Kisah petualangan seorang pemuda yang dipilih semesta untuk pergi bersama para roh pendampingnya ke dunia lain. Disana mereka akan membantu membereskan semua kekacauan yang di sebabkan oleh para pasukan Iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ya'purmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petapa Di Hutan Telarang
Sepanjang perjalanan mereka, penjaga itu menceritakan bahwa hutan itu tidak boleh di masuki oleh manusia karna sangat berbahaya.
Konon dari cerita yang beredar dulu, siapa pun yang masuk untuk berburu di hutan tersebut maka mereka akan hilang tanpa jejak dan tidak pernah kembali lagi.
Namun dari cerita lain yang beredar, ada orang sakti yang dapat keluar dari hutan itu hidup-hidup.
Namun ke dua tangannya hilang karna di makan seekor ular raksasa yang di kepalanya terdapat dua tanduk serta di dahinya melekat sebuah mustika yang di yakini memiliki kekuatan mistik.
Karna ingin merebut mustika itu lah orang sakti tersebut masuk ke dalam hutan yang ada di seberang sungai itu.
Sembari bercerita tak terasa mereka sudah berjalan sampai di gerbang benteng kerajaan tempat di mana penjaga tersebut bergantian berjaga.
Sambil duduk dan terus mendengar penjaga terus bercerita tentang seluruh kisah lampau yang pernah terjadi, dari saat mulai mendirikan pusat pemerintahan di sini sampai dengan sekarang.
Cerita ini tidak banyak di dengar orang yang ada di kerajaan ini, hanya pihak istana dan pengawal raja saja yang tau cerita kelam berdirinya Kerajaan ini.
Setelah selesai mendengarkan cerita dari pengawal kerajaan tadi, Ipul pun mulai mengantuk dan akan segera di tidur.
Bangkui beserta istrinya masih terlihat menunggu Nyaring di tempat mereka duduk tadi.
Tak lama kemudian Nyaring pun kembali ke tempat mereka menunggu dengan membawa kabar sesuai yang ia lihat di dalam hutan tersebut dan menceritakan semua yang terjadi di sana. Dan setelah ia selesai bercerita, Ishah pun memberi Nyaring daging pemberian tuannya karna telah menjalankan tugas dengan baik.
Setelah selesai makan Nyaring pun kembali masuk ke dalam peti, dan mereka pun segera bergegas mendatangi tuannya. Karna melihat tuannya sudah tertidur di pos penjagaan benteng istana, mereka pun ikut tidur juga di sana.
Keesokan paginya Ipul segera dibangunkan penjaga benteng karna raja mencarinya. Ia pun berge pergi menjumpai sang raja yang sedang panik karna ia tidak kembali tadi malam ke istana.
Mendengar penjelasan lansung dari Ipul, akhirnya sang raja dan Pangeran pun tenang. Mereka takut kalau ia sampai masuk ke hutan terlarang itu.
Karna hutan tersebut sangat berbahaya, apa lagi nanti malam akan di adakan pesta besar.
Dengan penjagaan yang ketat di pesisir sungai yang berbatasan dengan hutan keramat, tempat itu harus di jaga ketat agar tidak ada yang mendekati atau masuk ke dalam hutan tersebut.
Mendengar info yang di dapat oleh Nyaring tadi malam, ada gerombolan orang sedang merencanakan sesuatu untuk memancing ular besar penjaga hutan itu keluar dari sarangnya.
Tujuannya untuk mengacaukan acara yang akan di adakan besok malam.
Rencananya mereka besok pagi akan meletakan umpan untuk menggiring ular tersebut menuju tepian hutan, berharap ular itu mengamuk menghancurkan acara yang ada di istana.
Begitu lah cerita dari Nyaring tadi malam, hasil dari pengecekan di hutan tersebut.
Ipul pun segera mencari cara untuk bisa pergi ke dalam hutan menangkap rombongan orang tersebut.
Ia pun sempat akan memberitahu info tersebut kepada sang raja, namun ia tak dapat menjelaskan dari mana ia mendapatkan kabar tersebut. Jadi ia mengurungkan niatnya itu, dan juga jika sampai berita ini tersebar maka seluruh isi kerajaan ini akan panik dan acara yang harusnya di adakan nanti malam akan batal karna berita tersebut.
Ipul pun terus berpikir bagaimana bisa pergi ke hutan tanpa di ketahui siapapun di sini. Hanya Bangkui dan istrinya lah yang bisa pergi memasuki hutan tanpa di ketahui siapapun.
Lalu Ipul pun meminta mereka memeriksa hutan tersebut, sedang ia akan menunggu mereka di pintu masuk benteng.
Bangkui dan Ishah pun mulai bergerak memasuki hutan terlarang itu, sambil memeriksa ke setiap sudut di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Namun mereka masih belum menemukan kejanggalan apa pun yang ada di sekitar mereka.
Setelah memasuki hutan cukup dalam, lalu sampailah mereka berdua di lereng bukit yang di penuhi bebatuan besar. Di sana terlihat sebuah lubang besar seperti mulut goa yang gelap.
Mereka berdua pun bergegas mendekati lubang besar tersebut, dan setelah sampai di mulut goa mereka melihat ada mayat memakai pakai penjaga istana tergeletak di tanah dengan bercak darah yang sudah mengering di tubuh mayat itu.
Karna penasaran mereka pun mencoba masuk ke dalam goa yang gelap itu, sambil terus berjalan menyusuri goa yang cukup besar itu.
Setelah berjalan cukup jauh mereka pun akhirnya sampai di ujung goa. Disana tidak lagi gelap dan terlihat di sekeling mereka seperti ruangan goa yang sangat luas di kelilingi dinding batu yang kokok.
Di situ juga terdapat sebuah lubang di tanah yang sangat besar dan gelap. Dari Lubang itu mengeluarkan aura yang sangat menakut jika mendekatinya.
Tanpa rasa takut mereka berdua pun mencoba masuk ke dalam lubang besar itu, dan terus menelusuri terowongan dari lubang tersebut hingga mereka sampai di sebuah ruangan besar dan sangat terang yang tidak tau berasal dari mana pencahayaan itu.
Mereka berdua pun terus menyusuri ruangan tersebut dengan hati-hati dan memeriksa setiap sudut ruangan.
Tidak jauh dari tempat mereka berada, terlihat sebuah altar batu yang cukup tinggi. Mereka melihat di sana ada seseorang sedang duduk bersila di atas altar tersebut, seperti sedang bertapa. Lalu terlihat lagi oleh mereka berserakan tengkorak manusia dan hewan di sekeliling altar itu.
Karna mereka tidak ingin mengganggu petapa itu, mereka pun memutuskan untuk segera keluar dari tempat itu.
Namun sebelum mereka melangkah untuk pergi, mereka melihat seluruh tubuh petapa itu memancarkan cahaya yang sangat terang.
Karna melihat cahaya itu, mereka berdua pun menahan diri untuk meninggalkan tempat itu. Dan karna penasaran melihat petapa itu, mereka terus memperhatikan kejadian itu dengan seksama.
Terlihat cahaya yang memancar itu mulai bergerak naik memisahkan diri dari jasad petapa tersebut. Cahaya itu keluar dari kepala petapa itu dan melayang di udara, lalu dengan perlahan cahaya itu berubah bentuk menjadi bola kristal transparan.
Setelah cahaya itu berubah bentuk, terlihat petapa itu pun perlahan mulai berubah wujud.
Di mulai dari kepala yang mengeluarkan dua tanduk dan bentuk kepala yang menyerupai kepala ular. Kepala ular tersebut sedang menghadap ke arah bola kristal yang sedang melayang di atasnya.
Lalu bola kristal itu perlahan menempel tepat di kening ular tersebut, lalu perlahan tubuh petapa itu mengeluarkan bersisik dan berubah memanjang serta terus membesar menjadi ular raksasa.
Setelah perubahan wujud itu selesai, ular raksasa itu pun kembali diam dan tidak bergerak. Ular itu Seperti sedang kembali duduk melanjutkan tapanya.
Dan seusai melihat petapa itu berubah menjadi wujud ularnya, dan Bangkui merasa tidak terjadi apa-apa. Ia pun mengajak istrinya untuk segera keluar dari tempat itu, dan bergegas menceritakan apa yang telah mereka lihat itu.