Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Mau, Emang Dia Mau?
Seminggu setelah kepergian Dokter Wita dari Dusun Teduh. Suasana rumah dinas masih sama. Sepi. Azra sendiri sudah bertemu dengan Pak Kades, yang menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan sudah membatalkan pemindahan tugas Dokter Azra dari dusun Teduh. Atas permintaan Pak Kades yang mewakili warga, dan juga karena kepindahan Dokter Wita yang mendadak.
Sedangkan untuk pengganti Dokter Wita dijanjikan datang awal bulan depan.
Kurang dua minggu lagi, batin Azra lirih. Matanya menerawang memandang langit pagi yang cerah hari itu. Ya Allah, kuatkan dan bisakan saya.
"Dokter cantik ... Assalamu'alaikum!" sapa bocah lelaki dari kejauhan sambil berlari kecil ke arahnya.
"Wa'alaikumussalam ... hati-hati, Banu. Memangnya kakimu sudah benar-benar sembuh, berlarian seperti itu?" Azra beranjak dari tempat duduknya di teras. Setengah berlari, dia menghampiri Banu dan membukakan pagar bambu di halaman rumah dinasnya. "Dari rumah saja nih, anak sholeh?"
"Iya Dokter cantik. Ini ibu kirim sayur tewel, mendol dan ikan pindang. Tadi sengaja masak agak banyak, mau kasih Dokter cantik, " jawab Banu sambil menyerahkan rantang yang ia bawa ke tangan Azra.
"Alhamdulillah ... senangnya. Makasih ya Banu, dokter nggak jadi masak deh hari ini. Ayo masuk..." Sambil bercengkrama mereka beriringan masuk ke dalam rumah dinas bercat putih bersih itu.
"Banu mau minum apa?" tanya Azra sambil meletakkan sekaleng biskuit di meja.
"Ini aja, Dokter Cantik. Air mineral ini aja." Sambil berkata Banu membuka tutup botol air mineral dihadapannya. Diteguknya cepat hingga tersisa setengah botol.
"Haus?" goda Azra. Banu tertawa sambil menutup botol malu-malu.
Setelah Azra duduk di samping Banu, Azra menanyakan kronologi kejadian waktu dia jatuh.
Panjang lebar, Banu, bocah kelas 3 SD bercerita tentang saat ia jatuh dari sepeda. Malam itu malam Jumat Kliwon. Teman-temannya bilang, ada sosok hantu berambut panjang bermuka seram. Dia biasa berdiri di simpang jalan, arah menuju rumah Banu. Saat pulang nanti, kalau tidak cepat-cepat, pasti akan bertemu hantu itu. Konon, hantu itu menunggu di persimpangan setiap malam Jumat Kliwon, menjelang magrib.
Banu mulai takut, dia mengayuh sepeda dengan cepat saat tiba di persimpangan. Karena hari mulai gelap, Banu tidak melihat ada lubang besar di depannya, tanpa bisa dihindari akhirnya terperosok ke dalam lubang bersama sepedanya. Kakinya tertancap patahan ranting. Refleks, ditariknya patahan ranting, sehingga menimbulkan luka sobekan yang dalam dan panjang.
"Dokter cantik, tahu nggak? Ada kejadian yang lucu dan seru saat aku jatuh..." tanya Banu dengan binar jenaka di matanya.
"O ya...?!? Apa dong, jadi penasaran nih," Azra membalas dengan tatapan mata yang tak kalah lucunya dan kepalanya mendekat ke arah Banu.
Banu terkesiap, sejenak dia terpana dengan mata hazelnut Azra. Mulutnya menganga bulat tidak bisa berkata-kata.
"Hap!" seru Azra sambil menyuapkan biskuit ke mulut Banu. Kaget. Banu tersipu malu. Mereka berdua pun tertawa lepas.
"Dokter cantik bikin kaget aja."
"Lagian, siapa suruh bengong. Untung bukan lalat yang masuk, tapi biskuit," ujar Azra. "Terus, apa yang seru dan lucu?" tanya Azra kembali.
"Jadi gini, pas aku jatuh, kakiku kan terluka dan berdarah-darah. Di tempat aku jatuh sepi sekali, nggak ada orang. Nah, saat itu mbah Simo lewat. Aku bilang, tolong aku mbah... Kakiku sakit.
Bukannya nolongin, eh... mbah Simo cuma menoleh, lalu kabur sambil teriak, tolong ada demit berdarah ... Teriak mbah Simo sambil lari ketakutan.
Ya Allah... aku yang tadinya mau nangis karena sakit, nggak jadi nangis, malah ikut lari di belakang mbah Simo, takut ketemu demit yang dibilang mbah Simo. Lhaa, mbah Simo malah kenceng larinya, mengira aku demit yang mengejar dia. Saking takutnya mbah Simo, sarungnya sampai melorot ke bawah waktu lari..."
Tawa Azra pecah. Dia tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Banu hingga sudut matanya berair. Banu yang melihat respons itu pun ikut tertawa geli memamerkan deretan giginya.
"Akhirnya gimana?" tanya Azra setelah tawanya reda.
Banu tersenyum, "Ya gitu, sambil terpincang-pincang, aku bisa sampai rumah. Ibu langsung heboh lihat lukaku. Bingung mau diapain. Untung ada Lek Sunar lewat, yang mau ke dusun Sekarpuro. Jadi ibu minta bareng Lek Sunar ke sini, buat menjemput Dokter cantik."
Azra mengangguk-angguk paham. Tiba-tiba tangannya bergerak ke kaki Banu, melihat perban yang ditempelkan seminggu lalu sudah diganti. "Minum obatnya teratur kan, Banu? Masih terasa nyeri tidak?"
"Sudah enakan, ibu ganti perbannya juga pinter, sama kayak yang diajarkan Dokter cantik," jawab Banu sambil mengacungkan jempol. Kembali mereka berdua larut dalam obrolan beda generasi.
_____
Sore yang hangat.
Di tepi jalan, dekat kebun tebu, seorang pemuda sedang berjongkok mengutak atik sepeda motor. Kaos oblong hijau lumutnya sudah penuh dengan keringat, debu dan gemuk motor.
"Bisa opo ora toh Lèk, motornya? Ini sudah mau magrib Lèk Sunar, nanti lék wis gelap malah nggak keliatan apa-apa."
"Yo sek toh, Banu. Lha emang motornya mogok pas di tengah kebun tebu gini, terus mau gimana lagi? Lagian, kamu main di rumah bu dokter dari pagi sampai sore, kalau nggak dijemput, ya nggak pulang..." Lèk Sunar menggerutu sambil mencoba menyalakan motor. Gagal lagi.
Banu hanya jongkok diam mendengarkan omelan Paman Sunar. Adik kandung ibunya.
Ckiiit
Suara rem motor berdecit di sebelah mereka berdua.
"Kenapa kang, motornya? Mogok tah?" tanya pengendara motor yang baru datang.
"Iya, No. Tadi sudah bisa nyala, jalan sebentar tiba-tiba mati."
"Bensinnya kali kang, habis." Paino dan temannya turun dari motor, berjalan menghampiri Banu dan Lèk Sunar, "Sudah cek businya juga kang? Masih aktif nggak?"
"Bensin sek penuh. Baru diisi. Busi sudah tak cek juga, sek ada apinya kok, sek bersih. Tapi tetap saja tidak mau nyala..."
"Biar dicek temanku, kang. Budi biasa utak-atik motor. Peralatan kunci di jok motorku, Bud. Ambil aja!" kata Paino sambil melemparkan kunci motor ke arah Budi.
Tak berapa lama, Budi sudah berkutat mengecek kerusakan pada motor Sunar. Banu jongkok di sampingnya dan mengamati dengan seksama saat Budi mengutak-atik mesin.
"Dari mana toh, kang?" Paino membuka percakapan sambil menyalakan rokok.
"Jemput Banu dari rumah Dokter Azra. Main dari pagi sampai sore nggak pulang-pulang, kerasan di rumah wong ayu... isih cilik kok wis ngerti wong ayu, hehehe..." terkekeh Lèk Sunar setiap mengingat Banu yang suka memanggil Dokter Azra dengan sebutan dokter cantik.
"Lha emang ayu tenan lho kang. Pintar, sabar dan agamanya juga baik. Aku aja, kalau boleh main ke rumahnya, yo bakalan betah juga, kang. Biar bisa PDKT juga sama bu dokter, hahahha..."
"Asem tenan kowe ki. Kamu nya mau aja sama bu Dokter Azra, masalahnya Dokter Azra mau nggak sama kamu. Disuruh kerja nggarap sawah bapakmu aja, nggak pernah dikerjakan. Gitu kok mau PDKT sama Dokter Azra. Arep mbok kasih makan apa anak orang?"
"Walaaah kang. Itu kan cuma angan-angan. Hayalan. Kalau terwujud, alhamdulillah, kalau enggak ya innaa lillah, hahaha..."
Mereka semua tertawa mendengarkan celoteh Paino. Pemuda dusun Teduh, anak Pak Harjo, petani padi yang punya sawah lumayan banyak. Tapi karena Paino anak semata wayang, hidup serba cukup, akhirnya dia tumbuh menjadi manja sejak kecil.
Greeeng
Suara motor menyala mengiringi adzan magrib yang berkumandang.
"Alhamdulillah..." serempak mereka mengucap syukur.
"Terimakasih, Budi. Motorku sudah nyala lagi. Ini sedikit uang, buat beli rokok." mengangsurkan selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah kepada Budi.
"Tidak usah repot, kang. Tadi cuma bersihkan filter udaranya yang kotor. Jadi tersumbat. Belum bersih bener itu, nanti bawa aja lagi ke bengkel, kang." tolak Budi halus.
"Oala, gimana toh. Jadi nggak enak aku. gimana nih nggak mau bener uangnya?"
"Mboten, kang. Maturnuwun"
"Terimakasih banyak ya Budi. Lain kali tak traktir mBakso di perempatan dusun aja. Jangan menolak! Kalau begitu, aku duluan ya, makasih Paino, Budi. Assalamu'alaikum..."
"Nggih, kang, sama-sama. Wa'alaikumussalam"
Senja makin merambat turun. Perlahan langit pun mulai menggelap. Dewi malam mulai menyelimuti bumi.