Sebelum lanjut membaca di sarankan membaca (Terjebak pernikahan dingin) kali ini menceritakan pasal pernikahan kedua yang mangakibatkan banyaknya prahara dalam rumah tangga Raditya bersama kedua istri. Memiliki dua wanita sekaligus tidak lantas membuat Raditya bahagia, justru akan membuatnya terjerat benang mereh. Dan bagaimana proses yang harus di lewati Liona selaku istri pertama? lalu sikap apa yang akan Zahra perlihatkan sebagai istri kedua Raditya? ikuti terus kelanjutkan kisah mereka, jangan sampai lupa like and tanda hatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nur Hastaman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keguguran
Sesampainya di rumah sakit, Zahra langsung di bawa menuju ruang operasi, setelah sebelumnya pendarahan yang di alami Zahra. Kandungan Zahra baru memasuki bulan kelima, jadi masih sangat rawan. Kondisi Zahra semakin kritis, jelas para medis cepat mengambil tindakan sebelum kedua nyawa melayang. Dokter telah memberihatukan kepada Raditya bahwa hanya ibunya yang bisa selamat, tapi jaminannya sangat tipis, akibat pendarahan yang begitu hebat. Mau tidak mau ia harus setuju demi keselamatan Zahra.
"Tolong selamatkan istriku, jangan pernah libatkan urusan pribadi kita dalam situasi seperti ini" Ucap Raditya kepada Dokter Bramantio.
Mendengar ucapan Raditya membuatnya tertawa geli "Saya ini seorang Dokter. Tugas utama kami menyelamatkan, bukan menghabisi. Kamu tenang saja saya tidak ada niat buruk kepadamu dan keluargamu. Tidak perlu risau kami di bayar bukan untuk menghabisi nyawa keluarga musuh kami" Tersenyum sembari melenggang masuk ruang operasi.
Raditya dengan cemas menunggu berjalannya operasi sang istri, ia harus menerima bahwa anak yang selama ini di rindukan telah tiada. Sebelum melakukan tindak operasi Dokter Bramantio selaku Dokter yang menangani Zahra berkata bahwa pasien mengalami keguguran dan harus segera melakukan operasi mengeluaran bayi, kalau tidak segera di lakukan akan berbahaya bagi ibunya. Raditya masih menyimpan dendam kepada Dokter tersebut, tapi ia sadar saat ini yang dia butuhkan pertolongan Bram supaya nyawa Zahra tertolong.
Setelah hampir tiga jam lamanya Dokter Bram keluar dan menyatakan bahwa Zahra butuh donor darah secepatnya sebab terlalu kehabisan banyak darah. Yang paling membuatnya semakin takut adalah darah Zahra tergolong darah langka yang tidak mudah di dapat. Raditya di buat kelimpungan tak tau harus bagaimana cara mendapatkan donor darah secepat itu, akhirnya ia mencari di laman dunia maya. Ia memposting bagi siapa saja memiliki golongan darah sama akan di beri imbalan uang sebanyak dua puluh juta rupiah. Melihat pontingan suaminya berada di beranda sosial media, membuat Liona terkejut. Secepatnya Liona menyusul suaminya ke rumah sakit.
"Mungkin aku bisa membantu mas Raditya dengan mendonorkan darahku pada istri keduanya, kebetulan darah kami sama" Sebelum bertemu dengan Raditya, Liona menemui Dokter yang menangani jalannya operasi. Ketika mamasuki ruangan dokter ia terkejut melihat Bramantio di ruangan tersebut. Liona langsung menyatakan keinginan untuk menjadi pendonor Zahra, tapi dengan syarat jangan sampai ada orang tau bahwa dia yang sudah mendonorkan darahnya.
Bramantio tidak habis pikir bagaimana bisa seorang wanita rele berkorban demi wanita lain hanya demi menyelamatkan nyawa orang yang selama ini menyakiti hatinya. Berulang kali Bram memperringatkan untuk tidak melakukan hal itu, karena percuma berbuat sebaik apa kalau orang sudah membenci maka semua tak akan berarti. Liona menjawab "Aku menolong bukan semata untuk mencari balasan tapi demi menyelamatkan nyawa seseorang. Tidak usah pikir panjang, sekarang juga lakukan tranfusi darah kami biar dia bisa cepat terselamatkan" Dengan hati besar ia merelakan sebagian darahnya untuk menyelamatkan Zahra. Bramantio memperingatkan beberapa resiko yang akan di alami pasca tranfusi berlangsung. Akan butuh waktu sekitar dua hari untuk pemulihan. Lagi pula jika di lihat Liona memiliki fisik lemah, takutnya terjadi hal buruk selah mendonorkan darah untuk orang lain. Meski tau segala konsekuensinya tetap saja Liona memaksakan diri demi menolong Zahra. Dengan segala kesiapan akhirnya Bram membawa Liona menuju ruang tranfusi darah.
"Wanita sebaik kamu terlalu banyak berkorban, semoga saja kelak kamu bisa hidup bahagia" Lirih Bram sembari menatap diri Liona yang saat itu di ambil darahnya.
"Sus...kalau boleh saya tau siapa pendonor istri saya?" Tanya Raditya kepada suster yang baru saja keluar dari ruangan. Susset tersebut nampak bingung harus berbuat apa "Maaf, beliau meminta kami untuk tidak memberitahukan kepada anda tentang jati diri beliau. Sudah jadi keputusan kami untuk tidak membocorkan siapa si pendonor kepada pihak keluarga sesuai peemintaan beliau"
Raditya merasa ada kejanggalan dari semua ini, bagaimana ada seseorang memberikan darah secara cuma cuma tanpa mengharap imbalas sedikitpun. "Ah, sudahlah. Orang baik itu pasti malaikat kiriman Tuhan untuk menolong istriku. Semoga saja dia selalu bahagia, siapapun itu orangnya"
Beberapa saat kemudian, Zahra telah usai melakukan tranfusi darah. Ia juga sudah di pindahkan ke ruang rawat "Akhirnya ada juga orang baik yang rela mendonorkan darahnya untukmu, sayang. Mungkin jika tidak ada orang itu aku akan kehilangan kamu juga" Menggenggam erat tangan sang istri sembari mengusap perlahan keningnya.
Liona melihat dari kaca pintu ruangan, di mana ia melihat Raditya begitu menyayangi Zahra. Sempat terpikir olehnya jik yang terbating lemas itu dirinya apakah Raditya juga akan berlaku sama, atau justru sebaliknya?
"Are you oke, Li?" Tanya Bram daat melihat air mata Liona perlahan berjatuhan. Mereka tengah berada di depan pintu kamar Zahra, usai melakukan tranfusi Liona minta kepada Bram untuk mengantarnya menuju kamar Zahra sekarang ingin tau bagaimana kondisi Zahra.
Liona nampal pucat pasuh dan badan gemetaran, pandangan mata perlahan berkunang kunang dan pada akhirnya tak sadarkan diri "Li, Liona bangun...." Seperti dugaan sebelumnya Liona tidak kuat setelah penabilan darah. Secepat mungkin Bram membawa Liona menuju ruang perawatan. Yang Liona butihkan saat ini adalah istirahat total selama pemulihan berlangsung.
"Sayang.....kamu sudah sadar" Raditya sangat bahgaia melihat Zahra perlahan membuka mata "Aku sangat takut kehilangan kamu, sayangku" Menciumi tangan Zajra berulang kali saking bahagia, melihat snag istri tersadar setelah sekian lama terpejam.
Menyentuh perut "Bagaimana dengan anak kita, mas?"
Tiba tiba Raditya terdiam seribu bahasa.
"Mas katakan anak kita baik baik saja, bukan? katalan padaku mas anak kita baik baik saja....." Zahra menangis melihat kediaman Raditya yang seolah menjewab ketakutannya itu.
Zahra mulai lepas kendali dengan hendak mencabut selang infus di tangannya, dia samgat teepukuk mengetahui anak dalam kandungan telah tiada. Sekuat tenaga Raditya menenangkan Zahra sampai memeluknya untuk waktu lama. Tangis dan jeritan Zahra seolah mematahkan dunia Raditya. "Sabar, sayang. Semua adalah ujian Tuhan untuk kita" sambil terus memeluk sang istri. Jujur saja Raditya sendiri begitu lemah mendapati kenyataan bahwa harus kehilangan buah hatinya, yang belum ssmpat lahir kedunia.
"Tidak mas ini tidak mungkin, anakku pasti masih hidup...." menagis tersedu dalam pelukan Raditya sampai semua kesedihan terluap dalam satu bahu yang rapuh. Karena memang tidak hanya Zahra saja yang merasa kehilangan tapi dia juga merasa sangat kehilangan.
Dengan berlinang air mata Raditya mencoba kuat sambil memeluk sang Istri. Saat ini hanya iti sati satunya cara menenangkan Zahra dari segala kesedihan.
"Semua teejadi gara gara Liona itu? Dia pasti sengaja membuatku kehilangan anak kita, pokoknya dia harus bertanggung jawab" Setelah apa yang di alami, Zahra masih belum sadar akibat ukahnya sendiri justru ia tertimpa musibah.
Mengingat ada cairan pembersih lantai di depan pintu kamar Liona, dia merasa bahwa semua tidak mungkin ulah Liona. Bagimana bisa dia mencalakai Zhara dengan menaruh cairan itu di depan pintu kamarnya, seharusnya cairan berada di depan pintubkamar Zahra atu tempat lain.
"Mas...aku mau kamu kasih dia pelajaran. Aku nggak mau tau dia harus menerima akibatnya"
Raditua hanya bisa terdiam sambil mengusap kepala snag istri "Pasti, sayang. Siapapun yang berbuat salah pasti menerima akibatnya"
Zahra terdenyum dalam dekapan sang suami (Pasti sebentar lagi dia akan di ceraikan oleh aas Raditya. Ternyata ada baiknya aku keguguran, dengan begitu mas Raditya akan menyalahkan Liona dan menceraikan dia secepatnya)
sekarang wanita tangguh2 sentil buang😏