[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Gadis itu terbaring di lantai ruangan dengan pencahayaan redup. Rambut hitamnya tergerai berantakan. Pakaiannya tampak kotor.
Dia dikelilingi oleh 10 pria bertubuh besar, dengan seorang wanita yang duduk di sofa.
Wanita itu berdiri, gaun sutranya menyentuh lantai, tampak kontras dengan ruangan yang gelap dan berdebu.
"Angkat dia"
Suara Calantha tajam, menyimpan dendam, membelah atmosfer di sekitar.
Dua orang pria mematuhi perintahnya, mengangkat lengan ramping milik Diana Xylaria, gadis yang terbaring di lantai.
Calantha mengamati wajah yang tidak sadar itu. Dia masih bernafas.
'jadi, dia pingsan?' Calantha menyeringai, mengangkat pisau itu ke atas wajah Diana, bersiap untuk menggoresnya.
Tapi sebelum itu terjadi, Mata Cokelat Diana terbuka perlahan, dengan pandangan yang tidak biasa.
Pandangannya tajam dan dingin, membuat Calantha terkejut sesaat.
Dengan gerakan yang cepat, Diana berkelit menepis tangan tangan kasar itu dari lengannya, dan bergerak ke arah Calantha sebelum dia bisa sadar apa yang sedang terjadi.
Calantha terduduk kembali di sofa, pisau di tangannya hilang, berpindah ke dalam genggaman Diana.
Diana menyeringai memainkan pisau itu di depan Calantha.
"b-bagaimana kau.. APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?! TANGKAP DIA UNTUK KU!" Calantha berteriak.
10 pria itu mulai mengejar Diana. Tapi dia tak bisa ditangkap. Langkahnya ringan seperti bulu, dia berkelit cepat layaknya seekor ular.
Dengan satu gerakan, Dia mengambil tali yang tadinya mengikat tangan nya, berlari menuju tempat Calantha.
Para pria itu tetap mengejar, dengan tetap mengutamakan keselamatan bos mereka. Namun mereka kalah cepat dengan Diana, yang sudah lebih dulu mengikat Calantha di kursi.
Diana beralih memandang sekitar. 10 orang. dia belum pernah menghadapi pertarungan nyata. Tapi ini cukup untuk mengasah skill nya.
Diana berlari ke meja tempat berbagai mainan dan peralatan tajam disimpan. Mengambil semua senjata.
"sayang sekali tak ada pistol disini, padahal aku ingin menguji kekuatan Glock G19 jika ada"
Diana tertawa kecil. Dia mengambil sebuah cambuk dari sana. Dengan beberapa kali pukulan, pria pria itu tumbang, setidaknya pingsan untuk sementara waktu.
"bagaimana Calantha? Apa kemampuan bertarungku hebat?"
Diana membelai pipi halus Calantha menggunakan sebilah pisau.
"adegan ini familiar. Siapa sangka keadaan bisa berbalik seperti ini 'kan?"
"Diana, kuperingatkan kau. Jika kau berani macam macam, keluargaku pasti akan bertindak."
"di waktu seperti ini, kau masih bisa mengancamku. sepertinya kau masih tak sadar akan posisi mu."
Diana menatap datar, matanya menyipit, mengancam balik Calantha. Dia berbalik mengambil satu benda dari atas meja. menunjukan benda itu pada Calantha.
"apa yang ingin kau lakukan dengan itu?! singkirkan dari hadapanku!" Calantha berteriak marah.
Diana tertawa kecil. "bukankah benda ini dibawa olehmu?"
Dengan kasar, Diana menjejalkan benda berbentuk telur itu dalam tubuh Calantha. tak lupa dia menyalakan kamera, sekaligus menyalakan remote yang ada di tangannya.
Calantha mulai bergeliat tidak nyaman. air matanya berlinang, mengalir keluar. Belum pernah dia dipermalukan seperti ini. Dia marah. Sangat marah.
"aku mohon... hentikan... aku akan beri apapun yang kau inginkan.."
"berhenti? apa kau ada berpikir seperti itu ketika ingin melakukannya padaku tadi?"
"kalau begitu, Calantha tersayang, aku akan lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku."
Diana menarik Gaun sutra Calantha dengan kasar. Merobeknya menjadi potongan potongan kecil, membuatnya tak mungkin dipakai lagi.
Dia juga melakukan hal yang sama pada semua pakaian orang orang milik Calantha.
"untuk apa kau melakukan ini?" Calantha bertanya sesengukan.
"aku tak suka padamu." jawab Diana, singkat padat dan jelas.
"oh iya.. Tadi kau menyebut Rylan. Bukan karena aku terlalu dekat dengannya, tapi karena kau menyembunyikan suatu rahasia darinya 'kan?"
"dan rahasia itu ada hubungannya dengan ku."
Pupil Calantha melebar. Dia tau selama ini. Dia berpura pura lupa.
"tak apa. Kau pasti tak ingin beri tau aku."
"aku pasti akan mengadu pada keluarga ku. Kau akan mendapat balasan Diana!"
"hmm. Keluargamu ya? Bukankah kau melakukan segala sesuatu selama ini tanpa memberi tahu mereka? Kau sembunyi sembunyi kan?"
'kenapa Diana bisa tau soal ini?' pikir Calantha.
"bilang saja. Mungkin lain kali aku akan beri kau hadiah istimewa lagi."
Diana berpikir sejenak. Lalu tersenyum penuh arti.
"mungkin langsung melalui Rylan"
"soal Rylan, beri tau saja dia. Aku jamin dia akan semakin menyukaimu, bahkan sampai ke neraka sekalipun."
"dan video mu yang sangat bersemangat ini, aku pasti akan berbagi menontonnya dengan Rylan. Tanganku mungkin tergelincir, kau tau.."
"baik. Cukup berbincang bincangnya. Aku harus pergi." Diana bangkit berdiri, mengambil ponsel Calantha dan semua alat komunikasi lainnya.
"kau mungkin tak bisa menghubungi dunia luar untuk sementara" Diana menyeringai.
Dia pun pergi ke arah pintu, membukanya, memandang ke ruangan itu untuk terakhir kalinya, lalu membantingnya dengan keras.
'Diana, tenang saja. Semua perbuatan Calantha sudah kubalas. Grace dan adiknya mungkin belum bisa tenang, sampai Calantha mati.'
'dan ini saat bagimu untuk bersinar Diana. Tunjukan usaha terbaikmu sebagai Wakil Presdir.'
'tapi sebelum itu, ada sesuatu yang harus aku ketahui'
'Diana' melangkah pergi, menuju jalan raya, membawanya ke Bandara, dan langsung menuju Negara Z, meninggalkan Calantha dan antek anteknya di ruangan gelap tersebut.
Calantha meraung keras. Tubuhnya tidak nyaman. Benda itu bergerak semakin liar.
"DIANA! AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
'sial sial sial! Belum pernah aku diperlakukan seperti ini! Aku pasti akan membalasmu begitu aku keluar dari sini!'
'umh.. Tapi ini sangat tidak nyaman.'
Desahan desahan pelan meluncur keluar dari mulut Calantha.
Para pria itu mulai terbangun.
"apa yang terjadi? Kenapa aku telanjang?"
"hei kau tidak memakai baju!"
"dimana pakaian kita?"
Mereka melihat ke sekeliling. Dan mereka tak bisa menahan mata mereka untuk tidak memandangi tubuh Calantha. Itu pemandangan yang sempurna.
"jangan lihat!" Calantha berteriak memerintah, namun tak ada yang mendengarkan. Mereka semua sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
"n-nona, biar aku bantu melepas talinya" salah seorang pria menawarkan diri.
"baik, cepatlah! Aku merasa sangat tidak nyaman!" Calantha mendesak.
Pria itu berjalan menuju Calantha, mulai membuka tali yang mengikat tubuhnya. Tapi tak semudah itu. Diana mengikat tali itu dengan pola khusus.
"n-nona, ini sedikit sulit.."
"ayo bantu juga yang lain! Jangan diam saja!"
Semua pun datang mendekat. Tiba tiba, Calantha mencium sesuatu.
'wangi apa ini? Sial Diana! Ini obat perangsang yang kubawa khusus!'
mereka semua mulai kebingungan, tidak sadar lagi dengan apa yang mereka lakukan. Merka telah dikendalikan nafsu.
Tanpa mereka sadari, aktivitas mereka semua telah direkam dengan kamera tersembunyi milik Diana.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖