Penguasa Daratan Merah
Menceritakan tentang seorang Raja Daratan Merah yang diincar oleh ketiga dewa agung, karena membawa ramalan buruk tentang mereka.
Zhen Wu yang mengetahui tentang ancaman itu, mencoba melawan mereka dengan segala kemampuannya. Dia menggunakan sebuah skill khusus yang hanya dia sendiri yang memilikinya, skill tersebut bernama Jiwa Neraka. Skill yang dapat mampu memanggil para Hantu dan mayat hidup yang sudah mati.
Namun karena kecerobohannya, dia pun terbunuh oleh ketiga Dewa Agung tersebut. Untungnya dia bisa memanfaatkan kelengahan para dewa, dan berhasil membawa jiwanya ke alam dunia bawah.
Zhen Wu yang telah berhasil berpindah tubuh, kini mulai bertekad akan membalas dendam terhadap para dewa yang mengincarnya, dan membuat ramalan yang ditakuti oleh mereka menjadi kenyataan.
*diusahakan update 2 chapter sehari atau lebih
*maaf jika masih terdapat banyak kekurangan, nantinya akan terus saya perbaiki.
terima kasih sudah membaca 😁
ig : @man_gervis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Man Gervis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 16 : Organisasi Kelelawar Merah
Beberapa hari telah berlalu, jarak demi jarak mereka lalui. Sering kali Zhen Wu dan Zi Li singgah di beberapa desa yang kerap mereka jumpai, demi mengisi persediaan makanan yang telah habis.
Letak kota Tenrou juga masih cukup jauh, mereka kemungkinan akan menghabiskan 2 minggu perjalanan.
Mereka berdua kini mulai melewati sebuah sungai yang sangat indah. Zhen Wu yang merasakan penat di seluruh tubuhnya, mengambil inisiatif untuk mencoba mandi di sungai tersebut.
"Hei Zi Li, lebih baik kita beristirahat lebih dulu. Kebetulan juga disini ada sungai, jadinya aku ingin mandi dan membersihkan diri. Apakah kau ingin ikut?" tanya Zhen Wu menatap kearah Zi Li.
"Ahh, tuan. Benarkah?" balas Zi Li bertanya dengan perasaan malu disertai dengan wajahnya yang memerah.
"Iya, tapi kau akan mandi di sebelah sana." Zhen Wu menunjuk kearah sebuah batu besar yang berada jauh di sungai tersebut. "Sedangkan aku akan mandi disini."
"Kenapa kita tidak mandi bersama saja tuan, saya bisa membantu anda untuk membersihkan diri kok," ucap Zi Li gugup.
Zhen Wu yang mendengar itu mulai menghela nafas pelan, "Hey, jangan kau kira aku tidak tahu kemana arah tujuanmu ya." Dia mendorong dahi milik Zi Li dengan jari telunjuknya secara pelan.
"Hehe, maaf tuan." Zi Li tertawa kecil sambil memegang dahinya.
Zhen Wu kemudian melepaskan beberapa pakaiannya, hanya tersisa celana pendek yang sedang dikenakannya saja yang masih tetap dia gunakan.
Zi Li yang telah pergi ke sebuah batu yang besar, mulai ikut melepaskan beberapa pakaiannya. Mereka berdua kini sibuk dengan aktivitas masing masing tanpa ada yang saling mengganggu.
Zhen Wu mulai berendam dan mencoba membasuh seluruh tubuhnya dan berendam. "Ahh! rasa lelah ini sungguh nikmat. Sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi seperti ini lagi."
Namun, selang beberapa menit mereka bersantai, tiba tiba terdengar sebuah pertarungan dari arah kejauhan. Hal itu membuat Zhen Wu segera bangkit dari kegiatannya dan segera berpakaian kembali. Untungnya dia sudah merasa lebih segar setelah sehabis membersihkan diri.
"Zi Li, kenakan pakaian mu. Ayo kita lihat siapa orang yang sedang bertarung disana." Zhen Wu mulai berpakaian kembali, yang tak lama setelahnya Zi Li juga mulai bersiap siap.
Mereka berdua kini mulai mendekati sumber suara yang dihasilkan dari pertarungan yang mereka dengar. Zhen Wu mencoba lebih berhati, dia ingin memastikan apakah kultivator yang bertarung tersebut adalah kultivator yang kuat.
Di ujung jalan sana, terdapat sebuah hamparan rumput yang cukup luas. Zhen Wu dan Zi Li telah sampai disana, mereka kemudian bersembunyi di balik pepohonan dan mengamati beberapa orang yang sedang bertarung.
Terlihat ada empat orang prajurit berpakaian baju besi yang saat ini melawan beberapa orang yang lebih kuat dari mereka. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya para prajurit tersebut sedang menjaga seseorang yang berada di dalam kereta kuda.
Salah seorang prajurit yang nampak berbeda dari keempat prajurit lain, terlihat memiliki luka yang cukup parah. Dia kemungkinan melawan sekelompok orang yang mengepung mereka dengan bertarung seorang diri.
"Sial, aku sudah kehabisan Qi. Sepertinya ini akhir dariku," gumam Pemimpin prajurit itu yang pasrah akan keadaanya.
"Haha! Sudah ku katakan, kalian tak akan mampu melawan kami yang merupakan bagian dari organisasi Kelelawar Merah," tegas orang tersebut yang menjadi ketua organisasi Kelelawar Merah.
"Kalian semua! Lindungi tuan putri. Kalau bisa lari lah!" teriak Pemimpin prajurit kepada empat orang bawahannya.
"Haa! Kalian pikir bisa lari dari kami semudah itu. Semuanya! Kepung mereka sekarang."
Zhen Wu terus mengamati mereka dari jauh. Dia hanya bisa menyayangkan saja, bahwa kemungkinan para prajurit itu mungkin akan terbunuh disini beserta orang yang sedang dikawal oleh mereka.
"Sayang sekali, kultivator yang mereka lawan semuanya berada di ranah pembentukan tubuh tahap menengah. Ini mungkin akhir dari mereka." Zhen Wu kemudian berbalik dan hendak pergi meninggalkan tempat tersebut. "Ayo kita pergi Zi Li, biarkan pertarungan itu menjadi urusan mereka. Kita tak ada hubungannya dengan ini, lebih baik kita melanjutkan perjalanan."
Zi Li yang mendengar perintah dari Zhen Wu pun mengangguk, dan kemudian berbalik untuk segera pergi dari sana.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba tiba ada seseorang yang menghentikan mereka. "Hei, mau pergi kemana kalian?" Seseorang bertubuh besar nampak menghalangi jalan mereka berdua.
Para prajurit dan anggota dari organisasi kelelawar merah mulai menoleh kearah sumber suara. Semua perhatian kini terpusat kepada Zhen Wu dan Zi Li yang keberadaannya tidak terlalu jauh dari mereka.
"Wah, wah! sepertinya ada beberapa tamu yang lain disini," kata ketua dari organisasi kelelawar merah.
Walaupun Zhen Wu dan Zi Li telah ketahuan saat mengamati mereka. Namun pria berambut coklat pendek itu tak menunjukan rasa takut sama sekali. Malahan dia berbalik lagi kearah ketua organisasi kelelawar merah.
"Kami hanya kebetulan lewat, dan tiba tiba mendengar suara pertempuran. Jadi, jika anda berkenan, kami akan pergi dan tak akan mencampuri urusan kalian," ucap Zhen Wu sambil tersenyum dengan berani tanpa ada perasaan takut sedikitpun.
"Hoo... Kalian ingin pergi? Haha...!" Tawa pemimpin organisasi kelelawar merah, sebelum nantinya digantikan dengan wajah yang serius. "Con San, habisi mereka berdua sekarang."
Pria bertubuh kekar dibelakang Zhen Wu bernama Con San, dia kemudian mengangguk dan lalu berniat memotong Zhen Wu dengan golok miliknya.
Ayunan golok itu sangat cepat hingga bisa terdengar suara angin yang berhembus di sekitarnya.
"Slash!!, Slash!!" Bunyi dua suara tebasan. Namun bukan Zhen Wu yang terpotong, melainkan beberapa anggota tubuh Con San.
"Akh!!!" Teriak Con San yang mendapati mata kirinya tertusuk, dan kemudian disusul dengan tangan kanannya yang terpotong sebilah pisau.
Pisau tersebut berasal dari Zi Li, yang posisinya berada di belakang Con San. Dia melompat kearah pria tersebut dan langsung menancapkan pisau miliknya ke mata kiri Con San, yang disusul dengan satu tebasan cepat kearah tangan kanannya.
"Hei gendut! beraninya kau melayangkan senjata mu pada tuanku," ucap Zi Li yang mengeluarkan aura intimidasi yang besar.
Zhen Wu yang melihat Zi Li melakukan serangan terhadap Con San, hanya bisa menampilkan ekspresi datar tanpa emosi.
Dia kemudian melihat lagi kearah ketua organisasi Kelelawar Merah. "Lalu, siapa selanjutnya?" Zhen Wu menatap mereka dengan tajam.
Ketua organisasi kelelawar merah mulai kehilangan senyumannya. Kini raut wajahnya mulai berubah, banyak pertanyaan yang muncul dibenak Pemimpin organisasi tersebut.
"Sial, kenapa anak kecil dibelakangnya itu kuat sekali. Dan sepertinya yang anak laki laki yang berbicara itulah yang paling kuat. Ahk... aku terlalu meremehkan mereka," gumam Ketua organisasi tersebut.
"Apa kami bisa pergi sekarang?" tanya Zhen Wu dengan tatapan dingin.
Semua orang hanya diam begitu mendengar apa ucapan yang dilontarkan oleh Zhen Wu. Ketua organisasi kelelawar merah merasa sulit untuk bertindak.
Di satu sisi dia belum terlalu mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh Zhen Wu. Namun di sisi lain juga dia merasa terhina, karena anak buahnya dikalahkan begitu saja.
Melihat tak satupun orang yang berbicara, Zhen Wu kemudian langsung berbalik dan mencoba meninggalkan mereka yang hanya diam saja.
Namun, sesaat sebelum Zhen Wu melangkah lebih jauh, terdengar ada seseorang yang memanggil dirinya.
"Tunggu!" Prajurit yang terluka mencoba menghentikan Zhen Wu. "Namaku Son Jian, pengawal pribadi dari putri patriak keluarga Mong. Kumohon, bantulah kami dalam menghadapi mereka," ucap Son Jian dengan penuh harap.
Ketua organisasi kelelawar merah mulai naik pitam mendengar perkataan yang dikeluarkan oleh Son Jian. Namun dia tidak melampiaskannya kepada Son Jian, melainkan mengancam Zhen Wu dengan beberapa perkataannya.
"Hei bocah tengik. Jika kau mau pergi, pergi saja sana. Kali ini aku berbaik hati akan melepaskan mu. Namun jika kau ingin ikut campur disini, maka bersiaplah untuk mati di bawah senjataku," ancam Ketua organisasi Kelelawar Merah.
"Huf... Tadinya aku tidak ingin ikut campur. Namun, berhubung pengawal Son Jian meminta tolong padaku, jadi aku ingin bertanya. Apa keuntungan yang bisa kalian berikan?" Zhen Wu menoleh kearah Son Jian dengan senyum kecilnya.
Sebelum Son Jian menjawab, ketua organisasi kelelawar merah langsung marah besar begitu mendengar perkataan Zhen Wu.
"Kurang ajar! Hei bocah, sadari batasan mu itu. Kalian hanya beruntung saja bisa mengalahkan anak buah ku dengan memanfaatkan kelengahannya. Aku Teng Gor tak akan mengampuni mu!" Teng Gor mulai bergerak cepat kearah Zhen Wu dengan luapan emosi yang menggebu gebu.
Melihat Teng Gor bergerak kearah Zhen Wu, Son Jian tanpa berpikir lama langsung berteriak dengan keras. "Jika kau membatu kami mengalahkan mereka, kami akan memberikan setengah harta yang kami bawa sekarang!!! Ku harap itu bisa menjadi tawaran yang bagus untukmu!"
Tanpa berpikir panjang, Son Jian langsung berkata seperti itu. Dia tidak ingin mereka kehilangan kesempatan untuk bisa lolos dari kejaran Teng Gor.
Merasa cukup tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Son Jian, kini Zhen Wu tersenyum cerah berkat penawaran yang telah mereka tawarkan. "Aku sepakat!!"
Zhen Wu lalu mengeluarkan sebuah pedang dari cincin ruangnya. Dia kemudian langsung berlari menyambut serangan yang mulai dilancarkan oleh Teng Gor kepadanya.
"Sing!!" Benturan keras dari kedua senjata milik mereka terdengar nyaring.
Teng Gor merasakan tekanan yang berbeda saat beradu pedang dengan Zhen Wu. Dia tidak mengira bocah didepannya ini sangat ahli dalam memainkan pedangnya.
Serangan demi serangan mereka tukarkan, sulit untuk mempercayai bahwa Teng Gor yang berada di ranah Pembentukan Tubuh tahap akhir, bisa diimbangi oleh seorang anak yang berada di bawah satu ranah darinya.
Terlihat Teng Gor mulai mengerutkan dahi, karena merasa heran dengan kekuatan yang dimiliki oleh Zhen Wu. "Sial! anak ini hanya berada di ranah Penempaan Tulang, namun bisa mengimbangi permainan pedangku? ini mustahil!" batinnya merasa kesal.
Selanjutnya>>>
Tokoh villain nya kapan muncul ya? Semoga villainnya cukup keren dan sebanding. Jangan ngebadut. Jadi perjuangan MC lebih terasa gitu. Ga melulu OP.