Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Ah tapi, mana mungkin kalau Disa hamil, pikir Cakra. Kalau Disa hamil, sudah pasti Disa akan bilang kepadanya. Mungkin saja yang akan periksa beneran Vina. Vina pasti hamil di luar nikah, pergaulan jaman sekarang memang seperti itu. Mengerikan.
Kadang-kadang di mata orang, hamil di luar nikah terlihat lebih baik dari pada yang sudah menikah bertahun-tahun namun belum diberi momongan. Hal seperti itu yang seharusnya tidak dinormalisasikan, namun dianggap wajar.
"Yaudah, Dis, kami harus pulang duluan. Risa harus banyak-banyak istirahat soalnya dia lagi hamil cucu saya."
Disa menanggapi celotehan mantan ibu mertuanya dengan anggukan kepala. Wanita itu tidak tau saja jika Disa juga sedang mengandung cucu kandungnya.
Saat Cakra, Risa, dan Yuni melintas di depannya, Disa pura-pura sibuk dengan ponselnya. Berpura-pura tidak menyadari betapa posesifnya tangan Cakra yang melingkar di pinggang Risa.
"Kalian duluan aja, aku mau ke toilet dulu." Samar-samar, Disa mendengar suara Cakra.
Beberapa detik kemudian, Disa merasakan tangannya ditarik kuat oleh seseorang. Disa dan Vina sama-sama mendongak dan terkejut.
"Aku mau ngomong!" Cakra menarik paksa tangan Disa.
"Apa sih, Mas?!" sentak Disa.
"Heh, jangan kasar sama perempuan!" Vina memukul tangan Cakra.
Cakra memelototi Vina, "Nggak usah ikut campur! Ini urusan aku sama Disa!"
Vina berdiri, dengan gagah berani membalas lengkap dengan matanya yang mendelik, "urusan Disa menjadi urusan aku juga!"
Untungnya posisi mereka ada di pojok, sehingga tidak terlalu menarik banyak perhatian orang-orang. Mereka pun bicara tidak terlalu keras, hanya penuh penekanan. Disa segera menengahi, karena dia tidak mau menimbulkan keributan.
"Mau ngomong apa? Gak usah ngajak ribut di sini, ini rumah sakit," sergah Disa.
Disa dan Cakra menepi ke tempat yang lebih sepi, jauh dari kerumunan. Disa bisa menebak apa yang akan Cakra bicarakan dengannya.
"Ngapain sih kamu bikin pernyataan di story seperti itu? Kamu sengaja mau malu-maluin aku?" cecar Cakra, persis seperti dugaan Disa.
Disa melipat santai kedua tangannya di depan dada. "Kan emang kenyataannya seperti itu. Toh aku nggak bilang alasannya kita cerai. Aku masih berusaha nutupin aib kamu loh."
"Harusnya semuanya gak perlu kayak gini, Dis. Mereka nggak akan tanya-tanya kalau kita nggak cerai. Aku juga sebenarnya nggak mau kita cerai kok."
"Hah?" Disa tidak tau tertinggal di mana otak seonggok Cakra ini.
"Aku mau kita tetep utuh. Apa susahnya sih? Toh Risa sahabat kamu, kan?" tekan Cakra lagi.
"Justru karena dia sahabat aku! Oh, bukan! Mantan sahabat lebih tepatnya." Tiba-tiba, melintas sebuah ide cemerlang di otak Disa. "Bisa aja kalau kita nggak jadi cerai. Asalkan kamu mau meninggalkan Risa," kata Disa.
Panggil saja Disa bodoh, terserah. Dia hanya ingin Risa tidak terus menerus merasa menang. Risa akan kalah telak jika Cakra lebih memilih Disa, kemudian meninggalkan Risa.
"Tapi, Risa—" Cakra jelas ingin menolak.
"Ceraikan Risa dari sekarang!" sambar Disa cepat. Dia ingin tahu siapa yang akan Cakra pilih. Jika benar Cakra masih mencintainya, seharusnya tidak sulit untuk melepas Risa.
Cakra terdiam sesaat, entah sedang memikirkan apa. Lalu, kepalanya menggeleng.
"Nggak mungkin. Dia sedang hamil anak aku." Cakra menggenggam tangan Disa. "Aku akan ceraikan Risa setelah anakku lahir, asalkan kamu tetap sama aku."
Risa menggeleng. "Aku nggak mau. Aku mau tetap sama kamu, asalkan kamu ceraikan Risa ... Sekarang. Nggak pakai nanti."
Keadaan lengang sejenak. Keduanya sedang saling tatap. Disa yakin, Cakra tidak akan pernah menyesal jika memilihnya dan membuang Risa, toh sama saja Disa benar-benar sedang hamil anaknya.
Tetapi kalau Risa ... Jujur, Disa tidak yakin anak yang dikandungnya benar-benar darah daging Cakra. Disa cukup tahu seperti apa pergaulan Risa. Bisa saja, anak itu adalah benih dari pria lain. Risa sering gonta-ganti pasangan dan Disa tahu, siapa pun yang menjadi pacar Risa akan selalu diajak ke rumahnya.
Risa tinggal sendirian, sudah tidak memiliki orang tua membuat dia merasa bebas. Tidak ada yang mengekang. Dulu, Disa yang sering menegur dan mengingatkan, namun Risa tidak mau mendengar.
"Kalau aku ceraikan Risa sekarang, dia nggak akan mau berikan anak itu. Dia akan bawa pergi anakku dan nggak akan membiarkan aku mengenalnya," balas Cakra sambil mengingat saat Disa mengancamnya seperti itu. Lagi pula, mamanya sudah terlanjur senang mengetahui adanya penerus di rahim Risa.
"Oh, jadi kamu nggak bisa ninggalin Risa sekarang?"
Cakra menggeleng.
"Yaudah, biarin publik tau kalau kita udah pisah. Kamu pilih Risa kan? Jangan nyesel nantinya."
Disa langsung meninggalkan Cakra. Kembali duduk di sebelah Vina. Begitu saja, Cakra pun langsung pergi setelah menghela napas panjang seraya menatap Disa.
"Dia ngomongin apa?" bisik Vina.
Disa yang merasa hatinya semakin berantakan setelah bicara dengan Cakra, tak memberi jawaban selain gelengan kepalanya.
Vina mengerti jika Disa tidak mau bercerita. Dia hanya memberi usapan di bahu Disa sebagai penguat.
Beberapa saat kemudian, nama Disa dipanggil oleh petugas. Disa pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan bersama Vina.
*
Disa semakin yakin perpisahan itu sudah benar-benar ada di depan matanya ketika akhirnya ia mendapatkan surat panggilan sidang dari pengadilan. Oh rupanya, pria yang beberapa hari lalu masih meminta Disa supaya tetap tinggal di sisinya itu, telah mengajukan perceraian di pengadilan.
Secepat itu.
Disa tidak mengasihani dirinya sendiri. Dia justru merasa bersalah pada janin tidak berdosa di rahimnya. Bahkan, sebelum dia diberi nyawa, dia tidak akan hidup bersama kedua orang tuanya yang utuh.
"Keputusan Disa benar nggak sih, Buk?" Disa merebahkan kepalanya di atas pangkuan Rahmi, sementara ibunya mengusap lembut kepalanya.
"Disa ngebiarin dia tumbuh tanpa sosok ayah. Disa ngerasa bersalah, kenapa dia hadir di saat yang tidak tepat?"
Dengan lembut, Rahmi membalas, "Suatu saat nanti, dia pasti mengerti kok, Dis."
Air mata Disa mengalir. Berharap suatu saat ketika anaknya sudah dewasa, dia tidak menyalahkan Disa atas keputusannya.
*
"Sekali-sekali makan berdua di luar yuk?" ajak Risa, yang ingin pernikahannya dengan Cakra dipublikasikan.
"Nggak bisa," Cakra menolak, jelas. Saat ini dia tidak boleh kelihatan berkeliaran di luar dengan wanita mana pun. Perceraiannya dengan Disa sedang berjalan.
"Aku sama Disa lagi proses cerai. Kalau aku keliatan bareng sama perempuan lain di luar, mereka akan tau alasan aku sama Disa cerai. Aku nggak mau itu," imbuh Cakra. Namanya sebagai direktur utama di perusahaan, mengganti papanya, dan konten kreator dengan pengikut ratusan ribu, sudah terlanjur mentereng di mata orang-orang.
Risa mendesah kasar. "Terus sampai kapan? Sampai kapan kamu sembunyiin aku terus? Aku juga pengen diakui."
"Ya sabar, semuanya gak gampang gitu aja. Aku harus jaga nama baik aku dan keluarga aku juga. Mungkin nanti, kita baru bisa publikasikan hubungan kita setelah anak kita lahir, tunggu dia agak besaran dikit."
"Itu kan masih lama, Mas...." protes Risa.
Cakra hanya diam. Risa memang harus tetap disembunyikan, setidaknya sampai anaknya lahir dan berusia beberapa bulan. Itu pun Cakra tidak bisa mengakui anak itu sebagai anak kandungnya. Ketika nanti status Risa sudah diketahui, Cakra harus terpaksa bilang anak itu sebagai anak angkat atau anak Risa dengan suami terdahulunya.
Biar bagaimanapun, apa pun yang terjadi, perselingkuhan ini tidak boleh sampai terendus sedikit pun.
...****************...
lanjut g pake lama
pokonya jngn sampe disa celaka
AYO TAKBIR
biarin kebalik ke risa
risa aja tuh ya dibikin keguguran
biar g ba punya anak
kalau berkenan follow ig aku ya @jalur_langitbiru13
makasih.
kritik, saran, dan ulasannya juga ditunggu 🫰