Kinanti Larasati, gadis cantik berusia 23 tahun, harus menjadi ibu muda diusianya yang masih 20 tahun karena kesalahan yang dia lakukan dengan kekasihnya. Laki-laki yang menghamilinya tidak bertanggung jawab, dan Kinanti sendiri terbuang dari keluarganya.
Arga Dirgantara , seorang laki-laki tampan, berusia 28 tahun, pengusaha muda yang sukses, dan dia adalah ayah biologis dari anak Kinanti.
Bagaimanakah perjuangan Kinanti dalam membesarkan anaknya tanpa seorang pendamping disisinya, Akankah dia akan bersama dengan Arga lagi, atau mungkin menemukan cinta yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ju juariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Aku pun melangkah memasuki sebuah supermarket besar yang cukup terkenal yang tidak jauh dari kantorku. Semua barang ada disini, dari pakaian, elektronik, sayuran, ikan, daging dan banyak lagi lainnya.
Aku menyusuri pakaian anak, teringat kalau baju Daffa sudah banyak yang sempit karena badan Daffa yang semakin berisi dan tambah tinggi. Ku ambil satu set baju dan celana yang terbuat dari bahan kaos yang lembut yang bisa dipakai Daffa tuk bermain, sengaja kucari bahan dari kaos biar menyerap keringat, karena Daffa termasuk anak yang aktif. kuambil warna hijau dengan gambar Micky mouse. Ku ambil satu set lagi baju tuk Daffa dengan warna yang berbeda, warna kuning gambar Donald duck, pasti Daffa suka ni, pikirku. Alhandulillah hari ini aku sudah gajian, dan nominal yang aku aku terima lwbi besar, mungkinkah n karena aku ada tambahan kerjaan, Nyambi jadi sekretaris bos, batinku sambil tersenyum. Akupun mengambil beberapa Snack dan banana cake tuk orang di rumah.
Setelah mendapatkan barang yang aku cari akupun balik ke kantor tuk menyelesaikan laporan yang diminta Dimas.
"Kinan.... aku jadi ikut kamu ke MM sore ini", kata Ratih.
"Oh ya, beneran Tih... nyokap ngijinin kamu ya ya", kataku senang dan Ratih pun menganggukkan kepalanya.
Setelah menyelesaikan laporan yang diminta Dimas, aku pun melangkah menuju ruangannya. Kuserahkan laporan yang sudah kubuat di meja kerjanya dan Dimas pun membaca laporan itu.
"Bagaimana pak, apa ada yang harus diperbaiki", kataku kepada Dimas.
"It's oke, ya sudah kamu boleh pulang sekarang".
"Yang bener pak, kan ini belum jam orang pulang kantor, ntar gaji saya dipotong lagi", kataku. Dimas langsung melihat jam yang ada ditangan kirinya.
"Oh iya, tapi bentar lagi kok jadi kamu tunggu ajalah".
"Lagian Kenapa si setiap kamu berada diruangan ini bawaanya pengen cepet-cepet pulang mulu", kata Dimas.
"Bukan begitu pak hari ini jadwal saya pulang ke kota MM", kataku menjelaskan.
"Terus apa hubungannya", katanya.
"Duhh bapak ngga ngerti ya, jadi gini pak, saya kan kalau pulang naik bis luar kota, kalau saya kesorean, bisa-bisa bisnya penuh terus, dan ujung-ujungnya saya ngga dapat tempat duduk, masa dari sini sampai MM saya berdiri pak, kan lumayan jauh tuh, yang ada ntar betis saya sebesar talas, atau karena nungguin bis yang kosong ntar saya nyampenya kemaleman", kataku panjang lebar.
"Kamu tuh kenapa si kalau ngomong ngga pake titik koma, nyerocos mulu, ngga cape ya, ambil nafas dulu kek", protes Dimas.
"Hahaha.... Bapak bisa aja, maaf ya pak udah bawaan dari orok kayak gini pak, jadi bapak jangan heran", kataku lagi. Kenapa ya kok aku bisa cuek ngomong dengan Dimas seolah Dimas itu temenku padahal kan dia bosku.
"Tiap Jumat kamu selalu pulang ke MM ya", tanya Dimas.
"Ngga selalu si pak, tapi saya usahain pulang", jawabku. Ni bos tumben amat berbasa-basi sana aku, biasanya selalu jutek mulu.
"Ya sudah sana kamu jalan sekarang, ini udah jam pulang kerja, biar kamu ngga kemaleman", Kata Dimas.
"Makasi ya pak, saya pulang dulu, sore pak", pamitku sopan dan dijawab dengan anggukan kepala Dimas.
Aku kembali ke ruangan kerjaku memelbereskan meja kerja. Dengan Ratih aku berjalan menuju mushola tuk sholat ashar dulu.
"Kin....aku bawa apaan ya tuk keluargamu, masa si lenggang gini", kata Ratih.
"Bawa diri aja sudah cukup Tih", kataku sambil merangkul pundak Ratih, Ratih pun tertawa mendengar kata-kataku.
Kami melangkah keluar menuju taksi yang sudah menunggu kami di depan gedung tempat kami bekerja menuju ke terminal. Alhamdulillah bis yang akan kami tumpangi masih ada kursi yang kosong.
"Hai Kinan....", sapa seseorang, dan ternyata Tania kenalanku yang menyapa.
"Hai Tania apa kabar", kataku.
"Alhamdulillah baik, aku duduk disini ya", kata Tania pagi, karena bangku di sebelahku sudah diduduki Ratih. Dan akhirnya bis pun berjalan meninggalkan terminal.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++
apa thor sehat-sehat kah
semangat thor...💪💪