Dominic Kazarov.
Seorang pria tampan, dingin, dan berbahaya. Pemimpin kelompok mafia paling ditakuti, sekaligus pemilik perusahaan raksasa DK Company. Semua orang mengenalnya sebagai monster yang tak memiliki belas kasihan.
Namun semuanya berubah setelah pertemuan keduanya dengan seorang gadis muda yang pernah menolongnya saat ia terluka.
Awalnya hanya rasa penasaran. Lalu berubah menjadi ketertarikan. Hingga perlahan menjelma menjadi obsesi yang memabukkan.
Dominic tidak hanya menginginkan gadis itu berada di sisinya.
Ia menginginkan senyumnya, waktunya, hidupnya... bahkan kebebasannya. Dominic memilih cara yang paling kejam untuk mendapatkannya. Sebuah ancaman berdarah ia berikan dengan melukai salah satu teman gadis itu, memaksa sang gadis untuk menyerahkan dirinya kepada pria yang tak ia kenal.
terjebak dalam dunia mafia yang gelap dan berbahaya, sang gadis harus memilih.
Melawan pria yang terobsesi padanya atau menyerah pada cinta seorang monster kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra_Reinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Gila Dominic
"Apa kau ingin bermain permainan menghitung seperti saat di sekolah tadi,sayang?"
Nayara tetap berdiri ditempatnya tanpa berniat untuk mendekat.
“Diammu sudah cukup menjadi jawaban.”
Dominic melipat kedua tangannya di dada, tatapannya tajam menusuk tanpa sedikitpun rasa iba. Salah satu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang terlihat mengerikan.
“Baiklah… kita akan bermain.” Suaranya terdengar tenang, namun justru terasa lebih menakutkan.
“Aku akan memberikan perintah kepada bawahanku untuk menembak temanmu satu per satu, dan kau..." Suaranya menjadi lebih rendah seperti sedang menghantarkan sebuah ancaman yang begitu nyata "boleh memilih siapa yang akan mati lebih dulu" Suasana mendadak hening.
“Bagaimana?” Dominic memiringkan kepalanya pelan, senyumnya semakin melebar. “Bukankah permainan ini terdengar menarik?”
"Kau brengsek,mereka tidak bersalah. Kenapa kau malah ingin melukai teman-temanku?"
"Aku tidak peduli tentang itu."
Dominic menatap nayara tanpa berkedip, suaranya rendah namun penuh tekanan. "Bukankah sejak awal aku sudah menyuruhmu mendekat?"
Ia berhenti sejenak, sengaja membiarkan keheningan menggantung di udara. Tatapannya perlahan mengarah pada wajah nayara, memperhatikan setiap perubahan ekspresinya dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
"Jika kau tetap keras kepala dan memilih tidak patuh…" ujarnya pelan.
Sudut bibirnya kembali terangkat sebelum ia melanjutkan kalimatnya dengan nada dingin yang menusuk.
"…maka jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi pada teman-temanmu."
"Erghhh! kau pria paling brengsek yang pernah aku temui" Nayara akhirnya menyerah, ia jelas tidak ingin temannya yang lain menjadi korban dari kekejaman pria yang berada di hadapannya ini.
Dengan langkah perlahan dan penuh keraguan,nayara berjalan mendekati meja kerja tempat Dominic duduk. Suasana ruangan terasa semakin menyesakkan setiap kali jarak di antara mereka berkurang.
Dominic memperhatikannya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Wajah pria itu jelas menunjukkan kepuasan, seolah ia baru saja memenangkan permainan yang sejak awal sudah ia kendalikan.
Sesampainya di dekat meja,nayara menahan napas sejenak sebelum akhirnya duduk perlahan di pangkuan Dominic dengan tubuh tegang dan ekspresi setenang mungkin, meski sorot matanya masih menyimpan ketakutan yang sulit disembunyikan.
"Apa kau puas sekarang? "
Begitu nayara duduk di pangkuannya,Dominic langsung menarik tubuh wanita itu lebih dekat menggunakan tangan kanannya hingga tubuh naya menabrak dada bidangnya. Gerakannya tenang, namun penuh kendali seolah tidak memberi ruang bagi gadis itu untuk menjauh.
Sementara itu, tangan kirinya bergerak perlahan ke belakang kepala nayara, menarik pelan ikat rambutnya hingga terlepas. Rambut panjang itu jatuh berantakan melewati bahunya.
Dominic kemudian mengusap lembut kepala nayara, jemarinya menyusuri helai demi helai rambut wanita itu dengan santai. Ia menundukkan wajahnya perlahan, membiarkan aroma rambut nayara memenuhi inderanya sebelum mengecup singkat beberapa helai rambut tersebut.
Ekspresinya terlihat puas, sedangkan nayara hanya mampu diam dengan tubuh menegang di dalam pelukannya.
Aroma itu mampu membuatnya tenang, perbedaan mereka cukup kentara karena Dominic memiliki tinggi 196 cm dengan tubuh besar dan otot tangan yang terlihat menyembul di balik kemeja hitamnya, sedangkan nayara tentu saja terlihat kecil.
Nayara merasa tidak nyaman, ia bahkan sedikit memberontak di pangkuan Dominic dan itu membuat pria tersebut semakin meradang,membuatnya mengumpat dalam hati.
"Apa kau sedang memancingku? Berhentilah bergerak.kau membuat sesuatu dibawah sana terbangun,kau tidak ingin aku berbuat lebih dari ini kan? "
Suara Dominic terdengar berat dan serak.
Nayara awalnya tidak mengerti namun merasakan sesuatu menonjol dan keras dibawah sana ia akhirnya sadar dan berhenti memberontak.
"Good girl" Dominic menyisihkan rambut panjang nayara ke sebelah kiri lalu mencium tengkuk gadis tersebut.
Tubuh nayara seakan membeku sebentar menerima setiap sentuhan Dominic yang begitu intim.
"Apa yang kau inginkan dariku? aku bahkan tidak memiliki apapun, dan kurasa tidak ada yang bisa kau ambil dariku"
"Apa kau menginginkan organ tubuhku lalu kau ingin menjualnya, benarkan?"
Dominic tidak menanggapi setiap pertanyaan itu, tanganya masih sibuk mengelus rambut nayara dan mencium setiap helai rambut wanita nya.
"Heiii tuan, apa kau tuli dan bisu? Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku? Beri aku alasannya" Tanya nayara kembali.
"Aku tidak butuh alasan apapun untuk memilikimu, karena sejak awal kau memang milikku"
"Dengar ya tuan batu, aku bukan milikmu atau milik siapapun, aku milik diriku sendiri dan kita bahkan baru bertemu 2 kali kenapa kau bisa percaya diri dengan mengatakan kalau aku ini milikmu" Nayara sangat heran bagaimana pria ini bisa mengatakan kalau ia miliknya dengan semudah itu.
Dominic Menggeram.
"Apa kau ingin membuatku marah,sayang? kurasa kau cukup pintar untuk tahu apa yang bisa aku lakukan saat kau membuatku marah"
Ia hanya bisa pasrah dalam diam. Bahkan hanya karena ucapannya tadi saja, pria itu sudah terlihat nyaris kehilangan kesabaran. Nayara tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ia mengatakan sesuatu yang lebih dari itu.
Tubuhnya menegang pelan, berusaha tetap tenang meski rasa takut perlahan memenuhi pikirannya. Di hadapan pria seperti Dominic, satu kata yang salah saja terasa cukup untuk mengubah keadaan menjadi jauh lebih buruk
"Tuan batu.. "
"Hm"
"Memangnya sampai kapan aku harus seperti ini?" gumam nayara pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.
"Maksudku… apa kau tidak merasa kalau aku ini berat? Dari tadi aku duduk di pangkuanmu."