Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pye... Wes wani tenan ki rabi?" goda Mas Zainal. (Gimana, udah berani beneran nikah?)
"Wani to Mas. Pye jal ra wani kie...."
(Berani dong Mas. Kenapa nggak berani?)
Keduanya seketika tertawa.
"Alhamdulillah, kamu sekarang udah berhijab,Mas seneng lihatnya. Mas denger calon suami kamu itu ganteng. Gagah juga. Pinter milihnya ternyata.... "
"Ya ganteng lah, Mas. Kan cowok, kalau cewek ya cantik."
Saat masih ngobrol dengan kedua kakak ku yang lumayan lama lah kami tidak bertemu, terdekat suara dering ponsel dari saku kemeja yang aku kenakan.
"Panjang umurnya, baru juga di omongin udah telpon aja orangnya." ucapku yang di jawab dengan tawa kedua kakak ku.
Setelah kusentuh icon bulat berwarna hijau, nampak wajah seorang lelaki tampan di layar benda pipih yang kini aku sandarkan pada toples kue kering yang ada di depanku.
"Assalamu'alaikum, Bang."
"Waalaikumsalam Sayang, sudah sampai rumah? Kok nggak ngabarin sih?"
"Sengaja, aku takut ganggu istirahat Abang. Tadi kan baru istirahat pas aku pamit pulang," jawabku.
"Heeem.... "
"Gimana, udah enakan belum?" tanyaku.
"Udah, gimana nggak cepet sembuh coba, yang ngerawat calon istri. Sampai-sampai pulang kerja, capek, rela datang cuma buat masakin Abang. Cuma kurang satu aja," ucap Bang Rengga.
"Kurang apa?" tanyaku. Pikiranku tidak enak. Pasalnya, lelaki satu ini filter mulutnya entah hilang kemana saat aku mengatakan bersedia menjalin hubungan dengan dirinya.
"Peluk cium," ucapnya sambil memainkan alis dan sedikit mengerucut kan bibirnya yang merah alami karena tidak pernah tersentuh nikotin.
"Tuh kan, kebiasaan. Mulutnya nggak pakai filter kalau mau ngomong. Abang nggak penasaran gitu aku lagi sama siapa?"
"Emang lagi sama siapa sih, Yang. Paling juga si Azka," jawab lelaki itu.
"No... Aku lagi sama dua cowok ganteng." jawabku menggoda Bang Rengga.
"Yang.... Jangan aneh-aneh. Aku kesana sekarang juga." ucap Bang Rengga.
"Ngapain? Udah, Abang di rumah aja. Istirahat biar cepet sehat. Aku mau ngobrol dulu sama dua cowok ganteng di depanku." ucapku sambil mengalihkan kamera ponsel ku ke kamera depan agar lelaki itu melihat wajah tampan dua lelaki yang sedari tadi mendengarkan obrolan kami berdua.
"Yang, jangan aneh-aneh deh. Tunggu, Abang kesana sekarang!" ucap Bang Rengga tegas.
"Mau ngapain? Aku lagi nggak terima tamu lhoo, Bang."
"Yang,.... " rengek Bang Rengga.
"Udah, sakit ya sakit aja. Istirahat aja di rumah." ucapku sambil menahan senyum saat melihat ekspresi lucu lelaki itu.
" Bang Rengga mau aja di kerjain Mbak Rani." celetuk Azka tiba-tiba. "Dua lelaki ganteng tadi itu putranya Budhe dari Tulung Agung. Sudah, tenang aja. Aman terkendali semua mah. Ada Azka di sini yang jagain Mbak Rani." imbuh Azka.
"Alhamdulillah, takut aja Mbak kamu tiba-tiba sadar dan berubah pikiran di detik-detik terakhir." jawab Bang Rengga.
"Iya, sadar kalau Abang itu ternyata manja banget kayak bayi." ucapku.
"Boleh nenen dong kalau Abang bayi." jawab Bang Rengga.
"Ya salam... Itu mulut minta di jahit kayaknya." aku mulai kesal dengan ucapan Bang Rengga yang terlalu frontal.
"Jangan dong, di lumat sampai kebas aja." jawabnya lalu tertawa.
"Astaghfirullah, kesambet dimana coba lelaki satu ini. Mas Zain, bisa bantu Rani rukiyah Bang Rengga nggak?" tanyaku pada Mas Zainal.
Kakak ku hanya menanggapi dengan tawa saja.
"Yang, boleh Abang ngobrol sama kakak kamu?" pinta Bang Rengga.
"Hem... Ya udah, Abang ngobrol aja ya. Tapi maaf, aku tinggal ngecek ke rumah Budhe Wati dulu ya. Takutnya ada yang kurang." ucapku berpamitan.
"Iya Sayang. Nanti kalau ada yang kurang langsung ngomong Abang ya."
Aku hanya mengangguk lalu menyerahkan ponselku pada Mas Zainal. Setelah itu, aku berdiri dan keluar rumah. Aku pergi ke sebelah, ke rumah Budhe Wati.
*****
Pagi ini, terlihat kesibukan di rumah kedua orang tuaku. Semua sudah tertata rapi pada tempatnya masing-masing. Meja untuk meletakkan makanan juga sudah siap, tinggal menata menu saja nanti.
"Mbak Rani, ada yang nyariin. Katanya karyawan cafe nya Bang Rengga."
"Mau ngapain? Acaranya kan masih nanti." tanyaku.
"Nggak tahu, tapi mereka bawa mobil box." jawab Azka.
"Bang Rengga nggak ada ngomong apa-apa sama Mbak. Ya sudah, Mbak temui mereka dulu."
Aku segera menemui karyawan Bang Rengga yang sudah menunggu di teras.
"Rizal? Ada apa, Zal?" tanyaku pada karyawan kepercayaan Bang Rengga.
"Disuruh bos ngantar menu tambahan buat acara nanti Mbak. Sama ada beberapa anak Cafe yang di minta bantu-bantu persiapan buat acara nanti."
"Ya ampun, si Abang mah ada-ada aja. Bukannya cafe juga ramai kalau hari Minggu, Zal."
"Tenang aja, Mbak. Yang tugas kesini mereka yang dapat jadwal off. Tapi tenang aja, Mbak. Mereka dengan senang hati bantu-bantu disini."
"Waduh, jadi enak dong Mbak.. Banyak yang bantuin." jawabku sambil tersenyum.
"Gimana nggak seneng Mbak. Bonusnya aja bikin dompet aman sampai nanti akhir bulan." jawab Rizal sambil tertawa.
"Sudah, sana sarapan dulu. Sudah ada beberapa menu siap di area prasmanan. Seadanya dulu ya, baru kalian kerja."
"Kerja dulu aja lah, Mbak. Biar tenang, masa si bos udah bayar mahal malah nggak beres kerjanya." jawab Rizal.
"Terserah! Ada di garasi ya area prasmanan nya. Udah kamu atur aja bagusnya gimana. Habis itu kalian semua wajib makan. Mbak mau masuk dulu siap-siap."
"Siap Bu Bos." seru Rizal.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rizal. Lelaki itu seumuran dengan Azka.
"Ka, minta tolong bantuin Rizal ya. Dia bawa menu tambahan dari cafenya Bang Rengga." ucapku saat melihat Azka yang hendak masuk.
"Zal, kenalin. Ini Azka, adikku. Kalau butuh apa-apa cari dia ya," ucapku. Setelah lelaki itu mengangguk, aku segera masuk untuk bersiap.
Kurang lebih jam sembilan, rombongan keluarga Bang Rengga sampai. Ada yang masuk dan duduk di dalam rumah, di teras dan ada juga yang duduk di kursi di bawah tenda yang sudah kami sediakan.
Tidak hanya keluarga Bang Rengga saja yang hadir di acara lamaran ini. Ada juga keluarga dari Bapak dan Ibu. Dan juga tetangga sekitar.
Aku tidak menyangka, jika acara lamaran yang dalam bayangan ku kali ini adalah sebuah acara sederhana, tapi malah sebanyak ini yang datang. Alhamdulillah, di syukuri saja. Semoga semua lancar hingga nanti.
Setelah beberapa saat, acara pun di mulai. Suara ustadzah Ina, ketua kelompok majelis taklim Ibu-ibu yang biasa menjadi MC di acara-acara penting warga sekitar terdengar mengucapkan salam membuka acara. Suasana yang tadi riuh, seketika menjadi hening.
Saat ini, aku sedang duduk di apit oleh ayah dan Ibu di kursi yang telah di sediakan untuk keluarga. Di seberang sana, tepat di hadapanku ada Bang Rengga yang juga duduk di apit oleh Papa Adam dan juga Mama Sofie. Lelaki itu terlihat tampan dan gagah. Aaah, dia memang selalu terlihat seperti itu meski hanya memakai kaos oblong.
Hingga akhirnya, tiba giliran Papa Adam yang menyampaikan maksud kedatangan keluarga besar mereka ke gubug sederhana kedua orang tuaku.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." ucap Papa Adam.
"Sebelumnya, perkenalkan,nama saya Adam Saya Papa dari Bang Rengga, mengucapkan banyak terima kasih atas sambutan dari keluarga Bapak Ratno dan juga Ibu Hasna untuk keluarga besar kami. Adapun maksud dan tujuan kedatangan kami, tidak lain dan tidak bukan adalah hendak meminta izin dari Bapak dan Ibu untuk melamar putri njenengan, Ferani Hanindita, atau yang lebih kami kenal dengan nama Rani untuk putra semata wayang kami, Bang Rengga Wardhana."
"Besar harapan kami, Bapak dan Ibu bersedia menerima lamaran keluarga kami, karena menurut pengamatan saya selama ini, belum ada perempuan yang bisa membuat anak bujang saya sampai merengek minta segera dilamar kan kecuali saat dia mengenal Rani." ucap Papa Adam sambil bercanda.
"Bang Rengga," panggil Papa Adam pada putra semata wayangnya itu. "Sekarang giliran Abang. Abang harus bisa meyakinkan Bapak sama Ibu, karena sejatinya tidak ada orang tua yang akan dengan mudah dan sukarela menyerahkan anak gadis nya begitu saja pada lelaki yang baru dikenal putrinya." ucap Papa Adam lalu menyerahkan mikropon yang dari tadi dia pegang pada Bang Rengga.
Terlihat Bang Rengga berdiri lalu menerima mikropon yang di sodorkan Papa Adam.
"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarakatuh." ucap Bang Rengga dengan suara bergetar. Aku hanya bisa menundukkan kepala, karena sejatinya aku pun nervous.
"Bapak, Ibu. Njenengan sudah menjaga Rani dari sejak dia kecil hingga saat ini. Sekarang, dengan kerendahan hati, bolehkah saya meminta menggantikan posisi Bapak dan Ibu untuk menjaga dan membahagiakan Rani layaknya perhiasan yang paling berharga yang ada di dunia ini?"
"Jika Allah mengijinkan dan meridhoi, saya ingin menjadikan Rani sebagai istri saya, yang akan selalu menemani langkah kaki saya untuk berjuang. Yang akan menjadi penyejuk hati saya saat gundah dan resah. Yang akan selalu mengingatkan saya saat melakukan kesalahan. Yang akan menyempurnakan separuh agama saya dalam satu ibadah panjang."
"Dari awal saya melihat dan mengenal putri Bapak dan Ibu, saya sangat ingin menjadikan Rani pendamping hidup saya, makmum saya saat sholat nanti, dan juga Ibu dari anak-anak saya. Saya tidak bisa menjanjikan apapun, tapi saya akan selalu berusaha ada untuk membahagiakan Rani, mencukupi semua kebutuhannya baik lahir maupun batin saat kami sudah halal dalam ikatan pernikahan nanti."
"Saya hanya ingin menyampaikan ketulusan hati saya dalam mencintai putri Bapak dan Ibu. Izinkan saya untuk mewarnai hidup putri kebanggaan Bapak dan Ibu. Izinkan saya mengajak Rani ke jenjang yang lebih serius dalam ikatan pernikahan. Bersediakah Bapak dan Ibu menerima lamaran saya untuk Rani?" pintar Bang Rengga.
Kini, giliran Bapak yang menjawab permainan lamaran dari keluarga Bang Rengga.
"Sebelumya, saya selalu Bapak dari Rani mengucapkan banyak terimakasih atas kedatangan dari keluarga besar Bapak Adam. Selamat datang di gubug sederhana kami. Dan mohon maaf, jika sambutan kami ada yang kurang berkenan dihati semua yang hadir saat ini."
"Semoga dengan silaturahmi ini, menjadi wasilah untuk membuka pintu rejeki yang barokah dan juga umur panjang dalam ketaatan pada Allah SWT."
"Terkait dengan lamaran yang sudah di sampaikan oleh Bapak Adam dan juga Bang Rengga, untuk putri kami Rani, kami sebagai orang tua tidak bisa menjawab."
"Kami akan menanyakan langsung, pada putri kami apakah dia berkenan atau tidak dengan lamaran dari Bang Rengga."
Bapak kemudian menatap padaku. "Mbak Rani, anak perempuan Bapak yang paling kuat menurut Bapak. Yang selalu mendahulukan keluarga dibanding kepentingan dirinya sendiri. Nak, kamu sudah mendengar permintaan dari Papa Bang Rengga, juga dari Bang Rengga nya sendiri secara langsung. Gimana Mbak? Apa kamu menerima lamaran dari Bang Rengga, putra dari Bapak Adam dan Juga Ibu Sofie?" tanya Bapak.
Aku terdiam sejenak. Ku tarik nafas panjang lalu kuhembuskan perlahan sekedar menetralkan degup jantung dalam dada.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan mengharapkan ridho dari Allah SWT, Insya Allah saya...." aku menjeda kalimat yang akan aku ucapkan selanjutnya.
"Saya menerima lamaran dari Bang Rengga." jawabku sambil mengangkat wajah dan menatap pada lelaki yang sedari tadi memandang penuh harap padaku.
Ada sorot khawatir dalam tatap matanya karena dia tahu, rasaku untuknya belumlah seratus persen. Mungkin dia takut aku akan berubah pikiran di detik-detik terakhir.
Terlihat lelaki itu menghembuskan nafas lega. Bahkan sudah ada mutiara bening yang mengalir di sudut matanya. Pelukan dari Papa dan Mama juga menggambarkan kelegaan.
"Alhamdulillah, terimakasih Sayang," ucap Bang Rengga saat menatap ku meski aku hanya bisa membaca dari gerak bibirnya.
Aku mengangguk dan tersenyum pada lelaki yang saat ini kupercaya akan menjadi imam untukku di masa yang akan datang.
Sekarang saatnya pemasangan cincin, setelah sebelumnya keluarga dari Bang Rengga menyerahkan seserahan yang mereka bawa tadi. Seserahan yang membuat mataku melotot karena Bang Rengga sama sekali tidak memberitahukan hal tersebut padaku.
"Abang, kenapa banyak banget bawaannya. Jangan boros dong, Bang. Mending ditabung buat acara nikahan nanti." protes ku pelan sambil berbisik di telinganya calon suamiku ini.
Aih, calon suami. Rasanya gimana gitu saat menyebutkan hal itu.
"Itu sebagai ungkapan rasa cinta Abang sama kamu, juga rasa terimakasih Abang karena kamu mau nerima Abang yang lebih sering nyebelin daripada nyenengin." ucap lelaki itu terkekeh pelan.
Setelah saling menyematkan cincin di jari manis tangan kiri kami masing-masing, aku kembali di buat terkejut oleh Bang Rengga.
Kali ini, kejutan Bang Rengga di bawa oleh Mama Sofie. Di tangan wanita yang selalu terlihat cantik dan modis sesuai usianya itu ada satu kotak beludru berwarna merah.
"Ini, dari Bang Rengga buat kamu, Ran. Dia sampai rela begadang melototin laporan usaha Papa Adam biar bisa malakin Papanya buat beli kejutan spesial untuk calon istrinya." ucap Mama Sofie menggoda
"Astagfirullah, Abang... Aku kan udah bilang.... "
"Diem, atau Abang cium bibir kamu yang dari tadi protes mulu." ucap Bang Rengga.
"Hem... Terserah lah... Suka-suka Abang aja." jawabku pasrah sambil menerima kotak tersebut dari Mama Sofie.
Kini saatnya semua yang hadir menikmati hidangan sederhana ala kampung yang sudah kami siapkan. Semoga saja lidah mereka yang dari kalangan atas cocok dengan menu yang kami sediakan. Ada rawon, gado-gado, pecel bakso dan sop buntut lengkap dengan aneka sate-satean khas angkringan. Makanan wong cilik kami menyebutnya. Dan ada juga makanan yang dikirim dari cafe Bang Rengga.
Kulihat, Bapak dan Ibu berkumpul di satu meja. Mereka sedang menikmati hidangan yang tersedia. Beda dengan aku dan Bang Rengga yang masih betah mojok duduk di salah satu spot yang tidak mengganggu orang yang lalu lalang mengambil hidangan.
"Abang nggak ambil makan?" tanyaku pada lelaki yang sedari tadi menggenggam jemariku dan memainkan benda berwarna putih yang melingkar di jari manis kiriku.
"Nanti aja, Abang nggak pulang bareng mereka kok. Abang pengen ngobrol-ngobrol dulu nanti sama Kakak-kakak sepupu kamu."
"Ooo.... Palingan juga modus." jawabku.
"Kalau ngomong kenapa suka bener ya!" jawab Bang Rengga.
"Beberapa waktu kenal Abang, aku sedikit hafal kebiasaan Abang."
Lelaki itu hanya mencebikkan bibirnya. Dia kemudian berdiri saat melihat rombongan yang terdiri dari beberapa orang.
"Yang, tamu agung datang tuh." ucapnya.