Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Jalur Belakang
“B-benar, Pak. Sumpah! Kami nggak ngapa-ngapain”, sahut Doni cepat, berharap kalimat terbaik yang bisa dia susun itu berhasil meyakinkan sang penjaga keamanan dan menurunkan amarahnya. Dia mencoba menyamakan frekuensi aktingnya dengan Olivia meskipun suaranya masih agak gemetar. Tatapan dan pertanyaan menyelidik dari satpam itu terasa seperti todongan senjata. Sementara itu di sampingnya, Olivia masih bersandar lemas pada bahunya, memberikan tekanan psikologis bahwa Doni tidak boleh salah bicara satu kata pun.
“Kami beneran cuma mau istirahat doang, Pak. Saya nggak tega lihat adik saya lemes begini di tempat rame”, bohong Doni yang sepertinya mulai mengikuti permainan sandiwara Olivia. Dia bahkan sengaja menggunakan kata ‘adik saya’ untuk memperkuat alibi Olivia dan menyembunyikan status hubungan mereka yang sebenarnya di mata satpam tersebut.
Satpam itu terdiam beberapa detik, menimbang-nimbang kejujuran di mata Doni yang tampak ketakutan setengah mati. Mengingat dia sendiri juga sedang menyembunyikan rahasia telepon gelapnya di tangga ini, si satpam akhirnya menghembuskan napas panjang dan menurunkan senternya yang dari tadi menyorot wajah mereka.
“Ya sudah kalau begitu”, ucap satpam itu luluh. “Tapi tetap saja… tidak boleh istirahat di tangga darurat. Ini area steril untuk jalur evakuasi”, sambungnya.
Dia sebenarnya khawatir panggilan teleponnya tadi barangkali sempat direkam atau didengar lebih jauh oleh kedua remaja di hadapannya ini. Agar masalah ini cepat selesai dan mereka segera pergi dari wilayah patrolinya, satpam itu akhirnya memberikan solusi yang tak terduga.
“Gini aja… Kalian ikut saya. Kita turun lewat lift barang di belakang situ. Itu lift-nya langsung tembus ke area parkiran motor di bawah. Nah, disitu lumayan sepi, jadi adikmu ini bisa langsung pulang dan istirahat di rumah. Tidak perlu memutar jauh lewat lobi depan yang lagi rame itu”, satpam itu menjelaskan panjang lebar.
Doni hampir tidak percaya dengan pendengarannya. Lift barang? Lewat belakang? Langsung tembus ke parkiran? Itu adalah jalur penyelamatan paling sempurna yang bahkan tidak pernah Doni bayangkan sebelumnya! Dengan melewati jalur itu, mereka akan terbebas 100% dari resiko berpapasan dengan Marcella di lantai atas. Ternyata hari ini tidak sial-sial amat, pikirnya.
“Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih”, ucap Doni tulus dengan kelegaan yang luar biasa, sambil memapah tubuh Olivia yang masih berakting lemas di sampingnya.
Sambil melangkah mengekor di belakang satpam yang menuntun mereka menuju lift barang, Doni sempat melirik ke arah Olivia. Gadis itu masih mempertahankan wajah ‘sakit’-nya di depan satpam. Dia menyipitkan matanya seolah tak bisa menahan rasa sakit. Namun sesekali dia membuka sebelah matanya, dan mengintip ke arah Doni dengan senyum kemenangan tipis, takut satpam itu langsung menoleh ke arah mereka.
Tak lama kemudian, lift barang itu akhirnya sampai di lantai dasar tempat area parkiran sepeda motor. Doni melangkah keluar lift sambil masih memapah Olivia, dan meninggalkan si satpam yang masih di dalam. “Sekali lagi, terima kasih banyak, Pak”, ucap Doni lagi sambil menundukkan kepalanya.
“Iya, sama-sama. Lain kali, kalau sakit, jangan ke tangga darurat lagi, ya? Bahaya. Gelap dan tidak ada orang. Nanti kalau ada apa-apa, tidak ada yang lihat. Mending langsung pulang aja naik lift biar tidak capek”, ucap satpam itu menasehati. “Itu… adik kamu, bisa kamu bawa sendiri? Perlu saya bantu angkat sampai ke motor?” tambahnya menawarkan bantuan.
“Oh, nggak perlu repot-repot, Pak! Saya masih bisa bawa sendiri. Saya masih kuat, kok. Lagian, kayaknya udah nggak terlalu lemes ini”, jawab Doni. “Kalau gitu, saya balik duluan ya, Pak. Terima kasih sekali lagi.”
Satpam itu hanya mengangguk sambil tersenyum sebelum pintu lift-nya menutup.
“Fiuhhh…” Doni dan Olivia akhirnya bisa menghembuskan napas panjang tanda lega karena situasi yang mencekam tadi telah berlalu. Napas mereka yang sedari tadi tertahan akhirnya bisa keluar juga setelah bayangan satpam itu menghilang di balik pintu lift.
Olivia menegakkan lagi tubuhnya, melepaskan sandarannya dari bahu Doni, lalu berjalan dengan santai menuju ke arah motor Doni diparkir. Dia meninggalkan Doni di belakangnya yang masih terengah-engah mengatur ritme napasnya.
“Kak Doni! Ayo…” dia meneriaki Doni yang kini sudah berjarak sekitar tiga meter di belakangnya.
Dengan sisa-sisa energi yang tampaknya terkuras habis secara mental setelah hampir kena serangan jantung dua kali berturut-turut, Doni akhirnya menggerakkan kakinya dengan langkah menyeret menuju ke arah motornya yang ternyata sudah berada persis di samping Olivia.
Begitu sampai di motor, Doni langsung duduk di bagian depan jok. Dengan napas masih terengah-engah, dia bersandar lemas pada setangnya,. Disusul Olivia yang dengan santainya langsung naik ke boncengan motor, memakai helmnya, lalu menepuk bahu Doni yang masih tegang.
“Yang tadi seru banget ya, Kak?” ucap Olivia membuka obrolan dengan antusias. “Kapan-kapan, mau lagi deh…”
“Awas aja kalau kamu ngajak kesini lagi!” potong Doni ketus sebelum Olivia menyelesaikan kalimatnya. Dia menegakkan punggungnya, mencengkeram setang motor, lalu menoleh ke arah Olivia di belakang. “Seru apanya? Kamu nggak lihat, aku hampir kena serangan jantung tadi?!”
Mendengar itu, tawa Olivia hampir saja meledak. Namun, dia menahannya. Dia lalu mengambil ponselnya di bagian depan tas olahraganya. “Bentar, Kak. Aku balesin chat-nya Kak Cella dulu, ya. Aku baru inget dari tadi belum dibales, takutnya dia nungguin aku di mall”, bukannya merasa bersalah atau takut dengan gertakan Doni, dia malah bertingkah seolah tidak mendengarnya.
“Kak Cella… aku… lagi… sama… Kak Doni…” ucap Olivia pelan sambil berpura-pura mengetik kalimat yang dia diktekan itu di ponselnya.
“Eh, eh… kok gitu nulisnya? Hapus, nggak!” tentu saja Doni semakin kesal mengira Olivia benar-benar menulis itu.
“Bercanda, Kak Doni. Santai…” tawa lepas itu pun akhirnya keluar dari rahang Olivia melihat ekspresi panik Doni.
“Inget, Liv. Kemarin kan, kamu sudah janji kalau rahasiaku aman sama kamu, dengan satu syarat. Nah, aku udah penuhin syarat itu, kan? Aku udah jemput kamu di sekolah. Trus, kamu minta dibawa ke mall ini, aku turutin juga. Sekarang, kamu yang harus tepatin janji”, ujar Doni tegas.
“Hah? Janji yang mana ya, Kak?” Olivia menaikkan kaca helmnya, menatap Doni dengan sebelah alis terangkat.
“Pokoknya masalah tumbler, masalah GOR, dan masalah hari ini, awas aja kamu bilang ke Cella. Kamu udah janji”, sambung Doni.
“Hari ini Kak Doni emang penurut banget, sih. Aku kasih nilai sembilan puluh deh”, ucap Olivia dengan nada santai yang membuat Doni mendadak gemas. “Tenang aja. Kayak yang aku bilang kemarin, rahasia Kak Doni aman sama aku. Aku nggak bakal ngomong ke Kak Cella”, ujar Olivia meyakinkan sambil mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Hari ini aku nggak ke Anggrek kak. Habis latihan tadi aku langsung pulang, capek banget.
“Nih, lihat sendiri. Puas?” Olivia menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Doni. Dia menaikkan kaca helmnya, menatap Doni dengan senyum bangga yang menyebalkan. “Berarti, aku udah tepatin janji aku juga. Baik kan, aku?”
Doni memandangi layar ponsel itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia sangat lega karena Marcella tidak akan mencurigainya lagi malam ini. Namun di sisi lain, ada rasa ngeri yang dia rasakan melihat betapa lancar dan tanpa ragunya Olivia berbohong kepada kakak kandungnya sendiri demi menjaga kesepakatan mereka. Bukan tidak mungkin, Olivia akan terus memakai bakat manipulasinya ini dengan sangat mudah di masa depan kepada siapapun, termasuk kepada Doni.
“Tapi...” Olivia menarik kembali ponselnya, lalu menopang dagunya di atas bahu Doni. “Itu kan, untuk syarat yang kemarin…” bisiknya pelan sambil mengetuk-ngetuk helm Doni dengan jari telunjuknya.