NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: MENCOBA MERAWAT BUNGA YANG MEKAR

Hujan turun sejak sore tanpa memberi tanda akan segera reda. Langit Jakarta diselimuti awan kelabu, sementara deretan kendaraan merayap pelan di jalanan yang basah. Dari balik kaca ruko percetakan, Rangga memperhatikan butiran air yang terus menghantam aspal, menciptakan riak-riak kecil di genangan yang mulai memenuhi tepi jalan.

Suara mesin cetak akhirnya berhenti berdengung setelah seharian bekerja tanpa jeda. Rangga mengembuskan napas panjang sambil meregangkan bahunya yang terasa pegal. Hari itu cukup melelahkan. Pesanan spanduk, undangan, hingga brosur promosi datang silih berganti. Namun, di sela-sela kesibukan itu, pikirannya beberapa kali melayang kepada Sari.

Sejak kunjungan ke rumah orang tua Sari beberapa hari lalu, ucapan Ayah Sari masih terngiang jelas di benaknya.

"Wanita butuh jangkar untuk menetap."

Kalimat sederhana itu terus berputar di kepalanya seperti kaset yang diputar berulang-ulang. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin dalam makna kalimat itu menghantam batinnya.

Rangga sadar, ia belum mampu memberikan jawaban atas harapan keluarga Sari. Mimpi-mimpinya masih terlalu besar untuk berhenti di satu tempat. Namun, selama belum menemukan kepastian, ia tidak ingin membiarkan keraguannya melukai perempuan yang selama ini selalu hadir membawa ketenangan.

"Kalau memang belum bisa memberi masa depan, setidaknya aku masih bisa memberi rasa dihargai," gumamnya lirih.

Ponselnya bergetar.

Sari: Mas, hujan deras banget. Atap teras kos bocor lagi. Airnya mulai masuk ke depan kamar.

Rangga membaca pesan itu sekali lagi sebelum segera mengambil jaketnya yang tergantung di balik pintu.

Tanpa banyak berpikir, ia mematikan lampu ruko lebih awal. Kotak perkakas yang biasa dipakai memperbaiki mesin fotokopi segera dimasukkan ke dalam bagasi motor. Beberapa lembar seng kecil, palu, paku, dan sealant yang masih tersisa ikut dibawanya.

"Semoga belum terlalu parah," gumamnya sebelum menyalakan mesin motor.

Gerimis masih menyisakan titik-titik air ketika Rangga tiba di rumah kos Sari.

Benar saja, sebagian teras sudah dipenuhi genangan. Air menetes dari sela-sela genting yang bergeser, lalu mengalir hingga mendekati pintu kamar.

Sari yang sejak tadi menunggu di depan kamar langsung menghampiri.

"Mas... kok benar-benar datang? Padahal hujannya belum reda."

Rangga tersenyum kecil.

"Kalau aku cuma balas 'semangat ya' lewat chat, bocornya juga enggak bakal nutup sendiri."

Sari terkekeh pelan. Raut wajahnya yang semula cemas perlahan berubah menjadi lebih tenang.

Tanpa membuang waktu, Rangga membuka tangga lipat yang dipinjam dari penjaga kos. Dengan hati-hati ia memanjat menuju atap.

Angin malam bertiup cukup kencang. Beberapa kali gerimis mengenai wajahnya. Ia menemukan dua genting bergeser akibat hujan deras beberapa hari terakhir.

Tangannya bekerja cepat.

Sesekali ia memukul perlahan agar posisi genting kembali rapat. Setelah itu, ia menambahkan lapisan perekat di beberapa bagian yang mulai retak.

Dari bawah, Sari berdiri sambil memegangi tangga.

"Mas... hati-hati."

"Iya."

"Nanti kalau jatuh gimana?"

Rangga tertawa kecil.

"Kalau jatuh, ya kamu yang tangkap."

Sari langsung menggeleng sambil ikut tertawa.

"Mana kuat."

"Berarti aku enggak boleh jatuh."

Jawaban sederhana itu membuat senyum Sari semakin lebar.

Beberapa penghuni kos yang melintas ikut memperhatikan pemandangan tersebut. Ada yang tersenyum melihat seorang pria rela kehujanan hanya untuk memperbaiki atap yang bocor.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rangga turun dengan pakaian yang sudah basah oleh hujan.

"Sudah selesai."

Sari menatap langit yang mulai berhenti menetes.

"Mas... terima kasih."

"Dicoba dulu nanti kalau hujan lagi."

Sari mengangguk pelan.

Tatapannya penuh rasa syukur, bukan karena genting itu berhasil diperbaiki, melainkan karena sekali lagi Rangga membuktikan bahwa perhatian tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Kadang, perhatian justru terlihat dari seseorang yang rela datang ketika semua orang memilih tetap berteduh.

Sejak malam ketika Rangga memperbaiki atap kos yang bocor itu, perhatian-perhatian kecil di antara mereka tumbuh semakin alami. Tidak ada janji yang diucapkan, tidak pula kata-kata manis yang berlebihan. Namun, keduanya sama-sama memahami bahwa hubungan mereka perlahan sedang bertumbuh, seperti mawar-mawar di taman kecil depan ruko yang setiap hari mereka rawat bersama.

Hari-hari berikutnya kembali dipenuhi rutinitas. Sejak pagi, suara mesin fotokopi dan printer digital silih berganti memenuhi ruangan percetakan. Pelanggan datang membawa berbagai pesanan, mulai dari dokumen kantor, spanduk promosi, hingga undangan pernikahan. Rangga kembali tenggelam dalam kesibukan yang sempat membuatnya lupa pada luka masa lalunya.

Menjelang sore, seperti biasanya, Sari datang setelah pulang bekerja. Tas kerjanya masih tersampir di bahu ketika ia langsung membantu merapikan nota-nota pesanan yang menumpuk di meja kasir.

"Aku bantu, ya?" ucapnya sambil tersenyum.

Rangga mendongak dari depan komputer.

"Padahal kamu baru pulang kerja."

"Daripada langsung pulang ke kos, lebih enak di sini. Suasananya ramai."

Rangga hanya tersenyum kecil. Ia sudah beberapa kali meminta Sari agar beristirahat lebih dulu, tetapi perempuan itu selalu datang dengan alasan sederhana. Entah membantu menyusun arsip, mengecek pembukuan, atau sekadar menyeduhkan teh hangat ketika Rangga masih sibuk melayani pelanggan.

Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam, keduanya menutup ruko sedikit lebih awal.

"Belanja bulanan, jadi?" tanya Rangga sambil mengambil kunci motor.

Sari mengangguk antusias.

"Iya. Stok di kos sudah habis."

Motor melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi lampu kendaraan. Mereka berhenti di sebuah swalayan yang tidak terlalu jauh dari ruko.

Selama hampir satu jam, Sari sibuk memilih kebutuhan sehari-hari. Sesekali ia membandingkan harga, menghitung pengeluaran di kalkulator ponselnya, lalu mengembalikan barang yang dirasa belum terlalu dibutuhkan.

Rangga memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa.

"Apa?" tanya Sari ketika menyadari dirinya terus diperhatikan.

"Kamu teliti."

"Kalau enggak teliti, uang gaji bisa habis sebelum akhir bulan."

Rangga mengangguk pelan.

Ucapan itu sederhana, tetapi membuatnya kembali sadar bahwa perempuan di hadapannya bukanlah seseorang yang terbiasa hidup bermewah-mewahan. Sari terbiasa menghargai setiap rupiah yang diperoleh dari hasil kerjanya sendiri.

Tanpa diminta, Rangga mengambil seluruh kantong belanja yang mulai memenuhi troli.

"Mas, itu berat."

"Makanya aku yang bawa."

Sari terkekeh kecil.

"Kalau semua kamu yang kerjakan, nanti aku dimanja terus."

"Enggak apa-apa."

Jawaban singkat itu membuat pipi Sari memerah tipis.

Dalam perjalanan pulang, motor mereka sempat berhenti di lampu merah. Di trotoar seberang jalan, seorang anak kecil terlihat menjajakan bunga mawar kepada para pengendara.

Anak itu kemudian menghampiri mereka.

"Kak... beli mawarnya, Kak."

Rangga merogoh saku celananya.

"Berapa satu?"

"Lima belas ribu."

Tanpa menawar, Rangga membeli setangkai mawar merah, lalu menyerahkannya kepada Sari.

Sari tampak terkejut.

"Mas... buat aku?"

"Iya."

"Kenapa tiba-tiba?"

Rangga tersenyum sambil kembali mengenakan helm.

"Soalnya taman depan ruko enggak boleh jadi satu-satunya tempat yang punya bunga."

Kalimat itu membuat Sari tertawa pelan.

Ia memeluk bunga mawar itu sepanjang perjalanan pulang, seolah benda sederhana tersebut adalah hadiah paling berharga yang pernah ia terima.

Namun, kebahagiaan kecil itu ternyata tidak bertahan lama.

Keesokan harinya, ketika jam kerja hampir usai, Sari datang ke ruko dengan langkah yang jauh lebih pelan daripada biasanya.

Rona ceria di wajahnya menghilang.

Ia duduk di sofa sudut ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tas kerjanya diletakkan begitu saja di lantai, sementara kedua tangannya menggenggam erat secangkir teh yang bahkan belum sempat disentuh.

Rangga yang sedang merapikan hasil cetakan segera menyadari perubahan itu.

Ia menghampiri Sari, lalu duduk di sampingnya.

"Kenapa, Sar?"

Sari tidak langsung menjawab.

Tatapannya kosong, seolah seluruh tenaga dan semangatnya tertinggal di kantor.

Beberapa detik kemudian, ia menarik napas panjang.

"...Aku capek, Rangga."

Rangga tidak langsung bertanya lagi. Ia membiarkan keheningan mengisi ruangan beberapa saat. Suara kipas angin yang berputar pelan dan dengung mesin pendingin menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di dalam ruko yang mulai lengang.

Ia mengambil cangkir teh yang sudah mulai kehilangan uap hangatnya dari genggaman Sari, lalu meletakkannya perlahan di atas meja.

"Kalau terus digenggam begitu," ujar Rangga sambil tersenyum tipis, "tehnya keburu dingin. Mawar di depan ruko juga nanti ikut layu melihat kamu cemberut."

Sari berusaha tersenyum, tetapi matanya justru mulai berkaca-kaca.

"Rangga... aku benar-benar capek."

Kalimat itu akhirnya keluar bersama embusan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

"Hari ini kantor kacau. Data operasional bulan ini berantakan karena kesalahan tim lain. Tapi waktu rapat, yang dimarahi malah seluruh divisi administrasi. Aku juga ikut kena."

"Terus?"

"Aku sudah menjelaskan kalau bagian yang aku kerjakan sesuai prosedur. Tapi suasananya sudah telanjur panas. Rasanya... besok aku malas masuk kerja."

Sari menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan, seolah sedang menahan beban yang jauh lebih berat daripada sekadar tumpukan berkas administrasi.

Rangga memahami perasaan itu.

Ia pernah berada di posisi yang hampir sama. Saat baru merintis usaha, tidak sedikit pelanggan yang menyalahkannya atas keterlambatan bahan baku dari pemasok. Padahal kesalahan itu bukan berasal darinya.

"Aku paham rasanya," ucap Rangga pelan.

Sari mengangkat wajahnya.

"Disalahkan untuk sesuatu yang bukan kesalahan kita memang menyakitkan. Rasanya seperti semua usaha yang sudah kita lakukan tiba-tiba tidak ada artinya."

Sari mengangguk pelan.

"Iya..."

"Tapi kalau aku boleh kasih saran..."

Sari langsung memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Rangga.

"Besok jangan datang hanya membawa penjelasan. Datanglah membawa data."

"Maksudnya?"

"Buat rekap khusus semua pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawabmu. Susun serapi mungkin. Kalau perlu, beri tanggal, tanda tangan, dan bukti pendukung."

Sari mulai berpikir.

"Kalau rapat lagi?"

"Jangan membela diri dengan emosi. Tunjukkan fakta."

Rangga tersenyum kecil.

"Di dunia kerja, kadang data lebih lantang daripada suara."

Sari terdiam cukup lama.

Semakin dipikirkan, semakin masuk akal saran itu.

"Menurutmu... kepala divisi mau mendengarkan?"

"Kalau beliau pemimpin yang baik, pasti mau."

"Lalu kalau tetap tidak mau?"

Rangga mengangkat bahu sambil tersenyum.

"Berarti masalahnya bukan di kamu."

Sari akhirnya tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke ruko sore itu, beban di wajahnya mulai berkurang.

Melihat perubahan itu, Rangga merasa sedikit lega.

"Pokoknya besok selesaikan bagianmu sebaik mungkin. Kalau setelah jam kerja kamu masih kesal..."

Ia mengambil kunci motornya dari atas meja.

"...telepon aku. Aku jemput."

Kalimat sederhana itu membuat hati Sari menghangat.

Tidak ada janji berlebihan.

Tidak ada kata-kata romantis.

Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuatnya merasa aman.

Keesokan harinya, Sari menjalankan semua saran Rangga.

Sejak pagi ia menyusun ulang seluruh dokumen yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap laporan diperiksa kembali, dicocokkan satu per satu dengan arsip digital yang tersimpan di komputer kantor.

Saat rapat dimulai, suasana memang kembali memanas.

Namun kali ini, Sari tidak lagi berbicara berdasarkan perasaan.

Ia membuka map biru yang telah disiapkannya semalaman.

"Pak, ini seluruh data pekerjaan yang saya tangani. Semua sudah saya cocokkan dengan laporan harian."

Ruangan mendadak sunyi.

Kepala divisi mulai memeriksa berkas-berkas tersebut.

Semakin lama ia membaca, semakin jelas terlihat bahwa kesalahan yang terjadi bukan berasal dari bagian administrasi yang ditangani Sari.

Beberapa menit kemudian, arah pembahasan rapat berubah.

Tim lain yang sebelumnya luput dari pemeriksaan akhirnya diminta memberikan klarifikasi.

Sari menarik napas lega.

Bukan karena ia merasa menang.

Melainkan karena kebenaran akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Sore harinya, Sari datang ke ruko dengan wajah yang jauh lebih cerah.

Di tangannya, terdapat dua kantong belanja berisi bahan makanan.

"Ada apa?" tanya Rangga sambil tersenyum.

"Hari ini aku mau masak."

"Masak?"

"Iya."

"Kenapa?"

Sari tersenyum lebar.

"Karena hari ini... aku menang."

Rangga ikut tersenyum.

Bukan karena persoalan kantor telah selesai.

Melainkan karena ia melihat bunga yang sempat hampir layu itu kini kembali mekar dengan warna yang lebih indah.

Malam itu, setelah dapur kecil di belakang ruko mulai dipenuhi aroma masakan buatan Sari, tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa di luar sana, takdir sedang menyiapkan persimpangan baru.

Sebuah kesempatan besar tengah melaju perlahan menuju kehidupan Rangga... dan ketika kesempatan itu tiba, bukan hanya masa depannya yang akan diuji, tetapi juga ketulusan hati yang selama ini berusaha ia jaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!