Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan di Atas Lembar Kertas Tua
Kabar tentang kembalinya Adam ke dalam lingkar bisnis hiburan menyebar bagai minyak tanah yang tersengat api. Tidak ada pengumuman resmi di media, tetapi namanya tiba-tiba muncul di jajaran investor utama yang membeli sebagian besar saham distributor film Cinta Dua Batas. Langkah itu senyap, cepat, dan terencana dengan sangat dingin.
Ajo berdiri di balik jendela ruang kerjanya, menatap rinai hujan yang membasahi kaca. Di atas meja jati, sebuah dokumen akuisisi tergeletak terbuka.
Langkah Adam sepuluh tahun lalu kembali terulang. Dulu, Adam tidak pernah menghancurkan Ajo secara langsung dengan kepalan tangan; ia menghancurkan Ajo dengan cara merangkak masuk ke dalam hal-hal yang paling Ajo hargai, lalu menguasainya dari dalam. Maya adalah korban pertama. Dan kini, Adam menggunakan taktik yang sama pada proyek film yang menjadi taruhan hidup-mati Ajo.
Pintu ruangan ketukan pelan, melenyapkan kesunyian.
Ajo tidak berbalik. "Aku sudah bilang pada staf, tidak ada rapat untuk sore ini."
"Aku bukan stafmu, Ajo."
Suara itu membuat tubuh Ajo membeku sejenak. Ia berbalik perlahan. Elsa berdiri di dekat ambang pintu, mengenakan mantel cokelat basah dengan helai rambut yang menempel di pipinya. Wanita itu tampak tidak membawa asisten, tanpa pengawalan, dan tanpa riasan. Wajahnya polos, memperlihatkan lingkaran hitam di bawah mata serta kepucatan yang nyata.
Ajo menatapnya kaku. "Bagaimana kamu bisa masuk?"
"Aku berjalan lewat tangga darurat," jawab Elsa pelan, suaranya sedikit parau. Ia melangkah mendekat, membiarkan tetesan air hujan dari mantelnya jatuh ke lantai kayu. "Adam baru saja meneleponku. Dia bilang dia sudah mengambil alih jalur distribusi film ini."
Ajo menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. "Aku tahu."
"Kenapa kamu diam saja?" Suara Elsa meninggi, bukan karena amarah, melainkan karena desakan kecemasan yang meluap dari dadanya. Ia mendekati meja jati, menatap Ajo dengan mata yang bergetar. "Dia melakukan ini bukan karena filmnya, Ajo. Dia melakukan ini untuk menghancurkanmu. Dia memakai aku, dia memakai proyek ini, hanya untuk memancingmu!"
Ajo menatap wanita di depannya. Ada dorongan aneh di dalam dadanya—rasa ingin meraih tangan Elsa yang gemetar, menyentuh jemarinya yang dingin, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun Ajo menahannya. Benteng pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun melarangnya untuk menyerahkan kelemahannya.
"Ini cuma bisnis, Elsa," ujar Ajo datar, meski nada suaranya sedikit goyah.
"Bohong!" potong Elsa. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes, melintasi pipinya tanpa kepura-puraan. "Jangan berakting di depanku, Ajo! Aku sudah cukup melihat pria berpura-pura dalam hidupku. Adam berpura-pura mencintaiku padahal dia hanya ingin memilikiku, dan kamu... kamu berpura-pura tidak punya perasaan padahal matamu melihat seluruh lukaku!"
Kata-kata Elsa menghantam ruangan itu hingga hening seketika. Hanya ada suara deru hujan di luar yang menyelimuti ketegangan mereka.
Ajo mematung. Tatapannya melunak, melelehkan keangkuhan kaku yang selama ini memenjarakan raut wajahnya. Ia melangkah memutari meja jati, mengikis jarak di antara mereka hingga ia berada tepat di hadapan Elsa. Bau hujan, melati, dan rasa sakit yang pekat menguar di antara napas mereka yang beradu.
"Kamu ingin tahu yang sebenarnya?" bisik Ajo, suaranya berat dan penuh kegetiran yang terendam lama. Ia menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Elsa yang basah. "Setiap kali aku melihatmu, aku melihat diriku sendiri yang hancur sepuluh tahun lalu. Adam tidak hanya merebut apa yang aku miliki dulu, Elsa... dia menghancurkan kepercayaanku bahwa aku layak dicintai."
Elsa menahan napas. Tangannya yang dingin terangkat perlahan, ragu-ragu, hingga ujung jemarinya menyentuh rahang Ajo. Sentuhan itu sangat halus, namun dampaknya membuat tubuh Ajo bergetar tipis.
"Lalu kenapa kamu membiarkannya menang lagi?" bisik Elsa, matanya menatap Ajo dengan kerinduan yang terlarang. "Kenapa kamu tidak melawannya. Ajo memejamkan mata sejenak, menikmati hangat jemari Elsa yang membakar kulitnya. Saat ia membuka mata kembali, ada pendar emosi asing yang tak pernah ada sebelumnya—sebuah keteguhan yang lahir dari keputusasaan cinta.
Ajo menggenggam tangan Elsa yang ada di pipinya, meremasnya erat. "Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu, Elsa. Sekalipun aku harus kehilangan seluruh rumah produksi ini."
Di tengah keheningan yang sarat akan janji terselubung itu, bunyi dering telepon genggam Elsa di atas meja memutus udara hangat di antara mereka. Nama yang tertera di layar menyala terang dalam kegelapan remang ruangan: Adam.
Elsa membeku. Ajo melirik layar ponsel itu, lalu kembali menatap Elsa.
Tekat teki di antara bertatapan mereka kian pekat. Ada sesuatu yang tak diketehui Ajo tentang Elsa dan Adam—sebuah rahasia tua dalam dokumen kontrak pribadi yang ditandatangani Elsa lima tahun lalu, sebuah rahasia yang menjadi alasan mengapa Elsa tidak pernah bisa benar-benar pergi dari sisi Adam, sejauh apa pun ia mencoba berlari.
Elsa menarik tangannya perlahan dari genggaman Ajo, menatap layar ponsel itu dengan binar ketakutan yang mendalam.
"Ajo..." bisik Elsa, suaranya mendadak dingin bagai es. "Ada hal-hal yang tidak bisa kamu selamatkan, tak peduli seberapa keras kamu mencoba.