NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Cahaya Baru di Tengah Kebenaran

Tangisan bayi yang nyaring menggema di seluruh ruangan persalinan, seolah menjadi penutup yang indah dari segala liku perjalanan yang telah dilalui. Naura terbaring lemas namun tersenyum bahagia, matanya berkaca-kaca menatap sosok mungil yang kini dibaringkan di dekat dadanya. Aldo berdiri di sampingnya, tangannya gemetar sedikit saat menyentuh pipi halus putra pertamanya—perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, campuran antara cinta yang meluap-luap dan rasa tanggung jawab yang besar.

"Sehat... dia sangat sehat," gumam Aldo pelan, suaranya sedikit bergetar karena haru. CEO yang biasanya tegas dan tidak tergoyahkan di hadapan siapa pun kini terlihat begitu lembut dan manusiawi.

Dokter dan perawat yang hadir pun tersenyum melihat pemandangan itu. "Selamat, Tuan Aldo, Nyonya Naura. Bayi laki-laki ini lahir dengan kondisi sangat baik, beratnya tiga kilogram dua ratus gram. Ibu juga dalam keadaan sehat meski persalinannya agak cepat dari perkiraan," lapor dokter sopan sebelum keluar ruangan untuk memberi mereka waktu bersama.

Naura mengusap lembut kepala bayinya yang masih tertutup rambut halus berwarna hitam. "Kita berikan dia nama... Arka. Seperti nama ayahku. Agar ia selalu mengingat asal-usulnya, dan tumbuh menjadi orang yang jujur dan baik hati," ucapnya lembut.

Aldo mengangguk setuju, mencium kening istrinya. "Arka Pratama. Nama yang indah dan penuh makna. Semoga ia tumbuh menjadi kebanggaan kita semua."

Beberapa jam kemudian, Ibu Aldo dan beberapa kerabat dekat datang menjenguk. Wajah mereka penuh kegembiraan melihat kehadiran anggota baru keluarga. Ibu Aldo bahkan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, terus memandangi Arka seolah takut melewatkan satu detik pun.

"Cucu kami... akhirnya hadir juga. Dia memiliki mata yang sama dengan ayahnya, tapi kulitnya sehalus ibunya," ucap Ibu Aldo sambil tersenyum lebar.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, kabar tentang penangkapan Widodo masih terus berkembang. Aldo tetap menerima laporan dari tim hukumnya, meski ia berusaha tidak membicarakan hal-hal yang berat di depan Naura agar ia bisa beristirahat dengan tenang.

Tiga hari kemudian, mereka diperbolehkan pulang ke rumah. Suasana di kediaman Aldo sudah disiapkan dengan sangat rapi—semua sudut dibersihkan, suhu ruangan diatur agar tetap nyaman, dan peralatan keamanan ditambah lagi untuk memastikan keselamatan seluruh keluarga.

Selama minggu-minggu pertama, Aldo bahkan memindahkan sebagian pekerjaannya ke rumah agar bisa selalu berada di dekat Naura dan Arka. Ia yang dulunya menghabiskan waktu berjam-jam di kantor kini sering terlihat duduk di samping tempat tidur, menonton istrinya menyusui atau sekadar mengamati putranya yang sedang tidur.

"Kamu seharusnya tetap bekerja di kantor, Aldo. Aku bisa mengurus Arka dengan bantuan pelayan," ucap Naura suatu sore saat melihat suaminya sedang membaca laporan sambil sesekali melirik ke arah buaian.

Aldo meletakkan berkasnya, lalu mendekat dan memegang tangan istrinya. "Pekerjaan bisa menunggu. Kamu dan Arka adalah prioritas utamaku. Lagipula, aku juga ingin belajar bagaimana menjadi ayah yang baik. Selama ini aku tidak pernah melihat contoh yang baik dalam keluarga, jadi aku ingin memulainya dengan benar."

Kata-kata itu membuat hati Naura terasa hangat. Ia tahu bahwa masa kecil Aldo tidak dipenuhi dengan kasih sayang seperti yang dialami anak-anak lain, dan ia merasa bersyukur karena suaminya bertekad memberikan hal yang berbeda untuk anak mereka.

Namun, meski suasana di rumah terasa damai, perkembangan kasus Widodo terus berlanjut. Beberapa minggu kemudian, tim hukum Aldo datang memberikan kabar terbaru.

"Tuan Aldo, proses persidangan akan dimulai dua minggu lagi. Bukti-bukti yang kita miliki sangat kuat—dokumen transaksi, rekaman percakapan, dan kesaksian dari mantan anak buah Widodo yang akhirnya berani bicara setelah mendapatkan perlindungan hukum. Ia tidak akan bisa menghindari hukuman yang setimpal," lapor kepala tim hukum.

Aldo mengangguk, namun matanya tetap waspada. "Pastikan keamanan selama persidangan berlangsung. Widodo masih memiliki banyak kenalan, dan aku tidak ingin ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada keluarga kami."

"Sudah diatur, Tuan. Kami juga telah meminta perlindungan khusus dari kepolisian untuk Nyonya dan Tuan Muda Arka," jawabnya.

Saat laporan itu selesai disampaikan, Naura yang mendengar dari samping mengangkat suara. "Aku ingin hadir di persidangan itu. Aku ingin melihat sendiri keadilan ditegakkan untuk orang tuaku."

Aldo menatapnya dengan hati-hati. "Apakah kamu yakin? Itu bisa membangkitkan kenangan yang menyakitkan, dan situasinya mungkin tidak menyenangkan."

"Aku yakin. Selama ini aku hanya mendengar cerita dan melihat dokumen. Aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri, agar hatiku benar-benar merasa tenang dan bisa melangkah maju sepenuhnya," jawab Naura dengan tegas namun lembut.

Melihat ketegasan istrinya, Aldo akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah. Aku akan menemanimu, dan kita akan pastikan kamu aman sepenuhnya."

Hari persidangan pun tiba. Ruang sidang dipenuhi oleh orang-orang—jaksa, pengacara, saksi, dan beberapa wartawan yang mengetahui bahwa kasus ini melibatkan tokoh bisnis terkenal. Widodo duduk di kursi terdakwa dengan wajah tegang, tidak lagi terlihat seperti pengusaha berpengaruh yang dihormati banyak orang.

Saat persidangan berlangsung, satu per satu bukti disampaikan. Rekaman suara yang berisi percakapan antara Widodo dan Hartono dua puluh tahun yang lalu diputar, di mana mereka membahas rencana untuk menyingkirkan ayah Naura dan ayah Aldo. Dokumen-dokumen yang menunjukkan penggelapan dana dan manipulasi laporan keuangan juga ditunjukkan dengan jelas.

Naura duduk di samping Aldo, memegang tangannya erat-erat. Meskipun hatinya terasa sedih mendengar semua detail kejahatan yang dilakukan, ia juga merasa lega karena akhirnya kebenaran terungkap di hadapan banyak orang.

Saat gilirannya untuk memberikan kesaksian, Naura berdiri dengan tenang. "Selama ini aku tumbuh tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuaku. Aku hanya tahu mereka meninggal dalam kecelakaan. Tapi hari ini, aku mendengar semuanya. Aku tidak datang untuk membenci, tapi aku datang untuk memastikan bahwa keadilan tidak tertutupi oleh kekuasaan dan uang. Semua orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya, tidak peduli seberapa tinggi kedudukannya."

Perkataan Naura yang tulus dan berwibawa membuat banyak orang di ruangan itu terkesan. Bahkan beberapa orang yang awalnya meragukannya kini memandangnya dengan rasa hormat.

Di akhir persidangan, hakim menjatuhkan vonis yang adil. Widodo dinyatakan bersalah atas pembunuhan berencana, penggelapan aset, dan konspirasi, serta dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan diwajibkan mengganti seluruh kerugian yang ditimbulkannya.

Saat mendengar vonis itu, Naura menarik napas panjang. Beban yang telah tergantung di hatinya selama lebih dari dua puluh tahun akhirnya terangkat sepenuhnya. Ia menoleh ke arah Aldo, dan keduanya saling tersenyum—senyum yang penuh dengan kelegaan dan harapan.

Setelah keluar dari ruang sidang, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Arka dibawa untuk pemeriksaan rutin. Saat melihat putra mereka yang sedang tertidur pulas di dalam gendongan perawat, Naura menyentuh pipinya dengan lembut.

"Semua sudah selesai, Arka. Kini tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi dendam. Kita bisa hidup dengan tenang dan membangun masa depan yang cerah," bisiknya pelan.

Aldo memeluk bahu istrinya, menatap langit yang cerah di luar jendela. "Ya. Semua yang telah kita lalui membuat kita lebih kuat. Dan sekarang, kita memiliki alasan yang paling indah untuk terus maju—keluarga kita."

Namun, meski kasus ini telah selesai, mereka tahu bahwa hidup tidak akan selalu berjalan tanpa tantangan. Beberapa hari kemudian, saat Aldo sedang memeriksa laporan perkembangan perusahaan, ia menemukan sebuah catatan yang mencurigakan—ada transaksi yang tidak wajar di salah satu anak perusahaan yang baru saja didirikan. Rasa waspada kembali muncul di hatinya, menyadari bahwa perjalanan mereka untuk menjaga keadilan dan kejujuran belum sepenuhnya berakhir.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!