NovelToon NovelToon
Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.

Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.

"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."

Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.

Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

[Bab 12 ada perubahan sedit karena naskahnya bercampur dengan bab 13. Karena lagi ngedit aku ketiduran]

Giselle berdiri di depan kamera dengan senyum sempurna. Rambutnya tertata indah. Gaunnya terlihat mahal. Wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kekhawatiran..Ia masih percaya bahwa hidupnya berada dalam kendalinya.

Sudut bibir Vivienne terangkat tipis. "Biarkan dia menikmati hari ini."

Estelle mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"

Vivienne menyesap minumannya sebelum menjawab dengan tenang. "Karena besok mungkin tidak akan seindah hari ini."

Estelle menatapnya beberapa saat. Kemudian senyum jahil muncul di wajahnya.

"Aku mulai suka cara berpikirmu."

Vivienne tertawa kecil. "Aku belajar dari orang-orang yang sudah membuatku seperti ini."

Malam harinya, Giselle tiba di apartemennya. Begitu pintu tertutup, senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya langsung menghilang. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan melempar tas ke atas sofa. Tubuhnya terasa lelah, namun sebelum sempat beristirahat, ponselnya berdering.

Nama Bella, manajernya muncul di layar. Giselle segera mengangkat panggilan itu.

"Ya. Ada apa?" sapa Giselle singkat.

"Nona, ada kabar mengenai kontrak itu," ujar Bella dari seberang telepon.

Giselle langsung duduk. "Bagaimana?" tanyanya.

Manajernya terdiam sejenak. "Mereka meminta waktu tambahan."

Alis Giselle langsung berkerut. "Kenapa?"

"Mereka sedang mempertimbangkan beberapa kandidat lain."

"Apa?" suara Giselle meninggi. Ia berdiri dari sofa. "Siapa?"

"Kami belum mendapatkan namanya," jawab manajernya hati-hati.

Giselle menggenggam ponselnya lebih erat. "Kontrak itu sudah hampir menjadi milikku."

"Saya tahu, Nona. Mereka bahkan sudah melakukan pembicaraan terakhir dengan agensi. Saya juga sudah menghubungi pihak mereka."

"Lalu apa jawaban mereka?" tanya Giselle dengan nada semakin kesal.

"Mereka hanya mengatakan masih melakukan evaluasi."

Giselle mengembuskan napas keras. "Berapa lama mereka akan menunda?"

"Kami belum tahu."

Giselle terdiam. Rahangnya mengeras. "Baik. Cari tahu siapa kandidat lainnya."

"Baik, Nona."

Panggilan berakhir. Giselle masih berdiri di tengah ruang tamu. Untuk pertama kalinya hari itu, rasa percaya dirinya mulai retak.

Wanita itu mengambil ponsel. Sebuah pesan masuk.

Dominic: [Jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya.]

Giselle membaca pesan itu. Dadanya sedikit lega. Dominic pasti bisa membantunya.

Beberapa menit kemudian, pesan kedua masuk.

Dominic: [Aku sedang mengalami sedikit masalah keuangan. Beri aku waktu.]

Senyum Giselle perlahan menghilang. "Masalah keuangan?" gumamnya.

Untuk pertama kalinya, keraguan muncul dalam benak Giselle. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Dominic?

Giselle berjalan perlahan menuju meja. Matanya jatuh pada sebuah kotak kecil yang tadi ia bawa pulang. Kotak yang seharusnya sudah dibuang. Namun, entah mengapa, Giselle tidak jadi membuangnya.

Wanita itu mengambil kotak tersebut. Ia membukanya. Cermin kecil itu masih berada di dalam. Perlahan, Giselle mengambilnya. Ia mengarahkan cermin itu ke wajahnya. Pantulannya tampak sama seperti biasanya.

Wajah cantik. Kulit mulus. Mata tajam. Bibir seksi sempurna. Tidak ada yang berubah. Namun, kali ini Giselle tidak tersenyum.

Tangan Giselle justru perlahan turun. "Kenapa aku merasa tidak nyaman?" gumamnya.

Giselle menatap pantulan dirinya sendiri. Selama bertahun-tahun, kecantikan adalah senjatanya. Nama besar adalah kekuatannya. Karier adalah hidupnya.

Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa semua itu bisa hilang begitu saja.

Giselle menutup cermin tersebut. Namun, perasaan tidak nyaman itu tidak ikut hilang.

Sementara itu, di apartemen Estelle, suasananya jauh lebih santai. Vivienne duduk di sofa sambil menikmati semangkuk stroberi.

Estelle duduk di sampingnya dengan laptop terbuka di atas meja. Jarinya bergerak beberapa kali pada papan ketik sebelum akhirnya berhenti.

"Kontrak pertama ditunda," ujar Estelle sambil menoleh.

Vivienne mengambil satu stroberi. "Bagus," jawabnya santai.

Estelle mengangkat alis. "Kontrak kedua sedang dievaluasi."

Vivienne memasukkan stroberi ke mulutnya. "Lebih bagus."

Estelle menatap sahabatnya dengan wajah tidak percaya. "Kamu benar-benar tidak punya belas kasihan."

Vivienne mengunyah perlahan. "Aku belum melakukan apa pun kepadanya," jawabnya tenang.

Estelle menunjuk layar laptop. "Belum?"

Vivienne tertawa kecil. "Estelle."

"Hm?" jawab Estelle sambil menutup laptop.

Vivienne meletakkan mangkuk stroberi di atas meja. Senyumnya perlahan menghilang.

"Dia sudah menyusup dalam kehidupan rumah tanggaku."

Vivienne menunduk. Tangannya mengusap perutnya yang mulai membesar.

"Jadi, aku hanya ingin dia merasakan sedikit ketidaknyamanan."

Estelle menatapnya beberapa detik. "Sedikit?" tanyanya dengan nada tidak percaya.

Vivienne mengangkat wajah. "Sedikit."

Estelle langsung tertawa. "Kamu mulai menyeramkan, Vivi."

Vivienne ikut tertawa. "Aku masih sangat baik."

"Baik dari mana?" tanya Estelle sambil terkekeh.

"Kalau aku tidak baik, mungkin sekarang kita sudah melakukan sesuatu yang jauh lebih besar kepadanya."

Keduanya saling menatap. Kemudian tertawa bersamaan. Tawa itu terdengar ringan. Namun di baliknya, ada luka yang belum sembuh.

Estelle menyipitkan mata. "Kamu puas?"

"Belum," jawab Vivienne.

"Kenapa?" tanya Estelle.

Vivienne meletakkan garpunya. "Karena dia masih punya sesuatu," jawabnya.

"Apa?" tanya Estelle.

"Kepercayaan kepada Dominic," jawab Vivienne.

Estelle terdiam. "Kamu ingin mereka mulai saling mempertanyakan ketulusan cinta mereka?" tanya Estelle.

Vivienne mengangguk. "Aku ingin Giselle mulai bertanya-tanya apakah Dominic masih mampu memberinya kehidupan yang dia inginkan," jawab Vivienne.

Estelle langsung terkekeh. "Jahat," kata Estelle.

Vivienne mengangkat bahu. "Aku hanya sedang belajar dari mereka," jawabnya.

"Belajar apa?" tanya Estelle.

Vivienne mengusap perutnya perlahan. "Bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap pasti," jawabnya.

Senyum Vivienne menghilang. Tatapannya berubah dingin.

"Mereka membuatku kehilangan kepercayaan. Sekarang aku akan membuat mereka kehilangan rasa aman."

Estelle menatap sahabatnya beberapa detik. Kemudian senyum lebar muncul di wajahnya.

"Baiklah," ujar Estelle sambil mengangkat alis, "kalau begitu mari kita mulai permainan berikutnya."

Vivienne tertawa. Setelah semua pengkhianatan itu terbongkar, tawanya terdengar ringan.

Bukan karena lukanya telah sembuh. Bukan karena rasa sakitnya telah hilang. Melainkan karena sekarang ia tahu satu hal. Ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Ada Estelle di sisinya.

Bukti-bukti sedang dikumpulkan oleh Vivienne. Dan ada rencana yang perlahan mulai berjalan.

Vivienne mengambil satu stroberi terakhir. Ia tersenyum kecil.

Estelle mengangkat gelasnya. "Untuk pembalasan pengkhianatan."

Vivienne mengangkat gelasnya pula. "Untuk mereka yang terlalu percaya diri."

Kedua gelas itu beradu pelan.

Ting.

Sementara di tempat lain, Giselle masih berdiri di depan cermin sambil bertanya-tanya mengapa hidupnya tiba-tiba terasa tidak aman. Ia belum tahu siapa yang sedang bermain di belakang layar. Dan yang lebih buruk Giselle sama sekali belum menyadari bahwa perempuan yang selama ini ia anggap tidak berdaya sudah mulai menarik satu per satu benang yang menopang kehidupannya.

***

1
merry
gmn y bingung juga,, mau digugurkan jg kshn bayi y gk salh,, tp klo di biarkan juga salh hamil lahirkan dan merawat ank suaminya dan selingkuhan itu kebodohan yg nyata si,, nm nya juga biang jht otomatis ank itu nurun darah jahat dr Dominic dan pelakor gisel itu,,
V3
kira-kira siapa kah orang yang akan di hubungi oleh Dominic ❓🤔
V3
oooh ... ternyata si Billy adalah Ayah Tirinya Dominic toh 🤣
dan Grace adik satu ibu beda Ayah 😱
V3
suka lah dg Killian walaupun JK dg Vivi spt Tom & Jerry ,,, tp Killian ttp membantu Vivi scra diam-diam 🤣
V3
hahahaha ... si Jalang gak tahu tuh kalau mo di porotin sama dua cecunguk itu 🤣🤣
V3
Good job Vivi 👏
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
V3
keluarga Toxic nih 😡😡😡
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
Uba Muhammad Al-varo
good job Vivienne, semoga apa yang kamu rencana ke Dominic tercapai dan lancar , membuat Dominic sekeluarga menyesal dan menderita
Lisa
Bagus Vivi..balaslah perbuatannya Dominiq pelan²
Kar Genjreng
yakin Viviane mau merawat anaknya si pELaKoR,,,mungkin kelak buat balas balik ga apa apa tergantung didikan nya,,, apabila dewasa biar tau dengan sendirinya si anak itu pasti akan sayang dengan Viviane,,, kalau di gugurin sayang dan dosa. biar bagaimanapun nyawa taruhan nya,,,iya kalau anak nya keluar kalau viviane yang menjadi korban senang malahan Dominic dan si pELaKoR,,,dan Killan juga tidak lepas tangan begitu saja dan Estelle,,, pasti akan ikutan menjaga,,,,
V3
Good job Vivi ,, aku suka cara mu membalas dendam PD mereka semuanya. 👏👏👏
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
V3
pembalasan yg perfect vivi 👏👏👏
Dini Anggraini
Viviane meskipun kamu mengandungnya jangan pernah mau merawat anak itu bisa jadi boomerang untukmu bila besar dan ketemu giselle anak itu bisa di ajak giselle sama2 mengambil semua hartamu vivianne. 😡😡🥰🥰
V3
buaya buntung lg nyogok Vivi biar tujuan nya berhasil 🤣🤣🤣
Les Tary
pastikan keluarga Dinamic jadi gembel vivi
V3
kudu nya si Dominic yg sllu ngasih uang ke keluarga nya sndri ,, Kok ini mlh uang istrinya yg sllu di berikan.
dasar keluarga parasit 😡😡😡
Nar Sih
rencana yg bagus vivi,semagat buat hancur suami durjana mu
V3
mampoes U .. mau enak nya ja tp sllu nyakitin Vivi 🤦
dasar lintah darat 😡😡
Sugiharti Rusli
pembunuhan karakter si Dominic secara perlahan baru kemudian penjara yang tepat baginya yah,,,
Sugiharti Rusli
karena sepertinya si Dominic sudah merencanakan ini jauh sebelum menikahi nya mungkin yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!