NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Tendangan Kecil untuk Bi Surti

Makan malam pertama mereka di Kediaman Wijaya seharusnya tenang.

Meja di ruang makan terlalu panjang untuk lima orang. Piring putih disusun dengan jarak yang sama, sendok mengilap diletakkan di atas kain, dan makanan datang dalam mangkuk-mangkuk yang membuat Lucas tidak tahu harus melihat ke mana lebih dulu.

Sebastian belum turun dari ruang kerja. Tuti makan di sayap belakang karena masih pusing. Jadi Karina duduk bersama Nathan dan Lucas di salah satu ujung meja.

"Boleh makan ayamnya?" bisik Lucas.

"Boleh. Ambil sedikit dulu. Kalau masih mau, tambah lagi."

Nathan menunggu Karina memindahkan nasi ke piring Lucas sebelum mengambil bagiannya sendiri. Meski makanan berlimpah, ia tetap memilih potongan kecil dan meletakkannya dekat tepi piring, seperti takut seseorang akan menghitung apa yang dimakannya.

Karina tidak menegur. Kebiasaan itu akan berubah perlahan, bukan melalui perintah di malam pertama.

Seorang perempuan berseragam berdiri beberapa langkah di belakang anak-anak. Usianya sekitar empat puluhan, rambutnya disanggul ketat, dan sebuah pin kecil menandai posisinya sebagai pengawas beberapa pelayan lain.

"Saya Bi Surti," katanya saat Karina menoleh. "Dulu saya yang mengatur kebutuhan anak-anak kalau mereka berada di rumah utama."

Kata dulu disampaikan dengan penekanan samar.

"Kalau begitu, tolong beri mereka waktu menyesuaikan diri," jawab Karina.

"Tentu, Nyonya Wijaya."

Nada Bi Surti sopan, tetapi tatapannya kepada anak-anak berbeda begitu Karina berdiri untuk mencuci tangan setelah kuah menetes ke jarinya.

Karina baru mencapai pintu samping ketika terdengar bunyi sendok jatuh.

Lucas mencoba memotong ayam sendiri. Ujung sendoknya menyenggol mangkuk kecil, membuat sedikit kuah tumpah ke taplak meja putih.

"Aduh," gumamnya.

Bi Surti langsung mendekat. "Kamu ini bagaimana? Baru datang sudah bikin kotor barang mahal."

Lucas menurunkan kepala. "Maaf."

"Jangan cuma bilang maaf. Berdiri! Cuci tangan dan bajumu sebelum pegang yang lain."

Nathan meletakkan sendok. "Dia nggak sengaja."

"Kamu diam. Jangan ikut-ikutan nggak punya aturan."

Bi Surti meraih pergelangan Lucas dan menariknya dari kursi. Gerakannya tidak cukup kuat untuk melukai orang dewasa, tetapi bagi anak lima tahun yang tidak siap, tubuh Lucas tersentak sampai kursinya bergeser.

Wajahnya langsung pucat.

"Jangan pegang!"

Ia menendang tulang kering Bi Surti dengan kaki kecilnya.

Tendangan itu tidak keras. Namun cukup membuat perempuan tersebut melepaskan tangan dan berubah wajah.

"Kurang ajar!"

Tangannya terangkat.

"Turunkan tangan Anda."

Karina sudah kembali ke ruang makan. Ia melangkah cepat, menarik Lucas ke belakang tubuhnya, lalu memeriksa pergelangan anak itu sebelum memandang Bi Surti.

"Apa yang terjadi?"

"Anak ini menendang saya, Nyonya." Bi Surti menunjuk Lucas. "Saya hanya mau membawanya membersihkan diri setelah mengotori taplak, tapi dia menyerang."

"Anda menarik tangannya?"

"Namanya juga mendidik anak. Kalau dibiarkan, nanti makin nggak tahu aturan."

Lucas mencengkeram baju Karina dari belakang. "Luki nggak sengaja tumpah."

"Mama tahu."

Karina menyentuh tangannya sebentar, lalu kembali menatap Bi Surti. "Dia sudah minta maaf. Kuah bisa dibersihkan. Tidak ada alasan menarik anak yang ketakutan."

Bi Surti menghela napas, seolah sedang menghadapi orang yang tidak memahami pekerjaan rumah. "Saya sudah bertahun-tahun melayani keluarga ini. Saya tahu cara mengurus anak. Kalau Nyonya selalu membela kesalahan kecil, mereka akan tumbuh tanpa tata krama."

"Tata krama tidak diajarkan dengan membuat anak takut."

"Di rumah sebesar ini, semua ada aturannya." Senyum tipis muncul di bibir Bi Surti. "Anak-anak yang lama tinggal di kampung memang perlu didisiplinkan lebih tegas. Apalagi kalau sebelumnya tidak ada yang benar-benar mengurus."

Sindiran itu jatuh tepat ke arah Karina.

Beberapa pelayan yang sedang merapikan hidangan berhenti bergerak. Bi Surti tampaknya mengira masa kerjanya membuat tak seorang pun berani membantah.

"Aturan pertama," kata Karina pelan, "jangan sentuh anak saya dengan kasar."

"Nyonya baru datang dan mungkin belum paham kebiasaan di sini."

"Kalau kebiasaannya seperti ini, memang harus berubah."

"Yang harus berubah justru anak-anak itu. Mereka bukan bayi yang harus selalu disayang-sayang."

"Cukup."

Suara Sebastian datang dari pintu utama ruang makan.

Ia berdiri bersama satu pengawal yang membawa map. Tatapannya turun pada tangan Lucas yang masih digenggam Karina, kursi yang bergeser, dan noda kecil di taplak.

Lalu ia memandang Bi Surti.

Wajah Sebastian tidak menunjukkan kemarahan terbuka. Namun sesuatu dalam sorot matanya berubah begitu dingin hingga para pelayan serentak menunduk.

Bayangan rumah sunyi dari kehidupan sebelumnya melintas di benaknya. Laporan yang diabaikan. Luka yang ditemukan terlalu lambat. Dua anak yang tak lagi bisa mengadu.

Ia tidak membutuhkan penjelasan kedua.

"Anda diberhentikan mulai malam ini," kata Sebastian.

Bi Surti ternganga. "Pak Sebastian? Saya sudah melayani keluarga Wijaya bertahun-tahun. Saya hanya mendisiplinkan anak. Nyonya mungkin salah paham karena baru kembali."

"Saya melihat tangan Anda terangkat."

"Tapi anak itu menendang saya!"

"Setelah Anda menariknya dari kursi."

Bi Surti menatap para pelayan lain, mencari dukungan. Tak seorang pun bergerak.

"Saya punya masa kerja paling lama di bagian anak," katanya, kini terdengar putus asa. "Kalau saya pergi, siapa yang akan mengatur semuanya?"

"Bi Asih akan membagi tugas baru. Administrasi menyelesaikan hak Anda sesuai catatan kerja."

"Pak Sebastian, tolong pertimbangkan lagi."

Sebastian menatapnya tanpa berkedip. "Keluar dari rumah ini malam ini juga."

Kalimat itu menutup semua ruang untuk berdebat.

Bi Surti memucat. Ia melepas pin di seragam dengan jari gemetar, lalu meninggalkan ruang makan diiringi seorang petugas keamanan. Tak sampai satu jam kemudian, koper kecilnya dibawa melewati aula dan kendaraan yang menjemputnya keluar dari gerbang.

Tidak ada yang menyebut namanya lagi.

Karina berjongkok di depan Lucas. Bekas jari pada pergelangannya hanya kemerahan ringan dan cepat memudar.

"Sakit?"

Lucas menggeleng, lalu berbisik, "Luki nakal karena nendang?"

"Menendang orang bukan hal baik. Tapi tadi kamu takut dan mencoba melepaskan diri." Karina merapikan rambutnya. "Lain kali teriak panggil Mama kalau bisa. Mama tetap akan datang."

Lucas mengangguk dan memeluk lehernya.

Nathan berdiri di samping meja. Pandangannya bukan pada noda kuah, melainkan pada Sebastian.

Selama ini, lelaki yang disebut Papa itu hadir melalui nama, uang, dan suara singkat dari telepon. Nathan tidak tahu cara mendekatinya. Namun tadi Sebastian tidak bertanya apakah taplak mahal rusak. Ia melihat tangan Lucas lebih dulu.

Ketika mata mereka bertemu, Nathan buru-buru menunduk. Akan tetapi, tubuhnya tidak lagi bergeser untuk menjauh.

Sebastian memperhatikan perubahan kecil itu tanpa berkata apa pun.

Malam semakin larut setelah makan selesai. Karina menemani kedua anak tidur di kamar yang sama. Lucas tertidur sambil memegang satu ujung bajunya, sedangkan Nathan meletakkan bungkusan perban pita di bawah bantal.

Karina baru keluar setelah napas mereka teratur.

Koridor lantai dua sunyi. Ia hendak kembali ke kamarnya ketika melihat seseorang berdiri di ujung lorong, tepat di batas antara cahaya lampu dan bayangan tangga.

Sebastian.

Karina berhenti. Kewaspadaannya langsung kembali.

Lelaki itu menatapnya dengan ekspresi yang tak menunjukkan apakah ia masih memikirkan Bi Surti atau sesuatu yang jauh lebih rumit.

"Karina," katanya. "Kita perlu ngobrol."

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!