"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang perceraian
"Besok pukul 12 siang,surat perceraian akan keluar"
"Aku tau,besok aku pasti datang ke pengadilan lebih awal",jawab Adeline fokus pada pekerjaan nya saat ini.
Damar,pria berusia 28 tahun itu terdiam dan membeku melihat bagaimana wanita di hadapannya itu menyalakan lilin dan kemudian menyanyikan lagu ulang tahun, seperti ulang tahunnya sebelum-sebelumnya selama tiga tahun berturut-turut tanpa terlihat terganggu dengan ucapan nya.
Sementara Adeline fokus menyanyikan lagu ulang tahun dengan senyum termanis nya, menatap kue ulang tahun terakhir yang akan Ia siapkan untuk suaminya itu.Damar justru menatapnya dalam diam tanpa melihat kue ulang tahun itu,sampai Adeline berhenti bernyanyi dan meminta nya untuk berdoa sebelum meniup lilin.
"Jangan lupa berdoa sebelum meniupnya", ujarnya menyodorkan kue ulang tahun mini itu di depan sang suami.
Damar dengan gerakan perlahan, dan dengan matanya yang selalu menatap tajam benar-benar terpejam untuk berdoa di depan kue ulang tahun itu.
Pada saat Damar baru saja menutup mata untuk berdoa, Adeline mengedipkan matanya dan karna hal itu setetes air mata menetes di pipinya,hingga air matanya seolah berlomba-lomba untuk mengalir dan tak bisa menghentikan nya.
Damar membuka matanya kemudian meniup lilin angka itu,tapi saat melihat Adeline yang mengusap wajahnya Ia sadar wanita itu sebenarnya menghapus air matanya,dan hal itu membuat nya merasakan perasaan aneh tapi Ia mengabaikan nya dan mengambil kue ulang tahun itu dan meletakkan nya begitu saja tanpa mencobanya, segera mengambil makanan lain.
"Seharusnya kau tidak perlu menyiapkan nya, buang-buang waktu saja",ucapnya dan melahap makanan berat lainnya seolah tidak tau kalau Adeline yang masih berusaha menghapus air matanya.
"Tapi aku ingin membuat makan malam terakhir kita berkesan,ini adalah masakan terakhir dan ulang tahun terakhir mu yang akan ku rayakan, setidaknya kau akan mengingat ku untuk ini"
Jawab Adeline menatap kue ulang tahun yang di pinggirkan oleh Damar,Ia membuatnya dengan sepenuh hati dan berusaha untuk terlihat semenarik mungkin dengan rasa yang tentu saja Ia buat seenak mungkin agar Damar menyukai nya,karna terakhir kali Damar mengomentari kue ulang tahun buatnya jelek dan tidak kreatif.
Namun Ia tidak ingin memaksa Damar hanya untuk memakan kue itu.
Dalam keheningan merek menikmati makan malam itu tanpa mengeluarkan suara apapun, keduanya fokus pada makanan masing-masing,sampai Adeline akhirnya memecahkan keheningan di tengah makan malam itu.
"Kapan kau berencana akan menikah dengan Shakira?"
Entah bagaimana, pertanyaan itu begitu saja keluar dari mulut Adeline,dan hal itu sukses membuat Damar menghentikan makan nya dan menatapnya tajam wanita di hadapannya itu yang menganggu selera makannya.
"Bukan urusan mu!"
Adeline menundukkan wajahnya,"Maaf"
"Urus,urusan mu sendiri"
Setelah mengatakan itu,Damar meletakkan sendok makan nya dan bangkit dari duduknya seolah selera makannya sudah tidak ada lagi.
Ia meraih kunci mobilnya yang terletak di meja.
Melihat hal itu Adeline segera ikut bangkit dan bertanya,"Ini sudah sangat malam,kau mau pergi kemana?",tanya nya benar-benar khawatir.
"Sudah ku bilang, urus urusan mu sendiri"
"Tapi...,"
"Jangan lupa datang tepat waktu besok"
Sebelum sempat menyelesaikan menjawabnya,Damar sudah menghilang dengan suara pintu yang di tertutup dengan kuat.
Sepergian Damar,Ia merasa tenggorokan nya sedikit sakit dan gatal hingga beberapa kali Ia batuk,namun bukan dahak tapi darah yang saat ini di telapak tangannya.
Ia langsung membersihkan nya,namun sebelum itu berakhir Ia kembali mimisan hingga tubuh nya terasa tak berdaya dan lemah.
Sepertinya karena terlalu lelah menyiapkan makan malam itu,hingga menyita banyak tenaganya.
Niat hati ingin membuat malam itu berkesan,namun Ia sendiri merusaknya.
***
Keesokan harinya tepat pukul 12 siang, Adeline sudah ada di pengadilan agama untuk penandatanganan surat perceraian, sekaligus untuk sidang perceraian.
Namun satu hal yang membuat hatinya sakit dan patah,bahkan di sidang perceraian itu Damar tidak datang dan mengirimkan seorang pengacara membawa surat perceraian yang sudah di tandatangani olehnya lebih awal.
Dan dengan tidak adanya kehadiran nya dalam sidang itu, mereka tak punya alasan untuk tetap melanjutkan pernikahan dan hakim secara resmi mengetuk palu menyetujui perceraian mereka tanpa pertanyaan apapun.
Setelah sidang selesai semua orang pergi dan meninggalkan nya seorang diri duduk di kursi depan meja hakim.
Hanya Ia seorang diri,bahkan dari pihak Damar baik kedua orang tuanya atau saudaranya tidak ada yang hadir dalam sidang itu
Perceraian itu begitu mudah dan tak ada kendala sama sekali.
Dan bersamaan dengan itu,Ia benar-benar telah bercerai dengan Damar dan tak memiliki hubungan apapun dengan nya dan keluarganya mulai saat ini.
Rasanya waktu begitu cepat,padahal baru semalam rasanya Ia masih berstatus suami istri.
Saat itu seseorang datang dan menghampiri nya.
"Selamat siang nona,saya asisten pribadi tuan Damar,maaf tuan tidak bisa hadir dan sebagai permohonan maaf saya akan mengantarkan anda untuk pulang ke rumah"
"Tidak usah, terimakasih aku bisa pulang sendiri".Ia bangkit dari duduknya dan ingin segera pergi,tapi pria dengan pakaian setelan rapi itu menghentikan nya.
"Baiklah nyonya,Oh iya saya ingin memberikan ini pada nyonya.Ini di titipkan oleh nyonya besar dan tuan besar"
***
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu
jangan mau Terima apapun dr mereka Adeline..