NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Kebangkitan masa lalu.

Langkah kaki Saka terdengar terburu-buru, menggema di sepanjang koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam. Kepanikan dan sejuta rasa tidak percaya bergemuruh di dalam dadanya, membuat pria itu mengabaikan semua hal di sekitarnya.

Pikirannya telanjur tersedot sepenuhnya pada satu nama yang baru saja ia dengar melalui sambungan telepon beberapa menit lalu. Di salah satu kamar perawatan intensif di rumah sakit itulah Utami berada. Wanita yang selama tiga tahun lamanya terbaring tak berdaya dalam jeratan koma, secara mengejutkan dinyatakan telah terbangun pada hari ini.

Saat Saka mendorong pintu ruang rawat, pemandangan di dalam kamar seketika menyambutnya. Di sana, di samping ranjang pasien, telah berdiri Ibu Utami yang bernama Aini, bersama dengan ayah Utami yang bernama Ilyam, serta adik laki-laki Utami. Mereka semua menoleh serentak ketika Saka melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu.

Saka menghentikan langkahnya di tepi ranjang, terpaku menatap sosok wanita yang selama ini menghantui rasa bersalah dan cintanya. Utami tampak jadi sangat kurus, kulitnya pucat, dan tubuhnya terlihat begitu ringkih setelah bertahun-tahun hanya mengandalkan asupan nutrisi dari selang medis.

Namun, sepasang mata wanita itu kini terbuka. Begitu melihat kehadiran Saka, sudut mata Utami seketika mengeluarkan air mata yang mengalir pelan membasahi pipinya, seolah ingin menumpahkan seluruh kerinduan dan rasa sakit yang tertahan, meski bibirnya masih terlalu kaku tanpa bisa berkata-kata.

Melihat air mata itu, dinding pertahanan Saka runtuh. Ia segera berlutut di samping ranjang, lalu dengan perlahan menggenggam tangan Utami yang terasa begitu dingin dan lemah.

Saka mengangkat tangan kanannya, menghapus air mata di pipi Utami dengan gerakan yang sangat berhati-hati, lalu menyunggingkan sebuah senyuman lembut yang tidak pernah ia perlihatkan kepada wanita lain, termasuk kepada Prisha. “Aku di sini, Utami. Kau sudah aman,” bisik Saka dengan nada suara yang bergetar penuh kehangatan.

Aini yang berdiri di sisi lain ranjang tampak menyeka sudut matanya sendiri, terharu melihat kedatangan Saka yang begitu cepat. “Saka, dokter bilang ada kemungkinan besar Utami akan pulih sepenuhnya jika mendapatkan perawatan yang intensif dan lingkungan yang mendukung,” ucap Aini membuka percakapan, memecah keheningan yang sempat mendominasi ruangan tersebut.

Saka menoleh ke arah Aini, senyumnya masih terpatri samar di bibir. “Itu bagus sekali, Bibi. Aku akan memastikan semua biaya pengobatan terbaik dan dokter spesialis paling ahli akan terus mendampinginya sampai dia benar-benar sembuh.”

Mendengar janji manis dan jaminan finansial dari mulut seorang pemilik Tanubrata Group, mata Aini seketika berbinar. Wanita paruh baya itu mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan nada yang sengaja dibuat memelas. “Tapi Saka, perawatan di rumah sakit tentu terbatas pada aspek medis saja. Maukah kau membawa Utami ke rumahmu untuk melakukan perawatan di rumahmu saja setelah ini? Kau tahu sendiri keadaan keluarga kami ... kami semua sibuk bekerja mencari nafkah, tidak akan ada yang bisa stand-by merawat Utami di rumah kontrakan kami yang sempit.”

Seketika itu juga, senyuman lembut di wajah Saka langsung membeku. Di dalam benaknya, bayangan wajah Prisha mendadak melintas begitu saja. Saka tahu betul watak asli Prisha; jika sampai wanita dari masa lalunya itu menginjakkan kaki ke dalam wilayah kekuasaan sang Putri Kaelen, Prisha pasti akan langsung menggila dan membalikkan seisi mansion tanpa ampun.

Belum lagi memikirkan reaksi Ratih, ibunya sendiri. Ratih tidak pernah sekali pun memberikan restu pada hubungan Saka dan Utami sejak dulu karena perbedaan status sosial yang terlampau jauh, serta Utami tidak menarik sama sekali bagi Ratih dari segi apapun sehingga tidak ada yang bisa ia pamerkan ke siapapun.

Kedua wanita di mansion itu dipastikan akan menentang keras keberadaan Utami di rumah tersebut. Saka mengepalkan tangannya pelan, ia sadar betul bahwa jika ia memaksakan kehendak membawa Utami ke sana, Utami yang masih dalam kondisi lemah justru bisa celaka akibat tekanan emosional dan amukan Prisha.

Saka berdeham pelan, mencoba menyusun kalimat penolakan yang paling halus agar tidak menyinggung keluarga Utami. “Lebih baik Utami tetap melakukan perawatan di rumah sakit ini terlebih dahulu, Bibi. Perawat di sini jauh lebih berpengalaman dan memiliki peralatan medis yang lengkap untuk memantau perkembangannya setiap detik.”

Aini tampak tidak puas dengan jawaban tersebut. Ia melirik suaminya sejenak sebelum kembali menekan Saka. “Tapi Saka, jika terus-terusan diisolasi di kamar rumah sakit ini, Utami pasti akan merasa kesepian dan jenuh. Itu tidak baik untuk psikologisnya yang baru saja bangun dari koma.”

“Tidak ada bedanya jika Utami berada di rumahku, Bibi,” bantah Saka dengan nada suara yang mulai mendingin, mencoba memberi pembatasan yang tegas. “Aku juga sangat sibuk bekerja dari pagi hingga larut malam di kantor. Di mansion itu, hanya ada para pelayan yang bekerja seperti robot dan tidak banyak bicara. Keadaannya tidak akan jauh lebih baik untuk kesembuhan Utami.”

“Ti-tidak apa-apa, Saka ... kalau Utami tinggal di sana, kami dari pihak keluarga juga pasti akan sering datang berkunjung setiap hari untuk menemaninya,” sahut Aini lagi, masih keras kepala mencoba mencari celah agar bisa menembus kediaman mewah Tanubrata.

Saka menatap Aini dan Ilyam secara bergantian dengan sorot mata elangnya yang tajam dan tidak terbantahkan. “Maaf, Bibi. Itu tidak bisa.”

Mendengar penolakan mutlak yang begitu dingin dari Saka, suasana di dalam ruangan itu mendadak terasa canggung. Ayah dan Ibu Utami saling melirik penuh arti, memberi kode satu sama lain lewat kedipan mata.

“Kalau begitu ... Saka, kami keluar sebentar untuk mengurus beberapa dokumen administrasi di depan, ya? Tolong jaga Utami sebentar,” ujar Ilyam memecah kecanggungan sembari menarik lengan istrinya.

Saka hanya mengangguk pendek tanpa menoleh. Setelah pintu kamar rawat tertutup rapat, Saka kembali mengalihkan seluruh perhatiannya pada Utami, mengajaknya berbicara dengan perlahan meskipun wanita itu sendiri belum lancar bicara dan hanya bisa membalas dengan anggukan atau isyarat jemari yang lemah.

Sementara itu, di lorong luar kamar rumah sakit yang sepi, Ilyam dan Aini berjalan sedikit menjauh ke dekat jendela ujung koridor. Begitu merasa jarak mereka sudah cukup aman dari jangkauan pendengaran Saka, Aini langsung meluapkan kekesalannya dengan wajah bersungut-sungut.

“Bagaimana ini, Mas? Dia benar-benar keras kepala dan sama sekali tidak ingin kita mengisi rumah mewahnya,” omel Aini dengan suara setengah berbisik namun sarat akan nada dongkol.

Ilyam mengembuskan napas panjang, melipat kedua tangannya di dada sambil menyandarkan punggung ke dinding rumah sakit. “Iya, padahal bagus sekali kalau kita bisa ikut tinggal di rumah megah bak istana itu. Kita bisa pamer ke semua tetangga di kampung, biar mereka tahu kalau keluarga kita sekarang sudah naik kelas.”

Aini mendengus kasar, memutar kedua bola matanya dengan kesal. “Emang kenapa sih si Saka itu dari dulu pelit banget? Dia tidak pernah sekali pun mengajak kita bertamu, apalagi menginjakkan kaki ke rumahnya? Padahal dia harusnya sadar, putri kita itu sudah menyelamatkan nyawanya tiga tahun lalu sampai harus mengorbankan diri dan koma selama ini! Kalau bukan karena Utami, dia mungkin sudah mati!”

Ilyam memegangi pundak istrinya, mencoba menenangkan ambisi mereka yang menggebu-gebu. “Sudahlah, untuk saat ini biarlah kita mengalah dulu. Jangan terlalu mendesaknya sekarang sampai dia merasa risi. Nanti, saat Utami sudah sembuh sepenuhnya, mereka berdua pasti akan menikah juga. Dan kalau hari itu tiba, kita sebagai orang tuanya otomatis akan langsung kecipratan seluruh harta kekayaan menantu kaya raya kita itu. Sabar sedikit, Mas tahu persis Saka tidak akan pernah menelantarkan Utami.”

Aini akhirnya mengangguk setuju, meskipun senyum serakah di wajahnya tidak bisa disembunyikan saat membayangkan tumpukan uang dan kemewahan yang akan mereka dapatkan di masa depan melalui Utami.

Di sisi lain kota, keheningan yang mendalam justru menyelimuti kamar tidur Prisha di mansion Tanubrata. Di dalam ruangan bernuansa elegan tersebut, Prisha tengah duduk bersandar di atas ranjangnya, menatap lurus ke arah layar televisi berukuran besar yang sedang menyala di depannya. Layar itu menampilkan sebuah acara hiburan, namun fokus Prisha sama sekali tidak berada di sana. Tatapan matanya tampak kosong, mengambang di antara kilatan cahaya televisi.

Otaknya terus berputar, memutar kembali rekaman memori beberapa jam yang lalu ketika mereka sedang menikmati makan siang yang indah di bawah pohon ek. Prisha mengingat dengan sangat jelas bagaimana perubahan raut wajah Saka saat menerima panggilan telepon misterius itu. Saraf pendengarannya yang tajam sempat menangkap sebuah nama yang diucapkan secara samar oleh Saka sebelum pria itu bergegas pergi meninggalkannya: Utami.

Itulah alasan yang sebenarnya mengapa Prisha mendadak bersikap begitu sentimental dan melankolis saat mengobrol dengan Bora di taman tadi. Nama itu ... nama yang selama ini menjadi momok tak kasat mata di dalam hubungannya dengan Saka.

Prisha memeluk kedua lututnya erat-erat, menenggelamkan sebagian wajahnya di sana sambil merenung dalam kesendirian. "Jadi mereka masih berhubungan? Tapi kenapa Kak Saka terlihat panik tadi?" gumam Prisha keheranan.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!