NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 — Dua Ratus Pasien Wasir

Reza datang satu jam lebih awal dengan kemeja baru di balik jas putihnya.

Pak Hendra mengatakan dia akan menangani seorang pasien penting. Reza membatalkan semua jadwal biasa, menyiapkan ruang konsultasi terbaik, dan bahkan meminta perawat mengganti bunga di meja.

Pukul delapan tepat, seorang kakek masuk sambil berjalan kaku.

"Dokter," katanya dengan wajah menderita, "bunga mawar saya terluka."

Reza berhenti menulis. "Maaf?"

Kakek itu membungkuk dan berbisik lebih keras, "Wasir saya habis dioperasi. Hari ini ganti perban. Katanya Dokter Reza akan menangani pasien penting. Saya ketua komunitas kami."

Pintu di belakangnya terbuka.

Lorong Bedah Digestif dipenuhi orang yang berdiri, duduk, atau berbaring miring. Dua ratus pasien pascaoperasi wasir memegang nomor antrean.

Wajah Reza kehilangan warna.

"Pak Hendra bilang pasien penting," protesnya kepada koordinator.

"Mereka penting," jawab Pak Hendra dari panggilan video. "Luka pascaoperasi bisa terinfeksi, berdarah, atau terbuka. Jangan merasa pekerjaan menjadi rendah hanya karena bagian tubuh pasien tidak cocok untuk foto profilmu."

Reza tidak bisa membantah di depan staf. Dia mengenakan sarung tangan dan memanggil nomor pertama.

Pasien kelima mengalami perdarahan kecil karena salah merawat luka. Pasien kesebelas hampir pulang dengan demam tanpa melapor. Reza terpaksa berhenti melihat antrean itu sebagai hukuman komedi. Setiap orang benar-benar membutuhkan penilaian, pembersihan, edukasi, dan keputusan apakah perlu terapi tambahan.

Pada pasien kedua puluh, kemeja barunya mulai basah oleh keringat.

Pada pasien ketiga puluh, bunga di meja dipindahkan karena menghalangi tumpukan berkas.

Pada pasien ketiga puluh delapan, dia tidak lagi tersenyum kepada siapa pun.

Pak Hendra mengirim pesan ke grup IGD.

Bagaimana pasien pentingnya, Dok Reza?

Reza tidak menjawab sampai pasien ke-38 selesai.

Lapor, Pak. Tiga puluh delapan perawatan luka selesai.

Pak Hendra membalas dengan emoji bunga merah dan satu kalimat.

Semangat merawat taman mawarnya.

Rizki tertawa sampai harus berpegangan pada meja. Bahkan Anindya menurunkan lolipopnya dan menutup mulut dengan punggung tangan.

"Kalian kekanak-kanakan," katanya.

"Tapi lucu?" tanya Surya.

"Sedikit. Jangan bilang Reza."

Tawa mereka berhenti ketika seorang pria membawa ayahnya ke ruang periksa.

Lelaki tua itu duduk dengan kedua tangan terikat longgar di depan tubuh. Keluarganya memasang kain tersebut agar dia tidak menyerang orang di jalan. Matanya bergerak gelisah.

"Sudah setahun begini," kata putranya. "Ayah dulu guru. Orangnya paling tertib di kampung. Sekarang dia masuk kamar istri saya, mengejar mahasiswi, dan berkelahi dengan siapa pun yang menegur. Sebulan bisa tujuh atau delapan kali dibawa ke kantor polisi."

Suara pria itu pecah oleh marah dan malu.

"Kami sudah bawa ke psikiater, dokter saraf, dan pemeriksaan kesehatan lengkap. Katanya mungkin demensia. Tapi obat tidak membantu. Keluarga saya hancur karena dia."

Anindya memeriksa orientasi, ingatan, refleks, dan perubahan perilaku. "Kemungkinan gangguan neurokognitif seperti Alzheimer masih ada, meski perubahan perilakunya sangat dominan. Kita butuh MRI dan evaluasi lebih lengkap."

Surya memperhatikan tangan pasien. Ada tremor halus. Kulitnya tampak lebih gelap pada beberapa bagian. Jantung berdetak tidak teratur, dan pria itu mengeluh telinganya terus berdenging.

"Kapan giginya dipasang?" tanya Surya.

Putra pasien terdiam. "Gigi?"

"Mahkota logam di geraham."

"Sekitar setahun setengah lalu. Murah, dari klinik kecil. Kenapa?"

Surya menyalakan senter pemeriksaan. Beberapa mahkota porselen-logam memperlihatkan tepi gelap di gusi.

"Ini belum tentu Alzheimer. Gejala saraf, gangguan jantung, perubahan perilaku, dan waktu munculnya terlalu cocok dengan paparan logam."

Anindya mengangkat alis. "Kobalt?"

"Itu dugaan saya. Periksa kadar logam darah, fungsi tiroid, hati, ginjal, dan lakukan analisis bahan gigi."

Putra pasien memandang mereka bergantian. "Maksud Dokter, Ayah bukan sengaja menjadi seperti ini?"

"Kami belum punya hasil," kata Surya. "Tapi jangan hukum dia sebelum tahu apa yang dilakukan tubuhnya."

Hasil laboratorium datang menjelang malam.

Kadar kobalt tercatat 180 mg pada laporan rujukan, jauh di atas rentang pembanding laboratorium 1,1–1,5 mg untuk metode yang digunakan. Uji bahan memperlihatkan paduan berkualitas buruk yang mengalami korosi kronis.

Tim juga menyingkirkan penyebab lain. MRI tidak menunjukkan pola khas yang cukup untuk menjelaskan perubahan cepat tersebut. Pemeriksaan infeksi negatif. Fungsi tiroid dan jantung justru menunjukkan gangguan yang konsisten dengan paparan kobalt sistemik.

Anindya membaca laporan dua kali. "Keracunan kobalt berat."

Putra pasien jatuh duduk.

"Jadi selama ini..."

"Paparan kobalt dapat memengaruhi sistem saraf, jantung, tiroid, dan perilaku," jelas Surya. "Kita cabut sumber paparannya melalui tim gigi, konsultasikan toksikologi, lalu lakukan terapi serta pemantauan organ. Pemulihan perilaku tidak selalu instan, tetapi penyebabnya bisa ditangani."

Bu Ratna membantu keluarga membuat kronologi medis dan mengambil salinan dokumen dari klinik gigi. Bahan mahkota dikirim untuk analisis resmi. Rumah sakit melaporkan dugaan alat kesehatan tidak sesuai mutu kepada dinas terkait agar pasien lain dari klinik yang sama dapat ditelusuri.

"Polisi juga perlu tahu bahwa beberapa laporan terhadap Ayah terjadi saat beliau sakit," kata putranya.

"Bawa diagnosis dan surat dokter," jawab Bu Ratna. "Diagnosis tidak otomatis menghapus setiap akibat hukum, tetapi kondisi medisnya harus menjadi bagian dari pemeriksaan. Yang penting sekarang jangan mengikat beliau tanpa pengawasan klinis. Kita cari cara yang lebih aman."

Lelaki tua itu menatap putranya tanpa benar-benar memahami percakapan. Putranya berlutut di depannya dan memegang kedua tangannya.

"Ayah, maafkan aku. Aku kira Ayah sengaja mempermalukan kami. Aku bahkan pernah berharap Ayah cepat mati."

Air mata jatuh ke punggung tangan tua tersebut.

"Ayah, maafkan aku."

Pasien mengerjapkan mata. Untuk sesaat, kegelisahan di wajahnya surut. Dia menyentuh rambut putranya seperti kebiasaan lama yang muncul dari balik kabut.

Anindya melihat pemandangan itu, lalu berkata datar, "Rawat yang benar. Biar beliau hidup lebih lama dan punya waktu menagih semua permintaan maafmu."

Putra pasien tertawa di sela tangis.

Beberapa hari setelah mahkota gigi dilepas dan terapi dimulai, agresivitas pasien berkurang. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, tetapi dia mulai mengenali anaknya dan mampu menyebut nama cucunya.

Keluarga datang membawa makanan untuk seluruh IGD. Putranya berdiri di depan Surya dan Anindya dengan mata yang masih merah.

"Semua rumah sakit memeriksa kepala Ayah. Dokter Surya justru melihat giginya. Anda mengembalikan ayah kami sebelum beliau benar-benar hilang."

Cahaya keemasan mengalir begitu kuat hingga Botol Pahala muncul tanpa dipanggil.

Botol itu bergetar.

Sekali.

Lalu semakin keras sampai seluruh permukaannya dipenuhi retakan cahaya.

『Pahala dengan kemurnian sangat tinggi terdeteksi.』

『Persiapan peningkatan Level 2 menuju Level 3 dimulai.』

Surya belum sempat bertanya ketika angka kemajuan muncul.

23 persen.

Perkiraan waktu tersisa: enam jam empat puluh lima menit.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!