NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Reuni Dua Patriark Tua

Tiga bulan bersembunyi di dalam Bilik Jantung Naga telah usai. Evolusi fisik yang brutal telah melahirkan eksistensi yang melampaui batas fana.

Zeng Niu melangkah keluar dari bilik fosil tersebut, jubah hitam barunya (yang ia ambil dari salah satu cincin musuh) berkibar ditiup angin primordial yang pengap. Di setiap langkahnya, lantai tulang di bawah kakinya sedikit retak, bukan karena ia melepaskan Qi, melainkan karena kepadatannya kini seberat bintang jatuh. Tulang Emas Asura miliknya belum sepenuhnya terbiasa dengan gravitasi dunia luar.

Di pintu masuk bilik, pemandangan yang tersaji membuat langkah Zeng Niu terhenti. Ia tidak bisa menahan tawa pelannya.

Puluhan patung es dengan berbagai bentuk mulai dari kultivator manusia, siluman rubah, hingga binatang buas berwujud singa bertanduk berdiri membeku dalam posisi menerjang. Ekspresi ketakutan dan keputusasaan tercetak abadi di wajah mereka. Lapisan es abadi milik Zhao Ying tidak hanya membekukan tubuh mereka, tetapi juga mematikan sisa-sisa jiwa di dalam Dantian mereka seketika.

"Ying'er, hasil karyamu sungguh indah," puji Zeng Niu, berjalan santai di antara patung-patung mematikan itu.

Tangan kanannya yang sekeras logam kosmik bergerak dengan lincah. Trak! Trak! Trak! Ia mematahkan jari-jari patung es tersebut dan melucuti setiap cincin penyimpanan serta artefak yang menempel di tubuh mereka, memasukkannya ke dalam kantongnya sendiri.

Zhao Ying melangkah di belakangnya, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pria itu. "Sebagian besar dari mereka hanyalah kultivator pengembara tingkat Nascent Soul dan beberapa Soul Transformation Awal. Cincin mereka mungkin hanya berisi beberapa ribu batu roh tingkat rendah."

"Batu roh tetaplah batu roh, Ying'er," Zeng Niu menimbang sekantong penuh cincin dengan senyum puas. "Lagi pula, sekte kita di Utara sedang membangun formasi besar-besaran. Setiap keping batu sangat berharga. Klan-klan di Langit Selatan ini sangat berbakti karena rela mengantarkan harta mereka langsung ke depan pintuku."

Setelah memastikan tidak ada satu pun barang berharga yang tertinggal, Zeng Niu memimpin jalan, meninggalkan Bilik Jantung Naga yang kini telah benar-benar kosong dari esensi kehidupan.

Mereka menyusuri kembali labirin pembuluh darah fosil, bergerak menuju area "Tenggorokan" sang Naga Primal, yang merupakan rongga terluas sekaligus jalan keluar.

Sepanjang jalan, Zeng Niu terus mengepalkan dan membuka tangannya. Ia bisa merasakan aliran kekuatan di dalam Tulang Emas Asura-nya bersinergi sempurna dengan Benih Dunia di Dantiannya. Sebelumnya, ia harus meminjam Qi dari Lautan Ketiadaan untuk memperkuat serangannya. Kini, fisiknya sendiri adalah senjata kosmik.

"Niu, jangan terlalu santai," suara Lei Ling bergema di Lautan Kesadarannya. "Sumsum Emas yang kau serap membuat fluktuasi darahmu menyala seperti mercusuar di kegelapan. Mereka yang memiliki hidung tajam pasti sudah menunggumu di luar."

"Justru itu yang kuharapkan," balas Zeng Niu dalam hati.

Rongga Tenggorokan Naga Primal

Sebuah dataran luas yang terbentuk dari tulang rawan fosil membentang sejauh puluhan mil. Di ujung dataran tersebut, terdapat celah cahaya yang mengarah kembali ke dimensi luar Kota Puing Naga.

Namun, jalan keluar itu tidak kosong.

Sebuah formasi raksasa yang memancarkan cahaya merah darah dan biru laut telah menyegel seluruh langit-langit rongga tenggorokan tersebut. Di bawah formasi itu, berdiri lebih dari lima ratus kultivator elit. Niat Membunuh yang mereka pancarkan menyatu, membentuk awan mendung yang menekan Hukum Langit di sekitarnya.

Di garis depan, melayang dua sosok yang memancarkan paksaan dari ranah Ascendant tingkat tinggi.

Sosok pertama adalah seorang pria tua berjubah merah api, duduk bersila di atas sebuah tungku alkimia raksasa yang mendidih. Ia adalah Patriark Yan Zun, penguasa Klan Pil Emas, dengan kultivasi Ascendant Tahap Akhir!

Sosok kedua adalah seorang raksasa bertanduk naga emas, mengenakan zirah biru laut yang memancarkan Niat Tirani tanpa batas. Ia adalah Tetua Agung Ao Tian dari Klan Naga Banjir, dengan kultivasi Ascendant Tahap Menengah!

Selama tiga bulan Zeng Niu bermeditasi, giok jiwa milik Yan Qi yang hancur (karena Dantiannya lumpuh) dan giok jiwa Ao Kuang yang pecah belah telah membuat gempar Langit Selatan. Kedua monster tua ini secara pribadi turun gunung, menembus retakan dimensi Istana Naga hanya untuk membalaskan dendam darah!

Saat Zeng Niu dan Zhao Ying akhirnya muncul dari mulut lorong pembuluh darah, seluruh mata di dataran itu langsung tertuju pada mereka.

Hawa dingin yang mematikan dan panas yang membakar berbenturan di udara.

"Jadi kau... semut barbar dari Utara yang berani merusak Dantian putraku?!" suara Patriark Yan Zun menggelegar, membuat lantai fosil bergetar hebat. Matanya menatap Zeng Niu seolah ingin mengulitinya hidup-hidup. "Tiga Puluh Enam Bayanganku hancur di tanganmu! Kau benar-benar tidak tahu bagaimana kata 'mati' ditulis!"

Di sebelahnya, Tetua Agung Ao Tian mendengus. Hidung naganya mengendus udara. Matanya yang berwarna emas vertikal menyipit penuh amarah.

"Darah... aku mencium bau darah Tuan Muda Ao Kuang di jubahmu!" raung Ao Tian, menunjuk Zeng Niu dengan tombak raksasanya. "Dan bukan hanya itu... fluktuasi di tubuhmu... kau menelan Sumsum Leluhur Naga?! B-Beraninya kau, seekor ras manusia rendahan, mencuri warisan darah kami!"

Zeng Niu berdiri diam di ujung dataran, membiarkan aura dua Ascendant tingkat tinggi itu menerjangnya layaknya angin sepoi-sepoi. Ia melirik Zhao Ying.

"Ying'er, kau ingat saat aku bilang aku benci merampok orang miskin?" bisik Zeng Niu santai.

Zhao Ying menghela napas tipis. "Mereka membawa lima ratus elit dan dua Patriark. Perbendaharaan klan mereka pasti ada di cincin kedua orang tua itu."

Zeng Niu menyeringai, memamerkan deretan giginya. Ia menoleh kembali ke arah pasukan gabungan yang sedang murka tersebut.

"Hei, Pak Tua Penjual Obat dan Kadal Tua!" teriak Zeng Niu, suaranya diperkuat oleh Niat Asura hingga menembus formasi mereka. "Aku sangat menghargai kalian. Membawa ratusan cincin penyimpanan langsung ke hadapanku adalah tindakan yang sangat berbakti. Sebagai balasannya, aku berjanji akan meninggalkan mayat kalian dalam keadaan utuh!"

Mendengar hinaan yang melanggar nalar itu, pasukan elit di belakang kedua monster tua itu tercekat. Menghina Ascendant Akhir di wajahnya sendiri?! Pemuda ini pasti sudah gila!

Patriark Yan Zun tertawa terbahak-bahak karena amarah yang memuncak. Tungku alkimia di bawahnya meledakkan api karma berwarna merah darah.

"Mulut yang sangat besar untuk seekor katak dalam sumur! Saudara Ao Tian, jangan bunuh dia seketika. Hancurkan tulangnya, aku ingin jiwa dan fisiknya dijadikan bahan obat di tungkuku!"

"Tidak perlu kau suruh!"

Ao Tian melesat ke depan. Sebagai ahli Ascendant Tahap Menengah dengan garis keturunan naga, fisiknya diklaim sebagai yang terkeras di seluruh Langit Selatan. Ia tidak menggunakan sihir, karena di dalam dimensi naga purba ini, kekuatan fisik adalah raja.

Tombak raksasanya diayunkan, berniat membelah tubuh Zeng Niu, sementara cakar tangan kirinya yang bersisik emas mengincar tenggorokan pemuda itu. Kecepatan dan tekanannya merobek udara menjadi ruang hampa!

"Mati kau, Serangga!" raung Ao Tian.

Zeng Niu tidak mundur. Ia bahkan tidak mencabut Nisan Petir Asura-nya. Ia menyuruh Zhao Ying mundur satu langkah dengan isyarat matanya.

Di hadapan cakar dan tombak dewa naga yang datang membawa kiamat, Zeng Niu hanya mengangkat tangan kanannya. Urat-urat di lengannya memancarkan cahaya emas gelap yang membutakan.

Zeng Niu meninju ke arah depan!

Tidak ada teknik. Tidak ada elemen. Hanya Beban otot dan tulang emas yang bertabrakan dengan kecepatan ruang!

BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!

Sebuah ledakan yang seratus kali lipat lebih dahsyat dari gabungan meriam Istana Pusat meledak di tengah dataran fosil! Udara hancur menjadi serpihan dimensi. Gelombang kejutnya langsung menyapu lima ratus kultivator elit di belakang, membuat mereka memuntahkan darah serentak hanya karena tekanan angin!

Di titik benturan, waktu seolah berhenti berdetak.

Mata vertikal Ao Tian membelalak. Ia menatap ke bawah, ke arah tombak raksasa dan lengan kirinya.

Tombak tingkat Surga Puncak yang diwariskan klannya selama ribuan tahun... hancur.

Dan lengan kirinya, yang dilapisi sisik naga emas terkuat... telah meledak menjadi kabut darah dari ujung jari hingga ke pangkal bahu!

Fisik naga yang ia banggakan hancur lebur hanya oleh satu pukulan tangan kosong dari pemuda manusia di depannya!

"A-A-APA...?!" Ao Tian tergagap, rasa sakit baru menyusul sedetik kemudian. "UAAAAAAAARGH!"

Zeng Niu tidak memberinya kesempatan untuk mundur. Ia melesat menembus kabut darah itu, tangan kirinya mencengkeram leher bersisik Ao Tian. Tubuh raksasa Ascendant Menengah itu diangkat ke udara dengan mudah layaknya mengangkat sebuah boneka jerami.

"Kudengar kau sedang mencari darah putramu," bisik Zeng Niu, matanya yang sedingin ketiadaan menatap tepat ke wajah Ao Tian yang dipenuhi teror murni. "Jangan khawatir. Kalian akan segera mengadakan reuni keluarga."

Zeng Niu mengeratkan cengkeramannya. Tulang Emas Asura berderak.

KRAAAAAAK!

Leher Tetua Agung Klan Naga Banjir itu patah dengan bunyi yang sangat memuakkan, menggema ke seluruh rongga tenggorokan raksasa itu. Zeng Niu melemparkan mayat Ascendant tersebut ke lantai fosil, lalu menginjak kepalanya hingga hancur seperti semangka busuk.

Hening.

Lima ratus kultivator elit Klan Pil Emas dan sisa-sisa Klan Naga Banjir membeku di tempat. Senjata mereka bergetar di tangan mereka.

Di atas tungku alkimianya, Patriark Yan Zun berdiri kaku. Wajah tuanya yang penuh arogansi kini dipenuhi oleh kengerian yang membuat jiwanya bergetar. Ao Tian, seorang Ascendant Menengah ras naga, dibunuh dalam satu serangan pukulan tangan kosong?!

Zeng Niu membungkuk perlahan, mengambil cincin giok emas dari mayat tanpa kepala di bawah kakinya, lalu menatap Yan Zun dengan senyum hangat yang mematikan.

"Satu telah menyumbang," ucap Zeng Niu santai, mengarahkan tatapan asuranya pada Patriark Klan Pil Emas. "Giliranmu, Pak Tua. Kau mau melempar cincinmu sendiri, atau aku harus meremukkan tungku konyolmu itu beserta seluruh tulangmu?"

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!