Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUKUMAN UNTUK CATALINA
"T-tidak... ini tidak mungkin! Dari mana kamu bisa dapet data rahasia ini?!" tanya Catalina dengan suara yang mulai gemetar hebat, genggaman tangannya pada tas mewah yang dibawanya mengerat hingga kuku-kukunya memutih.
"Bukan kah sudah sering aku katakan pada mu, kalau kalian berani main kotor dengan bisnisku, akan aku pastikan kalian hancur sampai ke akarnya," jawab Naya dingin, mengambil kembali tabletnya dari atas meja.
Naya berjalan perlahan mendekati Catalina yang kini tampak seperti pecundang yang kehilangan arah, lalu membisikkan sesuatu tepat di dekat telinga wanita itu.
"Silakan sebar gosip tentang kehamilanku ke media, tapi aku jamin, sebelum berita itu sempat naik, ayahmu dan seluruh jajaran direksi Wijaya Group sudah lebih dulu pakai baju tahanan, jadi, siapa yang akan hancur duluan, Catalina?" tanya Naya dengan nada yang sangat kejam.
Catalina tidak bisa bersuara lagi, bibirnya bergetar hebat karena syok dan ketakutan yang luar biasa, dia tahu betul kekuatan hukum jika data itu benar-benar sampai ke kejaksaan.
"Sekarang, keluar dari ruangan ku, sebelum aku panggil sekuriti untuk menyeret mu seperti sampah," perintah Naya, kembali ke mode CEO-nya yang dingin dan tegas.
Catalina menggertakkan giginya menahan tangis dan malu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dia langsung berbalik dan berlari keluar dari ruang rapat dengan langkah yang tergesa-gesa dan wajah memerah antara malu dan juga marah.
Siska yang melihat kepergian Catalina hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kerja bagus, Siska, pastikan tim hukum kita terus mengawal laporan itu," ucap Naya sambil mendudukkan diri kembali ke kursinya, mendadak merasa lelahnya kembali datang.
"Baik, Nona Muda, semua sudah dalam kendali," jawab Siska dengan senyum bangga sebelum akhirnya pamit keluar untuk menyelesaikan tugasnya.
Setelah ruangan kembali sepi, Naya menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Tangannya kembali mengusap perutnya buncitnya di balik blazer nya.
Rasa hangat dari dalam rahimnya kembali menyebar, seolah-olah sang bayi sedang merayakan kemenangan ibunya di dalam sana.
"Anak pintar... terima kasih energinya hari ini," bisik Naya dengan senyuman tulus yang sangat menawan, melupakan sejenak ketakutannya tentang asal-usul bayi misterius tersebut.
🍷🍷🍷🍷🍷🍷🍷🍷🍷
"Jadi itu yang terjadi tadi siang?" tanya Alexander. Suaranya terdengar sangat rendah, namun sanggup membuat seluruh ruangan terasa bergetar hebat.
"Benar, Yang Mulia, wanita bernama Catalina Wijaya itu telah lancang menghina Nona Naya di ruang rapatnya, dia menghina Nona Naya dan menyebut calon penerus Anda dengan sebutan anak haram," jawab bawahan itu dengan kepala yang tetap menunduk dalam, tidak berani menatap langsung mata sang raja.
BRAKK
Meja kerja nya yang ada di depan Alexander seketika hancur berkeping-keping menjadi abu dalam sekali hentakan tangan.
Aura membunuh yang sangat pekat melesat keluar dari tubuh Alexander, membuat bawahannya yang berlutut langsung sesak nafas.
"Anak haram?!" desis Alexander dengan gigi taringnya yang mulai memanjang keluar.
Dia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga terdengar suara gemertak tulang. Amarahnya meledak bukan main.
Berani-beraninya seorang manusia rendahan, dan makhluk fana yang lemah, mengotori nama wanita yang telah dia tandai dan menghina darah dagingnya sendiri.
"Manusia bodoh itu benar-benar bosan hidup," ucap Alexander lagi, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sangat mengerikan.
Bawahan Alexander mencoba mengatur napasnya yang sesak sebelum kembali berbicara dengan hati-hati.
"Lalu, apa perintah Anda, Yang Mulia? Apakah Anda ingin saya melenyapkan wanita itu saat ini juga?" tanya bawahannya, siap mengeksekusi perintah.
Alexander terdiam sejenak, mata merah nya berkilat penuh kelicikan dan kekejaman, dia berjalan perlahan mendekati jendela besar ruangan, menatap ke arah luar.
"Jangan bunuh wanita hina itu, kematian terlalu mudah untuk makhluk semacam dia," jawab Alexander dengan nada suara yang kembali tenang, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan.
"Lalu, hukuman apa yang harus kami berikan, Yang Mulia?" tanya sang bawahan lagi, penasaran.
Alexander berbalik, menatap bawahannya dengan pandangan dingin yang menusuk tulang.
"Gunakan sihir ilusi hitam tingkat rendah. Mulai malam ini, buat wanita bernama Catalina Wijaya itu selalu melihat bayangan kematian di setiap sudut matanya, setiap kali dia mencoba tidur, datangkan mimpi buruk di mana kulitnya membusuk dan tubuhnya digerogoti ulat," perintah Alexander dengan detail yang kejam.
Bawahan itu mengangguk paham, menyadari bahwa hukuman ini jauh lebih menyiksa daripada sekadar mencabut nyawa.
"Dan satu lagi," tambah Alexander, menghentikan langkah bawahannya yang hendak berdiri.
"Apa itu, Yang Mulia?"
"Buat dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di perutnya setiap kali dia mengingat atau berniat menghina anakku lagi. Biarkan dia hidup dalam ketakutan yang tak berujung, sampai dia gila karena pikirannya sendiri," lanjut Alexander, tersenyum puas membayangkan kehancuran mental Catalina.
"Perintah diterima, Yang Mulia. Semuanya akan beres sebelum tengah malam ini," jawab sang bawahan patuh, lalu tubuhnya perlahan menjadi kabut hitam dan menghilang dari ruangan tersebut.
Setelah tinggal sendirian di ruangan yang hancur berantakan itu, Alexander menghela napas panjang.
Perlahan, warna merah menyala di matanya meredup, kembali menjadi hitam kelam yang misterius namun penuh pesona.
Dia meraba dadanya sendiri, merasakan ikatan batin dan aliran energi hangat yang terhubung langsung dengan Naya, ikatan darah antara seorang Raja Vampir dengan penerusnya tidak akan pernah bisa diputus oleh apa pun.
Alexander tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tampan namun juga mengerikan.
"Kamu sudah berjuang dengan baik hari ini, Kanaya ku," gumam Alexander dengan suara yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan kemarahannya beberapa menit yang lalu.
Dia tahu Naya adalah wanita yang kuat, bahkan sanggup membalas Catalina dengan caranya sendiri. Namun, sebagai pria dan ayah dari bayi di dalam kandungan Naya, Alexander tidak akan pernah membiarkan siapa pun lolos begitu saja jika sudah berani mengusik ketenangan keluarga kecilnya.
Alexander berjalan menuju balkon ruangannya, menatap ke arah langit malam yang mulai gelap.
"Tunggulah sebentar lagi, Naya, setelah urusan di klan ini selesai, aku sendiri yang akan datang untuk menjemputmu dan anak kita," bisik Alexander ke arah angin malam.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba ruang kerja Alexander di ketuk dari luar.
"Masuk!"
James masuk ke dalam ruang kerja Alexander, pria itu membawa beberapa dokumen yang harus Tuan nya tanda tangani.
"Tuan, ada laporan tambahan dari wilayah perbatasan klan," ucap James sambil menyerahkan dokumen yang dibawanya.
Pria itu sempat melirik sejenak ke arah meja kerja Alexander yang kini sudah berubah menjadi tumpukan abu di lantai, namun James memilih untuk pura-pura tidak melihatnya, di klan ini, tidak ada yang berani mempertanyakan amarah sang Raja jika masih sayang nyawa.
Alexander menerima dokumen tersebut dengan satu tangan, matanya membaca baris demi baris laporan dengan cepat.
"Pergerakan kaum pemberontak makin berani rupanya. Apa mereka pikir aku tidak tahu kalau mereka mulai mendekati wilayah kota?" desis Alexander, dingin.