Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Nana menatap cangkir teh di tangannya.
Steven tanpa kata dingin, menyebalkan, atau melindungi.
Tiga kata itu seperti sengaja dipilih untuk menutup semua jalan mudah. Kalau memakai dingin, ia bisa selesai cepat. Kalau memakai menyebalkan, ia tidak perlu mengaku bahwa ada bagian dari dirinya yang mulai memahami Steven. Kalau memakai melindungi, ia akan terdengar seperti orang yang terlalu mudah tersentuh oleh luka sendiri.
Pak Shen menunggu.
Jam dinding berdetak. Di luar, dari balik jendela, Nana bisa melihat Steven berdiri di samping sedan tua. Ia tidak melihat ke rumah, tidak mengetuk jendela, tidak memberi tanda. Ia hanya berdiri dengan punggung lurus, seolah menunggu adalah hukuman yang sudah biasa ia jalani.
"Dia seperti pintu yang dikunci dari dalam," kata Nana akhirnya.
Pak Shen tidak bereaksi.
"Orang di luar mengira dia menutup jalan. Padahal mungkin di balik pintu itu ada api. Masalahnya, dia tidak memberitahu siapa pun ada api. Jadi orang hanya melihat pintu tertutup dan marah."
"Kau memaafkan pintu itu?"
"Tidak."
Jawaban itu keluar lebih cepat dari perkiraannya.
Pak Shen menatapnya lebih tajam.
Nana meletakkan cangkir. "Kalau benar ada api, dia tetap salah karena membiarkan orang lain menebak sendiri. Orang yang terbakar juga bisa melukai orang yang sedang mencoba menolong."
Untuk pertama kalinya, Pak Shen tersenyum sedikit.
"Bagus. Jangan kasihan padanya terlalu cepat."
Nana terkejut. "Saya tidak kasihan."
"Hampir."
"Tidak."
Nana mengangkat wajah. "Kalau kasihan, saya akan ingin dia berhenti sakit. Tapi yang saya rasakan bukan itu. Saya marah karena dia sering memutuskan sendiri siapa yang boleh tahu, siapa yang boleh takut, siapa yang boleh terluka. Saya marah karena dia membuat orang lain merasa bodoh setelah diselamatkan."
Pak Shen memperhatikan tanpa berkedip.
"Tapi saya juga..." Nana berhenti, mencari kata yang tidak termasuk tiga larangan tadi. "Saya juga tahu dia tidak melakukan itu karena senang melihat orang bingung."
"Itu lebih jujur."
"Kau mulai melihat lukanya. Orang baik biasanya setelah itu ingin membalut luka dan lupa bertanya dari mana pisau datang."
Nana terdiam.
Pak Shen mengambil kertas tiga pertanyaan yang tadi ia berikan, lalu mengetuk poin terakhir dengan ujung jari.
Siapa yang merasa bersalah meski belum tentu bersalah?
"Rasa bersalah adalah tanah paling subur untuk kebohongan," katanya. "Kalau seseorang sudah merasa pantas dihukum, musuh tidak perlu bekerja keras. Cukup berikan hukuman yang terlihat masuk akal."
Nana melihat lagi ke jendela. Steven masih di sana. Dari jauh, wajahnya tidak jelas. Namun tubuhnya tampak terlalu diam untuk orang yang tenang.
"Pak Shen mengkhawatirkan dia?"
"Aku mengkhawatirkan semua orang yang terlalu percaya pada penderitaannya sendiri."
"Tuan Steven begitu?"
"San pandai menahan sakit. Itu bukan kelebihan kalau orang di sekitarnya mulai mengira dia tidak bisa terluka."
Nana mengingat Steven di Pasar Atom, saat ia menekan saputangan ke pergelangan Nana. Steven di perpustakaan, berbicara dengan suara hormat kepada seseorang yang saat itu belum ia kenal. Steven yang berkata ia bukan tempat penitipan rasa takut, tapi selalu muncul ketika rasa takut itu hendak menggigit.
Ia tidak ingin kasihan.
Namun memahami seseorang kadang datang tanpa izin, seperti cahaya kecil yang masuk lewat celah pintu.
"Kenapa Pak Shen memberitahu saya semua ini?" tanya Nana.
"Karena kau bukan keluarga Sie."
Jawaban itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya.
Pak Shen melihat perubahan wajahnya. "Itu bukan hinaan."
"Biasanya kalimat itu dipakai sebagai hinaan."
"Di Rumah Besar Sie, mungkin. Di ruangan ini, itu keuntungan." Pak Shen bersandar. "Orang keluarga terlalu banyak membawa utang lama. Mereka melihat Steven sebagai anak, adik, beban, kegagalan, atau alat. Kau melihatnya dari luar. Itu membuat matamu lebih berguna, selama hatimu tidak terlalu cepat memilih."
"Memilih apa?"
"Percaya tanpa bukti. Membenci tanpa bukti. Dua-duanya sama berbahaya."
Nana menunduk. Kata-kata itu terdengar seperti pelajaran, tapi juga peringatan.
"Kalau saya tidak memilih cepat, orang lain akan memilihkan untuk saya."
"Benar. Karena itu kau harus belajar memegang pertanyaan lebih lama daripada rasa takutmu."
Pak Shen bangkit, berjalan ke rak, lalu mengambil kotak kayu kecil. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah lilin pendek, belum pernah dinyalakan. Ia meletakkannya di meja di antara mereka.
"Ini bukan simbol indah," katanya sebelum Nana bertanya. "Ini pengingat. Lilin memberi cahaya dengan menghabiskan dirinya sendiri. Banyak orang memuji cahaya dan lupa bertanya siapa yang terbakar."
"Tim Lilin."
"Ya."
Nana menatap lilin itu. Selama ini Tim Lilin terdengar seperti kelompok rahasia yang kuat, ruang bawah tanah, kartu akses, data, orang-orang yang bisa datang dari pintu belakang. Di meja Pak Shen, namanya tampak lebih sunyi. Lebih mahal.
"Apakah Steven terbakar?" tanya Nana pelan.
Pak Shen tidak langsung menjawab.
"Belum habis."
Jawaban itu membuat tenggorokan Nana menegang.
Pak Shen mengembalikan lilin ke kotak. "Kau lihat kenapa aku melarangmu memakai kata melindungi? Kata itu terlalu cantik. Orang bisa bersembunyi di baliknya. Kau harus belajar melihat tindakan, akibat, dan harga."
"Seperti membaca laporan."
"Lebih sulit. Laporan tidak menatapmu balik."
Nana hampir tersenyum, tapi tidak jadi.
Pak Shen lalu mengambil map lain, bukan map Patrick Pang. Map itu kosong di bagian luar, tanpa label. Ia tidak membukanya. Hanya menaruhnya sebentar di atas meja, lalu memasukkannya kembali ke laci.
"Ada hal yang belum boleh kau baca."
"Tentang siapa?"
"Tentang hari ketika laporan bukan lagi tentang orang mati."
Nana merasakan udara di ruangan berubah.
"Maksud Pak Shen?"
"Suatu hari, mungkin tidak lama lagi, kau akan melihat kertas, suara, saksi, dan keluarga bergerak ke arah satu orang yang masih hidup. Semua akan tampak rapi. Semua akan punya alasan. Semua akan berkata mereka hanya mengikuti fakta."
Di luar jendela, Steven akhirnya menoleh ke rumah, seolah merasakan namanya disentuh dari dalam.
Pak Shen menatap Nana, dan suaranya tetap tenang.
"Kalau hari itu datang, jangan jawab dengan hatimu dulu. Jawab dengan cara kau membaca Patrick Pang hari ini."
Nana tidak bernapas beberapa detik.
"Pak Shen sedang bicara tentang Steven."
"Aku sedang bicara tentang keadilan."
"Tapi orangnya Steven."
Pak Shen tidak menyangkal.
Detak jam terasa makin keras.
Nana memegang kertas tiga pertanyaan sampai ujungnya terlipat. Semua pelajaran hari itu mendadak berubah bentuk. Patrick bukan hanya masa lalu. Tjang bukan hanya contoh. Hasan bukan hanya ancaman. Semua seperti sedang membuka jalan ke satu kemungkinan yang belum terjadi, tapi sudah membuat Pak Shen menyiapkan pertanyaan.
Pak Shen berdiri di hadapannya, kecil, tua, dan lebih berat daripada seluruh rumah besar.
"Nana," katanya pelan, "kalau suatu hari semua orang berkata Steven bersalah, kau akan percaya?"