Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 | HAMPIR
Udara malam yang dingin menusuk kulit saat Elara dan Dante melangkah keluar dari kelab. Elara berusaha menjaga jarak, namun Dante dengan dominasi yang tak terbantahkan terus menempel di sampingnya. Begitu mencapai mobil sport Elara, Dante bergerak lebih cepat, menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil, memblokir akses Elara.
" Apa yang kau lakukan?" desis Elara, mencoba mengabaikan aroma parfum cedarwood dan maskulin yang menguar dari pria itu.
"Makan malam bersamamu," jawab Dante singkat. "Aku tidak suka membatalkan janji, apalagi janji yang baru saja kubuat dengan 'kekasih' baruku."
Elara mendengus. " Itu hanya akting, Dante. Kita sudah selesai di dalam sana."
Dante mendekatkan wajahnya, membuat
Elara terpaksa menahan napas. "Di duniaku, Elara, tidak ada yang namanya 'akting sama Sekali kau mengumumkan kita adalah pasangan kekasih maka dunia akan memperlakukanmu seperti itu. Dan kau tidak ingin tahu apa yang terjadi pada orang yang mencoba membohongiku."
Sebelum Elara bisa membantah, Dante sudah masuk ke kursi penumpang, bertindak seolah-olah itu adalah miliknya. Dengan terpaksa menyusul masuk ke kursi pengemudi. Dante segera menyalakan rokoknya, memenuhi kabin mobil dengan asap tipis yang menyesakkan.
" Matikan itu atau aku akan membuangmu keluar saat mobil ini melaju," ancam Elara.
Dante hanya langsung tersenyum miring, matanya sesekali melirik spion tengah dengan intensitas yang tidak biasa. "Kau terlalu banyak bicara, Sayang. Fokuslah menyetir."
Elara mulai merasakan ada yang janggal. Dante tidak hanya merokok untuk mengganggunya; pria itu sedang memeriksa sesuatu. Elara mengikuti tatapan Dante ke spion. Sebuah sedan hitam dengan lampu yang dimatikan mengikuti mereka di jarak yang konstan, tidak berusaha mendahului, namun tidak pula tertinggal.
"Kita diikuti," bisik Elara, tangannya mengeratkan genggaman pada setir.
"Aku tahu," Dante menjawab santai, tetap menghisap rokoknya.
"Siapa mereka? Apa itu anak buahmu yang tidak terima kau bersamaku, atau musuhmu?" Elara menaikkan kecepatan mobil, bermanuver tajam di tikungan kota yang sepi.
Dante menoleh, menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan—ada kekaguman, sekaligus kewaspadaan yang mematikan. "Pertanyaan yang tepat adalah: siapa kau sebenarnya, Elara Vance? Kau tidak tampak seperti sosialita biasa yang panik saat diikuti pembunuh bayaran."
Elara terdiam sejenak. Sebelum ia sempat memberikan alasan, sebuah dentuman keras memecah keheningan malam. Kaca spion samping kiri hancur berkeping-keping.
DOR!
Mobil mereka berguncang hebat saat ban belakang ditembak tepat sasaran. Elara mengumpat keras, berusaha mengendalikan setir yang mulai bergetar liar.
"Sial! Mereka penembak jitu!" teriak Elara.
Dante tidak panik. Ia justru membuang rokoknya keluar jendela, meraih laci dasbor, dan menemukan pistol Beretta yang disimpan Elara di sana. Ia memeriksa isinya dengan cekatan, lalu menatap Elara dengan seringai buas.
"Sepertinya makan malam kita akan menjadi sedikit lebih berdarah," ucap Dante tenang. " Tetaplah menyetir, Elara. Jangan biarkan mobil ini berhenti, atau kita berdua akan menjadi sejarah malam ini."
Elara menatap Dante dengan horor. Ia sadar ia baru saja masuk ke dalam situasi yang jauh di luar kendali agen manapun. Ia bukan lagi sekadar agen yang sedang menyamar ia adalah target yang kini harus bekerja sama dengan musuh utamanya untuk tetap hidup.
●●●●
Mobil sport Elara berhenti berdecit setelah bannya meletus, berhenti tepat di area industri yang terbengkalai. Tiga pria berjas hitam keluar dari mobil pengejar mereka, langkah mereka berat dan penuh ancaman.
Pria di tengah, dengan bekas luka memanjang di pipinya, melangkah maju.
" Dante Moretti. Sang legenda akhirnya bisa kita temukan."
Dante keluar dari mobil dengan tenang, mengabaikan laras pistol yang terarah padanya. Ia menyalakan pemantik, menyalakan cerutu, dan mengepulkan asap tepat ke wajah pria itu. " Kalian mengganggu waktu makan malamku. Itu kesalahan fatal."
"Serahkan wanita itu," pria berbekas luka itu menatap Elara yang masih berada di kursi kemudi. "Dia terlihat cantik untuk berakhir di tengah genangan darah."
Elara mencengkeram pistolnya di bawah jok. Ia menatap Dante, menunggu perintah atau pembelaan. Namun, Dante justru tersenyum miring, senyum yang membuat Elara merasa dikhianati.
"Dia? Dia hanyalah mainan yang membosankan," jawab Dante dengan santai. "Ambil saja jika kau mau. Tapi jangan salahkan aku jika ia menjerit lebih keras daripada saat ia bersamaku."
Darah Elara serasa membeku. Mainan? Pria ini benar-benar tidak punya hati.
Pria berbekas luka itu tertawa dan melangkah mendekati jendela mobil Elara.
" Dengar itu, Sayang? Ikutlah dengan kami, kau akan hidup lebih lama."
Elara menurunkan maskernya, menatap pria itu dengan tatapan yang dingin dan mematikan.
" Kau bicara terlalu banyak," ucapnya tajam.
Dalam satu gerakan kilat yang tidak disadari lawan, Elara menendang pintu mobil hingga menghantam dada pria berbekas luka itu sampai terpelanting. Sebelum dua anak buah lainnya sempat bereaksi, Elara sudah melompat keluar dengan dua pistol di tangan.
DOR! DOR!
Dua peluru tepat bersarang di dahi musuh-musuh itu. Hening seketika menyelimuti area tersebut, hanya suara angin malam yang menderu.
Dante berdiri terpaku, cerutunya jatuh ke tanah. Ia menatap Elara yang kini berdiri di tengah genangan darah, napasnya memburu, namun sorot matanya tajam dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Elara memutar pistolnya, lalu perlahan mengarahkannya tepat ke pelipis Dante.
"Sudah cukup sandiwara ini, Dante," suara Elara bergetar karena amarah. "Siapa kau sebenarnya? Dan jangan berani-berani memanggilku 'mainan' lagi."
Dante tidak gentar. Ia justru melangkah maju, membiarkan ujung laras pistol Elara menekan kulit kepalanya. Ia menatap mata Elara dengan intensitas yang mengerikan.
"Kau bukan agen biasa, bukan?" Dante terkekeh, meski ada kilatan berbahaya di matanya. " Namaku Dante Moretti. Aku tidak memimpin sebuah geng, aku memimpin sebuah kerajaan yang bahkan pemerintahmu takut untuk menyentuhnya."
"Aku tidak peduli siapa kau," tegas Elara.
"Oh, kau peduli," Dante mencengkeram pergelangan tangan Elara, memaksa pistol itu jatuh ke tanah. Ia merengkuh pinggang Elara, menariknya begitu dekat hingga Elara bisa merasakan detak jantung pria itu yang tenang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja lolos dari maut.
" Karena sekarang, kau sudah tahu rahasia terbesarku. Dan di duniaku, ada dua pilihan bagi orang yang tahu siapa aku: mati, atau menjadi milikku selamanya."
Elara terpaku. Ia menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan dari kematian dia baru saja jatuh ke dalam perangkap yang ia ciptakan sendiri, dan pria di depannya ini tidak akan pernah melepaskannya.
●●●●
Elara menghilang ke dalam gang-gang gelap kota, napasnya tersengal. Luka di perutnya terasa perih, namun adrenalin memaksanya untuk tetap bergerak. Begitu ia merasa cukup jauh, ia menggunakan ponsel enkripsi daruratnya untuk menghubungi Julian, rekan setimnya yang merupakan ahli teknologi di agensi.
"Julian, jemput aku di koordinat yang kukirim sekarang. Kondisi darurat," bisik Elara.
Tak lama, mobil SUV hitam tanpa lampu berhenti di depannya. Julian segera menariknya masuk. "Elara? Kau berdarah?"
"Jalan! Jangan banyak tanya," Elara bersandar, tangannya mendekap perutnya yang terlindung rompi anti-peluru. Beruntung, peluru itu hanya memberikan efek shock yang hebat, namun rompinya menahan penetrasi.
"Siapa yang melakukan ini? Misi pengintaian Dante Moretti seharusnya berjalan lancar," tanya Julian, matanya terpaku pada jalan.
"Dante... dia tahu, Julian. Dia tahu siapa aku sejak awal," jawab Elara dengan suara dingin. "Dia bermain denganku. Dia membiarkanku masuk hanya untuk menghancurkanku dari dalam."
Sesampainya di apartemen rahasianya, Elara segera melepas pakaiannya yang berlumuran darah. Ia membuang napas lega saat menyadari rompi antipelurunya telah menyelamatkan nyawanya. Namun, saat ia hendak membuang gaun malamnya yang robek, ia merasakan sesuatu yang keras terselip di balik saku tersembunyi gaun itu.
Jantung Elara berhenti sejenak. Ia menarik keluar sebuah benda mikro berukuran sebesar ujung jari—sebuah tracker GPS kelas militer dengan logo simbol ular melingkar: lambang sindikat Moretti.
"Sialan," umpat Elara.
Dante tidak hanya melukainya; pria itu telah menandainya. Pria itu sudah memasukkan alat pelacak ini saat ia 'menolongnya' tadi di tempat kejadian. Dante tidak membiarkannya lolos—ia sengaja membiarkannya pergi agar bisa melacak markas rahasia Elara.
Di sisi lain kota, di penthouse pribadinya yang gelap, Dante Moretti sedang menatap layar lebar di dinding. Titik merah kecil bergerak perlahan di peta kota, menuju ke sebuah apartemen di distrik pusat.
Dante menyesap wiskinya, menatap titik merah itu dengan seringai buas. Ia tidak terburu-buru. Ia membiarkan Elara merasa aman, membiarkan gadis itu berpikir ia berhasil kabur.
"Kau bisa lari sejauh yang kau mau, Elara," gumam Dante pelan, suaranya memenuhi ruangan yang sunyi. " Tapi kau adalah milikku. Setiap langkahmu, setiap napasmu, adalah bagian dari permainanku sekarang."
Dante meletakkan gelasnya, lalu mengambil pistol Glock dari meja. Ia tidak berniat memanggil anak buahnya. Kali ini, ia akan menjemput 'propertinya' sendiri.
Elara, yang kini sedang membersihkan lukanya di kamar mandi, tiba-tiba merasakan firasat buruk. Bulu kuduknya berdiri. Ia mematikan lampu apartemen dan meraih senjatanya. Ia sadar, tracker itu hanyalah pembuka. Dante Moretti sudah dalam perjalanan, dan malam ini tidak akan berakhir sampai salah satu dari mereka hancur.
●●●●