CERITANYA DIJAMIN SERU, LUCU, ROMANTIS, UWU, N BIKIN BAPER!
Nadira Khansa Salsabila. Atau biasa dipanggil Dira.
Tidak pernah terpikir di benaknya harus menuruti kemauan kedua orang tuanya untuk menikah di usianya yang masih 18 tahun!
Ya, di saat sedang antusias-antusiasnya karena memasuki bangku kuliah, tiba-tiba saja dia dipaksa menuruti kemauan orang tua nya untuk menikah dengan Muhammad Fahri.
Fahri merupakan sahabat sang kakak di waktu kuliah.
Dira tidak sadar, kalau sebenarnya awal perkenalannya dengan Fahri adalah sebuah skenario kedua orang tua nya dan sang kakak, Adit. Yang sudah sejak lama memang merencanakan menjodohkan Dira dan sahabat kakak nya itu.
Tidak sulit untuk Fahri jatuh cinta pada Dira yang cantik, supel, dan ceria.
Namun kebalikannya, Dira justru merasa perjodohannya dengan Fahri merupakan awal malapetaka baginya. Dia yang baru saja memasuki bangku kuliah, dan ingin merasakan kebebasan menjadi mahasiwi. Masih ingin menikmati jalan-jalan bareng teman-temannya, berlama-lama di salon, shopping, atau sekedar flirthing cowok-cowok keren di kampusnya. Malah harus terikat dengan sebuah pernikahan dengan lelaki yang tidak dicintainya, dan itu artinya, masa-masa mudanya akan terenggut oleh belenggu pernikahan yang sama sekali tak diinginkannya! OMG!
Karena sesungguhnya, dibalik semua itu, ada suatu alasan sehingga kedua orang tua nya menikahkan Dira di usianya yang masih sangat belia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamiya Muminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Setelah kejadian malam itu, hari-hari dilalui Dira dengan murung dan tak bersemangat seperti biasanya. Sang sahabat, Sisi, sampai heran melihatnya.
"Jadii... Lo belum mau ceritaa...?" tanyanya untuk yang kesekian kali, sambil melahap bakso bulat-bulat.
Saat ini mereka berdua sedang di kafetaria kampus. Setelah sejam yang lalu baru saja selesai mengikuti mata kuliah di kelas.
Dira menarik napas dalam-dalam. Wajahnya kian murung. Segelas jus alpukat yang ada di depannya hanya diaduk-aduk dengan sedotan.
"Gue... mau dijodohin..."
"Whhaaattt...?" Sisi hampir tersedak. Buru-buru diteguknya air mineral yang ada di hadapannya.
"Lo gak lagi... bercanda... kaann, Diirr...?" tanyanya masih belum yakin.
Dira hanya menggeleng lemah.
"Oh My God... Tapi kenapa, Dir...? Dan sama siapa, lo mau dijodohin...?"
Akhirnya, Dira-pun menceritakan semuanya. Sesekali bulir air mata jatuh dari kedua matanya.
Sisi, yang duduk di sampingnya, mencoba menenangkan sambil merangkul dan mengusap lembut bahunya. "Yaudah, lo yang sabar ya... Mudah-mudahan Tante Amanda dan Om Bian berubah pikiran..."
Dira memeluk sahabatnya itu. Kemudian terisak pelan.
"Cup, cup... Sabar ya Sayang... Udah... jangan sedih lagi... Nanti gue ikutan sedih...," ucap Sisi lembut sambil terus mengelus bahu sang sahabat.
*****
Dira dan Sisi berjalan beriringan menuju tempat parkir kampus. Jadwal kuliah telah usai.
"Dira...!" tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.
Sontak mereka berdua menghentikan langkah dan menoleh secara serempak. Dan, Dira cukup terkejut dengan siapa yang dilihatnya di belakang.
Ya, orang itu adalah Fahri...
Sisi yang merasa tau diri, pamit pada Dira untuk menunggu di mobilnya.
Dira membuang wajahnya.
Fahri berjalan menghampirinya perlahan.
"Mau ngapain Mas Fahri dateng kesini...?" tanyanya dengan nada tak bersahabat sama sekali, bahkan tanpa menoleh sedikitpun pada Fahri.
Fahri diam tidak menjawab.
Dira mengarahkan pandangannya pada Fahri. Lalu menatapnya nanar, " Aku mau tanya. Apa selama ini, Mas Fahri udah tau... Tentang perjodohan ini...?" tanyanya begitu tajam.
Fahri terdiam, sampai akhirnya, dia mengangguk pelan.
Dira memicingkan matanya tak percaya. "Terus... Mas Fahri setuju... dengan perjodohan ini...?"
Lagi-lagi, Fahri mengangguk.
Dira benar-benar tidak percaya. "Tapi kenapa Mas Fahrii...?" nada suaranya penuh dengan penekanan. "Kenapa Mas Fahri mau!? Padahal bisa aja kan Mas Fahri menolak? Apa yang Mas Fahri harapkan dari aku...?? Aku cuma seorang bocah yang baru masuk kuliah! Manja, nggak bisa masak, nggak bisa bebenah rumah! Dan masih banyak lagi! Kalau Mas Fahri mau, Mas Fahri pasti bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku! Di luar sana banyak perempuan yang udah matang, cantik, punya karir bagus, atau bersikap keibuan...!" Dira benar-benar marah.
Fahri diam, lidahnya seakan kelu. "Mas Fahri nggak ada maksud apa-apa. Percayalah, Dir. Karena dari awal melihat kamu lagi, setelah 5 tahun berlalu... Mas Fahri udah suka sama kamu! Cuma itu..."
"Mas Fahri nggak peduli. Mau kamu manja, nggak bisa masak, atau apapun itu. Karena yang Mas Fahri liat bukan itu semua. Mas Fahri jatuh cinta sama kamu, nggak ada alasan yang lainnya..."
Dira terdiam, berusaha menutupi keterkejutannya.
"Denger ya Mas Fahri, aku tetap nggak akan pernah setuju dengan perjodohan ini...!" ketusnya. Lalu bergegas meninggalkan Fahri yang mematung seorang diri.
"Ayo Si, kita cabut!"
penasaran
penasaran