"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16. bayangan yang tak hilang
Sudah dua bulan berlalu sejak kami kembali dari Pusat Dunia, dan kehidupan di Kerajaan Cahaya berjalan begitu damai hingga terasa hampir sempurna. Di jalanan ibu kota, para pedagang berseru menawarkan barang dari berbagai penjuru negeri: rempah-rempah harum dari Kota Permata, ukiran batu halus dari Pegunungan Suara, hingga kain sejuk yang ditenun dari uap air Gunung Es. Anak-anak berlari mengejar kupu-kupu yang sayapnya memantulkan cahaya bagaikan kepingan kaca, dan setiap sore, alunan lagu lembut terdengar dari menara istana, dibawakan oleh para musisi yang baru saja belajar dari para Penyanyi Batu.
Leon sering menghabiskan waktunya di taman belakang istana, duduk di bawah pohon perak yang daunnya berkilau lembut. Di tangannya selalu tergenggam buku catatan tua itu, namun kini isinya tidak lagi berisi aturan atau perintah, melainkan catatan harian, cerita-cerita yang didengar dari penduduk, serta sketsa pemandangan dari setiap tempat yang pernah kami kunjungi. Selalu ada Liora di sisinya, yang sesekali membacakan kembali tulisan itu sambil tersenyum, seolah ingin meyakinkan diri bahwa semua yang kami lalui bukanlah sekadar mimpi.
“Kau terlihat begitu tenang belakangan ini,” kata Liora suatu sore, saat matahari mulai terbenam mewarnai langit dengan semburat jingga dan ungu.
Leon menutup bukunya perlahan, lalu memandangi sekeliling. “Rasanya seolah beban berat yang selama ini membebani pundakku akhirnya terangkat. Dulu aku selalu takut membuat kesalahan, takut menulis hal yang salah, takut dunia ini akan hancur kapan saja. Sekarang, aku sadar… dunia ini bisa berdiri tegak dengan sendirinya, bisa tumbuh dengan caranya sendiri.”
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pada malam itu, saat semua orang telah terlelap, Leon terbangun karena hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti ruangannya. Bukan dingin seperti udara pegunungan, melainkan dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum, seolah datang dari tempat yang sepenuhnya tanpa kehidupan. Ia segera menyalakan lampu minyak, dan matanya terbelalak melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Di atas meja, buku catatannya yang selalu terawat rapi kini tertutup noda-noda hitam samar yang perlahan menyebar di sela-sela halaman. Setiap noda itu terlihat seperti lubang kecil yang menyedot cahaya di sekitarnya. Begitu Leon menyentuhnya, ia merasakan getaran aneh suara bisikan yang samar, kosong, dan hampa, persis seperti yang ia dengar saat pertama kali bertemu wujud kekosongan di Pusat Dunia.
“Mengapa masih ada sisa ini?” gumamnya dengan suara bergetar.
Ia segera bergegas keluar kamar, dan di koridor ia bertemu dengan Valgus yang sudah berdiri di sana dengan wajah serius, menggenggam pedangnya yang jarang sekali ia gunakan. Zarek pun datang tergesa-gesa dari arah berlawanan, rambutnya masih acak-acakan dan pakaian tidurnya belum rapi, namun tatapannya sudah penuh kewaspadaan.
“Aku juga merasakannya,” kata Valgus tanpa menunggu Leon bertanya. “Ada sesuatu yang berubah. Energi yang tadinya mengalir lancar kini terputus di beberapa titik. Seolah ada ruang kosong yang berusaha membuka kembali dirinya.”
Belum sempat Leon menjawab, Liora muncul dari ujung lorong, wajahnya pucat namun tetap tenang. “Baru saja aku menerima pesan dari Elara. Di puncak Gunung Es, salju yang seharusnya turun perlahan kini turun dengan sangat lebat, menutupi jalan setapak dan membuat udara terasa sedingin mungkin hingga tanaman di kaki gunung mulai membeku. Ia menyatakan tidak mampu mengendalikannya lagi.”
Tak lama kemudian datang pula utusan dari Pegunungan Suara dengan napas terengah-engah. “Tuan, Nyonya… suara-suara di lembah mulai menghilang kembali. Lagu-lagu yang indah itu berubah menjadi dengungan hampa, dan sebagian ukiran batu yang tadinya bersinar terang mulai kembali kusam seperti sediakala.”
Berita serupa datang dari Kota Permata: pasir di sekitar kota mulai bergerak dengan sendirinya, menimbun kembali jalan-jalan yang baru saja dibersihkan, dan warga mulai merasakan kembali rasa hampa serta lesu yang pernah mereka alami. Bahkan dari Hutan Kenangan, para Siluet mengirimkan kabar bahwa sebagian ingatan dan cerita yang tersimpan di sana mulai memudar, seolah terhapus oleh kekuatan yang tak terlihat.
Kami segera berkumpul di ruang pertemuan istana, menyalakan lampu-lampu besar hingga ruangan itu terang benderang. Leon meletakkan buku catatannya di tengah meja, dan noda hitam itu kini terlihat semakin jelas, perlahan menyebar sedikit demi sedikit.
“Ini bukanlah kekuatan jahat yang ingin menghancurkan dunia,” kata Leon perlahan, berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi. “Ini juga bukan kesalahan dari perbaikan yang telah kita lakukan. Ingatlah apa yang dikatakan wujud di Pusat Dunia? Ia berkata bahwa kekosongan bukanlah musuh, melainkan bagian yang selalu ada. Kita telah memberinya tempat sebagai ruang kemungkinan, namun ternyata masih ada bagian yang tersembunyi, yang tidak terjangkau oleh cahaya dan makna.”
“Bagian apa yang tersembunyi itu?” tanya Zarek sambil mengerutkan kening. “Bukankah kita telah menjelajahi hingga ke pusatnya sendiri?”
“Kita telah mengisi apa yang terlihat, namun kekosongan itu juga bisa bersembunyi di celah-celah hal yang kita anggap sudah selesai,” jawab Valgus sambil menatap noda hitam itu dengan saksama. “Ia tidak menyerang dari luar, melainkan muncul dari dalam — dari rasa ragu, dari ketakutan akan perubahan, dari keinginan untuk kembali ke keadaan yang tenang namun tidak bergerak sama sekali.”
Liora mengangguk setuju, lalu mengangkat tangannya yang memancarkan cahaya lembut dan menyentuh permukaan buku itu. Cahayanya membuat noda itu sedikit menyusut, namun tidak hilang sepenuhnya. “Ia merasa terasing kembali. Ia melihat bahwa segala sesuatu di dunia ini telah memiliki tujuan, telah memiliki makna, sedangkan dirinya hanya dianggap sebagai ruang kosong yang tidak pernah dipandang penting. Ia merasa tidak dibutuhkan, sehingga ia berusaha menarik kembali segala sesuatu agar semuanya kembali sama seperti dulu.”
Leon terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang dan mengangkat wajahnya dengan tekad yang kembali membara. “Jadi tugas kita belum sepenuhnya selesai. Kita tidak hanya harus memberinya tempat, namun juga harus membuatnya memahami bahwa ia pun memiliki peran yang sangat berharga, yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Kita harus berangkat lagi, masuk lebih dalam ke tempat yang belum pernah kita jamah — tempat di mana kekosongan itu bersembunyi, bukan sebagai pusat dunia, melainkan sebagai ruang di antara segala sesuatu.”
“Kami akan ikut lagi,” kata Zarek dengan semangat, sambil menepuk dadanya dengan keras. “Ke mana pun kalian pergi, aku akan ikut. Jika ia merasa tidak dibutuhkan, kita akan tunjukkan bahwa ia pun memiliki tempat di dunia ini!”
“Aku juga akan menyertai,” tambah Valgus. “Selama ini aku hanya memahami keseimbangan antara cahaya dan kegelapan, namun baru sekarang aku mengerti bahwa keseimbangan juga membutuhkan ruang kosong agar segala sesuatu dapat bergerak dan tumbuh.”
Liora mendekat, menggenggam tangan Leon erat-erat, dengan mata yang penuh keyakinan. “Dan aku akan selalu berada di sisimu. Kita akan menghadapi ini bersama, persis seperti sebelumnya.”
Malam itu juga, kami mulai bersiap. Kali ini, bekal yang kami bawa bukan hanya berupa makanan atau pakaian hangat, namun juga catatan-catatan tentang keindahan dan makna yang telah kami temukan, untuk disampaikan kepada sesuatu yang merasa dirinya tidak berharga.
Saat fajar mulai menyingsing, kami berdiri di halaman istana, memandangi cakrawala yang masih samar. Perjalanan ini akan terasa lebih sulit, lebih dalam, dan lebih penuh misteri dibandingkan sebelumnya, namun kami tidak lagi merasa takut. Kami sadar bahwa selama kami mampu memahami, mendengar, dan menghargai bahkan terhadap hal yang terasa paling hampa sekalipun akan selalu ada jalan untuk menyatukan segala sesuatu dalam keseimbangan yang sempurna.
Dan begitu matahari terbit sepenuhnya, kami pun melangkah pergi lagi, siap melanjutkan babak baru dari cerita yang belum sepenuhnya usai ini.
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁