Kisah rumah tangga Atika dan Aris yang diterpa badai, sebelumnya mereka keluarga yang harmonis dan saling melengkapi akan tetapi adanya orang ketiga yang membuat hubungan rumah tangga mereka hancur.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? yuk ikuti ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratih Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Reihan melihat Atika yang sedang berjalan dengan seorang wanita dan menggendong seorang bayi. Reihan penasaran lalu ia menghentikan mobilnya di samping Atika.
"Atika!"
"Mas Reihan?"
"Kamu mau kemana? kenapa bawa tas besar?" tanyanya. Reihan bingung kenapa Atika membawa tas seperti akan pergi jauh.
"Aku lagi cari kontrakan Mas,"
"Maksud mu? bukankah kamu tinggal bersama suami mu,"
Atika tak tahu harus bilang apa pada Reihan, ia tak ingin menceritakannya sekarang apalagi sedang berada di pinggir jalan dan banyak keramaian.
"Intan!" teriak Bu Mirna yang mengikuti dari belakang, Bu Mirna membawa dua orang pria berbadan besar untuk membawa Intan kembali.
"Lepaskan aku,"
"Pulang kamu! ngapain kamu ikut sama dia hah."
Intan terus saja memberontak namun tenaganya tak kuat untuk melawan dua pria yang berbadan besar.
"Kak Atika tolong aku," Reihan yang melihatnya merasa kasihan, ia ingin membantu Intan akan tetapi Reihan meminta izin dulu pada Atika karena ia tidak tahu permasalahannya.
"Atika dia kenapa? apa aku boleh membantunya melawan dua pria itu."
"Tak perlu Rei, biarkan saja dia. Karena dia ibunya."
Atika menatap Intan dengan rasa bersalahnya, ia tak bisa menolong Intan karena memang Intan tak seharusnya ikut dengannya.
"Intan maafkan kakak, kau pulang saja pada ibumu. Kakak akan baik baik saja disini."
Bu Mirna ikut menyela ucapannya.
"Jangan pernah beraninya kau mendekati anak saya, setelah diceraikan Aris beraninya kau ingin membawa anakku Intan agar ikut dengan mu. Dasar perempuan tak tahu diri!"
"Ibu cukup, ini bukan salah kak Atika tapi akulah yang ingin ikut bersamanya karena aku sudah tak tahan dengan sikap ibu yang seperti ini."
"Jangan banyak bicara Intan! cepat bawa dia ke mobil."
Bu Mirna pergi meninggalkan Atika yang masih berdiam diri disana, Atika tak tega melihat Intan yang diseret paksa oleh orang suruhan Bu Mirna.
'Maafkan kakak Intan, kakak tak bisa membantu mu'
Reihan melihat air mata Atika yang lolos begitu saja, ia baru tahu ternyata Atika sedang bermasalah dengan keluarganya.
"Atika, sekarang tujuan mu akan pergi kemana?"
"Aku masih mau cari kontrakan Mas, kasihan anak aku."
"Kalau gitu kau ikut saja dengan ku Atika, di daerah sini jarang sekali ada kontrakan. Kalau gitu kamu ikut saja dengan ku, bagaimana?"
"Tapi Mas aku tak mau, aku tak ingin merepotkan mu."
"Atika kau jangan egois, lihatlah anak mu kepanasan. Kasihan dia, ayo masuk kedalam mobil ku."
"Tapi Mas," tak butuh waktu lama Reihan langsung membawa tas Atika kedalam mobil lalu membukakan pintu depan untuk Atika.
"Terima kasih Mas, maaf aku sudah merepotkan mu."
"Tak apa apa, aku tak tega melihat mu seperti ini. Sebenarnya ada dengan mu kenapa ibu mertua mu marah marah seperti itu."
"Aku di usir setelah diceraikan oleh Mas Aris,"
"Apa? kau di usir, lalu kenapa kau bercerai dengannya. Sepertinya rumah tangga mu tak pernah bermasalah tapi sekarang kenapa jadi begitu?"
"Mas Aris sudah menikah lagi dibelakang ku Mas, dia mengkhianatiku setelah aku melahirkan." Air mata Atika kembali menetes membasahi pipinya yang mulus.
"Aku tak menyangka kenapa Aris bisa seperti itu, dulu ia sangat mencintai mu Atika."
"Aku juga tak tahu Mas, mungkin ini sudah jalan hidup ku."
"Kamu yang sabar ya Atika," Atika menganggukkan kepalanya lalu ia menghapus air matanya.
Reihan membawa Atika ke rumahnya, ia akan memberi tempat tinggal sementara untuk Atika.
"Mas dirumah ini ada siapa? kenapa sepi sekali." ujarnya dengan melihat keseluruh ruangan.
"Apa kau lupa Atika? aku sudah tidak memiliki orang tua."
"Ah maaf Mas aku lupa, aku minta maaf."
"Tak apa apa, kau tinggal saja disini. walaupun hanya berdua aku tak akan berbuat macam macam, disini juga ada pembantu yang membersihkan rumahku namun hanya pagi saja."
"Ah begitu Mas, sebelumnya terima kasih sudah membawa ku kesini Mas."
"Sama sama, kau tak perlu sungkan Atika. Mari aku tunjukkan kamar mu."
Atika mengikuti Reihan dari belakang menuju kamar yang ia tempati.
"Nah untuk sementara kau tinggal dulu disini, semoga kamu nyaman dan betah di rumah ku. Kalau ada apa apa kau bisa memanggilku, kamarku ada di sebelah sana." ujarnya dengan menunjuk ke arah kamarnya yang paling ujung.
Atika sangat kagum dengan ruangan kamar yang mewah, bahkan ia tak hentinya melihat se isi rumah Reihan.
'Aku sangat bersyukur ada orang yang menolong ku, aku tidak tahu jika mas Reihan tak menemuiku. Tapi aku sangat tidak nyaman dengan rumah yang besar seperti ini namun penghuninya hanya aku dan dia'