Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Lama
Matahari masih menggantung tinggi di atas langit Wonosobo, pancaran cahaya yang menyelimuti kota kecil itu nyaris menyilaukan. Namun kesejukan angin pegunungan tetap bertahan—menyusup di sela-sela pepohonan dan menyapu pelan jalanan yang mulai kembali dipadati kendaraan.
Pradipta masih berada di Agrowisata Lereng Mahitala untuk meninjau pembangunan area glamping yang baru, sedangkan Danendra belum pulang dari kantor.
Di ruang tengah, Ratih sedang menikmati secangkir teh hangat sambil membaca majalah, ketika suara Bi Inah terdengar.
"Ada tamu, Bu."
Ratih menutup majalahnya. "Siapa?"
"Katanya Bu Alana."
Ratih berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Suruh masuk."
Tak lama kemudian, Alana melangkah masuk dengan senyum ramah. Ia mengenakan blouse berwarna krem dan membawa sebuah kotak yang berisi kue sebagai oleh-oleh.
"Assalamu'alaikum, Tante." Ucap Alana.
"Wa'alaikumussalam," Ratih langsung berdiri untuk menyambutnya. "Ya ampun, Alana. Sudah lama sekali tidak bertemu."
Alana mencium tangan Ratih dengan sopan. "Maaf baru sempat berkunjung," katanya.
"Kamu semakin cantik." Puji Ratih.
Alana tersenyum. "Tante juga masih terlihat muda."
Ratih terkekeh kecil. "Kamu ini masih saja pandai mengambil hati."
Mereka lalu duduk berhadapan, kemudian Bi Inah datang menghidangkan teh hangat dan sepiring kue.
"Bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya Ratih.
"Alhamdulillah baik, Tante."
"Tante dengar, katanya kamu sudah kembali ke Wonosobo?"
"Iya, Tante."
"Lalu suamimu?"
Senyum Alana perlahan memudar. "Kami sudah berpisah."
Ratih terdiam sesaat, "maaf, Tante tidak tahu."
"Tidak apa-apa, Tante." Jawab Alana sambil menundukkan kepala.
Ratih tersenyum, "tidak semua rumah tangga bisa dipertahankan, yang penting kamu kuat."
"Insya Allah, Tante."
Suasana hening beberapa saat.
Alana sengaja mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Rumah ini tidak banyak berubah," katanya.
Ratih tersenyum menatap Alana. "Ya, hanya penghuninya yang bertambah."
Alana langsung menyahut cepat. "Menantu baru, ya?"
"Iya."
Alana mengangguk pelan. "Aku sempat bertemu Danen beberapa kali di kantor," katanya, yang membuat Ratih langsung mengangkat alis.
"Oh ya?"
"Urusan pekerjaan." Alana menjawab cepat agar tidak menimbulkan kesan yang salah, "lalu, bagaimana Niken?"
Ratih menghela napas pelan. "Dia perempuan yang sopan. Tapi...?"
Alana menangkap keraguan di wajah Ratih. "Tante sepertinya belum benar-benar menyukainya."
Ratih tidak langsung menjawab, ia hanya mengaduk teh di cangkirnya.
"Ada beberapa hal yang membuat Tante masih berpikir." Kata Ratih yang membuat Alana berpura-pura tidak mengerti.
"Maksud Tante?"
Ratih tersenyum tipis. "Nanti juga kamu akan tahu sendiri."
Alana mengangguk, tidak tanya lebih jauh lagi. Ia sengaja membiarkan Ratih merasa nyaman terlebih dahulu.
Dua jam kemudian...., suara mobil terdengar memasuki halaman.
Ratih menoleh ke arah jendela. "Itu Danen."
Tak lama, pintu rumah terbuka. Danendra masuk sambil melepas jasnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Langkah Danendra terhenti ketika melihat Alana duduk di ruang tamu. "Kamu?"
Alana berdiri sambil tersenyum. "Hai. Aku sedang berkunjung ke Tante."
Danendra menoleh ke arah ibunya. Sebelum hubungannya dengan Alana berakhir, perempuan itu memang cukup sering datang ke rumah.
"Silahkan duduk, Danen." Ujar Ratih.
"Aku masih ada pekerjaan, Bu." Kata Danendra sambil melangkan menuju tangga.
Namun Ratih menghentikannya. "Sebentar."
Danendra berhenti, lalu menoleh ke arah mereka.
"Temani Alana mengobrol." Titah Ratih.
Belum sempat Danendra menjawab, suara mobil lainnya terdengar berhenti di halaman. Rupanya Niken juga baru pulang dari sekolah, ia masuk ke dalam rumah sambil membawa tas dan beberapa hasil gambar murid-muridnya.
Begitu melihat tamu, ia langsung tersenyum sopan. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Ratih menjawab datar, sementara Alana berdiri memperhatikan Niken dari ujung kepala hingga kaki.
"Jadi... inilah wanita yang kini menyandang status sebagai istri Danendra?" Bathin Alana.
Niken lalu menghampiri Ratih terlebih dahulu. "Saya sudah pulang, Bu."
Ibu mertuanya hanya menjawab dengan senyum singkat.
Setelah itu, Niken menoleh ke arah Alana. "Maaf, kita belum pernah bertemu."
Alana mengulurkan tangan sambil tersenyum manis. "Alana."
Niken menyambut tangan Alana, "Niken."
Keduanya berjabat tangan.
"Saya sering mendengar nama Mbak Niken."
Niken tersenyum ramah. "Semoga yang didengar yang baik-baik."
"Tentu."
Alana tersenyum lebih lebar, namun jauh di dalam hatinya, ia berkata, "kita memang baru bertemu hari ini, Niken. Tapi mulai sekarang kita akan sering bertemu."
Dari tangga, Danendra memperhatikan pertemuan itu. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa tidak tenang, firasatnya mengatakan bahwa kehadiran Alana di rumah itu bukanlah sebuah kebetulan.
Setelah ngobrol singkat, Niken menoleh ke arah suaminya yang masih berada di tangga. "Mas?"
Danendra tersenyum kepada Niken.
"Tadi.... Mas bilang pulangnya malam."
"Iya."
"Tapi, kok sudah di rumah?"
Danendra terdiam beberapa detik. Sementara Alana dan Ratih ikut mendengar percakapan mereka.
"Tadi pekerjaan selesai lebih cepat," jawab Danendra akhirnya.
"Oh..." ucap Niken sambil mengangguk pelan. "Alhamdulillah."
Tak ada nada curiga dalam suaranya, Niken bahkan tidak bertanya lebih jauh lagi.
Melihat respons istrinya yang begitu sederhana, Danendra justru merasa tidak enak sendiri. Padahal sejak tadi ia sengaja menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat agar bisa pulang seperti biasa, dan ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Niken, tetapi tentu saja ia tak mungkin mengatakannya.
Niken tersenyum kepada Alana. "Silahkan dilanjutkan ngobrolnya, saya izin ganti baju dulu."
"Iya, silahkan." Jawab Alana ramah.
Begitu Niken menaiki tangga, Alana menoleh kepada Ratih sambil tersenyum. "Tante..."
"Iya, Alana?"
"Niken kelihatannya percaya sekali sama Danen."
Ratih menghela napas pelan, "dia memang begitu."
Alana mengangguk. "Bagus juga, tidak semua istri bisa setenang itu."
Ratih hanya tersenyum tipis.
Sementara itu, di lantai atas, Danendra dan Niken baru saja masuk ke kamar mereka. Niken langsung menuju lemari, sementara Danendra masih membuka kancing kemejanya.
Lalu Niken yang membuka obrolan. "Terima kasih ya, Mas. Sudah sempat mengajak makan siang tadi."
Danendra menghentikan gerakannya. "Itu, kebetulan saja."
Niken tersenyum kecil, "kalau memang kebetulan, semoga kebetulan seperti itu sering terjadi."
Danendra hampir saja tersenyum, namun buru-buru ia menahan ekspresinya. "Hm."
Niken tertawa pelan melihat reaksi suaminya. "Mas memang susah tersenyum, ya."
Danendra langsung mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, sih.... Tapi sebenarnya kalau Mas tersenyum," Niken menunduk malu sebelu akhirnya berkata. "Mas terlihat lebih tampan."
Kalimat itu membuat Danendra benar-benar kehilangan kata-kata. Baru kali ini ada yang memujinya dengan begitu polos.
Kemudian Niken tersadar, bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang memalukan. Ia pun buru-buru mengambil pakaiannya. "A—aku mandi dulu."
Ia hampir berlari menuju kamar mandi. Pintu tertutup, namun Danendra masih berdiri mematung.
Beberapa detik kemudian...
Tanpa sadar, sudut bibirnya benar-benar terangkat membentuk senyum kecil. Senyum yang selama beberapa hari terakhir menghilang.
Di balik pintu kamar mandi, Niken bersandar sambil menepuk pelan pipinya yang memanas. "Ya Allah... kenapa aku bisa bilang begitu?" Bisiknya lirih.
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil tersenyum malu-malu.
Sementara di luar kamar, Danendra menggeleng pelan. Kamar itu akhirnya tidak lagi terasa sedingin hari-hari sebelumnya. Ada kehangatan yang perlahan tumbuh, meski belum diucapkan dengan kata 'maaf' ataupun 'aku percaya', keduanya menemukan jalan untuk kembali saling dekat.
...****************...