Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 - Masa Lalu yang harus selesai
Hujan turun semakin deras.
Lampu-lampu parkiran memantulkan bayangan air yang menggenang di aspal. Orang-orang mulai meninggalkan restoran satu per satu. Suara mesin mobil bercampur dengan rintik hujan yang memukul payung.
Arga menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Celine berdiri beberapa meter di belakang mereka. Rambutnya sedikit basah, napasnya masih terengah seolah baru saja berlari.
"Aku... mau ngomong sebentar."
Arga melirik Nadira.
"Dir..."
Nadira tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa. Aku tunggu di mobil."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menuju parkiran.
Namun setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya.
Ia tidak marah.
Hanya... ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
---
Celine berdiri di bawah kanopi.
Tangannya menggenggam tali tas cukup erat.
"Makasih udah mau berhenti."
"Ada apa, Line?"
Celine mengembuskan napas panjang.
"Aku tadi lihat kalian."
Arga tidak menjawab.
"Kalian kelihatan bahagia."
"Kami cuma teman kerja."
Celine tersenyum kecil.
"Dulu kamu juga sering bilang begitu."
Arga terdiam.
"Gar..."
"Aku datang bukan buat ngajak balikan."
"Aku tahu."
"Aku cuma nggak mau pergi dengan perasaan menggantung."
Hening.
Beberapa detik hanya suara hujan yang terdengar.
"Aku minta maaf."
"Untuk semuanya."
"Dulu aku terlalu egois."
"Aku memilih karier tanpa benar-benar mendengarkan apa yang kamu rasakan."
"Aku pikir kalau memang berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi."
Ia tersenyum pahit.
"Ternyata hidup nggak sesederhana itu."
Arga mengangguk pelan.
"Aku juga salah."
"Kita sama-sama salah."
Celine menatap pria di depannya beberapa saat.
"Aku senang."
"Hm?"
"Kamu akhirnya bisa tersenyum lagi."
Tatapan Celine perlahan bergeser ke arah parkiran.
Ke arah mobil tempat Nadira sedang menunggu.
"Dan senyum itu..."
"...beda."
Arga ikut melihat ke arah yang sama.
Melalui kaca mobil, samar-samar terlihat Nadira sedang menatap layar ponselnya.
Tanpa sadar, sudut bibir Arga terangkat.
Celine memperhatikan perubahan ekspresi itu.
Lalu tertawa kecil.
"Nah."
"Apa?"
"Itu jawabannya."
---
"Besok aku berangkat ke Singapura."
Arga menoleh.
"Secepat itu?"
"Iya."
"Selamat."
"Makasih."
Celine mengulurkan tangan.
"Kita akhiri semuanya sebagai teman?"
Arga menyambut uluran tangan itu.
"Sebagai teman."
Tidak ada lagi air mata.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada janji untuk kembali.
Hanya dua orang yang akhirnya benar-benar berdamai dengan masa lalu.
---
Di dalam mobil, Nadira mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka media sosial.
Namun pikirannya sama sekali tidak fokus.
Setelah hampir sepuluh menit, pintu mobil terbuka.
"Maaf lama."
"Nggak apa."
Arga memasang sabuk pengaman.
Mobil mulai melaju perlahan meninggalkan restoran.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Akhirnya Nadira membuka suara.
"Semuanya selesai?"
"Iya."
"Dia kenapa?"
"Mau pamit."
"Pindah kerja?"
"Iya."
"Ke Singapura."
Nadira mengangguk pelan.
"Bagus."
"Dia hebat."
"Iya."
Hening lagi.
Arga melirik sekilas.
"Kamu penasaran?"
"Sedikit."
"Soal kami?"
Nadira tersenyum tipis.
"Kalau kamu nggak mau cerita juga nggak apa-apa."
Arga menarik napas pelan.
"Dulu aku sama Celine hampir menikah."
Nadira menatap ke luar jendela.
Ia memilih mendengarkan.
"Waktu itu aku sudah beli cincin."
"Tanggalnya juga sudah ditentukan."
"Tapi..."
"Kami sama-sama dapat kesempatan besar."
"Aku di Jakarta."
"Dia di luar negeri."
"Kami sama-sama nggak mau saling mengorbankan mimpi."
"Jadi selesai."
"Sederhana."
"Tapi sakit."
Suara Arga tetap tenang.
Seolah luka itu kini benar-benar tinggal cerita.
Nadira akhirnya bertanya pelan.
"Kalau dia tadi minta balikan..."
Arga langsung menggeleng.
"Nggak."
"Maksudku kalau."
Arga tersenyum kecil.
"Aku tetap nggak akan balik."
"Kenapa?"
Karena...
Ia melirik sekilas ke arah Nadira.
"...hatiku sudah mulai pindah."
Nadira membeku.
Kalimat itu diucapkan dengan suara pelan.
Tanpa gombal.
Tanpa dibuat dramatis.
Justru karena terdengar begitu jujur, jantungnya berdegup lebih cepat.
"Ke siapa?"
Arga terkekeh pelan.
"Aku belum berani jawab."
"Kok belum berani?"
"Soalnya orangnya masih sering bilang aku nyebelin."
Tanpa sadar Nadira ikut tertawa.
"Itu memang fakta."
"Iya."
"Tapi sekarang..."
Arga berhenti sejenak.
"...aku berharap suatu hari nanti dia berhenti manggil aku orang paling menyebalkan."
Mobil berhenti di depan rumah Nadira.
Lampu teras sudah menyala.
Sebelum turun, Nadira memegang gagang pintu, lalu menoleh.
"Arga."
"Hm?"
"Terima kasih."
"Buat apa?"
"Karena kamu jujur."
Arga tersenyum hangat.
"Mulai sekarang aku nggak mau ada rahasia lagi."
Nadira mengangguk pelan.
Ia turun dari mobil sambil membawa perasaan yang jauh lebih ringan.
Dari balik jendela kamarnya malam itu, Nadira melihat mobil Arga belum juga pergi.
Pria itu baru menjalankan mobilnya setelah memastikan lampu rumah Nadira benar-benar menyala.
Tanpa sadar, Nadira tersenyum sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Arga, ia tidak lagi bertanya kenapa pria itu selalu membuatnya emosi.
Karena kini ia mulai mengerti...
Bukan Arga yang membuatnya bingung.
Melainkan perasaannya sendiri yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa ia sebut sekadar rasa nyaman.
**Bersambung ke Episode 15...**