Saling mencintai, namun restu tak menyertai. Tetap memaksakan untuk menjalankan pernikahan tanpa restu. Namun ternyata restu masih di atas segalanya dalam sebuah pernikahan.
Entah apa yang akan terjadi lada pernikahan Axel dan Reni, ketika mereka harus menjalani pernikahan tanpa restu. Apa mungkin restu itu akan di dapatkan suatu saat nanti. Atau bahkan perpisahan yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permohonan Mama
Hari berlalu begitu cepat, sudah satu minggu sejak pertemuan terakhir Reni dan suaminya. Itu artinya sudah tepat satu bulan berlalu sejak Axel pergi ke rumah orang tuanya dan tidak kembali lagi. Masih dengan dirinya yang memblokir nomor suaminya. Dia hanya masih ingin untuk menenangkan diri. Karena semuanya masih tidak jelas, suaminya tidak pernah mencoba untuk menceritakan atau menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
Hampir setiap hari, Reni hanya fokus bekerja. Bahkan dia sering ikut lembur bekerja saat ini. Dan sejak kedatangan suaminya waktu itu, selalu membuat Tika bertanya-tanya. Karena jelas dia melihat bagaimana karyawannya yang lebih sering diam dan tidak seperti Reni yang dulu.
Sementara Axel juga hanya bisa bersabar untuk kembali ke Tanah Air, menunggu keadaan Ibunya stabil baru dia bisa segera kembali. Meski begitu dia terus mencoba untuk menghubungi istrinya, tapi tetap tidak bisa. Hal itu cukup membuatnya kesal dan tidak tahu harus melakukan apa.
Setiap malam, sebelum dia beristirahat, maka dia selalu menatap foto istrinya di dalam ponsel. Rindunya yang semakin besar saat ini. Dia hanya ingin segera bertemu dengan istrinya dan meminta maaf padanya atas ucapannya waktu itu.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Kenapa kamu sulit sekali di hubungi"
Sekarang dia mencoba meminta sahabatnya untuk menemui istrinya dan mengecek keadaannya apa baik-baik saja atau tidak. Tapi, Zayyan hanya menjawab jika Reni memang sudah tidak ada di rumah mereka. Itu artinya memang benar jika istrinya tidak kembali lagi ke rumah mereka.
"Sayang, kamu pergi kemana sebenarnya? Kenapa meninggalkan rumah?"
Axel menghembuskan nafas kasar, dia tidak pernah bisa tenang selama berada disini. Selalu kepikiran tentang keadaan istrinya. Apalagi ketika dia tahu jika istrinya sudah tidak tinggal lagi di Apartemen. Dia selalu berpikir kemana pergi sang istri dan bagaimana keadaannya sekarang.
"Xel"
Panggilan lembut itu, membuat Axel mengalihkan fokusnya dari layar ponsel yang menunjukan foto istrinya. Dia beralih pada Ibunya yang barusan memanggilnya. Axel langsung beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri Mama yang masih terbaring di atas ranjang pasien.
"Iya Ma, ada apa? Mama perlu sesuatu?" tanya Axel sambil duduk di pinggir ranjang pasien.
Mama menggeleng pelan, dia hanya menatap lekat anaknya itu. "Kapan kita bisa pulang?"
"Masih menunggu keputusan dari Dokter Ma, kalau memang keadaan Mama sudah stabil, kita bisa langsung pulang. Papa bilang besok dia akan menyusul kesini. Setelah semua pekerjaan mulai selesai"
Mama mengangguk pelan, dia mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi anaknya. "Kamu jangan lagi pergi dari rumah ya. Mama begitu merindukanmu. Mama tidak pernah ingin berpisah denganmu, kamu adalah anak laki-laki Mama satu-satunya"
Axel terdiam, dia tahu arti dari ucapan itu. Seolah memang dia tidak boleh menentang lagi tentang semua keputusan orang tuanya. "Alexa akan segera kembali, dia juga ingin menemui Mama"
Adiknya yang masih menyelesaikan kuliahnya di Luar Negara, memang jarang sekali bisa pulang. Jadi pantas saja Mama akan merasa kesepian saat Axel memutuskan untuk pergi dari rumah hanya karena memperjuangkan cintanya.
"Kali ini bisakah untuk menuruti semua keinginan kami, Xel? Kita sudah terlanjur membuat kesepakatan dengan keluarga Avinna. Jadi, jika kita yang membatalkannya maka semuanya akan kena imbas. Bukan hanya tentang nama baik kita sekeluarga, tapi juga Perusahaan Papa kamu. Bolehkah kali ini Mama memohon padamu?"
Axel terdiam, sungguh dia tidak tahu harus menjawab apa saat ini. Semuanya memang seolah memberikannya tekanan yang begitu besar.
"Saat kamu masuk SMA, Perusahaan Papa mengalami kerugian besar sampai harus berhutang besar. Para investor juga langsung mencabut saham mereka di Perusahaan Papa. Dan Ayahnya Avinna yang datang menawarkan bantuan. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Papa agar tetap berdiri tegak dengan Perusahaan yang dia rintis dari awal. Dan perjanjian itu, mereka hanya menginginkan kamu untuk menjadi menantunya. Suami dari Avinna"
Tangan Axel sudah mengepal erat di sisi tubuhnya. Dia sama sekali tidak tahu tentang hal ini.
"Kami juga tidak ingin memaksa kamu jika keadaannya bukan seperti ini. Tapi Xel, kamu harus menuruti semuanya untuk kali ini. Kasihan Papa kamu yang sudah banyak berjuang untuk kita semua, dan dia hanya minta satu pengorbanan kamu saja. Bisakah? Mama memohon untuk Papa kamu, Xel. Dia bukan tidak sayang padamu, tapi dia juga berada dalam posisi yang sulit saat ini"
Axel tidak bisa menjawab, bahkan dia seolah terhimpit dua dinding besar yang membuatnya kesulitan bergerak. Entah dia harus menyetujui keinginan orang tuanya, tapi mungkin dia akan kehilangan perempuan yang dia cintai.
Mama meraih tangan anaknya dan mengenggamnya dengan lembut. Axel langsung menatap wajah Ibunya dengan lembut. Sungguh dia juga melihat kesedihan di balik tatapan Mama saat ini.
"Avinna juga gadis yang baik. Bahkan saat kamu tidak ada disini, maka dia yang merawat Mama dengan baik. Kamu coba membuka hati untuknya, pasti kamu akan bisa mencintainya. Kali ini, Mama benar-benar memohon dengan sangat padamu, Nak"
"Baiklah, aku terima perjodohan ini..."
Tidak ada lagi yang mampu Axel lakukan saat ini. Semuanya begitu mendesaknya untuk menerima perjodohan ini.
*
Prank.. Reni terdiam dengan terkejut saat gelas di tangannya tiba-tiba lepas kendali dan terjatuh ke lantai hingga menjadi serpihan. Dia memegang dadanya sendiri yang tiba-tiba terasa sesak tanpa sebab. Air matanya juga tiba-tiba menetes begitu saja tanpa sebab yang jelas.
Reni mengusap kasar air mata yang mengalir begitu deras di pipinya. Dia berjongkok untuk mengambil beberapa serpihan gelas yang pecah itu. Karena tidak fokus membuat serpihan itu melukai jari tangannya. Air mata kembali menetes begitu saja.
"Kenapa aku harus menangis? Kenapa juga hatiku begitu sesak. Ya Tuhan apa yang sudah terjadi?"
"Reni, apa yang terjadi? Aku mendengar suara barang pecah saat di kamar tadi"
Nara yang datang menghampiri Reni, dia menahan tangan Reni yang masih mengumpulkan serpihan gelas pecah dengan jarinya yang berdarah.
"Sudah jangan kamu bereskan lagi. Biar Bibi saja yang bereskan, jari kamu juga terluka begini. Ayo biar aku obati"
Nara membawa Reni ke ruang tengah, mengobati lukanya. "Kamu kenapa? Bisa sampai seperti ini?"
Nara terdiam saat tidak mendengar jawaban dari Reni. Lalu, dia mendongak dan melihat gadis itu sudah terisak dengan air mata yang mengalir. Nara langsung sadar jika keadaannya tidak baik-baik saja. Membuat dia langsung memeluk gadis itu dengan lembut. Membiarkan saja Reni menumpahkan tangisnya agar dia lebih lega.
Bersambung
Ngak ada extrapart gitu kak 😁😁😁
lanjut kak semangat 💪💪💪