NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinginnya Keruntuhan Pertama

Kemewahan adalah sebuah panggung sandiwara yang rapuh, dan siang itu, di sebuah restoran berlantai kaca di pusat perbelanjaan paling eksklusif di Jakarta, Ningsih sedang memainkan peran utamanya dengan sangat gemilang.

Suara denting cangkir porselen halus dan gelak tawa manja para wanita paruh baya dari lingkaran arisan kelas atas memenuhi udara yang wangi parfum mawar Prancis. Di kelilingi oleh teman-temannya yang mengenakan perhiasan berkilau, Ningsih duduk dengan dagu terangkat, menikmati posisi sebagai pusat perhatian.

"Ah, Jeng Ningsih, kulitmu terlihat sangat segar hari ini. Pasti karena aura rumah yang semakin damai, ya?" puji seorang wanita dengan sanggul tinggi berhias mutiara, mencoba mengambil hati.

Ningsih tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng perak yang sengaja digoyang. Ia membenarkan letak syal sutra di bahunya dengan gerakan anggun yang dibuat-buat. "Tentu saja, Jeng. Akhirnya, parasit yang selama ini mengotori rumahku sudah dibersihkan. Sekarang, udara di rumah terasa sangat murni. Tidak ada lagi bau masakan kampung yang mengganggu hidungku."

"Benar-benar keputusan yang tepat!" sahut wanita lain, berambut sasak pendek. "Menantu itu harusnya yang sepadan, yang tahu cara membawa diri. Bukan wanita udik yang hanya tahu cara memegang sapu. Ngomong-ngomong, sup burung walet di sini sangat terkenal, mari kita pesan lagi."

Ningsih melambaikan tangannya ke arah pelayan dengan gestur meremehkan yang biasa ia gunakan. "Pesan saja apa yang kalian mau. Hari ini, biarkan aku yang menjamu kalian semua. Anggap saja ini perayaan kecil atas kembalinya martabat keluargaku."

Di dalam kepalanya, Ningsih membayangkan dompet kulit mewahnya yang menyimpan beberapa lembar kartu kredit berwarna hitam dan emas—fasilitas tanpa batas yang selalu ia banggakan kepada teman-temannya sebagai 'bukti baktinya seorang anak laki-laki yang sukses'. Ia tidak pernah tahu, dan tidak pernah mau tahu, dari mana aliran dana tanpa batas itu sebenarnya mengalir selama tiga tahun ini.

Setengah jam berlalu dalam kepongahan. Ketika tagihan makan siang diletakkan di atas meja di dalam map kulit kecil, Ningsih menarik kartu kredit berwarna hitam dengan logo timbul berlapis emas dari dompetnya. Ia menyerahkannya kepada pelayan dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibir bergincunya.

"Gunakan kartu ini," ujar Ningsih pongah.

Pelayan itu membungkuk sopan, lalu melangkah menuju mesin kasir. Ningsih kembali mengobrol, memamerkan rencana liburan musim panasnya ke Eropa yang sebenarnya masih berupa angan-angan.

Namun, kehangatan pesta itu mendadak terusik ketika pelayan tersebut kembali dengan langkah yang ragu dan wajah yang tampak cemas. Di tangannya, ia membawa kembali kartu kredit milik Ningsih, lengkap dengan secarik kertas kecil hasil cetakan mesin EDC.

"Maaf, Ibu Ningsih," ucap pelayan itu dengan suara rendah, berusaha menjaga privasi pelanggan namun tetap terdengar jelas di telinga para wanita di meja tersebut. "Kartu Anda... tidak dapat digunakan. Di layar tertera keterangan 'Transaction Declined'."

Tawa Ningsih terhenti seketika. Wajahnya menegang, namun ia segera menguasai diri dengan tawa hambar yang dipaksakan. "Ah, konyol sekali. Mesin kasir kalian pasti sedang rusak. Atau mungkin jaringannya terganggu. Coba gesek sekali lagi."

"Kami sudah mencobanya tiga kali di mesin yang berbeda, Ibu. Hasilnya tetap sama. Kartu ini ditolak oleh bank penerbit," jelas pelayan itu dengan sikap profesional yang dingin.

Rona merah mulai merayap di leher Ningsih, menjalar hingga ke pipinya yang dilapisi bedak tebal. Ia merasa puluhan pasang mata di restoran itu kini sedang menatap ke arahnya dengan pandangan menilai. Bisik-bisik halus dari teman-teman arisannya mulai terdengar bagai desau angin malam yang membawa kabar buruk.

"Jeng, coba pakai kartu yang lain saja. Mungkin batas limitnya sudah habis karena Reza terlalu sering memanjakanmu," celetuk salah satu temannya, nada bicaranya terdengar seperti hiburan, namun matanya berkilat penuh kemenangan rahasia atas kemalangan Ningsih.

Dengan tangan yang mulai gemetar menahan malu yang luar biasa, Ningsih merogoh dompetnya kembali. Ia mengeluarkan kartu kredit cadangan berwarna emas—kartu tambahan yang juga diberikan oleh Reza.

"Gunakan yang ini. Yang tadi mungkin sedang mengalami gangguan sistem dari pusat bank," titah Ningsih, suaranya naik satu oktav karena gugup.

Pelayan itu kembali ke mesin kasir. Menit-menit yang berjalan terasa bagaikan siksaan abadi bagi Ningsih. Di bawah meja, jemari kakinya mencengkeram sepatu hak tingginya begitu erat. Ketika pelayan itu kembali dengan gelengan kepala yang sama, pertahanan Ningsih runtuh sepenuhnya.

"Maaf sekali, Ibu. Kartu kedua ini juga ditolak. Keterangannya adalah 'Account Frozen'. Rekening pemilik kartu ini sedang dibekukan."

Frozen? Dibekukan?

Kata itu menghantam kepala Ningsih bagai gada besi. Seluruh ruangan restoran mewah itu mendadak terasa berputar. Di hadapan teman-teman sosialitanya yang kini menatapnya dengan senyum sinis yang mulai tersingkap, Ningsih merasa telanjang, dipermalukan di atas altar kesombongannya sendiri.

"Ini... ini tidak mungkin!" jerit Ningsih pelan, suaranya melengking frustrasi. "Anakku adalah manajer sukses! Dia punya banyak uang! Kalian pasti sedang menipuku!"

"Jeng Ningsih... kalau memang tidak ada uang, biar kami bayar masing-masing saja," ujar sang ketua arisan dengan nada meremehkan yang sangat kentara. "Kami tidak keberatan, kok. Lagipula, kita semua tahu hidup kadang naik turun."

Kalimat itu bagaikan ludah yang mendarat tepat di wajah Ningsih. Dengan kemarahan yang membakar dada, ia menyambar ponselnya dan langsung menekan nomor Reza.

Sementara itu, di lantai empat kantor PT Sinar Surya, Reza baru saja menyelesaikan sebuah panggilan telepon penting ketika ponsel di atas mejanya bergetar hebat. Nama ibunya berkedip di layar.

Reza mengernyitkan dahi, merasakan firasat buruk yang mendadak menusuk ulu hatinya. Ia menggeser layar ponsel dan mendekatkannya ke telinga. Sebelum ia sempat mengucapkan kata halo, suara histeris ibunya sudah meledak di ujung sana.

"Reza! Apa yang kamu lakukan pada kartu-kartumu?! Ibu dipermalukan di restoran! Semua kartumu ditolak! Pelayan sialan ini bilang rekeningmu dibekukan! Cepat selesaikan ini, Reza! Ibu mau mati rasanya menahan malu di depan Jeng Marni dan yang lainnya!" ceracau Ningsih tanpa jeda, napasnya terdengar memburu di sela-sela tangis histerisnya yang dibuat-buat.

Dahi Reza berkerut dalam. "Dibekukan? Ibu bicara apa? Itu tidak mungkin. Saldo di rekening bersama kita masih ada ratusan juta rupiah dari alokasi bulanan. Kartu hitam Ibu bahkan memiliki batas limit yang sangat longgar."

"Ibu tidak peduli dengan penjelasanmu! Faktanya kartu ini tidak bisa digunakan! Cepat kirim uang ke rekening restoran ini sekarang juga!" perintah Ningsih sebelum memutuskan panggilan secara sepihak.

Reza meletakkan ponselnya dengan tangan yang mendadak dingin. Rasa cemas yang semula tipis kini mulai membesar, merayap naik ke dadanya seperti kabut hitam yang pekat. Dengan cepat, ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya untuk memeriksa saldo.

Layar ponselnya berputar, memuat data. Dan ketika halaman utama aplikasi itu terbuka, jantung Reza seolah berhenti berdetak.

Di samping nomor rekening utamanya—rekening tempat seluruh aliran dana dari yayasan keluarga untuk nafkah pribadinya ditampung—tertulis status berwarna merah menyala: REKENING DIBEKUKAN / STATUS: DALAM PENGAWASAN HUKUM KORPORASI.

Saldonya yang semula berjumlah ratusan juta rupiah kini tertulis angka nol besar yang dingin.

"Bagaimana mungkin..." bisik Reza, suaranya tercekat di tenggorokan.

Ia mencoba membuka rekening cadangan dan fasilitas kartu kredit bisnisnya. Hasilnya sama. Semuanya terkunci rapat, seolah ada sebuah tangan raksasa yang tidak terlihat baru saja memutus seluruh pasokan oksigen finansialnya dalam sekali remas.

Dengan panik yang kian memuncak, Reza menyambar telepon kabel di mejanya dan menghubungi nomor layanan pelanggan prioritas bank tersebut. Hanya butuh beberapa detik sebelum seorang petugas bank menjawab dengan nada yang sangat formal.

"Selamat siang dengan Bank Mega Artha Prioritas, ada yang bisa kami bantu Bapak Reza Adijaya?"

"Saya ingin bertanya mengapa semua rekening dan kartu kredit saya dibekukan secara sepihak pagi ini?!" cecar Reza, suaranya bergetar oleh kemarahan yang bercampur dengan ketakutan yang sangat besar. "Saya adalah nasabah prioritas! Tindakan kalian ini sangat merugikan nama baik saya!"

Petugas di ujung telepon terdengar diam sejenak, suara ketikan papan tik terdengar cepat di latar belakang sebelum ia kembali bersuara dengan nada yang mendadak menjadi sangat dingin dan kaku.

"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Bapak Reza. Setelah kami verifikasi dengan sistem pusat, pembekuan seluruh fasilitas perbankan atas nama Anda dilakukan atas permintaan langsung dari pemegang hak legalitas utama sumber dana rekening tersebut."

"Apa maksudmu?! Itu rekening atas namaku!" teriak Reza, mengabaikan fakta bahwa suaranya mungkin terdengar hingga ke luar ruangan berkaca miliknya.

"Benar, Bapak Reza. Namun, rekening dan seluruh kartu tambahan yang Anda gunakan terdaftar di bawah struktur fasilitas korporasi milik Yayasan Dharma Atmadja, yang merupakan bagian dari konglomerasi Atmadja Group. Pihak legalitas dari Atmadja Group telah mengajukan pencabutan hak guna fasilitas jabatan dan membekukan seluruh aliran dana yang terhubung dengan identitas Anda karena adanya pelanggaran kontrak kerja dan tuntutan hukum yang sedang berjalan."

Petugas itu menjeda kalimatnya sesaat, sebelum memberikan pukulan terakhir yang mematikan.

"Dengan kata lain, Bapak Reza, seluruh dana dan fasilitas tersebut secara hukum bukanlah milik pribadi Anda, melainkan milik perusahaan keluarga Atmadja yang dipinjamkan kepada Anda. Dan mulai hari ini, hak pinjam tersebut telah dicabut sepenuhnya."

Telepon di tangan Reza perlahan terlepas, jatuh menghantam meja jati dengan bunyi yang tumpul.

Reza terduduk lemas di kursinya, matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan. Di dalam kepalanya, kata-kata petugas bank itu bergaung bagai lonceng kematian yang di palu berulang kali.

Atmadja Group... Pencabutan hak fasilitas...

Tiba-tiba, wajah Naya—wajah wanita yang ia buang di bahu jalan tol KM 26 dengan daster katun usang dan sepasang sandal jepit murah—melintas di benaknya. Nama belakang penggugat yang tertera di surat cerai mahal kemarin pagi kembali membayangi pikirannya dengan kejam.

Anindya Naya Atmadja.

"Tidak... tidak mungkin," bisik Reza pada kesunyian ruangannya sendiri, sementara keringat dingin mulai membasahi kemeja birunya yang disetrika licin tanpa cela. "Dia hanya wanita miskin dari kampung. Dia tidak mungkin bagian dari keluarga Atmadja. Ini pasti kesalahan... ini pasti hanya mimpi buruk!"

Namun di luar sana, matahari siang terus bersinar dengan terik yang membakar, menguapkan sisa-sisa fatamorgana kemewahan yang selama ini melindungi hidup palsu keluarga Adijaya. Retakan pertama pada pilar kesombongan mereka telah terbuka, dan badai yang sesungguhnya baru saja bersiap untuk meruntuhkan seluruh dunia mereka hingga menjadi abu.

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!