"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua obrolan di bawah satu atap
Waktu terus bergulir hingga jarum jam dinding digital di ruang tengah menunjukkan tepat pukul 21.00 malam. Suasana di dalam rumah bergaya minimalis itu kini benar-benar sunyi, menyisakan dua aktivitas berbeda yang terpisah oleh sekat dinding kamar masing-masing.
Di dalam kamar utama, Angga sedang berbaring di atas ranjang besarnya yang terasa luas tanpa kehadiran sang istri. Ponselnya ditempelkan di telinga, mendengarkan suara Rani dari balik speaker. Panggilan suara itu sudah berlangsung sekitar sepuluh menit.
"Iya, Mas, aku sudah di hotel dari jam delapan tadi. Tadi jalanan ke arah hotel agak macet," terdengar suara Rani di seberang telepon, terdengar sedikit lelah namun tetap perhatian. "Kamu sudah makan malam, Mas? Tyas gimana? Sudah kamu belikan makanan?"
Angga mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang, matanya menatap langit-langit kamar yang sepi. "Sudah, Ran. Tadi sore sepulang dari bank, Mas langsung belikan ayam goreng buat makan malam. Tyas juga sudah makan kok, ini anaknya sepertinya sudah masuk ke kamar."
"Syukurlah kalau begitu. Tolong dipantau terus ya, Mas. Kalau dia butuh apa-apa atau perutnya sakit lagi, dibantu ya. Aku agak kepikiran karena ini pertama kali dia menginap di rumah kita tanpa ada aku," pesan Rani tulus.
"Iya, Ran, pasti Mas jagain. Kamu fokus saja sama pekerjaanmu di sana, jangan terlalu banyak pikiran. Ya sudah, kamu cepat istirahat, besok kan jadwal rapatmu padat," ucap Angga lembut, mencoba menyembunyikan getaran canggung di suaranya. Setelah bertukar ucapan selamat malam, panggilan telepon itu pun berakhir, menyisakan Angga yang kembali termenung dalam kesendirian.
Sementara itu, hanya terpisah beberapa meter di lorong yang sama, suasana di dalam kamar Tyas justru terasa jauh lebih hidup. Gadis berambut pendek sebahu itu sedang menungkurepkan tubuhnya di atas kasur dengan bantal yang mengganjal dadanya. Piyama satin maroon yang dikenakannya tampak sedikit kusut karena posisinya.
Ponselnya disandarkan pada boneka beruang besar, menampilkan wajah Satya yang sedang asyik merokok di teras kosannya. Mereka kembali melakukan panggilan video, melanjutkan obrolan mereka yang sempat terputus sore tadi.
"Kamu malam ini seksi banget sih, Yang, pakai baju merah gitu," goda Satya di layar ponsel, matanya berbinar menatap potongan leher piyama Tyas yang sedikit longgar karena posisi menunggingnya.
Tyas tertawa kecil, membetulkan letak kardigan tipisnya dengan gerakan manja. "Ih, apa sih! Ini kan baju tidur biasa, Satya. Tadi habis ketumpahan air pas makan malam, jadi sekalian aja ganti piyama."
"Masa? Berarti Mas Angga sempat lihat dong kamu basah-basahan tadi?" tanya Satya setengah menyelidiki, ada nada cemburu sekaligus penasaran dari intonasi suaranya.
"Ya... sempat sih, makanya aku langsung kabur ke kamar karena malu banget," jawab Tyas jujur, wajahnya kembali merona mengingat tatapan intens kakak iparnya di meja makan tadi.
Di bawah remangnya lampu tidur masing-masing, kedua pria yang ada di dalam hidup Tyas malam itu sama-sama terjaga. Yang satu berada jauh di luar kamar namun pikirannya terus melayang ke arahnya, sementara yang satu lagi berada di balik layar ponsel, terus memprovokasi gairah muda mereka di tengah pekatnya malam.
Pintu kamar Tyas malam itu memang tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang memperlihatkan pendar lampu tidur dari dalam. Tyas, yang terbuai dalam dunianya sendiri bersama Satya di layar ponsel, benar-benar lupa daratan. Ia terbiasa dengan kebebasan saat berada di rumahnya sendiri dulu, hingga melupakan fakta bahwa saat ini ia sedang menumpang di rumah kakak kandungnya, dan hanya ada sang kakak ipar di luar sana.
Di balik layar, Satya terus memprovokasi dan memberikan perintah-perintah intim. Tyas yang sudah terlanjur larut dalam gairah muda yang membakar, mengikuti saja bisikan kekasihnya. Tangannya perlahan merayap di balik piyama maroon tipisnya, meremas lembut dadanya sendiri hingga menciptakan sensasi geli yang menuntut sebuah desahan halus lolos dari bibirnya. Tidak sampai di situ, celana piyama pendeknya sudah tersingkap ke atas, dan jemarinya mulai bermain di area sensitifnya yang sudah basah.
"Ahhh... Satya, gelihh..." erang Tyas tertahan, matanya terpejam menikmati sentuhannya sendiri demi memuaskan visual kekasihnya di seberang panggilan video.
Sementara itu, Angga baru saja keluar dari area dapur setelah meneguk segelas air untuk menenangkan pikirannya. Langkah kakinya yang tanpa alas membuat gerakannya sama sekali tidak terdengar saat menyusuri lorong remang-remang menuju kamar utama. Namun, begitu langkahnya tepat berada di depan kamar Tyas, telinga tajamnya menangkap sesuatu yang tidak biasa.
“Ahhh… pelan-pelan, Sat…”
Suara erangan lirih dan desahan napas yang memburu itu terdengar begitu jelas memecah kesunyian malam. Angga seketika menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup luar biasa kencang, seolah mau melompat keluar dari dadanya. Rasa penasaran, keterkejutan, dan gejolak pria dewasa mendadak bercampur aduk menjadi satu.
Bagaikan terhipnotis oleh suara-suara tersebut, Angga tidak melanjutkan langkahnya ke kamar utama. Tubuhnya justru berbalik secara perlahan mendekati celah pintu kamar Tyas yang sedikit terbuka.
Dengan napas yang ikut tertahan, Angga menempelkan wajahnya di dekat celah kayu itu dan mengintip ke dalam. Di bawah temaramnya lampu tidur, pandangan mata Angga langsung disuguhi pemandangan yang membuat seluruh darahnya berdesir hebat. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana adik iparnya yang berambut pendek sebahu itu sedang bergeliat di atas kasur, mengekspos bagian-bagian paling pribadinya sembari mendesah pasrah menatap layar ponsel.
Benteng pertahanan dan iman Angga yang sejak pagi tadi sudah diguncang oleh berbagai kebetulan, kini benar-benar berada di titik nadir, runtuh tak tersisa hanya dalam satu kedipan mata di sisa malam itu.