Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.
Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.
Terima kasih 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doping
"Bagus Arthur! Kamu ternyata memiliki bakat terpendam selama ini. Mengapa baru sekarang kamu muncul?" Seru Jake, guru olahraga sekaligus pelatih tim basket sekolah pada Dom.
Dom hanya tersenyum sinis pada temannya itu.
Lalu, Dom menunjukkan aksinya saat merebut bola, lalu menembakkan pada keranjang dengan mulus sehingga mendapat angga tiga poin.
Jake terpana menatap aksi siswanya barusan. Dia pernah melihat aksi itu dulu, ketika menjadi tim basket semasa SMA, hingga kuliah, dan itu hanya dilakukan oleh Dominic, sahabatnya. Sekarang, dia melihatnya lagi, siswanya melakukan hal yang sama persis, gerakan yang dulu sering dilakukan oleh Dom.
Jake menatap Arthur yang sedang berlari merebut bola dan melempar ke arah Devon.
Jake mengamati latihan hari ini dengan banyak keterkejutan akan Arthur, bocah kutu buku, yang selalu menghabiskan waktu di perpustakaan dan lab biologi dan kimia, sekarang bergabung pada tim basket, yang ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa juga.
Tiba-tiba seorang pemain terjatuh dna terkulai lemas di lapangan.
"Pak, tolong! Ben pingsan." Teriak Devon.
Segera Jake berlari ke lapangan memeriksa siswanya, dan memeriksa denyut nadi Ben.
Raut wajah Jake terlihat gusar dan panik.
Dom mendekat pada tubuh Ben, lalu memeriksa nadi pada leher Ben, sangat lemah.
Dom memeriksa datak jantung Ben yang mulai melambat, ada bercak pada kulit tangannya.
Reaksi alergi.
Jake telah menghubungi rumah sakit untuk memberi pertolongan pada Ben.
Dom menoleh pada Matt yang terlihat gusar, namun berusaha tenang.
"Berandal itu memberi obat terlarang pada Ben." Tebak Dom sambil membantu membawa tubuh Ben masuk dalam ambulan.
Devon, Dom, dan Jake ikut dalam ambulan menemani Ben.
Ben segera mendapat pertolongan.
"Tolong kuras isi perutnya." Ucap Dom lirih pada dokter ugd yang menangani Ben.
Dokter itu menatap Dom ragu, namun, dia mengangguk, dan meneruskan memeriksa Ben.
Leo berlari kecil menuju ruang gawat darurat menghampiri Jake.
"Aku akan memeriksanya. Kamu tenang saja."
Leo masuk ke ruangan, dan Jake, bersama Devon dan Dom menunggu di ruang tunggu.
Sekitar satu jam berlalu, akhirnya Leo keluar dari ruangan dan menghampiri Jake.
Orang tua Ben sudah tiba dan mendekati Leo.
"Bagaimana Ben?" Cecar ibu Ben.
"Ben sudah aman. Dia segera dipindah ke ruang rawat inap. Jake, bisa ikut denganku."
Leo menepuk bahu Jake.
Perawat memindahkan tubuh Ben ke bangsal pasien, diikuti oleh orang tua Ben, Devon dan Dom.
Jake masih berbicara dengan Leo di ruangannya.
Dom sangat yakin, Ben mengkonsumsi obat untuk meningkatkan stamina, namun ternyata dia memiliki alergi, sehingga memiliki reaksi yang buruk pada tubuhnya.
*
"Arthur, Bapak ingin bicara. Devon kamu bisa pulang, besok kita berlatih lagi. Terima kasih untuk hari ini."
Tukas Jake sesaat mereka kembali dari rumah sakit.
Devon menuju ruang ganti, dan Dom masih bersama Jake.
"Kamu tahu yang dialami oleh Ben?" Tanya Jake.
"Ada apa dengan Ben?" Dom balik bertanya.
"Kamu yang mengatakan pada dokter jaga untuk menguras isi perut Ben, bukan?"
Dom mengangguk.
"Kamu tahu, selama ini, Ben mengkonsumsi doping?"
"Tidak Pak."
"Lalu, bagaimana kamu tahu, dia mengkonsumsi doping?"
"Reaksi kulitnya, Pak. Seseorang yang alergi akan obat, tubuhnya akan bereaksi. Ben mungkin baru pertama memakai doping ini, jadi dia tidak tahu akan akibatnya. Bapak hanya perlu mencari pemain yang mengkonsumsi dan sumbernya." Jawab Dom dengan santai.
Jake manatap Dom dengan seksama, seolah sedang memastikan siswa di depan ini mengkonsumsi doping juga atau tidak.
"Baiklah, kamu boleh pulang. Jangan lupa besok kita latihan lagi. Terima kasih untuk hari ini."
"Sama sama, Pak."
Jake tersenyum sambil menepuk bahu Dom.
Dom berlalu menuju ruang ganti.
Di sisi lain, terlihat Lucy bersama Devon saat Dom menuju ke ruang ganti.
Dom berganti pakaian, lalu memasukkan pakaian kotornya dalam tas ransel, lalu menuju keluar untuk pulang.
Dom mengerutkan keningnya saat mendengar isak tangis di sudut ruangan. Dom mencari asal suara, terlihat Lucy duduk tertunduk menutup wajahnya, dan Devon tak ada.
"Ada apa? Mana Devon?" Tanya Dom sambil celingak celinguk mencari sosok Devon. Lalu duduk di samping Lucy.
Tangis Lucy semakin menjadi. Lucy mendorong punggung Dom, dan menangis di punggungnya.
"Biarkan aku pinjam punggungmu, jangan banyak tanya!" Ujar Lucy dengan galak di sela tangisnya.
Dom hanya bisa menahan tawa mendengar ucapan Lucy.
Dom membiarkan Lucy membasahi punggungnya dengan air mata bercampur ingus. Lalu saat Lucy mulai terdengar tenang, Dom memutar tubuhnya melihat keadaan Lucy.
Dom menyodorkan handuk keringatnya pada Lucy. Lucy terlihat ragu.
"Itu belum aku pakai." Ucap Dom, seolah mengerti keraguan Lucy.
Lucy mengambil handuk dengan kasar, menyeka air matanya, lalu mengeluarkan seluruh kotoran hidungnya dengan cuek. Sampai sampai Dom hanya bisa menatap pasrah handuknya.
Lucy mengambil napas dalam dalam, menatap Dom.
"Tolong rahasiakan ini!" Lucy menekan setiap kata yang barusan diucapkannya.
Dom mengangguk.
"Ayo kita pulang!" Ajak Dom sambil mengulurkan tangannya pada Lucy.
Lucy meraih tangan Dom, dan berdiri merangkul pundak Dom, lalu mereka meninggalkan gedung olahraga sekolah.
"Aku mengajak Devon untuk kencan, namun dia menolakku secara langsung." Celoteh Lucy saat dalam perjalanan pulang.
"Kamu dicampakkan oleh Devon?"
"Aku tidak dicampakkan!" Tegas Lucy dengan tatapan galaknya pada Dom.
Dom mengangguk pura pura takut.
"Dicampakkan itu, jika seseorang sudah mendapat manfaat, lalu ditinggal pergi. Nah, aku baru tidak seperti itu!"
"Berarti kamu dicampakkan sebelum mengatakan perasaanmu." Seringai Dom.
"Kamu mengejekku, ya!"
Lucy memukul Dom tanpa ampun. Dom berusaha menghindar dan tanpa sengaja Dom mendekap tubuh Lucy menahan Lucy berbuat lebih barbar lagi.
Mereka saling cela dan tertawa bersama.
Saat mereka sadar, betapa dekat tubuh mereka, Lucy segera mendorong tubuh Dom, dan terlihat serba salah.
"Kamu masih punya aku, temanmu." Dom merangkul Lucy dan mengajak kembali meneruskan perjalanan.
"Setidaknya, Devon tidak brengsek seperti Matt. Dia langsung mengatakan, jika saat ini dia berpacaran dengan Lindsay. Anak dari kelas kesenian. Suaranya bagus, dan sering ikut ajang kontes menyanyi."
Cerocos Lucy panjang lebar.
Sepanjang perjalanan, Lucy menceritakan tentang temannya, lalu kegiatan di lab dan sekolah, membuat Dom jadi teringat akan Jane. Yang selalu memiliki segudang cerita setiap mereka bersama.
Dom bahkan heran dengan perubahan suasana dan perasaan hati Lucy. Barusan dia menangis karena ditolak oleh Devon, lalu setelah itu, dia bisa menceritakan gadis yang menjadi pacar Devon dengan santai.
Lalu menceritakan kegiatan di lab juga, dan bisa tertawa kembali.
"Sudah sampai. Pulanglah! Sampai jumpa besok di sekolah." Ucap Dom.
Lucy menghela napas dalam, seolah enggan untuk pulang.
"Temani mamamu. Dia membutuhkanmu."
Lucy menggeleng.
"Mamaku pergi ke rumah bibiku. Papaku, terkadang tidak pulang. Aku sendiri."
Keluh Lucy dengan raut sedih.
"Setidaknya pulanglah dulu, berisirahat. Jika kamu takut, bisa menghubungiku."
"Ya sudaah, terima kasih, Arthur."
Lucy berjalan memasuki gedung apartemen tempat tinggalnya sambil melambaikan tangan.
Dom kembali meneruskan perjalanannya pulang yang hanya tinggal tiga blok lagi.