Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendiri yang Tak Pernah Mati
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Mata Su Yan terbuka penuh, pandangannya sempat kosong sesaat sebelum akhirnya fokus, menyapu ruangan dengan kebingungan seorang yang baru saja tersadar dari tidur yang jauh lebih panjang daripada yang bisa ia bayangkan. Namun kebingungan itu hanya bertahan sepersekian detik—begitu matanya jatuh pada sosok berjubah merah yang berdiri di ambang bilik, seluruh wajahnya seketika berubah pucat pasi, tubuhnya yang baru saja bangkit langsung menegang hebat.
"Tidak," bisiknya, suaranya serak namun penuh ketakutan yang begitu nyata, "tidak mungkin kau masih... kau seharusnya sudah lama tiada!"
Sosok berjubah merah itu terkekeh pelan, tangan yang tadinya siap melancarkan serangan mematikan ke arah Xiao Bai perlahan diturunkan, perhatiannya kini sepenuhnya teralih ke arah wanita yang baru saja terbangun. "Su Yan," gumamnya, suaranya kini terdengar hampir seperti nada rindu yang mengerikan, "sudah dua puluh tahun, dan kau masih secantik saat pertama kali kau mencuri apa yang menjadi hakku."
"Mencuri?" Xiao Bai, meski tubuhnya nyaris tak berdaya, memaksakan diri untuk bersuara, kebingungan bercampur amarah menguasai wajahnya yang pucat. "Apa maksudmu?"
Perlahan, tangan sosok berjubah merah itu terangkat, menyingkap tudung yang selama ini menyembunyikan wajahnya. Yang terungkap bukanlah wajah muda seperti yang tersirat dari gerakannya yang lincah, melainkan wajah tua yang keriput dimakan usia entah berapa ratus tahun, namun matanya tetap menyala merah terang penuh vitalitas yang tak sepadan dengan raganya yang renta.
Seluruh ruangan membeku. Master Sekte Agung, yang masih berdiri terhuyung akibat serangan qi sebelumnya, tiba-tiba jatuh berlutut, wajahnya dipenuhi keterkejutan luar biasa yang bahkan melampaui semua kejutan yang ia alami hari itu.
"Itu tidak mungkin," bisiknya, suaranya bergetar hebat. "Wajah itu... aku pernah melihatnya, di lukisan tertua yang tersimpan di aula leluhur sekte kita. Itu adalah wajah Sang Pendiri Sekte Awan Sembilan sendiri—sosok yang menurut catatan sejarah kami telah wafat lebih dari tiga ribu tahun yang lalu!"
"Wafat?" sosok itu tertawa keras, suaranya menggema dingin di ruangan sempit itu. "Sebuah kebohongan yang kubiarkan tersebar sendiri, agar aku bisa bergerak bebas tanpa gangguan dari keturunan-keturunanku yang lemah, yang hanya mampu mewarisi sebagian kecil dari kekuatan sejatiku sementara terus mengklaim diri sebagai penerus sah dari warisanku."
Xiao Bai menatap sosok itu dengan mata terbelalak, mencoba mencerna kata demi kata yang baru saja diucapkan. "Kalau kau benar-benar Pendiri Sekte Awan Sembilan... apa hubunganmu dengan Tungku Ekstraksi Surgawi ini?"
Sang Pendiri menoleh ke arah Xiao Bai, matanya yang merah menyala menyipit tajam menilai. "Tungku itu adalah ciptaanku sendiri, bocah, dibuat tiga ribu tahun lalu sebagai puncak dari seluruh pencapaian alkimia yang pernah kuraih sepanjang hidupku yang panjang. Namun seiring waktu, jiwaku yang telah bertahan jauh melampaui batas normal manusia mulai membutuhkan sumber energi yang semakin murni untuk mempertahankan eksistensiku. Tungku itulah satu-satunya yang mampu menyediakan esensi semurni itu."
Ia melangkah maju perlahan, matanya kini beralih menatap Su Yan yang masih berusaha bangkit dengan tubuh gemetar. "Dua puluh tahun lalu, wanita ini menemukan tempat persembunyianku, mencuri Tungku itu tepat sebelum aku sempat menggunakannya untuk ritual pemurnian jiwa terakhirku—ritual yang seharusnya membuatku benar-benar abadi, melampaui bahkan batas ranah Transenden sekalipun."
"Aku mencurinya karena aku tahu apa yang sebenarnya kau rencanakan!" Su Yan akhirnya berhasil bicara, suaranya masih lemah namun penuh keberanian yang tak tergoyahkan. "Ritual pemurnian jiwa yang kau maksud membutuhkan pengorbanan ribuan nyawa tak berdosa sebagai bahan bakarnya! Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi, apa pun risikonya bagi diriku sendiri!"
"Dan lihatlah harga yang harus kau bayar atas keberanian bodohmu itu," sosok Sang Pendiri tersenyum sinis, matanya menyapu kondisi Su Yan yang masih rapuh. "Dua puluh tahun terjebak antara hidup dan mati, terpisah dari anakmu sendiri, hanya untuk menunda yang tak terelakkan. Sekarang, setelah dua puluh tahun mencari, aku akhirnya menemukan kembali Tungku itu—dan kali ini, tidak ada yang akan menghalangiku untuk menyelesaikan apa yang seharusnya kuselesaikan tiga ribu tahun lalu."
Xiao Bai merasakan dadanya berdenyut hebat, cahaya keemasan yang nyaris padam di dalam tubuhnya tiba-tiba berkedip liar, seolah merespons kehadiran penciptanya sendiri dengan gejolak yang tak bisa ia jelaskan.
> **[Host... aku... mendeteksi sesuatu yang tidak seharusnya kusampaikan dalam kondisi normal, namun keadaan mendesak ini memaksaku untuk mengungkapkannya. Sosok ini benar adanya penciptaku. Dan resonansi yang kurasakan saat ini mengindikasikan bahwa jika ia berhasil merebutku kembali secara paksa, aku tidak akan mampu menolak perintahnya, apa pun konsekuensinya bagi dirimu atau ibumu.]**
Sang Pendiri melangkah semakin dekat, tangannya terangkat dengan tenang, siap merenggut kekuatan yang telah tiga ribu tahun ia dambakan kembali, sementara Xiao Bai, tanpa sisa energi untuk melawan, hanya bisa menatap dengan mata terbelalak, menyadari bahwa pertempuran yang baru saja dimulai ini mungkin akan berakhir jauh lebih cepat dan lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.