Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Kevin menuruni tangga dengan santainya. Ia terlihat begitu segar dengan rambut yang masih basah. Ini pertama kalinya Diandra melihat Kevin menggunakan pakaian santai seperti itu. Dan itu tak terlihat seperti Kevin yang begitu arogan padanya. Diandra masih terpesona oleh ketampanan Kevin. Ia bahkan menatap Kevin dari mulai menuruni tangga hingga menghampirinya tanpa berkedip.
"Kenapa menatapku seperti itu? Awas nanti jatuh cinta," ujar Kevin lalu duduk di sana.
"Cih, siapa juga yang akan jatuh cinta," balas Diandra. Kevin hanya menatap lekat Diandra sambil tersenyum.
"Pak,"
"Hmm..."
"Bisakah antarkan aku pulang? Atau setidaknya tolong carikan taksi. Aku bisa pulang sendiri," ucap Diandra dengan lembut.
"Bersihkan dirimu terlebih dahulu. Kau bau!" ucap Kevin. Ia menatap layar ponselnya. Membuat Diandra tak habis pikir.
"Tidak perlu Pak, aku bisa membersihkan diri nanti setelah sampai di apartemenku," balas Diandra.
Kevin menatap Diandra sekilas. Lalu berdiri dan melangkah keluar. Sementara Diandra masih bingung dan masih dalam posisinya.
"Kenapa masih di situ? Tidak jadi pulang?" tanya Kevin yang membalikkan tubuhnya untuk menatap Diandra. Diandra langsung senang dan segera menyusul Kevin.
Kevin mulai mengemudi lagi menuju apartemen Diandra. Sepanjang perjalanan mereka habiskan untuk mengobrol membahas hubungan Kevin dengan Kanaya dulu. Hingga sampailah mereka di parkiran apartemen Diandra.
"Terima kasih Pak. Saya akan berusaha untuk menyatukan cinta kalian kembali," ucap Diandra sebelum keluar dari mobil tersebut.
"Jangan mengecewakanku," balas Kevin dan Diandra mengangguk paham. Setelah Diandra keluar dari mobil, Kevin segera melajukan kembali mobilnya.
Diandra langsung melangkah menuju apartemennya. Namun dalam hatinya tak tenang. Apakah John dan Fandy akan membiarkan Diandra kali ini atau justru akan berulah kembali.
***
"Apa kalian bilang? Kalian tidak berhasil membawa Diandra pulang lagi?" ucap Raka kesal. Lalu memilih untuk duduk di sofa ruang tamunya. Raka mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maafkan kami tuan," ucap John.
"Hanya soal Diandra saja kalian tidak mampu mengatasinya? Bukankah aku sudah bilang sebelumnya, jika dia menolak bawa secara paksa!" ucap Raka lagi. John dan Fandy masih menunduk. Mereka tak berani menceritakan tentang Kevin pada Raka.
"Sudahlah. Kalian istirahatlah," ujar Raka.
"Baik tuan," jawab mereka bersamaan.
Setelah kepergian mereka, Raka menghela napasnya sejenak. Ia memijat pelipisnya sendiri. Sambil bersandar dan menatap langit-langit ruang tamu tersebut.
"Sepertinya harus aku sendiri yang turun tangan," gumam Raka.
Jiana menghampiri Raka. Ia meletakkan secangkir kopi untuk suaminya itu di meja. Lalu mengusap bahu Raka dengan lembut.
"Mas, semakin kamu mengekangnya akan semakin keras kepala putri kita," ucap Jiana. Raka menatap Jiana dengan sendu lalu merebahkan kepalanya pada bahu Jiana. Jiana mengusap-usap rambut Raka dengan lembut.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan sayang, agar putri kita kembali?"
"Mudah. Biarkan dia memilih jalannya sendiri dan batalkan perjodohan itu. Pasti putri kita akan kembali," balas Jiana. Namun Raka masih berat untuk membatalkan perjodohan tersebut. Terlebih lagi, Raka sangat tahu betul bagaimana sikap Rizal kepada Diandra dan bagaimana Rizal memperlakukan Diandra. Ia akan lebih tenang menyerahkan tanggung jawab menjaga Diandra pada Rizal.
Raka meraih tangan Jiana dan mencium punggung tangannya. Lalu ia menatap Jiana dengan teduh. Jiana tersenyum. Ia mengecup kening Raka sekilas.
"Semakin kamu keras kepala, Diandra akan semakin susah diatur mas. Pertimbangkan itu. Kamu mau menjadi musuh putri kita sendiri, hmm?" tutur Jiana. Raka menggeleng pelan. Bukan seperti itu yang ia inginkan.
"Yah, nanti aku akan memikirkannya. Sekarang sudah larut. Ayo kita istirahat," ujar Raka. Mereka berjalan menuju kamar. Tak lupa secangkir kopinya Raka bawa ke kamar karena tak sempat ia minum tadi.
*
*
*
Satu minggu berlalu.
Semenjak kesepakatan antara Kevin dan Diandra malam itu, kini Kevin mulai bersikap normal pada Diandra. Tak lagi mempersulit Diandra apalagi sengaja memberinya pekerjaan yang berat.
Meskipun Kanaya masih susah untuk Diandra bujuk, Diandra tak akan menyerah. Walau berulang kali Kanaya marah padanya akibat Diandra mempertemukan Kevin beberapa kali agar mereka punya waktu untuk berdua. Menurut Kanaya, Diandra tak perlu ikut campur tentang urusannya. Biarlah semua berjalan sesuai apa adanya. Kanaya juga sudah lelah dengan sikap Kevin padanya.
Siang itu selepas Kevin dan Diandra bertemu dengan klien mereka, Kevin mengajak Diandra untuk makan siang di luar. Sebagai sekretaris, Diandra mengikut begitu saja. Apalagi di sana juga ada Mark yang setia menemani Kevin.
"Silakan menikmati," ucap pelayan resto itu setelah menghidangkan makanan mereka. Mereka bertiga mengangguk bersamaan. Lalu segera menyantap makanan yang ada di depannya tersebut.
Selepas itu, mereka segera kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
"Bawa Diandra ke mobil sekarang!" ucap Raka kala Diandra baru sampai di depan kantor. John dan Fandy mengangguk lalu segera membawa Diandra secara paksa. Membuat Diandra tak bisa melawan meskipun ia meronta.
"Pa tunggu dulu! Diandra masih bekerja," ucap Diandra. Namun Raka tak peduli. Sudah cukup Diandra bermain-main di luar.
"Tunggu! Kalian tidak bisa membawa Diandra begitu saja," ujar Kevin mencegah mereka.
"Apa urusan kamu?" Raka menatap Kevin dengan dingin.
"Karena dia masih karyawan saya dan ini masih jam kerja," jawab Kevin tegas. Raka tersenyum sinis. Ia memberikan surat pengunduran diri Diandra pada Kevin lalu segera membawa Diandra pergi.
Kevin hanya bisa menatap mereka pergi sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia merasa tak rela jika Diandra dibawa secara paksa seperti itu. Meskipun itu dengan keluarganya sendiri. Kevin masih berdiri mematung di tempatnya hingga mobil mereka menghilang dari pandangannya.
"Tuan muda," panggil Mark. Kevin menoleh beralih menatap Mark. Lalu segera masuk ke dalam kantornya lagi.
*
"Kunci dia di kamar!" ucap Raka tegas.
"Pa... Dengarkan Diandra dulu!" Diandra masih meronta. Namun Raka tak mempedulikan Diandra.
Jiana menghampiri mereka. Ia bingung dengan situasi tersebut. Lalu menghampiri suaminya untuk bertanya pada Raka apa yang terjadi.
"Mas, kenapa kamu bersikap kasar pada putri kita?" tanya Jiana yang tak tega melihat Diandra dibawa paksa hingga ke kamarnya.
"Sayang, keputusan mas sudah bulat. Mas akan tetap melanjutkan perjodohan ini agar Diandra tak berkeliaran di luar sana," balas Raka. Ia duduk di ruang keluarga. Jiana pun ikut duduk di samping suaminya.
"Mas, apa kamu mau menghancurkan masa depan putri kamu sendiri? Kenapa kamu juga begitu keras kepala?" Jiana marah pada Raka. Ia sangat tahu bagaimana rasanya harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai dulu. Meskipun pada akhirnya ia jatuh cinta juga pada suaminya.
"Sayang, dengarkan mas dulu. Mas punya alasan untuk ini," ucap Raka lembut. Namum Jiana langsung berdiri dan bergegas menghampiri putrinya.