam dada Tuan Darius sekeras pukulan tinju. Darah seketika mengalir pergi dari wajahnya, meninggalkan rona pucat pasi. Napasnya tercekat, matanya terbelalak tak percaya.
"Hilang?" bisiknya nyaris tak bersuara. "Tapi keluarga Wijaya bilang jika Kania pergi dengan laki-laki lain dan memilih membatalkan pertunangannya dengan putra saya secara sepihak."
Victor menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap pria itu dengan tatapan datar namun tajam. "Maka sekarang, pilihlah, Tuan. Apakah Anda masih ingin bertahan pada keyakinan itu... atau Anda berani menghadapi fakta yang tertulis di dalam sini?"
Ia mengetuk meja sekali dengan ujung jari, bunyinya terdengar tegas dan mengancam.
"Tapi ingat satu hal. Sekali Anda membuka map ini, takkan ada jalan mundur. Anda tak bisa lagi pura-pura tak tahu. Anda harus menelusuri siapa yang berencana menghilangkannya... dan siapa yang selama ini bermain peran di depan Anda."
Tangan Tuan Darius kini bergetar hebat saat ujung jarinya perlahan menyentuh permukaan map hitam itu dan membukanya perlahan. Matanya menyapu setiap baris tulisan yang tertulis rapi di dalam map itu. Darah seakan berhenti mengalir di nadinya.
KELUARGA AURELIA – PENGUSAHA SINGAPURA
- Ayah: mendiang Daniel Aurelia
- Ibu: mendiang Selena Aurelia
- Status: Anak tunggal, diangkat menjadi anak asuh sekaligus tunangan oleh Tuan Victor Adrian Blackwood setelah kedua orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat satu tahun lalu.
Di lembar paling bawah, terselip berkas tambahan yang membuat jantung Tuan Darius nyaris berhenti berdetak.
CATATAN TAMBAHAN
- Identitas Lain: Kania Adelia Wijaya
- Tanggal hilang: Tepat tujuh bulan yang lalu.
- Kejadian terkait: Pada malam yang sama, telah terjadi kasus pemerkosaan di sebuah gedung kosong di jalan Teratai. Korban adalah Kania Adelia Wijaya.
- Keterangan: Setelah kejadian itu, korban diasingkan oleh pihak keluarganya.
Tubuh Tuan Darius terhuyung mundur, tangannya mencengkeram tepi meja sekuat tenaga agar tak jatuh. Air mata yang sempat tertahan kini meledak tak terbendung, napasnya terasa sesak seakan ada bongkahan batu besar yang menekan dadanya.
"Diasingkan..." bisiknya parau, suaranya pecah oleh amarah yang menyayat hati. "Mereka... Aryan, dia... dia membiarkannya hancur, lalu membuangnya seperti sampah setelah apa yang dialaminya?!"
Ia mendongak menatap Victor dengan pandangan yang penuh kepedihan sekaligus kemurkaan yang tak terlukiskan. "Bagaimana Anda bisa tahu tentang hal ini?! Dan siapa yang tega melakukan hal sekeji itu pada anak yang tidak berdosa?!"
"Sikap dan ucapan putra Anda saat di pesta sangat mengganggu ketenangan tunangan saya, jadi saya mencari tahu tentang sosok wanita bernama Kania yang kalian maksud. Dan itulah yang saya dapatkan," jawab Victor, sorot matanya kini menggelap penuh kemarahan yang terpendam. "Itu adalah hal yang harus Anda cari tahu sendiri, Tuan. Di antara orang-orang terdekat Anda. Di antara mereka, mungkin ada yang diam-diam merencanakan kematian dan kehinaan seorang gadis yang tak berdaya."
"Sekarang terserah anda mau percaya atau tidak, Tuan Darius. Tapi ingat. Wanita yang anda lihat malam itu, dia adalah tunangan saya, Kanaya Aurelia.
-
-
-
Mobil hitam milik Haris berhenti tepat di halaman depan gedung Aurora Group, membuat beberapa staf yang lewat menoleh sejenak. Saat itu juga, pintu kaca utama terbuka dan Kania melangkah keluar dengan langkah tenang, mengenakan setelan jas formal yang memancarkan wibawa, jauh berbeda dari sosok gadis rapuh yang dulu ia kenal.
Haris segera turun, menutup pintu mobilnya dengan kasar dan bergegas menghampiri wanita itu. Napasnya memburu, campuran antara gugup dan kegelisahan yang tak kunjung usai.
"Kanaya..." panggilnya pelan namun tegas, menghalangi langkah wanita itu.
Kania berhenti sejenak, menatapnya datar tanpa ekspresi. "Ada apa, Tuan Haris? Saya masih ada jadwal rapat sebentar lagi."
"Aku mohon," ucap Haris, suaranya sedikit memohon. "Hanya sebentar. Aku ingin mengajakmu minum kopi di kafe seberang. Ada hal penting yang harus kukatakan padamu."
-
-
-
Bersambung...
semangat trs untuk karya² selanjutnya kk 😘
kamu dan karyamu sangat keren🥰🥰
peluk jauh🤗
teruslah berkarya thor💪🏼