Karena cinta bertepuk sebelah tangan, Aldin sulit untuk menerima cinta yang baru.
Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita sampai keduanya melakukan hubungan terlarang dan menyebabkan gadis itu hamil.
"Kau harus menikahiku! Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang Ayah!" Renata Aprilia.
"Aku akan menikahi mu, tapi hubungan kita hanya sampai anak itu lahir." Aldin Maldives.
Lantas, akankah cinta hadir di antara keduanya? Lalu bagaimana kisah rumah tangga mereka?
*****
Lanjutan dari novel I'm Fine
JANGAN LUPA TEKAN LIKE, KOMEN DAN FAVORITNYA YA GUYS!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Sikap.
Rere terbangun setelah ia pingsan entah berapa jam, ia merasakan seluruh tubuhnya nyeri sekali terutama di daerah intinya. Ia membuka matanya perlahan, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menyilaukan.
"Arghhhh!!!" Rere mendesis pelan seraya memegang kepalanya, saat itulah ia merasakan kalau tangannya sedang diinfus.
"Rere? Kamu sudah sadar? Maafkan aku, Re." Aldin segera memegang kedua tanga Rere lalu menciuminya.
Sejak tadi Aldin merenungi setiap hal yang sudah dilakukannya selama ini. Ia memang keterlaluan karena terus memikirkan Zoya saat dirinya sudah memiliki Rere. Seharusnya ia tidak seperti itu, bagaimanapun pernikahan mereka terjadi, ia harus belajar menerima Rere sebagai istrinya.
"Untuk apa kau ada disini? Pergi!" Rere menarik tangannya dengan kasar, seketika bayang-bayang bagaiman Aldin menyentuhnya tadi pgi membuat tubuhnya sangat gemetaran.
"Aku minta maaf, aku menyesal, Re. Aku minta maaf, tolong maafkan aku," ujar Aldin kembali meraih kedua tangan Rere tapi wanita itu menolaknya.
"Tidak, tidak, jangan menyentuhku, aku tidak mau." Rere menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia masih ingat bagaimana ia menangis dan memohon pada Aldin tapi pria ini sama sekali tidak menggubrisnya sama sekali.
"Enggak, aku nggak akan pergi, aku benar-benar minta maaf, kita akan memulainya dari awal." Aldin tidak menyerah meski Rere berontak dan menolaknya, ia langsung memeluk wanita itu sangat erat meski Rere menolak.
"Tidak! Lepaskan aku Al." Rere justru menangis lirih, ia tidak sanggup jika harus terus merasakan sakit hati lagi.
Dulu, saat Dave mengkhianatinya, Rere masih bisa merasakan rasa sakit hitu hingga sekarang, belum sembuh rasa sakit itu, ia justru harus menerima kenyataan pahit jika Aldin juga tidak bisa mencintainya. Sekarang pria mana lagi yang bisa ia percaya?
******
Seminggu kemudian, Rere sudah terlihat membaik keadaanya dan sudah diizinkan pulang. Rere sengaja tidak memberitahu Ibunya karena tidak ingin membuat wanita itu kepikiran. Toh, ini semua memang sudah jalan yang suda ia pilih.
"Habis ini kamu makan, terus minum obat dan istirahat. Aku punya sesuatu untukmu," ujar Aldin merangkul bahu Rere tapi wanita itu lagi-lagi menolak.
"Terima kasih mau menampungku disini, bertahanlah lima bulan lagi, aku dan anak ini pasti akan segera pergi," ujar Rere sangat dingin dari biasanya.
Aldin merapatkan bibirnya dengan tangan mengepal, ia ingin sekali marah tapi ia menahannya sekuat tenaga. Semua ini salahnya, jadi ia harus bersabar.
Rere masuk kedalam kamarnya, ia sempat ragu karena masih trauma dengan apa yang sudah Aldin lakukan. Tapi saat ia masuk, ia malah kaget melihat kamarnya sudah direnovasi ulang. Bahkan barang-barangnya pun diganti semua.
"Aku tidak tahu kau suka warna apa, tapi dilihat dari barang-barang yang sering kau pakai, kau suka warna biru, jadi aku memilih warna biru," ujar Aldin tiba-tiba memeluk Rere dari belakang.
"Al?" Rere begitu terkejut dengan sikap Aldin ini, ia mencoba melepaskan dirinya dengan cepat.
Aldin tidak menahannya, ia membiarkan Rere lepas dari pelukannya. "Kenapa?" Tanyanya seperti orang bo doh.
"Kau tidak boleh melakukan itu, ingat kesepakatan kita," ujar Rere tidak mau terperdaya lagi.
"Kenapa harus aku ingat-ingat, aku sudah bilang ingin memulai semua dari awal. Kau dan aku, kita sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya," kata Aldin terdengar begitu santai.
"Aku tidak tahu maksudmu, sebaiknya kau keluar darisini, aku ingin istirahat," kata Rere.
"Keluar kemana? Ini juga kamarku sekarang."
Ucapan Aldin itu membuat mata Rere terbelalak lebar. "Kamarmu juga?"
"Ya, mulai saat ini aku akan tidur disini, bersamamu," ujar Aldin dengan tatapan lurusnya pada Rere.
"Tidur bersama? Kau gila ya?" Rere semakin tidak habis pikir dengan pemikiran Aldin, bukankah jika seperti itu malah akan memperumit keadaan?
"Anggap saja seperti itu, ayo katanya kau mau istirahat," ujar Aldin mengangkat bahunya acuh, ia lalu mendatangi Rere hingga membuat wanita itu mundur karena ketakutan.
"Kau mau apa?" Bentak Rere takut jika Aldin akan memperkosanya lagi.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Aldin memerangkap Rere dengan kedua tangannya di ranjang, tatapan matanya begitu dalam membuat Rere gugup.
"Menyingkir lah Al, aku ingin istirahat," kata Rere terbata-bata.
"Istirahat saja," ujar Aldin masih tidak melepaskan Rere begitu saja.
"Mana bisa aku istirahat kalau kau terus seperti ini?" sergah Rere segera mendorong Aldin dengan keras.
Rere segera beranjak ke kasur, ia mengambil selimutnya lalu membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut itu. Ia tidak mau jika Aldin akan macam-macam nantinya.
"Baiklah, aku akan keluar. Katakan saja jika kau butuh sesuatu ya." Aldin sudah tidak ingin lagi menganggu Rere, ia membiarkan wanita itu istirahat di kamar.
Namun, sebelum ia pergi ia memberikan kecupan manisnya di kening Rere hingga membuat wanita itu kebingungan.
Dia benar-benar aneh.
Rere pikir Aldin hanya menggodanya saja waktu itu, tapi ternyata dia salah karena malam harinya Aldin benar-benar tidur di kamarnya. Bahkan yang membuat Rere kaget adalah, semua barang-barang pria itu sudah ada di kamarnya.
"Untuk apalagi kau datang kesini? Ini bukan kamarmu!" bentak Rere tidak menyembunyikan kekesalannya.
"Kamar kita, aku kesini tentu saja mau tidur. Kau tidak keberatan kan berbagi kasur dengan suamimu ini?" Jawab Aldin dengan wajah santainya, ia mengerlingkan sebelah matanya menggoda.
"Tidak! Kau tidak boleh tidur disini atau aku akan marah." Rere langsung melontarkan ancamannya agar Aldin tidak nekat tidur di kamarnya.
"Jahat sekali, padahal anak kita pengen tidur bareng Ayahnya. Iya 'kan, Nak?" Aldin memasang wajah ingin dikasihani, ia juga menunduk untuk mendekatkan wajahnya kearah perut Rere.
"Kau ini kenapa sih?" Rere lagi-lagi dibuat heran dengan sikap Aldin ini.
"Kenapa? Cuma pengen tidur bareng aja, aku janji tidak akan melakukan apapun," ujar Aldin dengan sorot mata memohonnya.
"Tidak!" Rere menolak tegas.
"Ayolah Sayang, kau tidak kasihan kalau membiarkanku tidur sendirian?" Aldin semakin memasang wajahnya yang memelas untuk membuat Rere luluh.
"Bodo amat! Memangnya kau bisanya tidur dengan siapa?" sergah Rere mengabaikan rengekan manja dari Aldin.
"Ya sendiri, tapi sekarang pengennya sama kamu," kata Aldin lagi.
"Pokoknya nggak ya nggak, mendingan kamu buruan pergi dari sini deh," ujar Rere sudah tidak sabar lagi, ia segera mengambil bantal dan juga selimut lalu melemparkannya pada Aldin.
"Sayang ..."
"Hentikan kegilaanmu itu, Al." Rere berteriak kesal.
Sayang, Sayang, Sayang, panggilan itu membuat kepalanya terasa ingin meledak. Entah kenapa ia malah kesal dengan sikap Aldin yang seperti ini, ia lebih suka jika pria itu bersikap dingin.
Ah, sebenarnya aku ini kenapa sih? Kalau dia dingin salah, sekarang makin salah.
Happy Reading.
TBC.
Rere keras kepala 👎😡
buta itu gelaff
gelap itu banyak nyamuknya 😂😂😂🤣🤣🤣