Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kembalinya Sang Hantu
Matahari musim gugur bersinar cerah di atas Kota Daun Gugur, namun suhu di alun-alun utama kediaman Klan Lin terasa memanas oleh sorak-sorai ribuan orang.
Hari ini adalah Turnamen Bela Diri Klan Lin, acara tiga tahunan yang menentukan masa depan generasi muda klan. Tenda-tenda sutra merah didirikan melingkari arena pertarungan berbatu granit seluas lima puluh meter persegi. Di tribun kehormatan yang letaknya paling tinggi, duduk para tetua klan dan tamu-tamu VIP dari faksi lain di kota.
Di kursi paling tengah, bukan Kepala Klan Lin yang duduk—karena posisi itu dibiarkan kosong sejak ayah Lin Tian menghilang—melainkan Tetua Pertama, Lin Zhen. Wajah keriputnya memancarkan senyum kebanggaan yang sulit disembunyikan. Di sampingnya duduk seorang pria paruh baya mengenakan jubah ungu bersulam awan perak. Pria itu adalah Utusan Zhao dari Sekte Awan Ungu, salah satu sekte besar penguasa wilayah ini, yang datang untuk mencari bibit unggul.
Brak!
Di tengah arena, seorang pemuda terlempar ke udara dan jatuh berguling-guling hingga ke tepi panggung, memuntahkan darah.
"Pemenangnya, Lin Feng!" teriak wasit klan dengan suara lantang.
Sorak-sorai meledak. Di tengah arena, Lin Feng berdiri dengan postur tegap sempurna. Kipas lipat berlapis sutra di tangannya bahkan tidak kotor sedikit pun. Ia memancarkan aura Pengembara Qi tingkat kedelapan yang sangat kuat, membuat pemuda-pemudi klan lainnya menatapnya dengan rasa kagum dan gentar.
"Tuan Muda Feng terlalu kuat! Dia mengalahkan Lin Hai yang berada di tingkat ketujuh hanya dalam tiga jurus!"
"Benar-benar jenius terhebat klan kita. Pantas saja Tetua Pertama ingin segera mengangkatnya menjadi pewaris resmi."
Di tribun, Utusan Zhao mengangguk pelan sambil mengelus jenggotnya. "Tidak buruk. Memiliki kultivasi Pengembara Qi tingkat kedelapan di usia tujuh belas tahun. Pondasi Qi-nya juga cukup stabil. Klan Lin kalian mendidik penerus yang lumayan tahun ini, Penatua Lin."
Mendengar pujian dari sekte besar, Tetua Pertama tertawa bangga. "Utusan Zhao terlalu memuji. Feng-er memang selalu bekerja keras. Kehilangannya keponakan saya yang bernasib malang, Lin Tian... membuat Feng-er merasa harus memikul beban masa depan klan sendirian."
Ia sengaja menyebut Lin Tian yang "menghilang" sebulan lalu untuk membersihkan jalan cucunya secara politis. Menganggap tidak ada lagi saingan, Tetua Pertama berdiri dari kursinya. Ia memandang ke seluruh alun-alun dengan tangan di belakang punggung.
"Karena tidak ada lagi generasi muda yang berani menantang, maka atas nama Dewan Tetua Klan Lin, aku nyatakan Lin Feng sebagai juara turnamen tahun ini! Sekaligus, mulai hari ini, posisi Pewaris Utama Klan yang kosong akan diserahkan kepada—"
"Tunggu."
Satu kata itu diucapkan dengan nada yang sangat datar, tidak keras, namun entah bagaimana mampu menembus riuhnya ribuan suara penonton dan menggema jelas di telinga setiap orang.
Suara itu seolah membawa semilir angin beku dari neraka.
Seluruh kepala serentak menoleh ke arah pintu masuk utama alun-alun. Kerumunan penonton yang padat tiba-tiba terbelah dengan sendirinya seolah ditekan oleh aura kasat mata yang mencekam.
Di ujung jalan setapak, berdirilah seorang pemuda berpakaian kemeja hitam sederhana yang ujungnya sedikit compang-camping. Rambut hitamnya diikat tinggi ke belakang. Kulitnya pucat, namun sepasang matanya menatap tajam ke arah arena bagaikan pedang yang haus darah.
Tidak ada yang mengenalinya pada pandangan pertama. Pemuda ini memancarkan aura predator yang hanya dimiliki oleh mereka yang hidup di perbatasan antara hidup dan mati.
Namun, saat pemuda itu berjalan mendekat menaiki tangga arena, raut wajah beberapa anggota klan mulai berubah drastis.
"Itu... bukan, tidak mungkin!"
"B-Bukannya dia sudah mati?! Tetua bilang dia kabur dari klan dan dimakan binatang buas sebulan yang lalu!"
"Itu... Lin Tian! Si Sampah Lin Tian!"
Kepanikan dan keterkejutan meledak seperti air mendidih.
Di atas tribun kehormatan, senyum di wajah Tetua Pertama membeku seketika. Matanya melotot lebar hingga nyaris keluar dari rongganya. Tangannya tanpa sadar meremuk sandaran kursi kayu jati yang didudukinya hingga hancur.
Bagaimana anak ini masih hidup?! jeritnya dalam hati.
Sementara itu, di atas arena, wajah tampan Lin Feng berubah sepucat kertas. Ia menatap pemuda berbaju hitam yang kini berdiri lima langkah di hadapannya seolah sedang melihat hantu. Ia sendiri yang menyewa tiga pembunuh profesional untuk menyingkirkan Lin Tian. Mereka melaporkan bahwa Lin Tian jatuh ke Jurang Hukuman!
"L-Lin Tian... kau... kau masih hidup?" suara Lin Feng bergetar tanpa bisa ia kendalikan.
Lin Tian memiringkan kepalanya sedikit, menatap sepupunya dengan senyum tipis yang tak mencapai mata. "Tentu saja, Sepupu Feng. Jurang Hukuman terlalu dingin, dan aku ingat masih ada utang darah yang belum kau bayar kepadaku. Bagaimana mungkin aku pergi tanpa menagihnya?"
Kalimat itu terdengar seperti sapaan biasa bagi penonton, namun bagi Lin Feng, itu adalah ancaman maut. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Namun, ia dengan cepat menguasai dirinya.
Tidak peduli bagaimana dia bisa selamat, dia tetaplah sampah dengan meridian cacat yang tidak bisa berkultivasi! Aku di tingkat delapan, aku bisa membunuhnya dengan satu jari! batin Lin Feng menenangkan diri.
"Lancang!" teriak Tetua Pertama dari atas tribun, suaranya mengandung Qi yang menekan ke arah arena. "Lin Tian! Kau telah menghilang tanpa kabar selama sebulan, membolos dari kewajiban klan, dan kini kau berani mengacaukan upacara penobatan Pewaris Utama? Penjaga, tangkap anak durhaka ini dan lemparkan ke penjara bawah tanah!"
Belasan penjaga klan bersenjata tombak langsung merangsek maju.
Namun, sebelum mereka bisa menyentuh panggung, Lin Tian mendongak menatap Tetua Pertama. Ia tidak sedikit pun terpengaruh oleh tekanan Qi pria tua itu.
"Mengacaukan? Tetua Pertama pasti pikun. Peraturan klan menyatakan bahwa selama posisi juara belum diresmikan, siapa pun yang mengalir darah Klan Lin di tubuhnya dan berusia di bawah dua puluh tahun berhak naik ke panggung untuk menantang!" Suara Lin Tian menggema tegas. "Namaku masih tercatat di silsilah. Mengapa aku tidak boleh menantang juara kebanggaanmu ini?"
Tetua Pertama mengertakkan gigi. "Kau... kau adalah sampah yang meridiannya hancur! Untuk apa kau menantang? Hanya mencari mati!"
"Apakah dia mencari mati atau tidak, biarkan dia membuktikannya di atas panggung," tiba-tiba sebuah suara santai menyela. Utusan Zhao dari Sekte Awan Ungu mengibaskan tangannya, mengisyaratkan para penjaga untuk mundur. Ia menatap Lin Tian dengan tatapan tertarik. Sebagai ahli bela diri, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia tidak bisa merasakan sedikit pun fluktuasi Qi dari tubuh Lin Tian, namun aura pemuda itu sangat mengintimidasi.
"S-Sesuai perintah Utusan Zhao," Tetua Pertama menelan ludah paksa, tidak berani membantah perwakilan sekte besar. Ia lalu menatap Lin Feng dan mengirimkan transmisi suara rahasia menggunakan Qi ke telinga cucunya. "Feng-er, karena sampah ini mengantar nyawanya sendiri, jangan sia-siakan kesempatan. Pura-puralah terjadi kecelakaan dan bunuh dia di atas panggung!"
Lin Feng tersenyum sinis dan mengangguk pelan. Ia menutup kipas lipatnya dan menatap Lin Tian dengan pandangan meremehkan.
"Lin Tian, aku benar-benar mengagumi keberanianmu. Tapi keberanian tanpa kekuatan hanyalah kebodohan. Kau memaksakan diri naik ke arena ini, jika kakimu patah atau nyawamu melayang, jangan salahkan aku tidak mengingat persaudaraan kita."
Lin Tian hanya berdiri diam dengan tangan terjuntai santai di sisinya. Tidak ada kuda-kuda, tidak ada senjata.
"Kau terlalu banyak bicara, Lin Feng," potong Lin Tian dengan suara yang luar biasa dingin. "Keluarkan senjatamu dan gunakan jurus terkuatmu. Karena setelah ini, kau tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk berdiri di atas kedua kakimu lagi."
Suasana arena meledak dalam ketegangan. Wasit memberi tanda dengan tangan yang gemetar.
"Pertandingan... Mulai!"