NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Sang Kaisar Immortal

Kelahiran Kembali Sang Kaisar Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Formasi Pengunci Roh, Kegeselisahan Tuan Muda

​Sinar matahari pagi perlahan menyusup melalui celah jendela apartemen yang rusak. Di atas kasur tipis, Maya perlahan membuka matanya. Tubuhnya masih gemetar mengingat bayangan monster baja hitam yang nyaris merenggut nyawanya kemarin.

​"Kak Arya..." panggilnya lirih, suaranya parau.

​Arya segera menghampiri, duduk di tepi ranjang. Wajahnya yang sedingin es abadi saat menghadapi musuh seketika meleleh, digantikan oleh kelembutan seorang kakak.

​"Kakak di sini," ucap Arya perlahan. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh dahi Maya. Secara diam-diam, ia mengalirkan seuntai Qi Sejati murni dari Dantian-nya. Energi kehidupan berwarna hijau samar—sebuah kemampuan supernatural tingkat dasar yang hanya dimiliki oleh praktisi kultivasi—meresap ke dalam meridian Maya, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang dan memulihkan vitalitasnya dalam sekejap.

​Napas Maya seketika menjadi teratur, rasa takut di matanya memudar digantikan oleh rasa kantuk yang damai. "Kak... jangan pergi..."

​"Tidurlah. Saat kamu bangun, semua serangga yang mengganggu kita akan lenyap," bisik Arya.

​Setelah memastikan Maya kembali terlelap, Arya bangkit. Ia mengumpulkan sisa abu dari Akar Pohon Roh Kayu Purba semalam. Meskipun esensinya telah habis terserap untuk Pencucian Sumsum, abu tersebut masih mengandung jejak Dao Kayu.

​Dengan gerakan jari yang rumit, Arya menaburkan abu tersebut di empat sudut kamar Maya. Ia sedang merangkai Formasi tingkat rendah, Array Pengunci Roh Berwajah Empat. Di dunia fana yang miskin energi ini, formasi tersebut tidak bisa menahan serangan seorang ahli kultivasi sejati, tetapi sudah lebih dari cukup untuk menahan peluru pelumpuh atau serangan fisik dari puluhan preman kelas teri setidaknya selama dua belas jam.

​"Maya sudah aman," gumam Arya, tatapannya menembus ke arah pusat kota. "Sekarang, saatnya menagih hutang darah."

​Sementara itu, di sebuah bukit eksklusif di utara kota, berdiri megah kediaman utama Keluarga Wijaya. Mansion seluas dua hektar itu dijaga ketat oleh puluhan penjaga bersenjata lengkap, memperlihatkan kekayaan dan hegemoni mereka di dunia sekuler.

​Di ruang tamu utama yang dihiasi lampu kristal dan perabotan berlapis emas, Bima Wijaya sedang bersandar santai di sofa kulit harimau, menikmati segelas anggur merah mahal. Di depannya, dua wanita cantik berbaju minim sedang memijat kakinya.

​Brak!

​Pintu kayu jati ganda itu didobrak terbuka. Dua penjaga menyeret sesosok tubuh yang bersimbah darah dan melemparkannya ke atas karpet persia di tengah ruangan.

​Prang! Bima menjatuhkan gelas anggurnya, matanya membelalak ngeri melihat sosok yang mengerang di lantai. Itu adalah Gopar, anjing pemburunya yang paling ganas, kini kedua kakinya hancur dan lengan kanannya terpelintir pada sudut yang tidak wajar.

​"Gopar?! Siapa yang berani melakukan ini di wilayah kekuasaan Keluarga Wijaya?!" teriak Bima, wajah tampannya berkerut dipenuhi amarah bercampur ketakutan.

​"T-Tuan Muda..." Gopar terbatuk, memuntahkan darah hitam. "B-Bocah itu... Arya Mahendra... dia bukan mahasiswa miskin biasa. Dia... dia monster! Senjata tajam tidak bisa menembus kulitnya, dan dia menghancurkan tulang kami tanpa menyentuh..."

​"Omong kosong macam apa ini?!"

​Sebuah suara berat dan penuh wibawa menggema dari tangga lantai dua. Hendra Wijaya, Patriark Keluarga Wijaya, melangkah turun dengan wajah murka. Di belakangnya, mengikuti seorang pria tua berjubah abu-abu kuno, matanya terpejam sebelah, namun memancarkan aura penekanan yang membuat napas semua orang di ruangan itu terasa sesak.

​"Ayah!" Bima segera berdiri dan menunduk hormat.

​Hendra melirik Gopar dengan jijik. "Melihat sampah ini dikalahkan oleh seorang bocah ingusan, kau pasti menabrak pelat besi. Tapi berani mematahkan kaki anjing Keluarga Wijaya, dia benar-benar tidak tahu seberapa tinggi langit!"

​"T-Tuan Besar..." Gopar merintih, menahan rasa sakit yang mengoyak sumsum tulangnya. "Bocah itu menitipkan pesan. Dia menyebut dirinya Lin Tian... dia bilang, malam ini dia akan datang untuk menghapus Keluarga Wijaya dari peta kota ini. Dia menyuruh kita mengumpulkan semua ahli bela diri yang kita miliki..."

​Mendengar nama Lin Tian, baik Bima maupun Hendra mengerutkan kening. Siapa Lin Tian? Mengapa mahasiswa rendahan bernama Arya itu menggunakan nama asing? Namun, inti pesannya sudah jelas: sebuah deklarasi perang absolut.

​Hendra tertawa dingin, tawanya dipenuhi niat membunuh yang kental. "Menghapus Keluarga Wijaya? Ha! Bahkan walikota pun tidak memiliki nyali untuk mengucapkan kata-kata arogan seperti itu."

​Patriark Wijaya itu kemudian menoleh ke belakang, membungkuk sedikit ke arah pria tua berjubah abu-abu tersebut. Sikapnya yang sombong seketika berubah menjadi sangat hormat, mencerminkan hierarki kekuasaan yang sesungguhnya di balik layar dunia ini.

​"Tetua Gu, maafkan keributan ini," ucap Hendra. "Sepertinya ada seekor katak dalam sumur yang sedikit menguasai seni bela diri luar, lalu berpikir dia bisa mengguncang gunung. Bolehkah saya meminjam tangan Anda malam ini untuk mengajari serangga ini apa itu keputusasaan?"

​Tetua Gu, yang merupakan Tetua Tamu dari Sekte Harimau Besi—salah satu sekte bela diri tersembunyi yang menyokong Keluarga Wijaya dari bayang-bayang—perlahan membuka satu matanya yang tersisa. Cahaya buas melintas di pupil matanya.

​"Kulit sekeras besi dan menghancurkan tulang tanpa sentuhan?" Tetua Gu mendengus meremehkan. "Itu hanyalah trik tenaga dalam dari Ranah Kondensasi Qi paling dasar. Seorang bocah yang belum kering bau kencurnya berani bertingkah sombong? Baik. Malam ini, aku akan mencabut meridiannya dan menjadikan tengkoraknya sebagai cangkir arakku."

​Mendengar jaminan dari Tetua Gu, seorang master bela diri sejati yang kekuatannya jauh melampaui akal sehat manusia fana, senyum sinis kembali terukir di wajah Bima Wijaya.

​"Kau dengar itu, Arya? Atau Lin Tian, atau siapa pun namamu," guman Bima sambil menuangkan kembali anggur merah ke gelasnya. "Malam ini, aku akan memastikan kau berlutut memohon kematian di depan kakiku!"

1
yos helmi
💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
🙏🙏🙏
yos helmi
😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍
yos helmi
🙏🙏🙏
yos helmi
😄😄😄
yos helmi
sampai tamat ng nih.. coba saya baca.. kalo ng sampai tamat.. berarti aothor goblok.. mending mampus aj ni aothor kalo ng tamat.. 🤣🤣
Val's
membingungkan,, kan maya gak jdi ditabrak,, lagian jga dia udah sekolah,, kapan lumpuh nya ???
Val's
mantap
Val's
mannttaapp thorr 💪💪💪
Anna
aku suka cerita nya mudahan ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!