NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Keberangkatan Sang Kapten

   Dini hari di Samudra Langit selalu membawa warna kelabu keperakan yang sunyi. Di dek peluncuran bagian belakang The Sky Leviathan, sebuah kapal sekoci tempur cepat bertenaga kristal angin telah disiapkan.

   Ukurannya hanya sepersepuluh dari kapal induk raksasa mereka, namun sekoci itu dirancang dengan material seringan bulu agar mampu melesat menembus barisan awan tanpa terdeteksi oleh radar sihir musuh.

   Baling-baling kecilnya berputar tanpa suara, mengeluarkan pendaran cahaya kehijauan yang tipis.

   Clara berdiri di bawah bayangan lambung sekoci, jubah wol tebalnya berkibar pelan tertiup angin malam yang dingin. Di sampingnya, Leo, Rin, dan Toby berdiri berjejer dengan raut wajah yang sarat akan kesedihan.

   Kapten Alden berdiri di hadapan mereka. Pria itu telah mengenakan jubah perang hitam militernya, lengkap dengan The Zephyr Blade yang tersampir di pinggang kirinya. Tatapan abu-abu badainya menyapu ketiga anaknya satu per satu. Ada kelembutan yang tidak biasa terpancar dari sepasang mata yang biasanya hanya mengenal kekerasan medan perang tersebut.

   "Leo," panggil Alden, suaranya berat bergema di dek yang sepi. Pria itu melangkah mendekati putra sulungnya, lalu meletakkan tangan besarnya di atas pundak Leo. "Kau adalah laki-laki tertua di sini selama aku pergi. Kendalikan apimu dengan baik. Jaga adik-adikmu, dan yang paling penting... patuhi setiap perintah ibumu."

   Leo menahan napasnya sejenak, matanya berkaca-kaca namun ia memaksakan diri untuk berdiri tegak dengan sikap militer yang sempurna. Ia memberikan penghormatan dengan mengepalkan tangan kanan di dadanya. "Siap, Ayah. Aku bersumpah akan melindungi Ibu dan adik-adik dengan nyawaku."

   Alden tersenyum tipis, sebuah anggukan bangga diberikan kepada putranya. Pria itu kemudian berlutut di atas satu kaki di depan Rin dan Toby. Rin dengan cepat membuka buku catatan kecilnya, jemari mungilnya bergerak dengan gesit membentuk isyarat bahasa tangan yang diajarkan oleh Clara.

   'Ayah harus kembali dengan cepat. Rin akan merindukan Ayah,' tulis anak perempuan itu, lalu menunjukkan halamannya dengan mata indigo yang berkilau emosional.

   "Aku akan kembali sebelum badai es utara mengunci jalur langit, Rin. Janji," ucap Alden lembut. Pria itu beralih menatap Toby yang sejak tadi mencengkeram ujung jubah hitamnya dengan erat. Alden mengelus rambut pirang bungsu mereka. "Toby, jangan takut pada teror malam lagi. Kau memiliki Ibu yang sangat kuat di sisimu sekarang, mengerti?"

   "Mengerti, Ayah... Toby tidak akan menangis lagi," bisik Toby polos, meski setitik air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang tembam.

   Setelah menenangkan ketiga anaknya, Alden bangkit berdiri sepenuhnya. Ia melangkah mendekati Clara yang sejak tadi berdiri diam dengan hati yang terasa begitu berat. Jarak di antara mereka terkikis habis, hingga Clara bisa merasakan kehangatan perlindungan yang menguar dari tubuh suaminya di tengah dinginnya kabut fajar.

   "Semua instruksi taktis dan kode navigasi raksasa The Sky Leviathan sudah aku serahkan kepada Bernet," kata Alden, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Clara. "Kru kapal ini telah bersumpah setia kepadaku, dan mereka tahu bahwa perintahmu mulai hari ini adalah perintahku juga. Jika kau menemui jalan buntu di tengah badai es, percayalah pada intuisimu sendiri, Clara. Pengetahuanmu sebagai mantan Penyembuh Agung jauh lebih berharga daripada seluruh kompas sihir di kapal ini."

   Clara mengulurkan kedua belah tangannya yang terbalut sarung tangan perak tipis, lalu menggenggam erat telapak tangan kasar Alden. "Aku mengerti, Alden. Jangan cemaskan kami di sini. Fokuslah pada misimu di ibu kota. Hancurkan konspirasi sekte hitam di dalam militer kekaisaran, dan kembalilah kepada kami dalam keadaan utuh."

   Alden tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, pria itu menarik pinggang Clara dengan tangan kirinya, merapatkan tubuh wanita itu ke dalam dekapannya yang sangat protektif.

   Di depan ketiga anak mereka yang kini tersenyum tipis melihat kebersamaan orang tua mereka, Alden menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Clara dalam sebuah ciuman perpisahan yang singkat namun sangat dalam, sarat akan rasa cinta, keyakinan, dan janji suci untuk saling menjaga jarak jauh.

   Ketika pautan bibir mereka terlepas, Alden menyandarkan keningnya pada kening Clara selama beberapa detik yang terasa sangat berharga. "Aku mencintaimu, Clara. Jaga harta kita yang paling berharga."

   "Aku juga mencintaimu, Alden. Pergilah sebelum fajar menyingsing sepenuhnya," bisik Clara dengan senyum tulus yang menguatkan jiwanya sendiri.

   Tanpa membuang waktu lagi, Kapten Alden berbalik dengan cepat, jubah hitamnya berkibar megah saat ia melangkah masuk ke dalam kabin kemudi sekoci tempur cepat. Pintu besi sekoci menutup rapat dengan suara desisan hidrolik sihir yang khas.

   Beberapa detik kemudian, kunci pengikat dek terlepas, dan sekoci meluncur jatuh bebas dari buritan The Sky Leviathan sebelum akhirnya baling-baling sihirnya menyala dan melesat cepat ke arah tenggara, menghilang di balik gumpalan awan fajar yang keemasan.

   Clara memandangi kekosongan langit tempat sekoci Alden menghilang untuk waktu yang cukup lama. Rasa sepi mendadak merayap di hatinya, namun ia segera menepis perasaan lemah tersebut. Tanggung jawab besar kini berada di pundaknya.

   "Nyonya Clara." Sebuah suara formal memecah kesunyian dari arah belakang.

   Bernet berdiri di sana bersama dengan wakil komandan dek dan beberapa perwira navigasi utama kapal. Mereka semua membungkuk hormat dengan tingkat kedisiplinan militer yang sangat tinggi di hadapan Clara. Di tangan Bernet, terletak sebuah tongkat komando kecil bersimbol burung elang perak, lambang kekuasaan tertinggi di atas The Sky Leviathan.

   "Kapten Alden telah resmi meninggalkan pelayaran. Seluruh sistem pertahanan dan jalur navigasi kapal kini menunggu perintah pertama dari Anda untuk mengubah haluan menuju utara terlarang," lapor Bernet dengan nada suara yang penuh rasa hormat yang tulus.

   Clara membalikkan tubuhnya perlahan. Ia menatap para kru kapal yang kini memandangnya bukan lagi sebagai tawanan pernikahan kontrak atau wanita rapuh tanpa sihir, melainkan sebagai sosok "Ibu Negara" kapal yang telah bertaruh nyawa menyelamatkan anak-anak kapten mereka tadi malam.

   Di sampingnya, Leo, Rin, dan Toby berdiri tegap, memberikan seluruh dukungan emosional terkecil mereka kepada Clara.

   Clara melangkah maju dengan keanggunan seorang mantan Penyembuh Agung yang telah menemukan kembali harga dirinya. Ia menerima tongkat komando perak dari tangan Bernet dengan tangan kanannya yang terbalut Sutra Laba-laba Salju.

   "Bernet, perintahkan ruang mesin untuk membakar cadangan kristal api tingkat kedua sekarang juga," perintah Clara, suaranya terdengar jernih, lantang, dan memancarkan otoritas kepemimpinan yang tegas di atas dek.

"Ubah koordinat haluan kapal tiga puluh derajat ke arah utara laut. Kita akan meluncur dengan kecepatan penuh menuju Pulau Melayang Frostfire. Aktifkan perisai kamuflase pelapis ketiga, jangan biarkan ada satu pun burung merpati sihir atau kapal pengintai musuh mendeteksi pergerakan kita hari ini."

   "Perintah diterima, Kapten Clara!" sahut wakil komandan dek dengan lantang, memberikan penghormatan militer penuh sebelum bergegas kembali ke ruang kemudi utama bersama kru lainnya.

   Mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan 'Kapten Clara', seulas senyum penuh tekad terukir di bibir manis Clara.

   Pelayaran menuju wilayah es abadi yang mematikan kini telah resmi dimulai. Tanpa kehadiran fisik Alden di sisinya, Clara harus membuktikan kepada seluruh Samudra Langit bahwa seorang ibu tiri yang tulus memiliki kekuatan batin yang jauh lebih dahsyat daripada sihir hitam mana pun untuk melindungi masa depan anak-anaknya.

Jangan lupa dukungan dan follownya.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!