Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Malam kian melarut ketika Rolls-Royce hitam milik Dixon kembali memasuki pelataran mansion. Jam dinding digital di ruang utama telah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Langkah kaki Dixon terdengar berat dan tegas saat melangkah masuk ke dalam lobi rumah yang sunyi. Gurat kelelahan tercetak jelas di wajah matangnya setelah seharian penuh menghadapi rapat pemegang saham yang menguras energi.
Sesuai dengan kebiasaannya, Cia sudah berdiri di dekat pilar ruang tengah, menyambut kedatangan suaminya. Malam ini, ia mengenakan gaun tidur katun berwarna putih tulang dengan rambut hitamnya yang sengaja diikat longgar ke samping. Ikatan rambut itu dengan sangat jelas memamerkan pipi kirinya yang membengkak kemerahan, kontras dengan kulit pucatnya.
"Selamat malam, Mas Dixon," sapa Cia dengan suara yang dibuat sedikit serak dan parau, seolah-olah ia baru saja menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis. Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk menerima tas kerja kulit milik Dixon.
Dixon menghentikan langkahnya sejenak. Sepasang mata elangnya yang tajam seketika menangkap noda lebam kemerahan yang mencolok di wajah mulus istrinya. Rahang tegas Dixon sempat mengeras sekilas, dan tatapannya menajam. Namun, sesuai dengan sifatnya yang kaku, dingin, dan menolak ikut campur dalam drama domestik, pria berusia 39 tahun itu sama sekali tidak menanyakannya. Ia memilih mengabaikan luka itu, mengembuskan napas pendek, lalu berjalan melewati Cia begitu saja menuju ruang makan. "Siapkan makan malam," perintahnya dingin.
Cia menunduk patuh, menyembunyikan senyuman miring yang teramat licik di balik bayangan rambutnya.
Suasana di meja makan berukuran panjang itu terasa luar biasa mencekam. Dixon duduk di kepala meja, sementara Cia dan Amora duduk saling berhadapan. Amora, yang sudah menyusun rencana busuk bersama Vanya siang tadi, tampak bersikap jauh lebih tenang daripada biasanya. Ia bahkan sempat melirik Cia dengan tatapan meremehkan sebelum mulai menyantap sup iga hangat yang dihidangkan di depannya.
Cia dengan telaten menuangkan air putih ke gelas Dixon, tetap berakting sebagai istri yang patuh meski pipinya yang memar terus terpampang nyata.
Makan malam berlangsung dalam keheningan yang kaku, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Namun, ketenangan semu itu mendadak pecah berantakan ketika Amora baru saja menelan suapan supnya yang kelima.
"Uhuk! Uhuk-uhuk!"
Amora mendadak tersedak dengan sangat keras. Gelas air putih di dekatnya tersenggol hingga airnya tumpah membanjiri meja marmer. Gadis itu mencengkeram lehernya sendiri dengan kedua tangan, wajah cantiknya dalam hitungan detik berubah memerah padam keunguan akibat pasokan oksigen yang mendadak terputus.
"Amora?" Dixon meletakkan sendoknya, alis tebalnya bertaut rapat melihat perubahan drastis pada putrinya.
"Dad—Daddy... s-sakit... leherku..." rintih Amora dengan suara yang tercekik. Napasnya memburu pendek-pendek, dan tubuh rampingnya mulai bergetar hebat. Belum sempat Dixon bangkit dari kursinya, sepasang mata Amora mendadak berputar ke atas, dan tubuhnya seketika lemas, ambruk tak sadarkan diri dari kursi hingga terjerembab ke lantai marmer.
"Amora!!" Dixon berteriak parau, melompat dari kursinya dengan kecepatan yang luar biasa. Pria raksasa itu berlutut di lantai, menepuk-nepuk pipi putrinya yang sudah pucat pasi dengan kepanikan yang menjalar hebat di dadanya. "Asher! Panggil dokter keluarga sekarang juga!! Cepat!!"
Di sisi meja yang lain, Cia menutup mulutnya dengan kedua tangan, membelalakkan matanya dengan ekspresi ketakutan dan syok yang luar biasa sempurna. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, Cia justru tersenyum puas. Umpan yang disiapkan Amora dan temannya ternyata jauh lebih ekstrem dari yang ia duga, dan ini adalah skenario terbaik yang bisa ia manfaatkan.
Kamar tidur Amora mendadak berubah menjadi sangat sibuk. Dokter keluarga Alessandro, Dokter Radit, memeriksa kondisi Amora yang masih terbaring lemah di atas ranjang dengan sisa-sisa napas yang belum stabil. Dixon berdiri di tepi ranjang dengan sepasang tangan yang mengepal erat di dalam saku celananya, auranya begitu pekat oleh amarah dan kekhawatiran yang memuncak. Cia berdiri sedikit di belakang Dixon, menunduk sembari meremas jubah tidurnya dengan tubuh yang gemetar halus.
Setelah memeriksa denyut nadi dan mengambil sampel sisa makanan dari mulut Amora, Dokter Radit berbalik menghadap Dixon dengan wajah yang amat serius.
"Bagaimana keadaan putriku, Radit?" tanya Dixon, suara baritonnya terdengar sangat ketat dan mengancam.
"Nona Amora mengalami syok anafilaktik yang parah akibat zat kimia asing, Pak Dixon," jelas Dokter Radit dengan nada berat. "Berdasarkan gejala klinis dan sisa cairan yang saya periksa, ada kandungan zat pencahar dosis tinggi bercampur senyawa arsenik ringan di dalam sup yang dikonsumsinya. Dengan kata lain... Nona Amora baru saja keracunan."
Deg.
Kata "keracunan" menggema nyaring di dalam kamar mewah itu. Aura di sekeliling Dixon seketika mendingin hingga ke titik beku. Rahangnya mengeras sempurna, dan sepasang mata elangnya berkilat penuh kilat pembunuhan yang mengerikan.
Tepat pada saat itu, kelopak mata Amora perlahan bergerak. Gadis itu melenguh lirih, membuka matanya yang masih sayu dan lemas.
"Daddy..." panggil Amora dengan suara yang teramat lemah, air mata buatan mulai mengalir di sudut matanya.
Dixon langsung mendekat, duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan putrinya. "Daddy di sini, Sayang. Apa yang kamu rasakan?"
Amora menolehkan kepalanya perlahan, menatap ke arah Cia yang berdiri di belakang ayahnya. Kilat kebencian yang teramat pekat menyelimuti matanya yang sayu. Amora meremas tangan Dixon dengan sisa tenaganya, mencoba mendudukkan tubuhnya sedikit.
"Dad... tolong aku... Perempuan itu... perempuan itu mau membunuhku!" tangis Amora pecah secara histeris, menunjuk langsung ke arah Cia dengan jari yang bergetar. "Sebelum makan malam tadi, aku tidak sengaja melihat pelayan belakang, Bi Sumi, sedang menangis di dekat dapur. Saat aku tanya, Bi Sumi bilang dengan mata kepalanya sendiri kalau dia melihat Valencia... melihat istri barumu itu memasukkan sesuatu berupa bubuk putih ke dalam panci sup igaku! Dia sengaja mau meracuniku karena kejadian tamparan tadi pagi, Dad!!"
Mendengar tuduhan telak yang keluar dari mulut putrinya, Dixon seketika berdiri tegak. Tubuh raksasanya berbalik, menghadap lurus ke arah Cia.
Detik itu juga, amarah Dixon yang selama ini tertahan di balik topeng esnya meledak sepenuhnya. Sepasang mata elangnya berkilat merah oleh murka yang luar biasa dahsyat. Aura mengintimidasi yang mematikan menguar dari tubuh tegapnya, mengunci mati siluet ramping Cia di tempatnya berdiri. Dixon melangkah maju satu tapak, memandang Cia dengan tatapan yang seolah ingin menghancurkannya menjadi abu.
"Valencia!!" bentak Dixon dengan suara bariton yang menggelegar dahsyat, membuat seisi kamar berguncang hebat oleh kemarahannya yang mutlak. "Jelaskan padaku sekarang juga... apa yang sudah kau lakukan pada putriku?!"
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu