NovelToon NovelToon
Dari Menantu Menjadi Istri

Dari Menantu Menjadi Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Marica

Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.

Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.

Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan yang dipertahankan

Luna duduk bersebelahan dengan Raka di sofa panjang ruang keluarga, berhadapan langsung dengan Bara. Suasana malam itu terasa begitu sunyi. Hanya suara detak jam dinding terdengar sesekali. Ketegangan terasa menggantung di udara. Tanpa sadar Luna merangkul lengan Raka, seolah mencari rasa tenang dari suaminya.

Raka sendiri menarik napas sebelum memilih untuk membuka suara. Ia ingin segera keluar dari suasana yang terasa mencekam itu.

"Ada apa, Pa? Kenapa mengumpulkan kami?" tanyanya hati-hati.

"Kalian pindah dari rumah ini," jawab Bara tanpa basa-basi. Nada suaranya datar, tetapi justru terdengar jauh lebih mengintimidasi daripada sebuah bentakan.

Raka langsung mengernyit. "Kenapa, Pa?"

"Sebelum ibumu meninggal bukannya dia memberikan sebuah rumah yang besarnya berkali-kali lipat dari rumah ini." Bara menatap Raka dengan sorot mata tajam. "Dan … rumah itu atas nama Luna."

Ucapan itu membuat Luna spontan menoleh ke arah Bara. Matanya sedikit membulat karena bingung. "Apa? Atas namaku?"

Bara mengangguk pelan. "Kamu tidak tahu? Apa suamimu tidak memberitahu tentang rumah itu?"

Luna menggeleng pelan. Keningnya berkerut penuh kebingungan sebelum akhirnya menoleh ke arah Raka, menatap sang suami seolah meminta penjelasan.

Raka sempat membalas tatapan Luna, tetapi hanya sesaat. Ia segera menundukkan kepalanya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak berani menatap mata Bara mau pun Luna.

Wajah ayahnya nampak tenang, tetapi tersimpan bahaya yang cukup besar. Raka mengenal betul ayahnya. Ketika pria itu bicara setenang itu, biasanya amarahnya sedang berada di puncaknya.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Kini ia yakin Luna juga akan mempertanyakan tentang rumah itu.

"Kamu tidak ingin menjelaskan pada kami, Raka?"

Suara berat itu memecah keheningan dan membuat Raka mendongak. Tatapan matanya bertemu langsung dengan mata Bara. Auranya begitu tenang, tetapi justru ketenangan itu membuat Raka serasa semakin terpojok.

"Bagaimana ini?" batin Raka. "Aku mungkin bisa membohongi Luna dengan begitu mudah, tetapi bagaimana dengan papa?"

Tangannya sedikit gemetar, bibirnya terasa kelu, tenggorokannya mengering, pikirannya kacau, tetapi ia tetap bekerja keras untuk mencari kebohongan yang bisa diterima dan masuk akal.

"Kami butuh jawaban darimu, Raka!"

GLEK

Raka menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

"Ru-rumahnya aku jual, Pa," jawab Raka akhirnya.

Jelas saja itu sebuah kebohongan.

Raka melihat ke arah Bara, hanya sesaat. Ia terlalu takut untuk melihat reaksi sang ayah.

Bara sendiri langsung mengangkat satu alisnya. "Dijual?"

"I-ya, Pa." Raka kembali menelan ludah. "Waktu itu perusahaan sedang butuh banyak dana. Jadi … aku menjualnya," jawab Raka. Kalimat itu keluar dari mulut Raka dengan terbata-bata.

Ia segera menoleh kepada Luna, lalu menggenggam tangan istrinya erat-erat seolah berharap sentuhan itu dapat membuat kebohongannya terdengar lebih menyakinkan.

"Maafkan aku, Luna. Aku sengaja tidak memberitahumu. Aku takut kamu marah," ucap Raka.

Luna justru tersenyum lembut. Tidak sedikit pun ia menaruh curiga. Ia membalas genggaman tangan Raka dengan hangat. "Gak apa-apa, Mas. Itu hanya sebuah rumah. Lagi pula aku nyaman tinggal di sini."

Jawaban itu membuat hati Raka sedikit lega. "Aku janji akan mengganti dengan rumah yang lebih besar dari itu."

Luna kembali mengangguk. Baginya, rumah bukanlah hal yang penting. Selama bisa hidup bersama orang yang dicintai, tempat sebesar apa pun terasa cukup.

Pandangannya kemudian beralih pada Bara, menatap sang mertua dengan tatapan penuh keyakinan. "Pa, aku tidak apa-apa tetap tinggal di rumah ini."

Raka ikut melihat ke arah Bara. Di balik wajahnya yang terlihat tenang, ia menanti reaksi sang ayah dengan harap-harap cemas. Dalam hati Raka hanya berharap satu hal. Ayah tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Bara akhirnya bicara.

"Baiklah jika ini sudah menjadi keputusanmu, Luna," ucap Bara.

Mendengar jawaban itu, Raka langsung bernapas lega. Beban yang sejak tadi menekan dadanya seolah sedikit terangkat. Setidaknya kebohongannya malam ini masih berhasil ia pertahankan.

Bara lantas bangkit. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara tatapannya tetap menatap lurus ke depan.

Meskipun pembicaraan itu sudah berakhir, ketegangan masih terasa. Tak tahan dengan situasi canggung itu, Luna memilih untuk lebih dulu pergi. Bukan hanya alasan itu. Luna merasa ada hal yang masih ingin dibicarakan oleh anak dan ayah itu.

"Aku sedikit lelah. Aku mau istirahat dulu," ucap Luna.

Bara dan Raka mengangguk bersamaan.

"Selamat malam," ucap Luna sebelum pergi dari ruangan itu meninggalkan kedua laki-laki itu.

"Selamat malam," balas Raka dan Bara hanya mengangguk pelan.

Sepeninggal Luna, suasana masih hening dan tegang. Raka masih berada di tempat yang sama. Ada perasaan tak nyaman dengan tatapan Bara yang amat tenang.

"Pa, apa masih ada hal yang ingin Papa katakan padaku?" tanya Raka dengan hati-hati.

Bara menggeleng dan memandang anaknya itu sekilas. "Tidak."

"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Ada beberapa berkas yang harus aku urus," ucap Raka. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Raka segera meninggalkan tempat itu.

Bara hanya mengangguk pelan, tetapi tatapannya tetap mengarah pada Raka yang mulai menjauh dari pandangannya.

Sementara itu, Raka membuka pintu ruangan yang selalu ia gunakan untuk bekerja. Ruangan itu tidak besar, hanya berukuran beberapa meter saja. Ia segera menutup pintu dan bersandar sejenak sambil menarik napas panjang.

Setelah itu, ia berjalan ke kursinya. Duduk sambil memijit pangkal hidungnya. Pikirannya kembali ke percakapan sebelumnya.

Selama ini Raka sengaja tidak memberitahu Luna tentang kebenarannya dari rumah itu. Bukan dijual, tetapi rumah itu sudah diberikan untuk Vanessa.

Saat itu, saat mengetahui Vanessa hamil, Raka begitu bahagia. Karena Vanessa butuh perhatian lebih darinya, maka Raka memutuskan untuk memindahkan Vanessa ke rumah itu dan sengaja memindahkan Luna ke tempat yang cukup jauh agar tidak mengetahui hubungannya dengan Vanessa.

Bukan hanya kebohongan tentang rumah, tetapi juga tentang keuangan. Perusahaan tidak dalam keadaan kacau. Bisnisnya berjalan lancar. Semua itu Raka lakukan agar Luna tidak curiga jika dirinya juga memberikan uang pada wanita lain yang justru lebih besar darinya.

Setiap hari setelah pulang dari kantor, Raka lebih dulu pulang untuk menemui Vanessa baru pulang menemui Luna.

Semuanya berjalan lancar sampai kepulangan sang ayah membuat semuanya menjadi kacau.

"Kenapa semuanya jadi kacau," batin Raka.

Sejujurnya ia juga tidak menduga jika Bara akan kembali secepat itu. Padahal sebelumnya sang ayah mengatakan akan pindah permanen. Sekarang sang ayah justru kembali. Semuanya tidak lagi berjalan sesuai dengan rencananya.

Raka mulai menduga jika sang ayah tahu kebohongannya. Akan tetapi kenapa sang ayah tetap diam dan tidak membongkar kebohongannya di depan Luna.

"Apakah papa tahu?" batin Raka. "Rasanya tidak mungkin."

"Jika papa tahu pasti dia akan sangat marah dan membongkar semuanya di hadapan Luna."

1
partini
good story
partini
melihat seperti itu masa luna ga ngehh kalau mereka ada something
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
MamDeyh: Luna Luna masih aja bodoh dan naif..
total 1 replies
partini
paling lihat di hotel atau temen ehem lainnya,,ada drama live streaming ga Thor secara ini alur cerita kan hote hote
ig: Marica_Author: gak lah, gerah sendiri ntar🤭
total 1 replies
say't
aq jd luna raka bisa bersenang2 dngn jalangx aq jg bs brsenang2 dngn ayahx raka.hayo mana yg lbh sakit hati nantix hayo 🤣
say't
pst smbil mmbayangkan luna nih 🤣
say't
wow 😍 bara yg sll mmbuat bara dihati luna 🤣 kalo aq jd luna aq lngsung cerai n sm barax ja 🤭 persetan dngn omongan netizen yg penting aq dpt yg lbh matang mahal dari anak tirix
say't: butul butul butul
total 3 replies
partini
papah mertuahhhh ga ada flashback ini Thor ,,pasti ada something kan
ig: Marica_Author: ada dong
total 1 replies
MamDeyh
Nah bagus Luna udah mulai pinter
partini
mau di permalukan Ampe darah" toh serem juga si gundik ini
OMG kalau terjadi she so dammm sad man
MamDeyh
Jgn kelamaan bodoh nya ya Luna.. Emak online gregetan
MamDeyh
Wadidawwwww
partini
jadi ini karya nada Thor ,,aku baca kaya gini ceritanya tapi udah di hapus udah pulang si Luna ke rumah nanti Raka pulang juga ada lingerie warna merah nanti di kasih ke Luna padahal bekas
ig: Marica_Author: Terima kasih sudah mampir Kak😍
total 6 replies
MamDeyh
Up lagi kak
MamDeyh
Wahhh Luna kamu melihat adegan 21+++ yaaaa/Tongue/
MamDeyh
Lanjuuut Kakkk
MamDeyh
Wahduuuuh siapa yg nyolong itu 🤔
ig: Marica_Author: siapa ya🤔
total 1 replies
Indriani Kartini
cepet atuh ketauan kesel bngt, Luna juga knpa ga ada rasa curiga bngt, dah dua taun juga rumahntangga
MamDeyh
Pleaseee kak jgn kelamaan bikin Luna teraniaya
ig: Marica_Author: Sabar ya kak🤭🤭🤭🤭. Aku pun tak sabar up bab baru lagi. Tak tamatin dulu yang satu itu.
total 1 replies
MamDeyh
Naaaahhh/Panic/
MamDeyh
Luna jgn klemar klemer kek jd istri😒
MamDeyh: Aku setiaaaa menunggu kakaaa
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!