NovelToon NovelToon
HERE I AM "GHOST"

HERE I AM "GHOST"

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: chiechie kim

Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.

Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.

Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Lorong Tertutup

Satu minggu berlalu dengan damai. Hubungan Min-woo dengan orang tuanya kini jauh lebih baik, ia pun masih sering menginap di kontrakan Seung-hyun—bukan lagi untuk lari dari rumah, tapi karena tempat itu sudah terasa seperti rumah keduanya.

Siang itu setelah jam pelajaran selesai, Pak Kim menunggu mereka bertiga di ruang konseling. Wajahnya serius, tapi tidak tampak khawatir berlebihan.

“Ada tugas baru untuk kalian,” ucapnya sambil menyerahkan selembar peta sekolah tua. “Lorong sayap timur gedung lama—tempat yang sudah ditutup dan dikunci sejak lima tahun lalu. Beberapa siswa yang lewat di dekat sana melaporkan hal aneh: pintu besi yang terkunci berdentum sendiri, suara langkah kaki berulang-ulang seolah orang berjalan mondar-mandir, dan ada yang melihat bayangan tinggi berjalan menembus dinding.”

Min-woo memandang peta itu dengan tenang. “Apakah ada catatan kejadian sebelum lorong itu ditutup?”

“Sebelum ditutup, ada seorang siswa pindahan yang menghilang tanpa jejak di sana,” jawab Pak Kim pelan. “Pencarian dilakukan sampai berhari-hari, tapi tidak ditemukan jejak sedikit pun. Sejak itu, area itu dikunci rapat.”

Soo-jin merasakan sedikit dingin menjalar di punggungnya. “Aku merasakan… kebingungan. Seperti seseorang yang tersesat, tidak tahu jalan pulang, dan terus berputar di tempat yang sama.”

“Kali ini tidak ada dendam atau kemarahan yang meledak-ledak,” tambah Seung-hyun sambil menyiapkan perlengkapan. “Tapi ketakutan karena tidak tahu arah bisa sama berbahayanya.”

Mereka pun bergerak menuju sayap timur. Semakin dekat, hawa udara semakin lembap dan gelap. Pintu besi tua yang menutup lorong itu berkarat berat, namun di sana terdengar suara gesekan pelan—seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Min-woo melangkah paling depan, tangannya siap di depan.

“Kita tidak akan memaksanya,” katanya pelan pada teman-temannya. “Kita hanya akan menunjukkannya jalan keluar.”

Mereka bertiga pun membuka kunci lama yang sudah disiapkan Pak Kim, dan mendorong pintu besi itu perlahan. Lorong yang gelap dan penuh debu terbuka lebar di hadapan mereka.

Cahaya senter mereka menembus kegelapan, menyoroti debu yang melayang perlahan di udara. Lorong itu panjang, dindingnya kusam dan ada retakan di beberapa bagian. Tidak ada suara lain selain bunyi langkah kaki mereka yang bergema pelan, dan suara samar yang berulang seperti orang yang berjalan mondar-mandir di kejauhan.

“Tetap berdekatan,” bisik Min-woo. “Jangan menyimpang ke sisi lain.”

Saat mereka berjalan sekitar sepuluh meter, Soo-jin tiba-tiba berhenti. Sinar senternya jatuh pada sebuah noda gelap di lantai yang sudah berdebu, dan di sebelahnya ada sepasang sepatu sekolah yang sudah tua dan kotor, tergeletak persis seperti ditinggalkan dengan tergesa-gesa.

“Lihat ini,” tunjuknya pelan.

Seung-hyun berlutut, menyentuh pinggiran sepatu itu dengan ujung jari. “Ukuran sepatunya… sepertinya milik siswa laki-laki. Dan lihat di dinding sebelah sana.”

Mereka mengarahkan cahaya ke tembok bata di sampingnya. Terdapat garis-garis goresan yang tidak beraturan, seolah seseorang mencoba mencari pegangan atau mencoba merobek dinding yang terasa seperti jalan buntu baginya. Di antara goresan itu, tertulis nama samar dengan tinta yang sudah memudar: Jae-ho.

“Jae-ho…” gumam Min-woo. “Itu nama siswa yang hilang lima tahun lalu.”

Tiba-tiba suara langkah kaki yang berulang tadi berhenti seketika. Suasana menjadi sunyi senyap, lalu terdengar suara bisikan yang pelan dan bingung, seolah datang dari segala arah sekaligus:

“Jalan mana…? Kenapa semuanya berubah? Pintu mana yang harus kupakai?”

Min-woo mengangkat senternya ke arah ujung lorong. Di sana, berdiri sosok remaja yang badannya agak bungkuk, matanya kosong dan bingung, terus menatap dinding seolah mengharapkan dinding itu bisa terbuka. Ia tidak berniat menyakiti mereka—ia hanya terus berputar, terjebak dalam momen saat ia tersesat dan tidak bisa menemukan jalan keluar.

Baru saja Min-woo hendak melangkah mendekat dan memanggil nama Jae-ho, lantai di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar hebat. Cahaya senter bergoyang liar, dan hawa dingin yang menusuk tulang seketika menyelimuti seluruh lorong.

Dari celah-celah dinding gelap dan langit-langit yang remuk, muncul sosok raksasa berwujud kabut hitam pekat. Matanya menyala merah menyala, dan tangannya yang besar seperti cakar melesat cepat menyerang mereka bertiga.

“MUNDUR! JANGAN MENGGANGGU WILAYAHKU!” suaranya menggelegar, bergema menyakitkan di sepanjang lorong.

Min-woo terdorong keras hingga menghantam dinding. “Ini bukan Jae-ho! Ini makhluk lain yang sudah lama bersembunyi di sini!” teriaknya di tengah kegaduhan.

Soo-jin hampir disambar cakar itu, untung Seung-hyun menariknya tepat waktu. “Dia menjaga lorong ini agar tidak ada yang masuk—dan juga agar Jae-ho tidak pernah bisa keluar!” seru Seung-hyun sambil melemparkan garam suci yang memantulkan cahaya saat menyentuh tubuh makhluk itu.

Makhluk itu meraung kesakitan, lalu semakin marah. Ia mengayunkan tangannya ke segala arah, membuat puing-puing batu beterbangan. Di tengah kekacauan itu, Jae-ho hanya berdiri terpaku di ujung lorong, semakin ketakutan dan bingung, tidak berani bergerak sedikit pun.

“Kita harus memisahkan mereka!” teriak Min-woo sambil bangkit kembali. “Soo-jin, bawa Jae-ho menjauh! Seung-hyun, bantu aku menahan makhluk ini!”

Min-woo dan Seung-hyun bekerja sama memukul mundur makhluk bayangan itu. Mereka melemparkan jimat dan garam suci ke arahnya, membuat kabut hitam itu menyusut dan meraung kesakitan, namun ia tak mau mundur sedikit pun.

“Soo-jin, sekarang!” teriak Min-woo.

Soo-jin segera berlari menembus celah yang terbuka, mendekati Jae-ho yang gemetar ketakutan. Ia tidak memaksanya, hanya mengulurkan tangan dengan senyum tulus.

“Jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu. Ikutlah denganku, aku akan tunjukkan jalan yang benar,” bisiknya lembut.

Jae-ho menatapnya ragu sejenak, lalu perlahan menyentuh tangan Soo-jin. Begitu genggaman terjalin, dinding lorong yang tadinya tampak buntu perlahan memudar—ternyata makhluk itu telah menciptakan ilusi selama ini agar Jae-ho tak pernah menemukan pintu aslinya.

Di saat yang sama, Seung-hyun melemparkan jimat terkuatnya tepat ke dada makhluk itu. Cahaya terang meledak, menghancurkan wujud bayangan penjaga yang egois itu. Makhluk itu lenyap seketika, dan beban berat yang menyelimuti lorong pun hilang.

Pintu keluar yang selama ini tersembunyi kini terlihat jelas di ujung lorong. Jae-ho menatapnya dengan mata berbinar penuh harap, lalu menoleh ke arah mereka bertiga dengan ucapan terima kasih yang tulus sebelum perlahan lenyap menuju cahaya di sana.

Setelah suasana kembali tenang dan pintu keluar itu lenyap bersama cahaya yang membawa Jae-ho, Soo-jin menoleh ke arah Seung-hyun dengan tatapan bertanya.

“Seung-hyun… apa sebenarnya Jae-ho juga sudah menjadi hantu?” tanyanya pelan, masih teringat wajah bingung sosok itu tadi.

Seung-hyun menghela napas pendek sambil menatap ujung lorong yang kini kosong. “Ya. Lima tahun lalu ia benar-benar menghilang di sini, dan tidak pernah ditemukan lagi. Tubuhnya terjebak di balik runtuhan tersembunyi di lorong ini, sementara jiwanya terperangkap oleh ilusi makhluk penjaga itu.”

Min-woo menimpali sambil memungut sisa perlengkapan mereka. “Selama ini ia tidak tahu kalau dirinya sudah tiada. Ia hanya merasa tersesat, bingung kenapa semua jalan berubah, dan kenapa tidak ada yang menjawab panggilannya. Makhluk itu sengaja membiarkannya tidak sadar, agar terus terjebak di sini selamanya.”

Soo-jin menunduk, merasa sedih sekaligus lega. “Tapi sekarang dia sudah tahu jalan pulang, kan?”

“Sudah,” jawab Seung-hyun . “Dan itu yang paling penting. Dia tidak perlu lagi berputar-putar sendirian dalam kegelapan.”

Mereka pun berjalan keluar dari lorong tertutup itu dengan hati yang tenang, meninggalkan tempat yang selama ini menyimpan kesedihan dan jebakan.

1
chie_bapeer
❤️❤️❤️
chie_bapeer
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!