Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bukti Tinta Emas
Jari telunjuk Hira menekan tombol kiri mouse berulang kali. Layar monitor raksasa di depannya memuat dokumen-dokumen digital dengan kecepatan tinggi.
Ia memindahkan kursor, menyorot sebuah baris pada tabel spreadsheet yang terbuka lebar.
[Riwayat Transfer Keluar: Rp 450.000.000. Tujuan: Rekening Pribadi atas nama Reza Adyatma]
Hira menghentikan guliran mouse-nya. Matanya terkunci pada kolom di sebelah kanan nominal tersebut.
[Tanggal Transaksi: 14 Mei]
Tangan Hira yang berada di atas meja perlahan mengepal. Tanggal itu terukir sangat jelas di kepalanya. Itu adalah hari di mana ia duduk bersimpuh di lantai kamar, memohon pada Reza. Hari di mana ibunya membutuhkan uang muka darurat untuk operasi. Waktu itu, Reza menatapnya dengan wajah memelas, mengatakan tabungannya benar-benar kosong karena pemotongan bonus.
{Dia membiarkan ibumu kesakitan.}
Suara alter ego itu bergema di dalam kepala Hira. Tidak ada nada ejekan kali ini. Hanya ada dorongan amarah yang sangat murni.
{Dia menyimpan ratusan juta di rekening gelapnya, sementara kau berlarian mencari pinjaman ke rekan kerja. Pria ini bukan sekadar pengkhianat, Hira. Dia monster yang menyamar menjadi manusia.}
Hira yang asli tidak merintih. Rasa sakit yang bertubi-tubi itu telah melewati batas maksimal, mengubah bentuknya menjadi sesuatu yang benar-benar kebas.
Hira menarik napas panjang. Ia melepaskan kepalan tangannya dan kembali meletakkan jemarinya di atas keyboard.
"Kau benar," bisik Hira pelan pada dirinya sendiri. "Dan monster harus dimusnahkan."
Ia menekan pintasan pada keyboard. Sebuah kotak dialog muncul di tengah layar.
[Konfirmasi: Unduh dan Enkripsi 142 File Terpilih?]
Hira menekan tombol enter.
Bilah progres berwarna hijau mulai bergerak mengisi layar. Ia memasang drive eksternal berwarna hitam ke port USB di bawah monitor. Seluruh bukti mutasi rekening, kontrak fiktif, dan tanda tangan digital persetujuan pencairan dana mengalir masuk ke dalam perangkat kecil tersebut.
Sambil menunggu unduhan selesai, Hira menggeser kursor ke sudut atas layar. Ia membuka portal keamanan internal gedung. Otoritas eksekutifnya memungkinkan dia untuk mengakses seluruh mata yang ada di bangunan ini.
Hira memilih dua kotak tampilan.
[Kamera 04: Divisi Pemasaran]
[Kamera 08: Ruang Direktur Utama]
Pada layar sebelah kiri, ia melihat deretan meja kubikel divisinya. Para staf masih bekerja dalam keheningan yang kaku. Di sudut ruangan, Reza tampak mondar-mandir di samping mejanya. Tangan pria itu terus mengusap wajahnya dengan kasar. Kemejanya terlihat semakin kusut. Reza tampak mengetik sesuatu di ponselnya dengan terburu-buru, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Hira memindahkan pandangannya ke layar sebelah kanan.
Di dalam ruang direktur utama, Anita sedang mondar-mandir dengan langkah lebar. Ponsel di tangan wanita itu menyala. Anita melihat layar ponselnya, lalu membanting benda pipih itu ke atas sofa kulit di sudut ruangan. Ia memijat pelipisnya kuat-kuat.
Hira menyilangkan kakinya. Ia menopang dagu dengan satu tangan, menatap kedua layar itu secara bergantian.
Kedua orang itu sedang berusaha saling menghubungi, namun kepanikan membuat komunikasi mereka hancur berantakan.
[Proses Unduhan dan Enkripsi Selesai. Perangkat Siap Dicabut.]
Hira melirik notifikasi di sudut layar. Ia mencabut drive eksternal tersebut dan memasukkannya ke dalam saku celana kain hitamnya.
Ia kembali menatap layar CCTV.
Hira meraih ponselnya sendiri dari dalam tas. Ia membuka aplikasi pesan internal perusahaan, memilih nama Anita dan Reza, lalu membuat grup obrolan baru. Jari lentiknya mengetikkan sebuah pesan singkat.
[Pesan Keluar: Ruang Rapat Eksekutif Lantai 12. Tiga menit dari sekarang. Jangan membuatku memanggil petugas keamanan untuk menyeret kalian berdua dari ruangan kalian.]
Hira menekan tombol kirim. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu kembali menatap layar monitor CCTV.
Satu detik. Dua detik.
Pada layar kiri, tubuh Reza tiba-tiba tersentak kaget. Pria itu menatap layar ponselnya. Ia mundur satu langkah hingga punggungnya menabrak pinggiran kubikel. Reza nyaris menjatuhkan ponselnya sendiri. Ia langsung berlari keluar dari area divisi tanpa memedulikan tatapan rekan-rekan kerjanya.
Pada layar kanan, Anita mengambil kembali ponselnya dari atas sofa. Begitu membaca pesannya, direktur wanita itu mematung. Kakinya seolah terpaku di atas karpet. Anita buru-buru menyambar blazernya dan setengah berlari keluar dari ruangan.
Hira tersenyum. Ia menekan tombol daya monitor, mematikan seluruh sistem akses di ruang master data, lalu melangkah keluar.
Pintu baja itu berdesis pelan saat menutup dan terkunci secara otomatis di belakangnya.
Hira berjalan menyusuri lorong berkarpet tebal lantai dua belas. Di ujung lorong, Leo berdiri tegak di depan pintu ruang tunggu VVIP.
Asisten berkacamata itu menundukkan badannya sedikit saat Hira mendekat.
"Bapak Teran menunggu Anda di dalam, Bu Hira," ucap Leo. Pria itu membuka pintu kayu ganda tersebut.
Hira melangkah masuk.
Teran Honigan duduk di kursi tunggal berbahan kulit hitam. Jas abu-abu gelapnya tidak memiliki satu pun lipatan kusut. Pria itu sedang membaca sesuatu dari tablet digitalnya. Ia mendongak saat mendengar langkah sepatu Hira.
"Secepat ini?" tanya Teran. Ia meletakkan tabletnya di atas meja kaca. "Saya harap kamu tidak datang dengan tangan kosong hanya karena takut berada di ruang server sendirian."
Hira berjalan mendekat. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan drive eksternal berwarna hitam, lalu melemparkannya ke atas meja kaca di hadapan Teran. Benda kecil itu meluncur dan berhenti tepat di dekat gelas air milik pria tersebut.
"Seluruh aliran dana taktis selama tiga tahun terakhir," ucap Hira datar. "Lengkap dengan kontrak fiktif, tanda tangan persetujuan Anita, dan mutasi rekening penerima ujung."
Teran menatap drive tersebut, lalu memindahkan pandangannya kembali ke wajah Hira. Sebuah kilat ketertarikan melintas di mata hitam pria itu.
"Kamu menemukan perusahaan penampungnya?" tanya Teran.
"PT. Gemilang Solusi Bersama," jawab Hira tanpa ragu. Ia menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi kosong di seberang Teran. "Sebuah perusahaan cangkang tanpa kantor fisik. Dan yang paling menarik, komisaris utamanya adalah suami saya sendiri."
Teran terdiam sejenak. Alis pria itu sedikit terangkat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar cincin perak di jari manisnya.
"Anita menggunakan nama suamimu untuk menampung uang curiannya?" Teran mendengus pelan. Sebuah tawa kering keluar dari bibirnya. "Bodoh sekali. Pantas saja kamu sangat bersemangat mengambil alih otoritas ini."
"Mereka sudah saling menutupi kebusukan terlalu lama, Pak Teran. Wajar jika mereka merasa tidak akan pernah tersentuh," balas Hira. Ia menegakkan tubuhnya kembali. "Tapi waktu bermain mereka sudah habis."
Teran mengambil drive hitam itu. Ia memasukkannya ke dalam saku jas bagian dalam.
"Sempurna. Saya akan menyerahkan ini ke tim legal pusat. Malam ini juga, aset mereka berdua akan dibekukan oleh bank." Teran berdiri. Ia merapikan ujung jasnya. "Kerja bagus, Hira. Kamu terbukti jauh lebih berguna daripada yang saya perkirakan."
Teran membalikkan badan, bersiap melangkah keluar.
"Pak Teran," panggil Hira.
Langkah pria itu terhenti. Ia menoleh dari balik bahunya. "Ada apa lagi?"
"Saya baru saja memanggil Anita dan Reza ke ruang rapat eksekutif di lantai ini," ucap Hira pelan. Nada suaranya sangat tenang. "Mereka sedang berjalan ke sana sekarang. Saya butuh Anda hadir di ruangan itu."
Teran menyipitkan matanya. "Untuk apa? Buktinya sudah ada di tangan saya. Pemecatan mereka tinggal menunggu proses administratif. Saya tidak suka membuang waktu melihat bawahan saya menangis memohon ampun."
Hira memiringkan kepalanya. Seringai mematikan itu kembali terukir di wajahnya.
"Mereka tidak akan memohon ampun pada Anda," ucap Hira. Matanya menatap lurus ke arah Teran. "Karena saya yang akan menjadi eksekutornya hari ini. Anda bilang Anda ingin melihat pertunjukan. Bukankah sangat sayang jika Anda melewatkan babak penutupnya?"
Teran terdiam menatap Hira. Ia bisa melihat ambisi dan dominasi mutlak yang terpancar dari mata wanita di depannya. Tidak ada sisa-sisa keputusasaan atau kesedihan. Wanita ini sepenuhnya bertransformasi menjadi algojo.
Ujung bibir Teran perlahan tertarik ke atas.
"Baiklah. Mari kita lihat bagaimana caramu memotong leher mereka," jawab Teran pelan.
Hira berjalan mendahului Teran. Ia melangkah keluar dari ruang tunggu, mengarahkan tujuannya langsung ke ruang rapat eksekutif yang terletak tidak jauh dari sana.
Pintu ruang rapat itu sedikit terbuka. Hira bisa mendengar suara perdebatan setengah berbisik dari dalam.
"Kamu gila, Reza?! Kenapa kamu menaruh namamu sendiri di dokumen itu?!" Suara Anita terdengar melengking tertahan.
"Aku cuma mengikuti perintahmu! Kamu bilang dokumen itu tidak akan pernah bisa dilacak dari cabang!" balas Reza dengan nada panik.
Hira mengulurkan tangannya dan mendorong pintu kayu itu lebar-lebar.
Bunyi engsel pintu menghentikan perdebatan di dalam sana seketika.
Anita berdiri bersandar pada meja rapat oval. Wajah wanita itu sepucat kertas. Di seberangnya, Reza berdiri dengan tangan mencengkeram kerah bajunya sendiri, seolah kehabisan udara.
Hira melangkah masuk ke dalam ruangan. Sepatu hak tinggi merah marunnya mengetuk lantai marmer, menciptakan gema yang membuat Reza dan Anita tersentak mundur.
Teran melangkah masuk tepat di belakang Hira. Pria itu menyilangkan tangannya di depan dada, berdiri diam di dekat pintu seperti seorang penonton VIP yang menantikan pertunjukan utama.
Hira berjalan pelan memutari meja. Ia berhenti tepat di tengah-tengah, berdiri di antara suami pengkhianatnya dan mantan atasannya.
Ia menatap mereka bergantian.
"Selamat pagi," sapa Hira dengan senyum miring. "Silakan duduk. Kita punya banyak sekali transaksi ratusan juta yang harus dibahas hari ini."
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪