NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Malam mulai larut, menggantikan semburat jingga di taman mansion dengan hamparan langit malam bertabur bintang yang indah. Di dapur utama yang biasanya hanya boleh disentuh oleh koki pribadi, Milly tampak sibuk mengaduk dua cangkir cokelat hangat. Kali ini, ia sengaja meminta para pelayan untuk beristirahat lebih awal karena ia ingin merasakan ketenangan yang nyata, tanpa ada tatapan formal dari siapa pun.

"Sejak kapan Nyonya Mahendra suka menyelinap ke dapur malam-malam?"

Sebuah suara berat yang sangat familier tiba-tiba terdengar dari arah pintu, memecah keheningan malam.

Milly menoleh dan menemukan Arkan sedang berdiri bersandar di bingkai pintu. Pria itu sudah menanggalkan kemeja kaku dan jas mahalnya, menyisakan kaos polo hitam santai dengan lengan yang digulung sebatas siku. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini sedikit jatuh berantakan di dahinya, membuat penampilannya terlihat jauh lebih muda, hangat, dan... manusiawi.

"Saya cuma ingin membuat cokelat hangat, Tuan. Rasanya aneh saja kalau harus menyuruh orang lain hanya untuk hal sepele seperti ini," sahut Milly sambil membawa dua cangkir itu ke meja bar kecil di sudut dapur.

Arkan melangkah mendekat, lalu duduk di kursi tinggi tepat di sebelah Milly. Ia menerima cangkir yang disodorkan Milly, menghirup aroma manisnya sejenak sebelum beralih menatap wajah sang istri dengan lembut.

"Ibumu baru saja mengirim pesan padaku. Beliau bilang adik-adikmu sangat senang dan langsung tidur nyenyak di kamar baru mereka," ucap Arkan pelan.

Milly tersenyum lebar, matanya berbinar tulus di balik kacamata bulatnya. "Mereka memang anak-anak yang mudah gembira. Tapi serius, Tuan... terima kasih banyak. Saya tidak pernah menyangka hidup saya dan keluarga akan menjadi sebahagia ini setelah bertemu dengan Anda."

Arkan terdiam sejenak, menatap dalam-dalam ke manik mata Milly. Tangannya bergerak terulur, menggenggam jemari mungil Milly yang terasa hangat karena baru saja memegang cangkir cokelat. Kali ini, tidak ada lagi tatapan tajam seorang bos besar, tidak ada lagi ucapan tentang bisnis atau urusan luar yang rumit. Sorot matanya murni menunjukkan rasa sayang yang mendalam.

"Aku yang justru harus berterima kasih kepadamu, Milly," ucap Arkan, suaranya terdengar begitu tulus dan tumpah tanpa ada sekat dinding es yang biasa ia pasang di depan rekan bisnisnya.

Milly memiringkan kepalanya, sedikit heran. "Terima kasih untuk apa?"

"Untuk kehadiranmu," Arkan mengusap punggung tangan Milly dengan ibu jarinya. "Mansion ini dulunya sangat besar, dingin, dan sepi. Aku hanya pulang untuk tidur dan kembali bekerja besok harinya. Tapi sejak ada kamu, ibumu, dan adik-adikmu... tempat ini akhirnya terasa hidup. Tempat ini akhirnya benar-benar terasa seperti sebuah rumah."

Milly merasakan pipinya kembali merona merah. Ia menunduk malu untuk menyembunyikan senyumnya, namun sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan Arkan.

"Tuan Arkananta yang biasanya kaku dan cuek ternyata bisa bicara manis juga ya kalau sedang santai," goda Milly sambil melirik jahil.

Arkan terkekeh pelan sebuah tawa renyah dan lepas yang rasanya belum pernah didengar oleh orang lain di luar sana selain Milly. Pria itu memajukan duduknya, lalu mengecup kening Milly dengan lembut dan lama, menyalurkan seluruh rasa aman yang ia miliki.

"Khusus untukmu, aku akan selalu meluangkan waktu," bisik Arkan setelah menjauhkan wajahnya, menatap Milly dengan senyuman hangat yang melelehkan hati. "Mulai malam ini, buang semua rasa cemasmu. Kita jalani hari-hari ke depan bersama-sama, tanpa perlu memikirkan masa lalu lagi."

Milly tertegun mendengar ucapan Arkan dan membeku saat pria itu tiba-tiba mencium keningnya . Sesaat keduanya menjadi canggung hingga membuat Arlan menggaruk tengkuknya, sedangkan Milly menyesap cokelat nya meski masih mengeluarkan uap panas.

Pagi berikutnya datang dengan suasana yang jauh berbeda di kediaman Mahendra. Tidak ada lagi suasana tegang atau sunyi yang mencekam. Dari arah ruang makan bawah, sayup-sayup terdengar suara tawa riuh anak-anak yang sedang berebut pancake pisang buatan ibu Milly.

Milly turun tangga sambil mengikat rambutnya asal-asalan, masih setengah mengantuk dengan kacamata bulat yang sedikit miring. Namun, langkahnya langsung terhenti di anak tangga terakhir ketika melihat pemandangan di meja makan.

Arkan sudah duduk di sana. Masih dengan setelan santainya, pria yang biasanya hanya membaca koran bisnis itu kini sedang memangku adik terkecil di panti yang baru berusia belum genap dua tahun. Dengan sangat telaten, Arkan menyuapkan sepotong kecil pancake ke mulut balita itu, mengabaikan noda sirup mapel yang sukses mengotori lengan kaos putihnya.

"Astaga, Tuan... baju Anda," pekik Milly pelan, bergegas menghampiri meja makan sambil mengambil selembar tisu.

Arkan mendongak, ekspresi wajahnya sangat tenang seolah noda lengket di baju mahalnya itu bukan masalah besar. "Baju bisa dicuci, Milly. Tapi momen adikmu berhasil menghabiskan sarapannya tanpa menangis itu jauh lebih penting."

Ibu Milly yang sedang menata piring-piring baru hanya bisa tersenyum penuh arti melihat interaksi keduanya. "Arkan ini pintar sekali mengambil hati anak-anak, Milly. Ibu sampai heran, padahal awalnya mengira suamimu ini galak."

"Dia memang aslinya kaku seperti papan gilasan, Bu," celetuk Milly pelan sambil membersihkan sisa sirup di sudut bibir adiknya, membuat Arkan langsung memberikan tatapan pura-pura tajam yang justru terlihat menggemaskan.

Suasana hangat di meja makan yang baru saja dipenuhi canda tawa mendadak berubah hening setelah piring-piring pancake dikosongkan. Ibu panti, dengan senyum keibuan yang selalu meneduhkan, meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia menatap Milly dan Arkan bergantian, lalu menghembuskan napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang sudah mengganjal di hatinya sejak beberapa hari lalu.

" Tuan Arkan, Milly..." panggil Ibu lembut, membuat fokus kedua orang di hadapannya langsung beralih sepenuhnya. "Ibu mau bicara. Hari ini, Ibu dan anak-anak mau pamit untuk kembali pulang ke panti asuhan."

Milly yang baru saja hendak menyuap potongan pancake terakhir langsung tersedak. Ia buru-buru meletakkan garpunya, matanya membelalak di balik kacamata bulatnya. "Lho, Ibu kenapa mendadak sekali? Apa ada pelayanan mansion yang kurang nyaman? Atau adik-adik bosan di sini?"

Arkan pun ikut meletakkan cangkir kopinya. Guratan tegas di wajahnya mengeras, kembali ke mode seriusnya yang biasa. "Jika ada fasilitas atau protokol keamanan yang membuat Ibu tidak nyaman, katakan saja. Saya bisa meminta Bara untuk mengubahnya dalam waktu tiga puluh menit."

Ibu menggeleng pelan sambil tersenyum hangat, meraih tangan Milly dan menggenggamnya erat. "Tidak, Nak Arkan. Sama sekali bukan karena itu. Mansion ini sangat mewah, pelayanannya luar biasa, dan semua kebutuhan kami tercukupi tanpa kurang satu apa pun. Tapi... panti asuhan itu adalah rumah kami yang sebenarnya. Di sana ada halaman tempat anak-anak biasa berlari bebas tanpa takut menyenggol barang antik mahal, dan ada tetangga-tetangga lama yang sudah seperti keluarga."

Ibu panti menjeda kalimatnya, tatapannya beralih menatap Arkan dengan penuh rasa hormat. "Lagipula, kalian berdua ini pengantin baru. Baru saja membangun biduk rumah tangga. Tidak baik kalau diganggu oleh keramaian anak-anak setiap hari. Kalian butuh waktu berdua untuk saling mengenal dan menikmati masa-masa awal pernikahan tanpa perlu memikirkan kami."

Mendengar alasan terakhir itu, dada Milly mendadak berdenyut nyeri oleh rasa bersalah. Ibu tidak tahu dan tidak boleh tahu bahwa pernikahan megah ini awalnya hanyalah sebuah lembaran kontrak bisnis hitam di atas putih. Ibu mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, sementara kenyataannya mereka sedang berbagi ruang dalam sebuah kesepakatan besar.

"Tapi, Bu..." Milly berusaha menyanggah, suaranya sedikit serak. "Di sini jauh lebih aman. Faksi Wijaya mungkin sudah bersih, tapi di luar sana..."

"Di luar sana, Ibu yakin suamimu yang hebat ini pasti bisa menjaga kita semua, meskipun kami tidak tinggal satu atap," potong Ibu panti dengan keyakinan mutlak. Beliau menatap Arkan, menyalurkan rasa percaya yang begitu besar. "Benar kan, Arkan?"

Arkan terdiam sejenak. Pria yang biasanya selalu memiliki argumen pembalik untuk memenangkan setiap negosiasi itu kini mendapati dirinya terkunci oleh ketulusan seorang ibu. Ia melirik Milly yang menatapnya dengan pandangan memohon, berharap sang Presdir bisa mengeluarkan perintah mutlaknya agar Ibu tetap tinggal.

Namun, Arkan justru menghela napas pendek. Ia bisa melihat keteguhan yang tidak bisa diganggu gugat di matanya. Panti asuhan itu bukan sekadar bangunan bagi mereka, melainkan identitas dan ruang nyaman yang tidak bisa digantikan oleh kemewahan mansion Mahendra.

"Saya menghormati keputusan Ibu," ujar Arkan akhirnya, membuat Milly menoleh cepat ke arahnya dengan tatapan tidak percaya. Arkan membalas tatapan Milly sekilas, memberi isyarat lewat matanya bahwa memaksa Ibu tetap tinggal hanya akan membuat wanita sepuh itu merasa tidak nyaman karena berutang budi.

Arkan kembali menatap Ibu panti. "Namun, saya memiliki satu syarat yang harus Ibu penuhi jika ingin kembali ke sana."

"Apa itu, Nak?"

"Mulai hari ini, seluruh biaya operasional panti asuhan, pendidikan anak-anak, hingga fasilitas kesehatan akan dialihkan sepenuhnya di bawah yayasan Mahendra Group. Selain itu, dua personel keamanan dari tim Bara akan berjaga secara bergantian di perimeter luar panti. Itu adalah batas minimal proteksi yang bisa saya berikan untuk keluarga istri saya."

Mata Ibu panti berkaca-kaca mendengar ketegasan yang dibalut perhatian luar biasa dari menantunya. Beliau mengangguk pelan. "Terima kasih banyak, Arkan. Ibu menerima syarat itu. Kamu benar-benar suami yang luar biasa untuk Milly."

Ketika Ibu panti bangkit untuk mulai mengemas barang-barang adik-adiknya bersama para pelayan, Milly hanya bisa terpaku di kursinya. Perasaannya campur aduk, sedih karena harus berpisah dengan keluarganya, namun di sisi lain, hatinya menghangat melihat bagaimana Arkan memperlakukan ibunya dengan begitu terhormat. Rumah megah ini kini akan kembali sunyi, menyisakan dirinya dan sang Presdir dalam sebuah ruang lingkup baru yang perlahan-lahan mulai kehilangan sekat kontraknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!