NovelToon NovelToon
Hanya Ibu Untuk Anakmu, Mas!

Hanya Ibu Untuk Anakmu, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Balas Dendam
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.

Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.

“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.

Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alysia 9

Fajar menyingsing, namun cahaya matahari yang menembus celah gorden kamar tidak memberikan kehangatan bagi Damian. Dia terbangun dengan mata yang terasa berat. Sepanjang malam dia terjaga, mendengarkan deru napas Alysia yang teratur. Napas seseorang yang tidur dengan damai karena telah melepaskan beban harapannya.

Damian melirik ke sisi ranjang sebelah. Kosong. Alysia sudah bangun. Tidak ada lagi aroma parfum lembut manis yang biasanya tercium saat Alysia menyiapkan setelan kerjanya, tidak ada suara lembut yang membangunkannya dengan segelas air hangat.

Namun di tepi ran-jang sudah ada pakaian kerja yang di siapkan oleh Alysia lengkap seperti biasanya.

Damian turun dari tempat tidur dengan perasaan tidak nyaman yang merambat di tengkuknya. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Bahkan dia bersiap dengan cepat karena ingin segera pergi ke ruang makan. Ingin melihat bagaimana perlakuan Alysia padanya di sana. Apalagi di depan Arkhasa.

Di meja makan, Alysia sudah duduk dengan tenang. Dia mengenakan pakaian yang biasa dia gunakan untuk mengantar Arkhasa ke sekolah. Namun kali ini tampak berbeda. Alysia bahkan menyanggul rambutnya rapi. Selama enam tahun biasanya dia menggerai rambut panjangnya. di sanggul hanya kalau pergi ke acara resmi bersamanya.

Di sebelahnya juga sudah ada sang anak, Arkhasa sedang menikmati sarapannya dengan lahap. Bahkan tumbuh kembang anaknya selama di urus oleh Alysia sangat luar biasa. Arkhasa tumbuh menjadi anak yang pintar, sehat dan juga sedikit kritis.

Damian berjalan dengan sepatu yang sengaja dia hen-takkan lebih kencang untuk mencari perhatian dia orang di sana. Terutama Alysia, tapi dia tampak santai dan menyantap sarapannya dengan tenang. Di tempatnya biasa duduk juga sudah tersedia segelas kopi yang masih mengepul dan roti panggang hangat. Sedangkan Alysia dan anaknya Arkhasa sedang makan nasi goreng. Tak ada sapaan dari Alysia seperti biasa menyambutnya mencari perhatian.

"Pagi jagoan papa..." sapa Damian mengusap kepala anaknya yang sedang makan.

"Pagi papa..." jawab Arkhasa dan kembali fokus dengan makanannya.

Damian melirik ke arah Alysia. Tak ada sapaan, dia benar-benar bingung dengan perubahan Alysia. Entah kenapa dia malah tak nyaman dengan situasi ini. Biasanya dia yang selalu mengabaikan keberadaan Alysia kenapa sekarang malah dia yang di abaikan?

Damian memperhatikan gerakan tangan Alysia yang menyuap nasi goreng. Anggun, tenang, dan sama sekali tidak terburu-buru. Biasanya, pada jam seperti ini, Alysia akan sibuk mengecek dasi Damian atau memastikan dompetnya tidak tertinggal. Tapi sekarang, wanita itu bahkan tidak melirik sedikit pun saat Damian sengaja menjatuhkan garpunya hingga berdenting keras di atas piring.

"Hari ini aku ada meeting penting dengan klien dari luar kota," ujar Damian, suaranya sengaja dikeraskan, mencoba memancing respon.

Alysia hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.

"Semoga lancar," ucapnya singkat.

Nada bicaranya benar-benar datar, seperti sedang berbicara dengan rekan bisnis yang tidak terlalu dia sukai.

Damian mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa tidak nyaman yang tadi hanya merambat di tengkuk, kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Ini bukan Alysia yang dia kenal. Alysia adalah wanita yang selalu memprioritaskannya, yang selalu menunggu kepulangannya, dan yang selalu menjadi "rumah" paling hangat meski Damian sering mengabaikannya.

"Kau tidak bertanya jam berapa aku pulang?" tanya Damian lagi, kali ini dengan nada menuntut.

Alysia meletakkan sendoknya, lalu menyesap air putih dengan tenang sebelum akhirnya menatap Damian. Tatapan itu tajam, namun tenang. Tidak ada kilatan kemarahan, tidak ada kesedihan, hanya tatapan seseorang yang telah mencapai titik nadir kesabaran.

"Mas Damian..." panggil Alysia dengan suara yang jernih.

"Bukankah hal itu tak pernah kami ingin dengar dariku? Kamu mau meeting, kamu mau pergi ke luar kota atau ke luar negri. Tugas aku hanya menyiapkan semua kebutuhan kamu selama enam tahun ini, Mas! Untuk hal-hal lainnya aku kan tak boleh tahu dan melewati batas!" jawab Alysia. Membuat Damian mantap dengan tatapan yang tak bisa di artikan.

Alysia berdiri, lalu merapikan sisa sarapan Arkhasa.

"Nak, kita berangkat sebentar lagi. Kamu bawa tasnya ya!" ujar Alysia pelan kepada anak sambungnya, berbeda saat bicara kepada Damian. Bibi yang berada di dapur merasa aneh dengan sikap nyonya rumahnya. Selama ini nyonyanya selalu terlihat menunduk dan juga menurut kepada Damian. Hari ini dia berbeda.

"Kita perlu bicara sepertinya Alysia!" ujar Damian.

"Bicara apa, Mas? Oh iya, apa kamu sudah periksa email yang di kirimkan pihak sekolah? Jangan sampai kamu membuat Arkhasa kecewa untuk kedua kalinya seperti sebelumnya. Kami lebih memilih pergi bertemu dengan relasi di Singapuramu itu di banding dengan anakmu!" Alysia sengaja menekan kata Singapura.

Damian tersentak. Nama "Singapura" itu seperti cambuk yang menghantam tepat di ulu hatinya. Itu adalah pilihan sulit untuknya. Dia terpaksa harus makan malam bersama dengan Berlian dan ayahnya di tempat yang sama seperti kemarin hingga tengah malam bahkan sampai subuh menjelang.

Dia bahkan harus merelakan penampilan perdana Arkhasa di sekolahnya. Anaknya padahal sudah mewanti-wanti agar dirinya hadir dan melihatnya. Dia mengecewakan anaknya bahkan satu Minggu Arkhasa tak mau bicara dengan ya setelah itu.

"Papa janji kan akan datang nanti? Semua orang tua teman-teman Arkha datang lengkap. Papa dan Mamanya. Sedangkan Arka, hanya Mama saja! Arkha tak mau punya papa sibuk ke luar negri. Arkha lebih baik tak beli mainan daripada Papa tak datang ke acara nanti!" ujar Arkhasa yang baru saja datang dengan tatapan berkaca-kaca.

Suasana meja makan yang tadi dingin, kini berubah menjadi mencekam. Kalimat Arkhasa yang polos namun penuh luka itu meluncur seperti anak panah, tepat menancap di dada Damian.

Damian terdiam kaku. Dia menatap putranya yang kini berdiri dengan tas sekolah di bahu, matanya yang berkaca-kaca menatapnya dengan harapan yang sudah sangat tipis. Sebuah harapan yang seolah baru saja dipupus oleh kenyataan bahwa ayahnya lebih memilih 'urusan di Singapura' daripada momen berharga dalam hidupnya.

"Arkha, Papa..." Damian mencoba meraih tangan anaknya.

Namun Arkhasa dengan gerakan yang sangat halus. Tapi tegas menghindar dan justru mendekat ke arah Alysia. Dia memeluk pinggang wanita yang selama ini dia tahu adalah ibu kandungnya. Wanita yang mencurahkan seluruh perhatian untuknya. Wanita yang memberikan warna dalam hidup Arkhasa.

Alysia menarik napas panjang, lalu berlutut di hadapan Arkhasa, mengusap bahu kecil itu dengan penuh kasih sayang. Dia tidak melirik Damian sedikit pun, seolah pria di depannya itu hanyalah perabot rumah yang sudah tidak memiliki fungsi lagi.

"Sayang, sudah jangan menangis," ucap Alysia lembut. "Mama sudah janji, kan? Mama yang akan duduk di kursi depan. Mama yang akan merekam setiap penampilanmu. Mama akan jadi penonton paling bangga di sana. Kamu tidak butuh kursi yang kosong, kamu butuh orang yang benar-benar ada. Sekarang Arkha, tunggu Mama di mobil ya. Mama ambil dulu bekal Arkha!" ucap Alysia dengan penuh kasih sayang.

Arkha mengangguk dan menurut, tak lagi melihat ke arah papanya masih terdiam dan berusaha untuk mencoba meraih lengan anaknya.

1
nely_48
jd curiga klau bu cyntiya itu bkn ibu kandung Damian n antara bu cyntiya n pak Kuncoro ada jalinan kasih terselubung
nely_48
semangat damian
maya ayu
bagussssss
maya ayu
akhirnyaaaaaaaaa......






lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
nely_48
langkah awal yg berani untuk melaporkan ibu kandung sendiri k polisi,, semangat Damian
nely_48
semangat dam
Oma Gavin
modarrr kalian bertiga saatnya mempertanggung jawabkan perbuatan kalian kuncoro selingkuhan nya cynthia sedangkan berlian terobsesi sama damian keluarga gila
Ambu Rinddiany Thea
tah kitu ari jadi lalaki tegas punya prinsip. ulah kahasut kunu teparuguh
Muft Smoker
jgn mudah memaafkan ddamian ,, biar dy membuktikan dlu semua ucapan ny ,,
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
Ma Em
Apakah Alysia akan memaafkan Damian karena selama enam thn Alysia selalu diacuhkan dan tdk dianggap istri sama Damian , kalau menurut ku lbh baik Alysia pergi saja jgn mau kembali pada Damian .
Ambu Rinddiany Thea
bentar lagi juga bucin akut s damian mah 🤭 apalagi udh d kasih sesuatu ma alisya 🫣😁
Nasir: Kak, mampir di cerita saya ya "Dinikahi Papa Pacarku."
total 1 replies
Elina thea
si Damian banyak alasan,mau menjelaskan di saat waktu yg tepat katanya...waktu yg tepat itu kapan?
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
Ambu Rinddiany Thea
tenang dam masih ada jalan menuju roma ..
Muft Smoker
jgn hanya byak bicara Damian ,,
bukti kan dg tindakan mu
nely_48
sok lah Damian buktikan kesungguhan mu
Lee Mba Young
Cihh masih gk berani cerita masih bertele tele. masih nyimpen rahasia. Banci.
Elina thea
si Damian ini bertele tele DECH...katanya minta kesempatan untuk berbicara sama alysia,saat ada kesempatan dia malah minta waktu buat memberi penjelasan soal ibunya Arkha,minta kesempatan kedua tapi dia sendiri malah masih ragu buat jujur...udah alysia cerai aja sich buat apa juga peduli sama anak yg bukan anakmu,toh anak itu kan masih ada bapaknya...jadi udah cerai aja,bebaskan semua penderitaanmu.
Lee Mba Young
Buang saja laki model bgitu alisya. laki gk mandiri, hidup di setir ortu.
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
Muft Smoker
jgn mudah luluh Alysia ,, biar Damian merasakan penderitaan mu Selama 6th di abaikan ,,
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
Agunk Setyawan
6 tahun gak dianggap istri dijadiin pajangan rumah aja jgn mau luluh alsya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!