Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
[Bab 12 ada perubahan sedit karena naskahnya bercampur dengan bab 13. Karena lagi ngedit aku ketiduran]
Giselle berdiri di depan kamera dengan senyum sempurna. Rambutnya tertata indah. Gaunnya terlihat mahal. Wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kekhawatiran..Ia masih percaya bahwa hidupnya berada dalam kendalinya.
Sudut bibir Vivienne terangkat tipis. "Biarkan dia menikmati hari ini."
Estelle mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"
Vivienne menyesap minumannya sebelum menjawab dengan tenang. "Karena besok mungkin tidak akan seindah hari ini."
Estelle menatapnya beberapa saat. Kemudian senyum jahil muncul di wajahnya.
"Aku mulai suka cara berpikirmu."
Vivienne tertawa kecil. "Aku belajar dari orang-orang yang sudah membuatku seperti ini."
Malam harinya, Giselle tiba di apartemennya. Begitu pintu tertutup, senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya langsung menghilang. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan melempar tas ke atas sofa. Tubuhnya terasa lelah, namun sebelum sempat beristirahat, ponselnya berdering.
Nama Bella, manajernya muncul di layar. Giselle segera mengangkat panggilan itu.
"Ya. Ada apa?" sapa Giselle singkat.
"Nona, ada kabar mengenai kontrak itu," ujar Bella dari seberang telepon.
Giselle langsung duduk. "Bagaimana?" tanyanya.
Manajernya terdiam sejenak. "Mereka meminta waktu tambahan."
Alis Giselle langsung berkerut. "Kenapa?"
"Mereka sedang mempertimbangkan beberapa kandidat lain."
"Apa?" suara Giselle meninggi. Ia berdiri dari sofa. "Siapa?"
"Kami belum mendapatkan namanya," jawab manajernya hati-hati.
Giselle menggenggam ponselnya lebih erat. "Kontrak itu sudah hampir menjadi milikku."
"Saya tahu, Nona. Mereka bahkan sudah melakukan pembicaraan terakhir dengan agensi. Saya juga sudah menghubungi pihak mereka."
"Lalu apa jawaban mereka?" tanya Giselle dengan nada semakin kesal.
"Mereka hanya mengatakan masih melakukan evaluasi."
Giselle mengembuskan napas keras. "Berapa lama mereka akan menunda?"
"Kami belum tahu."
Giselle terdiam. Rahangnya mengeras. "Baik. Cari tahu siapa kandidat lainnya."
"Baik, Nona."
Panggilan berakhir. Giselle masih berdiri di tengah ruang tamu. Untuk pertama kalinya hari itu, rasa percaya dirinya mulai retak.
Wanita itu mengambil ponsel. Sebuah pesan masuk.
Dominic: [Jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya.]
Giselle membaca pesan itu. Dadanya sedikit lega. Dominic pasti bisa membantunya.
Beberapa menit kemudian, pesan kedua masuk.
Dominic: [Aku sedang mengalami sedikit masalah keuangan. Beri aku waktu.]
Senyum Giselle perlahan menghilang. "Masalah keuangan?" gumamnya.
Untuk pertama kalinya, keraguan muncul dalam benak Giselle. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Dominic?
Giselle berjalan perlahan menuju meja. Matanya jatuh pada sebuah kotak kecil yang tadi ia bawa pulang. Kotak yang seharusnya sudah dibuang. Namun, entah mengapa, Giselle tidak jadi membuangnya.
Wanita itu mengambil kotak tersebut. Ia membukanya. Cermin kecil itu masih berada di dalam. Perlahan, Giselle mengambilnya. Ia mengarahkan cermin itu ke wajahnya. Pantulannya tampak sama seperti biasanya.
Wajah cantik. Kulit mulus. Mata tajam. Bibir seksi sempurna. Tidak ada yang berubah. Namun, kali ini Giselle tidak tersenyum.
Tangan Giselle justru perlahan turun. "Kenapa aku merasa tidak nyaman?" gumamnya.
Giselle menatap pantulan dirinya sendiri. Selama bertahun-tahun, kecantikan adalah senjatanya. Nama besar adalah kekuatannya. Karier adalah hidupnya.
Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa semua itu bisa hilang begitu saja.
Giselle menutup cermin tersebut. Namun, perasaan tidak nyaman itu tidak ikut hilang.
Sementara itu, di apartemen Estelle, suasananya jauh lebih santai. Vivienne duduk di sofa sambil menikmati semangkuk stroberi.
Estelle duduk di sampingnya dengan laptop terbuka di atas meja. Jarinya bergerak beberapa kali pada papan ketik sebelum akhirnya berhenti.
"Kontrak pertama ditunda," ujar Estelle sambil menoleh.
Vivienne mengambil satu stroberi. "Bagus," jawabnya santai.
Estelle mengangkat alis. "Kontrak kedua sedang dievaluasi."
Vivienne memasukkan stroberi ke mulutnya. "Lebih bagus."
Estelle menatap sahabatnya dengan wajah tidak percaya. "Kamu benar-benar tidak punya belas kasihan."
Vivienne mengunyah perlahan. "Aku belum melakukan apa pun kepadanya," jawabnya tenang.
Estelle menunjuk layar laptop. "Belum?"
Vivienne tertawa kecil. "Estelle."
"Hm?" jawab Estelle sambil menutup laptop.
Vivienne meletakkan mangkuk stroberi di atas meja. Senyumnya perlahan menghilang.
"Dia sudah menyusup dalam kehidupan rumah tanggaku."
Vivienne menunduk. Tangannya mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Jadi, aku hanya ingin dia merasakan sedikit ketidaknyamanan."
Estelle menatapnya beberapa detik. "Sedikit?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
Vivienne mengangkat wajah. "Sedikit."
Estelle langsung tertawa. "Kamu mulai menyeramkan, Vivi."
Vivienne ikut tertawa. "Aku masih sangat baik."
"Baik dari mana?" tanya Estelle sambil terkekeh.
"Kalau aku tidak baik, mungkin sekarang kita sudah melakukan sesuatu yang jauh lebih besar kepadanya."
Keduanya saling menatap. Kemudian tertawa bersamaan. Tawa itu terdengar ringan. Namun di baliknya, ada luka yang belum sembuh.
Estelle menyipitkan mata. "Kamu puas?"
"Belum," jawab Vivienne.
"Kenapa?" tanya Estelle.
Vivienne meletakkan garpunya. "Karena dia masih punya sesuatu," jawabnya.
"Apa?" tanya Estelle.
"Kepercayaan kepada Dominic," jawab Vivienne.
Estelle terdiam. "Kamu ingin mereka mulai saling mempertanyakan ketulusan cinta mereka?" tanya Estelle.
Vivienne mengangguk. "Aku ingin Giselle mulai bertanya-tanya apakah Dominic masih mampu memberinya kehidupan yang dia inginkan," jawab Vivienne.
Estelle langsung terkekeh. "Jahat," kata Estelle.
Vivienne mengangkat bahu. "Aku hanya sedang belajar dari mereka," jawabnya.
"Belajar apa?" tanya Estelle.
Vivienne mengusap perutnya perlahan. "Bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap pasti," jawabnya.
Senyum Vivienne menghilang. Tatapannya berubah dingin.
"Mereka membuatku kehilangan kepercayaan. Sekarang aku akan membuat mereka kehilangan rasa aman."
Estelle menatap sahabatnya beberapa detik. Kemudian senyum lebar muncul di wajahnya.
"Baiklah," ujar Estelle sambil mengangkat alis, "kalau begitu mari kita mulai permainan berikutnya."
Vivienne tertawa. Setelah semua pengkhianatan itu terbongkar, tawanya terdengar ringan.
Bukan karena lukanya telah sembuh. Bukan karena rasa sakitnya telah hilang. Melainkan karena sekarang ia tahu satu hal. Ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Ada Estelle di sisinya.
Bukti-bukti sedang dikumpulkan oleh Vivienne. Dan ada rencana yang perlahan mulai berjalan.
Vivienne mengambil satu stroberi terakhir. Ia tersenyum kecil.
Estelle mengangkat gelasnya. "Untuk pembalasan pengkhianatan."
Vivienne mengangkat gelasnya pula. "Untuk mereka yang terlalu percaya diri."
Kedua gelas itu beradu pelan.
Ting.
Sementara di tempat lain, Giselle masih berdiri di depan cermin sambil bertanya-tanya mengapa hidupnya tiba-tiba terasa tidak aman. Ia belum tahu siapa yang sedang bermain di belakang layar. Dan yang lebih buruk Giselle sama sekali belum menyadari bahwa perempuan yang selama ini ia anggap tidak berdaya sudah mulai menarik satu per satu benang yang menopang kehidupannya.
***
dan Grace adik satu ibu beda Ayah 😱
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡